
Ketika hendak mengambil tas ku diruang kepala sekolah, Dua orang guru juga ikut masuk kedalam ruangan itu. Mereka adalah wakil kepala sekolah dan ketua guru BK.
Oh ya aku lupa memperkenalkan nama mereka. Nama kepala sekolah ku adalah Pak Khairul, nama wakil kepala sekolah adalah Pak Datuk dan nama ketua guru BK adalah Pak Zen.
"Vian duduk dulu sini nak.. ada yang perlu kita bicarakan" perintah kepala sekolah.
"Oh.. iya pak" jawabku.
"Bapak mau nanya kamu kelas berapa?" tanya kepala sekolah sambil nyengir.
"Lah anak seperti ini langsung tamat aja bisa pak.. toh dia dikenal sebagai anak yang lebih pintar dari guru.. hahaha" Canda Pak Datuk.
"Hehehe.. aku masih kelas 11 pak.. dan aku juga butuh nilai rapor dari kelas 10 sampai kelas 12 pak" jawab ku mencoba untuk serius.
"Kami dengar ceritamu.. kamu lebih sering belajar diluar dari pada di sekolah.. jadi berapa hari kamu ingin sekolah dalam sebulan disini" sambung tanya Pak Zen.
"Untuk itu.. profesor ku pernah bilang ke aku bahwa aku tak seharusnya terus-terusan belajar diluar.. Ilmu itu memang penting, tapi sekolah bukan lah satu hal yang boleh ditinggalkan.. ada hal disekolah yang tak ada ditempat lain.. jadi disini aku akan mencoba untuk terus hadir disekolah pak" jawabku yang tiba-tiba teringat kata-kata profesor yang mengajarku.
"Bagus lah kalau begitu" kata kepala sekolah.
"Untuk kelasmu silahkan masuk ke kelas 11 Ipa 2" tambah Pak Zen.
Setelah itu aku berpamitan kepada kepala sekolah dan menuju kelasku dengan bimbingan Pak Zen.
Aku dengan Pak Zen berjalan melewati banyak kelas. Setiap murid-murid dikelas tersebut terus memperhatikan aku sampai aku hilang dari pandangan mereka. Entah kenapa aku bisa menjadi sangat grogi saat dipandang, berbeda dengan aku yang dulu saat di kota.
Tepat tujuh kelas telah aku lalui, aku baru lihat kelas yang bertuliskan 11 Ipa 2. Pak Zen dan aku berhenti didepan pintu kelas. Pak Zen pun memberi salam kepada Bu Guru dan murid-murid.
"Assalamualaikum Bu Ira" sapa Pak Zen.
"Walaikumusalam" jawab Bu Guru bersamaan dengan para murid.
"Oh iya silahkan masuk pak" kata Bu guru.
"Pagi anak-anak.. ini dia super hero kita sudah datang.. semoga kalian bisa berteman baik" kata Pak Zen.
"Vian ayo perkenalkan diri kamu" tambah Pak Zen.
"Lah bukannya sudah tadi pak" balasku berusaha untuk tidak terlalu lama berdiri.
"Kami enggak dengar tadi kamu ngomong apa" kata seorang wanita dengan tipe wajah yang jutek.
"Ok nama ku Vian.. terima kasih" jawabku singkat karena kesal.
Aku langsung berjalan menuju arah suatu bangku yang kosong diposisi depan disamping seorang wanita. Dan kemudian aku duduk dengan santainya. Siswi disamping ku tersebut menatap tajam kearahku bersama murid-murid lainnya.
"Vian disini tidak boleh duduk sebangku dengan lawan jenis.. dan bangku itu juga udah ada yang nempatin tapi dia lagi gak hadir" kata Bu Guru dengan senyuman menyindir.
Aku malu setengah mati lalu berdiri. Semua murid ketawa terbahak-bahak. Ah baru kali ini aku merasa bagaikan seorang Mr.Bean. Dengan wajah memerah aku melihat kebelakang. Disana ada bangku yang kosong disamping murid laki-laki berkumis tipis. Dengan segera aku duduk di bangku itu.
