GENIUS

GENIUS
Ch 9 Guru Maut



"Ok anak baru.. silahkan baca tulisan kamu ini dengan suara lantang" perintah buk Teli.


Aku sempat bingung untuk sementara waktu. Bagaimana caranya aku bisa membaca tulisan yang setiap hurufnya hanya seperti garis yang berliku-liku.


Dalam kepanikan ku yang semakin menjadi-jadi aku teringat bahwa soalnya telah ditulis Ami dengan jelas kemarin jadi untuk apa membaca tulisan tersebut baca aja isi otakku. Aku tinggal baca soalnya lalu jawab dengan pengetahuan ku. Soalnya juga mudah yaitu tentang sistem pernapasan. Dengan semangat aku pura-pura membaca tulisanku padahal aku hanya membaca isi otakku.


"Soal pertama.. jelaskan tentang mekanisme pernapasan? yang pertama ialah pernapasan dada.. bagian pertama Inspirasi, satu otot tulang rusuk konstraksi dua tulang rusuk terangkat tiga rongga dada menggembung empat tekanan udara dirongga dada mengecil lima paru-paru mengembang enam tekanan paru-paru mengecil tujuh udara masuk kedalam, bagian kedua Ekspirasi..."


"Cukup" tiba-tiba buk Teli memberhentikan ku.


"Kenapa buk? apa jawaban ku salah?" aku bertanya dengan sedikit nada menyombong.


Tiba-tiba buk Teli mengambil buku ditangan ku dan memberikan buku ku ke teman laki-laki disebelah bangku ku.


"Angga.. bacakan bagian kedua tentang Ekspirasi dibuku ini" perintahnya dengan nada tegas.


"eee buk.. lebih baik saya baca tulisan Arab dari pada ini buk" jawab siswa yang namanya Angga tersebut.


"Ok.. bawa sini bukunya" pintanya kepada Angga. "Siapa saja selain anak baru tersebut yang bisa baca jawaban dibuku ini, diperbolehkan tidak buat tugas lagi dan tetap saya kasih nilai seratus" sambungnya memberi pengumuman sayembara.


Semua murid terdiam. Tak ada yang berani menerima tantangannya. Jelas banyak yang tak paham tentang materi mudah ini karena mereka cuman mencatat semua isi buku.


"Ok karena tak ada yang bisa kita balikin lagi buku anak baru ini" buk Teli dengan langkah garang berjalan kearahku.


"Tugas yang saya berikan bukan hanya tentang jawaban.. tapi bagaimana seorang siswa dapat bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan kepadanya.. apa kamu paham" kata buk Teli dengan mulut naganya.


"Buk.. ilmu itu dicatat didalam otak bukan buku buk.. untuk apa kita buat tugas rapi-rapi tapi kita tak paham maksudnya" balasku mengajaknya berdebat lagi.


"Ooo gitu.. jadi kalau besok misalnya kamu kerja di bank lalu dimintai data-data keuangan lalu kamu tulis seperti ini.. lalu pas bos kamu nanya kamu tinggal jawab data-datanya sudah ada dalam otak saya pak.. gitu" balas buk Teli meledek pemikiran ku.


Hati ku tak sanggup lagi menahan emosi. Aku tak ingin kalah lagi dari buk Teli kali ini. Benar-benar aku ingin menghancurkan argumennya.


Dengan langkah berani saya melangkah ke papan tulis. Saya ambil sebuah spidol dimeja buk Teli dan mulai menulis sesuatu.


Apa penyebab terbesar paru-paru tak bisa mengeluarkan karbondioksida lagi?


"Silahkan cari jawaban ini dibuku paket atau buku biologi apapun yang kalian punya tentang materi pernapasan dan saya kasih waktu 30 detik.. buk Teli juga boleh ikut serta" perintah ku dengan cukup berani.


Dengan semangat mereka membuka buku mereka. Setiap mata mengikuti jari telunjuk yang menunjuk pada tiap-tiap kata. Suara hiruk pikuk lokal sebelah tersamarkan dengan bunyi kertas yang di bolak balik.


"Ok cukup waktu habis.. apa ada yang nemu jawabannya?" tanyaku sambil memberhentikan mereka.


"Lah waktunya cepat amat.. kasih 5 menit kek" balas sijutek tak terima.


"Ok pertanyaan saya ada yang bisa jawab?" aku bertanya dengan tegas sekali lagi.


Semua murid diam bahkan buk Teli pun sama. Tak ada dari mereka yang bisa menemukan jawabannya dibuku dalam waktu 30 detik.


"Sebenarnya ini bukan soal untuk anak SMA atau pun guru.. ini soal diliat aja bisa anda jawab jika anda pakai otak.. apa penyebab paru-paru tidak bisa mengeluarkan karbondioksida lagi?.. kalian tinggal jawab mati.. selesai.. tapi kalian terus berpatokan ke buku tanpa menggunakan akal.. logika kalian hanya sebatas tulisan yang disusun rapi" jelasku panjang lebar kepada mereka.


Mereka terdiam tak berkutik sama sekali. Tak ada yang berani mendebat ku lagi. Kali ini aku puas melihat ekspresi mereka semua. Tampak seperti anak ayam yang baru keluar kandang. Dengan langkah penuh bahagia aku beranjak meninggalkan kelas.


Aku berjalan menuju kantin sekolah dengan perasaan gembira. Aku merasa sial ku hanya pada hari pertama dan hari ini adalah hari dimulainya keberuntunganku lagi.


Aku benar-benar tertawa geli melihat ekspresi mereka. Apalagi ekspresi buk Teli yang tadinya Naga berubah jadi seekor cacing. Sikutek yang tadinya seekor macan berubah jadi seekor kucing oren. Wah... aku benar-benar puas.


\*\*\*