
Genius Leader terdiri dari dua bangunan utama. Gedung sebelah utara merupakan pusat majalah GL. Sementara gedung sebelah selatan adalah stasiun TV. Gazebo dengan jalan setapak menjadi pemisah.
Jika sedang banyak waktu luang atau jam kantor belum mepet, aku terkadang melewati jalan itu. Seperti hari ini, berhubung suasana hati sedang baik, tidurku nyenyak, dan bisa bangun lebih pagi, aku memutuskan memarkir motor di area luar gedung, dan melewati jalan berpaving ini.
Tadinya aku berniat menjemput Gea, lantas mengajaknya jalan berdampingan di sini. Dengan langkah pelan sembari bercerita apa saja. Namun, itu hanya menjadi khayalan semata karena Gea langsung menolak di detik ketika aku mengajaknya berangkat bersama.
Alhasil aku menikmati udara pagi yang tak sesejuk yang ada di bayangan dengan langkah santai. Sendirian.
Tanganku otomatis terangkat ke atas, sebagai tanda hai saat melihat Diana. Ya, teman satu timku di majalah sekolah dulu itu juga bekerja di GL. Bedanya dia di gedung A, menjadi reporter berita.
Tak seperti biasanya, gadis itu tak membalas lambaian tanganku. Dia memang berjalan mendekatiku, tapi dengan raut wajah terlalu serius. Seperti tengah memburu nara sumber berita kriminal.
“Zaf, lu temen gue, kan?”
Pertanyaan Diana membuatku menjengitkan alis.
Dia menoleh ke kanan kiri, seperti tengah memindai situasi. Lantas tiba-tiba menarik tanganku.
Aku sedikit terhuyung mengikuti gerakan kakinya yang tiba-tiba dan terlampau cepat itu. “Ngapa, sih, Di? Gue gak ultah, kejutannya kecepetan.” Aku masih mencoba bercanda, berharap Diana memang sedang melakukan itu. Meski sebagian diriku menyangkalnya dan mulai berpikiran lain.
Feelingku kian kuat saat Diana membawaku memasuki bilik kamar mandi yang berada di belakang gedung. Beruntung, jam kantor yang belum dimulai membuat tempat ini masih sepi. Jadi, aku tidak perlu khawatir jika ada yang akan memergoki kami di sini.
Seperti dugaanku, Diana segera mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Sesuatu yang menyebabkan dia setegang itu. Sesuatu yang menyebabkan dia menyeretku mojok di kamar mandi ini.
“Gue gak tau lagi mau ngasih ini ke siapa,” ucap Diana. “Yang gue tau, gue mungkin gak akan lama lagi di sini.” Dia menyerahkan sebuah flash disk kepadaku.
“Ini ... apa?” tanyaku sembari membolak-balik benda itu.
Aku dan Diana lumayan sering ngopi bareng. Kadang kami menceritakan hal-hal konyol seputar masa lalu kami. Kadang jika dalam mode serius, Diana akan menceritakan pengalamannya mencari berita.
Faktanya misteri yang membayangi dunia reporter memang nyata. Para pencari berita terutama berita seputar skandal orang-orang besar selalu membawa dampak tersendiri. Orang-orang seperti Diana harus siap dengan segala risiko. Mulai dari menjadi si munafik dengan menyajikan berita bohong, menjadi bagian dari oknum jahat dengan menerima segala suap mereka. Atau memilih menjaga nurani dengan konsekuensi siap dibuntuti sampai mati.
Untuk Diana sepertinya tidak perlu aku jelaskan di mana posisinya, kan?
“Sesuatu yang gue temuin beberapa pekan terakhir,” katanya.
“So ... lu pengen gue ngapain?” tanyaku.
Diana menatapku lekat. “Kalau gue bilang, lu harus nyelesein itu, lu siap?” Perkataan itu tak terdengar seperti tantangan, tapi entah kenapa nuraniku terusik.
Entah apa yang ditemukan Diana, nyaris sebulan ini kami memang belum berbagi cerita lagi, tapi aku yakin ini penting. Mungkin lebih krusial dari sekadar mega korupsi yang dilakukan para petinggi. Lebih heboh daripada video asusila dua pejabat bidang keagamaan.
“Lu butuh bantuan gue?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Gue nyerahin ini ke elu.”
