
Hal apa yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan?
Menyadari bahwa kamu tak bisa lagi menyapanya seperti dulu? Atau mengetahui bahwa tak ada lagi yang memperhatikanmu?
Biasanya setiap aku membuka mata, sudah ada satu atau dua pesan masuk dari Mila. Entah berisi ucapan selamat pagi atau ucapan penyemangat memulai hari.
Namun, sudah dua hari ini tak aku dapati pesan seperti itu. Pesan yang kerap aku abaikan.
Kini aku baru sadar betapa jahatnya aku. Orang macam apa yang membiarkan kekasihnya berjuang sendiri?
Hari itu, setelah puas menangis dan menumpahkan keluh kesahnya, Mila pergi begitu saja. Tak menghiraukan permintaan maafku. Mungkin Mila benar-benar membenciku. Sudah muak melihat wajahku.
Sejujurnya aku akan lebih memilih jika Mila meninju rahangku atau menendang tulang keringku daripada hanya menangis seperti waktu itu.
Namun, kemudian aku sadar jika gadis itu Mila yang lemah lembut bukan Gea yang barbar. Ah, lagi-lagi nama itu. Nama yang menjadi cikal bakal terlahirnya sifat jahat dalam diriku. Coba kalau dulu saat aku menyatakan perasaan, Gea menerimanya, yah ... atau minimal tidak perlu menjauh, maka aku tidak harus menjadikan Mila sebagai tameng, kan?
Jika ada yang bertanya seperti apa perasaanku pada Mila setelah tiga tahun memiliki hubungan, maka jawabanku adalah perasaan sayang itu ada. Maksudku perasaan sayang seperti kakak pada adiknya. Sedangkan untuk lebih dari itu, aku belum tahu. Namun mengingat bagaimana respons diri ini untuk Gea dan Mila, sepertinya posisi Gea masih jauh di atas Mila.
Aku menyugar rambut, turun dari pembaringan lantas beranjak ke kamar mandi. Memikirkan itu hanya akan membuatku telat nanti.
***
Alisku bertaut saat mendapati kubikel di depanku masih kosong. Jangan tanya kubikel siapa, karena aku tidak mungkin mencari orang yang tidak benar-benar berarti. Gea belum juga menampakkan batang hidungnya, bahkan ketika jam kantor sudah dimulai.
Menarik ponsel dari saku celana, aku memutuskan untuk menghubunginya. Dering pertama, kedua, sampai ketiga, panggilanku tak kunjung mendapat respons. Membuat perasaan tak enak menjalari dada. Aku mengulanginya lagi, menghubungi kontak Gea. Jemariku yang lain mengetuk-ketuk meja, sedikit gusar menanti nada sambung panggilan itu, yang lagi-lagi tak diangkat.
Embusan napas kelegaan lolos, saat panggilan yang ketiga akhirnya terhubung. Lebih bersyukur lagi saat mendengar suara si pemilik ponsel yang menyapa telinga.
“Iya, Zaf?”
“Lo di mana? Gak masuk? Sakit?” berondongku setelah lebih dulu berjalan ke pantri.
“Heleh, satu-satu nanyanya. Gue lagi di depan Istora.”
“Lo ngliput hari ini?” serobotku cepat.
Gea menanggapi dengan gumaman. Lalu terdengar suara obrolan di seberang sana. Aku menunggu dengan sabar.
“Dah dulu, ya, Zaf. Gue mau masuk nih.”
“Eh, bentar,” cegahku. “Lo bareng Bang Adli?”
“Iyalah, siapa lagi.” Aku yakin Gea memutar bola mata saat mengatakan itu.
“Lo ....” Sedikit ragu, aku mengeluarkan kalimat selanjutnya. “Gak papa?”
Gea tidak langsung menjawab, terdengar helaan napasnya, meski tidak kentara, tapi aku tahu kondisi batinnya tidak baik-baik saja.
“Gue ... gak papa, kok.”
Aku mendecih lirih, cewek dengan segala perkataan kebalikkannya. Jika bisa, sungguh aku ingin menemuinya saat ini. Jika bisa, aku akan menggantikan Gea sekarang juga.
Karena bersinggungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan orang yang kita sukai tanpa bisa memiliki itu tidak enak. Karena aku sudah hafal dengan semua rasa itu.
Namun, tentu saja aku tidak bisa merealisasikannya karena pekerjaan lain menantiku. Tepat saat aku akan kembali ke kubikel, Mak Lampir sudah duduk di kursiku.
“Pagi, Zafran ...,” sapa wanita itu dengan suara khasnya.
“Pagi, Mbak.” Aku tidak bisa untuk tidak menatap kuku kuku runcing yang dicat kuning itu.
“Kamu gak lupa, kan, tugas hari ini?”
“Interview, kan?”
“Pinter.” Wanita itu berdiri.
Aku refleks mundur saat tangannya terulur. Mencegah jemari itu menyasar rambutku seperti beberapa waktu lalu.
Mbak Mery memonyongkan bibir sekilas. Hanya sekian detik, setelahnya dia kembali tersenyum. “Oke, ayo kita berangkat!” katanya.
“Kita?” beoku dengan dahi berkerut.
“Iya, aku sama kamu, Zafran.” Lagi senyumnya tersungging, kali ini bahkan dengan mengedipkan sebelah mata.
