GENIUS

GENIUS
Ch 11 Mengenal Murid Kelas



Aku dan Ami berjalan beriringan menuju kelas. Tapi kali ini Ami tampak malu-malu jalan beriringan denganku. Dia terus menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya dari perhatian siswa lain.


"Ami.. kamu pernah punya pacar?" tanyaku spontan.


"Hah? kok tiba-tiba nanya gitu?" balasnya dengan ekspresi kaget.


"Hahaha kayaknya kamu gak pernah pacaran ya?" aku sedikit meledek.


"Ih sok tau" balasnya lagi sambil menutupi wajahnya dengan buku.


"Hei.. hei.. hei.. pacaran mulu.. sekarang waktunya belajar.. cepat masuk kelas" sahut seorang guru laki-laki berbadan gemuk dari belakang kami.


"Kami gak pacaran kok pak"


"Kami gak pacaran kok pak" jawab ku bersamaan dengan Ami.


"Bapak gak larang kalian pacaran.. udah kalian pacaran aja.." balas pak guru tersebut dengan genit berdiri ditengah-tengah kami.


"Hahaha bapak ini ada-ada aja.. Vian ini anak baru pak.. jadi aku temenin biar cepat tau tentang sekolah kita" kata Ami seraya menjelaskan kepada pak guru tersebut.


"Oh ini anak baru yang dikenalin pak kepala sekolah kemaren ya.. hebat kamu nak.. nanti kamu jadi asisten bapak mainin musik ok" kata pak guru tersebut padaku.


"Oh bapak guru seni budaya?" tanyaku sedikit memastikan.


"Iya nama bapak Pak Zulfirman.. biasa dipanggil Pak Zul.. ok" jawab Pak Zul padaku.


Aku, Ami dan juga Pak Zul akhirnya memasuki kelas. Aku kembali duduk dibangku ku. Dan aku lihat simanusia setengahan juga telah santai duduk dibangkunya.


"Bro kita kan teman sebangku nih, tapi aku belum tau kamu siapa?" tanyaku pada simanusia setengahan.


"Oh panggil aja aku Luthfi" jawabnya padaku dengan kewanitaan.


Suaranya Luthfi terdengar seperti laki-laki normal, cuman tingkah laku sama gayanya yang menyerupai perempuan. Sebenarnya Aku malas jadi teman sebangkunya, tapi apalah daya cuman bangku ini yang kosong.


"Hmm minta tolong aja sama Ami.. dia kebetulan sekertaris kelas" balasnya dengan wajah malasnya.


"(Sialan nih anak.. kalau aku bukan anak baru, udah aku buli nih orang)" hujat ku dalam hati.


"Ami.." aku sedikit menggoyangkan bangkunya kemudian dia menoleh kearahku. "Ami.. bisa buatkan aku sketsa denah anak-anak kelas kita.. nama dan tempat duduknya" pintaku pada Ami.


"Bagaimana kalau pas jam istirahat aja Ami jelasin.. soalnya Ami dikelas aja pas jam istirahat" balas Ami menjanjikannya nanti.


Emang jam pelajaran Seni Budaya ini adalah suatu hiburan. Pak Zul lebih sering melucu dari pada mengajar. Itu berhasil membuat anak-anak betah dikelas.


Pak Zul juga pintar bermusik. Dia bisa memainkan berbagai alat musik seperti piano, gitar, biola, dan seruling.


Dikelasku juga ada seorang penyanyi terbaik disekolah. Dia adalah si imut teman sebangku si jutek. Aku mengetahuinya dari Luthfi ketika si Imut bernyanyi didepan kelas. Suaranya sangat merdu. Sayangnya tak ada penyanyi laki-laki disekolah ku ini yang bisa berduet dengannya.


Bel jam istirahat pun berbunyi. Semua Murid kelasku mengemasi semua buku dan alat tulis mereka diatas meja dan memasukan kedalam. Kemudian mereka berhamburan pergi kekantin. Hanya tersisa beberapa murid saja termaksud aku dan Ami.


"Ami.. jadikan bantuin aku?" tanyaku pada Ami yang sedang membuka buku Fisika.


"Ok.. sini duduk disamping aku aja biar gampang aku jelasin" balas Ami sambil memerintahkan aku untuk dibangku yang telah ditinggalkan temannya.


Aku kemudian duduk disampingnya. Lalu dia mulai mengeluarkan kertas kosong dan juga sebuah pena.


"Kita mulai dari sebelah pojok kanan paling depan.. Dia namanya Intan(Si Jutek) dia murid juara kelas sekaligus juara umum.. sebelahnya Moniq(Si Imut) dia suaranya paling bagus disekolah.. sebelahnya Resi dan Dila.. sebelahnya Aulia dan Lisa.. lalu Gita dan Maiza.. kemudian Indah dan Mutia.. Nisa dan Sari.. Nindi dan Yulia.. Wulan yang duduk sendirian.. Dina dan Nurul.. dan Ini Ami dan Mona.. lanjut murid laki-laki.. Ini Luthfi dan kamu.. Agus dan Angga.. Iwan dan Fikri" jelas Ami kemudian melihat kearah ku. "Paham kan?" sambungnya bertanya.


"Ok paham kok Mi.. tapi apa emang tiap kelas anak laki-lakinya sedikit Mi" aku bertanya sedikit penasaran.


"Iya.. untuk lokal IPA anak laki-laki emang sedikit.. paling banyak lokal IPA 3 ada 8 orang.. selebihnya cuman 6 orang" jawab Ami menjelaskan.


Dari penjelasan Ami setidaknya sedikit memberiku informasi tentang murid kelasku. Terutama untuk nama Si Jutek dan Si Imut. Ini akan cukup memudahkan ku untuk berkomunikasi kedepannya.