GENIUS

GENIUS
Genius 2 (Part 7)



Awalnya, dia makan dengan lahap. Bakso dengan tiga sendok makan sambal itu, nyaris habis, berpindah ke dalam perutnya. Tak peduli peluh yang mulai menghiasi dahi. Tak peduli bibir yang mungkin jontor karena kepedasan. Sampai kemudian, dia mulai bercerita ....


“Ternyata move on itu susah, ya, Zaf,” kata Gea. Gerakan tangannya mengaduk kuah bakso terjeda. Tatapannya memang tertuju padaku, tapi aku tahu, bukan aku yang sedang dilihatnya. Mungkin seseorang, mungkin suatu kejadian. Momen yang menjadi penyebab Gea berkata seperti itu.


Aku masih diam, tak membalas apa-apa karena tahu Gea tak butuh itu. Dia hanya butuh di dengar untuk saat ini.


“Gue pikir setelah sekian tahun, perasaan itu udah gak ada. Yah, atau minimal berkuranglah.” Dia mengedikkan bahu, tatapannya berubah sendu. “Tapi ternyata ....” Bisa aku lihat Gea yang kesusahan menelan saliva. “Gue emang ***** banget!” Gea tertawa, tawa yang membuat matanya berkaca-kaca.


Lantas dia menusuk sepotong bakso, memasukkannya dalam mulut. Sekarang dia tampak benar-benar bodoh. Mengunyah makanan dengan tenggorokan yang sebenarnya tak mampu menelan jelas tindakan bodoh, bukan?


“Lu tau, Zaf,” katanya lagi setelah kesusahan menelan bakso. “Tiap malem sepulang kerja, gua selalu ngecek email, kotak masuk, bahkan spam. Berharap ada satu email masuk di situ. Gak apa walau sebatas say hai aja atau bilang Gea gue udah punya pacar, udah merit.” Sudut bibir Gea tertarik. “Gue pasti bakal ngerti. Dan mungkin gue bakal lebih mudah buat move on, iya, kan, Zaf?”


Aku mengangguk.


“Tapi dengan gak ada kabar kayak gini, justru bikin gue gak mampu ke mana-mana. Gue selalu ngerasa dia bakal balik. Gue selalu ngerasa Saka bakal dateng buat gue.” Kali ini tawa Gea dibarengi setetes cairan yang jatuh dari sudut mata. “Gue udah pantes dapet predikat bucin ***** ya, Zaf?”


Aku menghentikan tangan Gea yang hendak menusuk lagi baksonya. “Stop, Ge. Tenggorokan lu bakal sakit kalau kayak gitu terus!”


Gea menarik napas, meletakkan sendoknya. Lalu saat sadar pipinya basah, dia kembali terkekeh. “Gue kebanyakan ngasih sambel, deh, kayaknya,” katanya.


Melipat tangan di atas meja, aku menelengkan kepala, menatap Gea dengan seksama. Lantas merasa lucu sendiri. Kami sama-sama membiarkan hati tersakiti. Bukan karena orang lain, tapi karena kelakuan sendiri.


Aku yang bertahan sebatas sahabat. Bahkan dengan bodoh menjadikan orang lain sebagai pacar demi tetap di sisi Gea.


Sedang Gea, dia menunggu seseorang yang tidak jelas di mana keberadaannya. Gea dan Saka kehilangan kontak setelah tiga bulan kepergian Saka. Tidak ada pemberitaan perihal kabar Saka. Karena memang tidak ada yang benar-benar dekat dengannya. Pun keluarga Eldi yang sebelumnya sudah diputuskan hubungannya oleh Saka. Lelaki itu bak ditelan bumi. Kabar kematiannya pun tidak ada jika memang telah tiada.


Mungkin hal itu pula yang membuat Gea berhalusinasi. Memimpikan sesuatu karena kehilangan seseorang secara mendadak dan misterius. Membuatnya terlihat seperti apa yang dikatakannya tadi, bodoh.


Ya, kami ada sekumpulan orang bodoh yang menikamkan belati ke jantung sendiri. Lebih bodohnya lagi, kami sama-sama tak bisa membebaskan diri.


“Gue bisa bantu lu move on.” Aku sendiri terkejut dengan kaimat yang aku ucapkan. Entahlah semacam ada dorongan kuat untuk mengutarakan itu. Harus ada yang mengakhiri kebodohan ini, kan?


Gea mengerutkan kening. “Apaan? Jangan bilang lu mau nyuruh gue buat daftar aplikasi apalah-apalah itu.”