“Lisa udah ada job lain. Lagian kamu gak tau pengusaha yang mau kita temuin ini tergolong susah. Beruntungnya aku kenal sama tunangannya, jadi bisa ngeloby lebih mudah,” terang Mbak Mery panjang lebar, yang sebenarnya tidak membuatku tertarik.
“Gimana kalau saya sendiri aja? Mbak banyak kerjaan, kan, pastinya?” Aku mencoba bernegosiasi, sebisa mungkin jangan sampai menghabiskan waktu bersamanya.
Tangannya terkibas, membuat aroma Mawar Perancis tercium. “Aku gak sesibuk itu. Demi kamu aku rela nunda kerjaan lain.”
“Tap—“
Perkataanku tertelan bersama saliva saat tangan horor itu menggenggam pergelanganku.
“Udah, ayo berangkat!” katanya.
****** gue!
Sempat aku lihat beberapa karyawan lain yang cekikikan saat Mbak Mery menuntunku di depan mereka.
***
Aku menekan klakson berulang, berharap antrean kendaraan di depan bergerak. Jika saja pemilik mobil ini tidak ada di sebelahku, sudah aku pukul roda kemudi ini dari tadi.
“Sabar, Zaf!” kata wanita itu.
Sebenarnya keberadaan wanita itulah yang membuat perjalanan ini terasa melelahkan dan jauh lebih lama dibanding biasanya. Tubuhku menegang dari tadi gara-gara maniknya yang terus menyoroti. Seperti singa lapar yang tengah mengincar mangsanya.
“Zaf, kamu rajin nge-gym, ya?” tanya Mak Lampir.
“Ha?” Aku menoleh sekilas. “Gak kok, Mbak.”
“Kok otot kamu bisa bagus gitu?”
Aku mengangkat tangan, berpura menggaruk rambut yang sebenarnya tak gatal saat kusadari tangannya mulai terulur, hendak menyentuh lenganku.
“Mungkin karena aku hobi main lompat tali, Mbak,” jawabku asal.
Tawa aneh wanita itu mengudara. Aku tidak mengada-ada perihal suara tawa itu. Meski wajahnya cantik, tapi suara tawanya memang aneh. Terkikik mirip Mak Lampir.
“Kamu lucu, Zaf,” ujarnya. “O iya, kamu sudah punya pacar?”
Aku bersyukur saat akhirnya kemacetan mulai terurai, pelan tapi pasti kendaraan mulai bergerak. “Punya, Mbak.” Baru diputusin kemarin. Kalimat terakhir itu hanya aku tambahkan dalam hati. Berharap Mbak Mery sadar diri sehingga tidak macam-macam denganku lagi.
Ya, sebut saja aku terlalu percaya diri, menganggap seseorang menyukaiku. Tapi melihat bagaimana perlakuan Mbak Mery kepadaku, rasanya itu cukup masuk akal, kan?
“Siapa? Si Deva temen kamu itu?”
“Deva?” Aku mengulangi pertanyaannya.
“Iya, temen kamu itu, yang gaya rambutnya poni tail mulu.”
“Oh, Gea?” Aku tersenyum, teringat gadis itu yang memang lebih suka mengikat rambutnya jadi satu ke belakang. Khas Gea. Inginku menjawab iya, tapi jika gadis itu tahu pasti bakal marah. “Bukan,” jawabku pada akhirnya.
Sebenarnya bisa saja aku menjawab Gea orangnya agar Mbak Mery berhenti menggodaku karena sadar ada kekasihku di depan mata. Tapi aku juga tahu orang sepertinya sangat mungkin melakukan tindak kriminal pada Gea. Membebani Gea dengan banyak kerjaan misalnya.
***
Embusan napas kelegaan lolos dari mulutku saat kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah lapangan golf dengan segala kemewahannya. Entah aku harus bersyukur bisa menginjakkan kaki di tempat olahraga para konglomerat ini atau mengumpat. Bagaimana bisa mereka buang-buang uang di sini sementara di luar sana banyak yang sedang menengadahkan tangan.
Tapi kemudian aku sadar, mungkin ini yang dinamakan keseimbangan. Tidak akan ada lapangan golf ini jika tidak ada lapangan kasti. Tidak akan ada yang namanya manusia tajir jika tidak ada fakir miskin.
Aku membuntuti Mbak Mery yang menghampiri seorang perempuan. Mereka melakukan ritual ala perempuan saat bertemu. Cium pipi sembari berucap kangen atau memuji kecantikan masing-masing. Nyaris saja aku memutar bola mata karena itu.
“Oh iya, di mana tunanganmu? Si pengusaha muda yang beruntung itu?” tanya Mbak Mery setelah puas cuap-cuap tidak jelas.
Perempuan yang menurut pendengaranku bernama Elata itu menunjuk seseorang di lapangan hijau. “Tuh,” katanya.
Aku mengikuti arah telunjuknya. Perlu memicingkan mata agar bisa melihat dengan jelas sosok itu. Tampak muda seperti kata Mbak Mery. Namun, bukan itu yang membuatku tak berhenti memperhatikan lelaki itu. Gestur tubuhnya mengingatkanku pada seseorang.
Lalu saat orang itu berbalik, dan menatap kami, aku tak bisa menyembunyikan umpatanku.
------------------------------@------
Hayo, siapa yang dilihat Zafran?😁