GENIUS

GENIUS
Genius 2 (Part 8)



Sebutlah aku gila, berbahagia hanya untuk sebuah sandiwara.


Sejak membuka mata pagi ini, senyumku terus tersungging, seakan ada medan magnet yang menarik sudut-sudut bibirku ke atas.


Sembari bersiul aku menyisir rambut di depan cermin, memastikan jika wajahku seganteng biasanya. Aku mengenakan kemeja denim yang lengannya kugulung seperempat bagian. Jeans hitam dengan robekan di lutut membungkus tungkai jenjangku. Untuk alas kaki, aku mengenakan sneakers putih.


Setelah memastikan penampilanku paripurna, aku mengambil ponsel di nakas, mengecek balasan pesan dari seseorang.


Double G: Soyang, sayang, inget kita cuma pura-pura, Zaf!


Kalau ditelaah kalimatnya itu bernada makian, tapi aku justru terkekeh. Tidak waras memang.


Aku melihat pesanku sebelumnya, hal yang membuat Gea protes.


Zafran: Udah siap belum, SAYANG?


Ya, aku sengaja menuliskan kata terakhir itu dengan caplocks, ingin mengingatkannya jika hari ini dia menjadi SAYANG-nya aku.


Tak kapok degan makian Gea, aku kembali mengetikkan balasan dengan sebutan yang sama.


Zafran: Gue otw, SAYANG.


Tak lupa membubuhkan tiga buah emot cium.


Jangan tanya seperti apa balasan Gea, dia menghadiahiku selusin emot devil merah bertanduk.


Dan lagi-lagi tertawa.


***


Kadang, aku berpikir apa yang membuatku jatuh cinta pada Anggea Radeva. Wajahnyakah? Sifatnyakah? Atau justru kejutekannya?


Berbicara fisik, gadis yang aku kenal semenjak SMA itu berpostur mungil. Tingginya hanya sebatas bahuku, hal yang membuatku gemas untuk selalu merangkulnya. Wajahnya oval dengan hidung mungil dan bibir tipis. Sekilas tidak ada yang membuat tertarik, tapi saat dia tersenyum, matanya ikut tersenyum. Manis.


Sifat ... Gea mandiri, Gea tak mudah berburuk sangka pada orang, tapi itu juga yang membuatnya kerap terpojokkan.


Tentang kejutekkannya, sepertinya itu hanya ditujukan padaku.


Sejenak, aku tertegun saat melihat gadis itu keluar dari indekosnya. Inikah yang dinamakan terpesona? Terpesona dengan penampilan Gea yang lain dari biasanya. Rambut hitamnya tergerai, dengan jepit kecil di dekat telinga kiri. Hal yang entah kenapa membuat Gea terlihat ... cantik.


Untuk penampilannya, bolehkah aku menyebut ini chemistry? Dia juga memakai jaket denim dengan dalaman kaus putih. Sekilas, kami seperti sepasang kekasih dengan baju couple-nya.


“Hai, Sayang, baju kita samaan, nih.” Aku menaik-naikkan alis, menggoda Gea.


Apa respons Gea?


Yup, memukul lenganku seperti biasa. Sembari mengomel agar aku tidak memanggilnya sayang.


“Lah, kita kan pacar?”


“Pura-pura, Zaf!” ujar Gea, mengingatkanku. “Ada misi khusus yang mesti kita lakuin, inget itu!”


“Duh, udah kayak agen FBI aja kita.”


Gea memutar bola mata menanggapi ucapanku barusan.


“Eh, ini beneran. Banyak tuh film tentang jurnalis yang sebenernya agen FBI.”


“Please, Zaf! Buka mata lu! Ini bukan film. Lagian mau ngusut kasus apa kita di majalah sport?”


Aku menjebik sembari mengedikkan bahu. “Siapa tau, kan, suatu saat nanti kita nemu sesuatu.”


“Kebanyakn nonton film action lu. Jadi gak nih?” tanya Gea.


“Ya, jadi dong. Ayo abang boncengin, Sayang!”


Lagi, telapak tangan Gea bersarang di lenganku.


***


Sudah cukup sering kami berboncengan. Tak hanya sekali dua kali Gea duduk di jok belakangku. Namun, saat ini entah kenapa sensasinya lain. Aku harus berulang kali melakukan inhale dan exhale agar detak di rongga dada ini tidak menggila. Agar Gea tidak tahu jika jantungku berdentum hebat karena keberadaannya.


Gea sempat mengolokku tadi, berkata bahwa aku sekepo itu dengan Mila sampai tahu jadwal temu gadis itu. Padahal Mila sendiri yang menuliskannya di status whatsapp. Entah disengaja atau tidak oleh Mila.