Tanpa aku sadari peluh dikeningku mulai bercucuran. Aku menghapus peluhku dengan dasi abu-abu yang aku gunakan. Aku terus mencoba untuk tenang karena baru sekali ini aku merasa sangat dipermalukan.
"Eee .... Bro.. ini pelajaran apa dan nama ibuk itu siapa?" aku mencoba bertanya sambil menenangkan diri.
"Oouh.. ini pelajaran fisika.. nama ibuk itu Bu Ira" jawabnya padaku.
Melalui logat bicaranya, aku merasa dia bukan laki-laki sejati. Ah.. aku merasa benar-benar sial hari ini. Pertama aku datang kepagian kedua diperhatikan semua orang ketiga aku dipermalukan didepan kelas dan sekarang aku duduk disamping manusia setengahan.
Aku mencoba melihat dan menghapal wajah murid-murid lokal ku satu persatu. Aku hitung jumlah mereka bersamaku adalah berjumlah 25 orang. 6 laki-laki dan 19 perempuan, eh salah 5 setengah laki-laki dan 19 setengah perempuan.
Wajah murid perempuan di lokal ku hampir kelihatan sama semua dikarenakan mereka berhijab. Hanya ada 3 orang wanita yang benar-benar ku hapal wajahnya. Yang pertama dengan wajah super jutek dan ngeselin aku beri dia dengan nama si jutek. Yang kedua adalah teman sebangku si jutek dengan wajah imut-imut tapi cerewet aku beri dia nama si Amit. Yang ketiga adalah perempuan yang duduk didepan bangkuku. Dia sangat cantik dan manis belum sempat aku menamainya di langsung menoleh ke arahku.
"Hai Vian.. nama aku Ami.. salam kenal ya" sapanya dengan tersenyum kepadaku.
"Oh iya salam kenal" jawabku dengan sedikit malu-malu.
Aku merasa sudah menjadi orang yang berbeda sekarang. Biasanya aku dikagumi sekarang aku ditertawakan. Biasanya wanita langsung jatuh cinta ketika melihatku sekarang malah mereka ada yang bersikap sangat jutek padaku. Ah.. ini benar-benar sial.
Bel istirahat pun berbunyi. Seluruh murid kelasku berlarian keluar. Aku memilih untuk tetap dikelas. Aku terlalu takut dengan perhatian banyak orang. Ku keluarkan hp dari sakuku dan mulai mendengarkan musik untuk mempersingkat waktu.
Ku sandarkan punggungku ke kursi ku lalu menengadah ke langit-langit kelasku. Kupejamkan mataku perlahan dan mulai menghayati musik. Belum sempat menikmati musik seorang wanita datang kearahku.
"Vian gak makan?" tanyanya.
"Oh Ami.. enggak aku sudah makan tadi pagi" jawabku ketika melihat kearahnya.
"Vian tinggal dimana? tanyanya lagi.
"Hee.. aku gak tau nama tempatnya Mi.. tapi aku hafal jalannya.. jalannya menuju danau Mi" jawabku mencoba menjelaskan.
"Oh berarti itu daerah Ladang Luar namanya" jelas Ami padaku.
"Jadi kamu pernah lewat kesitu?" tanyaku penasaran.
"Hahaha.. ya pernahlah kan gak jauh" jawabnya sambil ketawa.
"Dan rumahmu sendiri dimana Mi" tanyaku lagi.
"Rumahku dekat kok dari sini.. kalau kamu kan kearah bawah dari sekolah kalau rumah aku kearah atas jaraknya palingan 500 meteran dari sini" jelasnya lagi padaku.
Senang rasanya bisa mengenal Ami dan dia juga murid pertama yang ku kenal disini. Ternyata dia orangnya mudah bergaul. Terbukti di hari pertama ku disini dia enggak malu atau sungkan untuk mengobrol denganku.
Bel kembali berbunyi pertanda jam pembelajaran kembali dimulai. Semua murid sudah kembali kekelas dan aku sudah siap untuk belajar kembali walaupun sebenarnya pelajaran ini sudah ku pelajari semua.
\*