Tawaku menyembur karena perkataannya. Dulu sekali aku memang sempat menawari Gea daftar di semacam aplikasi pencarian pasangan. Tapi tentu saja itu cuma bercanda. Aku tidak mungkin membuat Gea terjebak di antara sekumpulan cowok tidak jelas di sana.


Ya, meski jika harus jujur ada modus di baliknya. Aku sempat mempunyai ide untuk menyamar jadi sesosok lelaki yang akan berkenalan dengan Gea. Lantas setelah membuatnya nyaman, barulah memunculkan diri.


Kalian boleh menertawakanku untuk hal konyol itu! Hahaha.


“Gaklah. Kali ini solusi dari gue pasti berhasil,” ujarku jemawa.


“Apaan?” Gea terlihat masih skeptis, seperti menaruh curiga mendalam padaku.


“Coba jalan bareng gue!”


Sejenak Gea mengerjap, seperti belum mencerna ucapanku. Sedetik kemudian telapak tangannya bersarang di lengan dan bahuku. Memukul bertubi-tubi.


“Ngomong apa, sih! Ada-ada aja!” gerutunya setelah puas menyiksaku.


Aku menghela napas. Terlalu sering bercanda kadang membawa dampak tersendiri. Seperti ini contohnya, apa-apa yang sebenarnya serius jadi seperti lawakan. Menyebalkan!


“Gue gak becanda, Ge,” kataku serius. Yah, mungkin inilah saatnya aku benar-benar memperjuangkan Gea. Mungkin inilah saatnya aku menunjukkan perhatianku sebagai lelaki bukan hanya sebatas sahabat.


Aku menepuk dahi, sadar jika Gea belum tahu status hubunganku dan Mila.


“Gue baru aja diputusin sama Mila.”


“What?!”


Aku meringis saat melihat ekspresi Gea yang terlihat sangat terkejut itu. Lantas menggaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya tidak gatal.


“Lu serius?” tanya Gea masih dengan kelopak mata yang membulat karena tak percaya. “Lu apain si Mila?”


“Apaan? Ya gak gue apa-apainlah,” elakku.


“Trus kok bisa dia minta putus?”


Aku mengedikkan bahu. Tidak mungkin, kan, aku mengatakan yang sebenarnya? Bahwa Mila tahu jika selama ini aku hanya memanfaatkannya. Bahwa dia sudah lama tahu tentang perasaanku untuk Gea.


Gea mengibas tangan. “Itu pasti cuma ngambek doang. Percaya sama gue, lu cuma harus ngerayu dia biar ngambeknya ilang.”


“Halah! Sok tau lu! Kek pernah pacaran aja!” cibirku pada Gea.


Gadis itu terkekeh sendiri. Tapi tetap berusaha membela diri, bahwa pendapatannya benar. “Jangan bawa-bawa pengalamanlah. Gue tau berdasar pengamatan. Rata-rata cewek kalau lagi ngambek gitu, suka ngeluarin kata-kata ancaman.”


Aku melipat tangan di dada, bersikap seolah mengamatinya dengan sesekali mengangguk. Sengaja bertingkah seolah sedang menyimak pembicara handal. Motivator percintaan yang sebenarnya nilai praktiknya nol besar.


Mengerucutkan bibir, Gea seperti menyadari kelakuanku ini. “Taulah, lu mah, orang mau dibantuin!”


“Iya, tayang ....” Aku mencondongkan tubuh, menepuk-nepuk pucuk kepalanya. “Mau bantuin apaan emang?”


Mendesis, Gea menyingkirkan tanganku. “Lu aneh, deh, Zaf. Abis putus bukannya sedih atau apa, eh, masih bisa becanda.”


“Karena gue gak bener-bener sayang sama Mila, Ge.”


Ingin aku jawab seperti itu, tapi sadar hal itu hanya akan memunculkan masalah baru.


“Ya kalau dianya udah gak sayang, gue bisa apa?” ujarku pada akhirnya.


“Masa sih, Mila kek gitu? Gue liat dia justru kayak gak pengen kehilangan lu malah.”


Aku mendengkus tawa. Gadis di depanku ini pandai menebak isi hati Mila, tapi kenapa tidak denganku? Kenapa susah sekali menunjukkan bahwa aku menyayanginya lebih dari seorang teman?


“Makanya lu bantuin gue,” kataku.


“Apaan?”


“Katanya orang yang beneran sayang bakal cemburu kalau liat kita jalan sama orang lain. So ... bantuin gue bikin Mila cemburu, Ge!”


---------@-----@-----------------


Terima kasih untuk yang udah sabar banget ngikutin cerita ini. lup u all..😘