Setelah memarkir motor di depan Cingu Cafe, aku segera meraih tangan Gea, mengaitkan jemarinya di lenganku.


“Untuk kesempurnaan misi, Ge,” kataku saat melihat dia bersiap protes.


Kafe yang didesain dengan pernak-pernik khas Negeri Ginseng itu ramai. Pengunjungnya rata-rata remaja yang juga berdandan ala bintang Korea. Bahkan door man yang menyambut kami di pintu masuk tadi pun menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Terdengar seperti nyonghaseo, atau giseyo, ah, entahlah.


“Zaf, itu Mila,” bisik Gea.


Mila dan kedua temannya duduk di meja sudut. Awalnya tampak asyik bercerita sampai salah satunya menyadari keberadaanku. Lantas menyikut Mila, dan membuat gadis itu menoleh.


Sejenak kami bertatapan. Lalu Mila berdiri, berjalan menghampiri kami.


“Hai, Mil, lu di sini?” sapa Gea, dia sedikit menggerakkan pegangannya di lenganku, seakan sengaja ingin menunjukkannya pada Mila.


Gadis itu mengangguk. “Kalian ngedate?” tebaknya.


“Ng ... ya ... gitulah. Lu nyesel, ya, udah mutusin, Zafran?” bisik Gea.


Nyaris saja aku tertawa karena pertanyaan frontal itu. Gea benar-benar tidak cocok jadi agen FBI.


Mila tertawa kecil, tapi kilat sedih di matanya masih bisa aku tangkap. Dia menggeleng lemah, lalu berujar, “Selamat, ya.”


“Lho?” Gea tampak terkejut, dia melepas pegangannya dan lebih mendekat pada Mila. “Zafran masih lebih sayang sama lu kok. Gak papa kalau lu jeolous, Mil,” bisiknya lagi.


Namun, seperti sebelumnya, Mila menggeleng sembari memaksakan seulas senyum. “Gak, Ge. Gue ... justru seneng akhirnya kalian bersama.”


Gadis itu mengalihkan tatapannya padaku, tersenyum kaku. “Congrats, Zaf,” ucapnya serak. Lalu buru-buru berbalik.


“Loh, Zaf, kok jadi gini?” Gea terlihat panik, dia menoleh padaku, lalu pada Mila, seakan hendak mengejarnya. “Zaf, itu!” serunya lagi.


Aku menahan lengan Gea, memberi isyarat agar dia tidak perlu mengejar Mila dengan gelengan. Lantas menariknya pergi dari kafe itu.


“Zaf, lu gimana sih, harusnya kejar Mila!” demo Gea setelah kami berada di tempat parkir.


Aku duduk di jok motor tanpa menyalakan mesin. “Buat apa?” tanyaku malas.


“Ya buat nyeyakinin Mila kalau lu tuh masih sayang sama dia. Kalau ini tuh cuma san—”


“Gimana kalau gue bilang gue udah gak sayang Mila?” Aku memotong ucapan Gea.


Gadis itu tertegun, tak melanjutkan ucapannya, justru sekarang terlihat syok ... mungkin.


“Mak-sud lu?”


Menghela napas, aku meraih tangan Gea, menggenggamnya. “Segala cara udah gue coba, Ge,” kataku. Karena posisi kami, pandangan kami bisa sejajar tanpa perlu aku menunduk atau Gea yang mendongak. “Gue nyoba buat gak suka sama lu. Buat jadiin lu HANYA TEMAN. Tapi ....” Aku menggeleng. “Nihil, Ge.”


Gea mengerjap, terlihat tidak nyaman, tapi aku masih mempertahankan tangannya dalam genggamanku. “Gue gagal setelah sekian tahun mencoba.”


“Zaf, ini—”


“Please, Ge!” Lagi, aku mencegahnya berbicara. “Kasih gue kesempatan. Seenggaknya anggap gue sebagai cowok yang pengen deketin lu, bukan cuma temen.”


“Tapi, Zaf, gue gak ....” Dia menggeleng, tampak tak mampu berucap, mungkin bingung mengungkapkan isi pikirannya.


“Gak apa? Gak bisa? Karena lu masih sayang sama Saka?”


Gea menunduk, tak menjawab. Tapi bagiku itu sudah mewakili jawabannya.


“Come on, Ge! Lu masih ngarepin orang yang bahkan gak jelas keberadaannya?”


Dia masih menunduk.


“Gue bersedia jadi uji coba lu, Ge.”


Kali ini dia mengangkat kepala, membuat netra kami berserobok.


“Kasih gue kesempatan buat gantiin posisi Saka. Kalau suatu saat dia dateng dan lu masih gak sayang sama gue, gue siap mundur.”