Kedua alisku bertaut.
“Kalau lu udah yakin, kenapa gak langsung lapor polisi?” Kalimat terakhir Diana tadi benar-benar membuatku seolah berada di film-film thriller. Mendadak rasa khawatir menyeruak, takut jika ternyata ada yang memergoki kami tadi.
Diana tertawa hambar. “Plis, Zaf! Sejak kapan lu ****!” cibirnya. “Lagian itu belum sepenuhnya selesai.” Dia menunjuk benda yang aku pegang dengan dagu.
“Maksud lu, gue mesti nyelesein ini sendiri?”
Dia mengedikkan bahu. “Serah lu, Zaf. Lu boleh tutup mata, anggap aja itu bukan apa-apa. Atau lu bisa milih jadi Zafran seperti yang selama ini gue kenal.”
Berdecak, aku bertolak pinggang dengan tangan kiri. “Mendadak gue nyesel ikut lu ke sini,” kataku sembari mendengkus.
Lagi, tawa Diana mengudara. Untuk orang yang sedang terancam nyawanya, aku harus acungi jempol keberanian gadis ini. Diana memang masih baru di GL, tapi ketertarikannya pada dunia itu sudah ada sejak dulu.
“Ini serius.” Aku menghentikan tawa Diana. “Kalau lu tau lu sedang dalam bahaya kenapa gak cari perlindungan?”
Membuang pandangan, Diana menghela napas. “Saking seringnya nemuin orang-orang munafik itu, gue sampai bingung, Zaf, yang mana polisi, yang mana penjahat asli. Gue bahkan sangsi di dunia ini benar-benar ada keadilan itu. Jangan-jangan jaksa agung tertinggi pun tak ubahnya serigala berbulu domba yang gampang dimanipulasi.”
Aku turut menghela napas, setuju dengan apa yang dikatakan Diana.
“So ... lu pasrah?”
Pertanyaan dariku tak terjawab, karena detik berikutnya kami harus segera pergi karena kedatangan seseorang di bilik sebelah.
***
Dulu sebelum memutuskan menjadi reporter berita olahraga dan bisnis, aku sempat berpikir untuk terjun ke bidang yang sama dengan Diana. Namun, karena satu alasan aku memilih di majalah ini.
Ya, sebutlah aku korban bucin. Terlalu menyayangi seseorang sampai mengikuti ke mana pun dia pergi. Tapi aku juga punya alasan lain. Alasan untuk menjadi orang biasa yang tidak tahu dengan apa yang terjadi di luar sana. Alasan untuk tidak ikut terlibat dalam dunia hitam itu. Karena kadang menjadi biasa dengan tidak tahu apa-apa lebih mendamaikan ketimbang tahu sesuatu, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Aku menghela napas panjang entah untuk yang ke berapa kali. Lagi, kupandangi flash disc di tangan, benda yang menurut Diana menyimpan sesuatu. Aku belum memutuskan akankah langsung melihat isinya atau tidak. Untuk saat ini, aku memilih menyimpannya lebih dulu. Karena aku tahu butuh kestabilan emosi dan konsentrasi saat melihat isinya.
Sesekali aku masih menoleh ke belakang, di mana aku berpisah dengan Diana. Gadis itu memasuki gedung A, sementara aku bersiap masuk kerja. Aku hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal buruk padanya.
Memasuki lift, aku memutuskan untuk menyimpan apa yang terjadi pagi ini. Lantas bersikap layaknya Zafran si anak baru di Majalah Genius Leader.
Senyumku terkembang ketika memasuki area tempat kerja. Terlebih saat melihat gadis itu. Gadisku, bolehkah aku menyebutnya begitu? Ha ha, aku rasa Gea akan menjitakku jika mendengar ini.
Tarikan di sudut-sudut bibirku kian kuat saat Gea menyadari keberadaanku. Dia bahkan sampai berdiri untuk menyambutku.
“Pagi, Gea—”
“Apa-apaan ini?!”
Kalian tahu, kadang kebahagiaan yang serupa madu itu hanya rasa sesaat untuk kemudian berubah serasa empedu. Melihat Gea pagi ini dengan segala ekspresinya membuatku sadar jika madu yang aku cecap kemarin hanyalah kamuflase rasa dari empedu yang sebenarnya.