GENIUS

GENIUS
Ch 2 Lingkungan Baru



Awalnya ibuku tidak menyetujui kepergian ku. Ibuku berfikir bahwa desa bukan lah tempat yang pantas untuk belajar. Akreditasi dan mutu sekolah di desa tidak sebaik di kota. tapi aku tetap bersikeras dan bilang ke ibuku.


"ibu.. aku pergi belajar dan menuntut ilmu.. lagian hanya sampai habis masa SMA.. aku juga ingin tau bagaimana rasanya hidup di desa.."


Akhirnya dengan bujukan ku ibuku memberi ku izin untuk sekolah di sana. Aku memilih salah satu sekolah yang bisa dibilang cukup sederhana.


Perjalananku menggunakan pesawat memakan waktu sekitar 2 jam. Dari bandara menuju ke desa atau rumahku memakan waktu sekitar 4 jam.


Setibanya di desa perasaan ku cukup biasa-biasa saja. Tak sesuai ekspetasi ku yang merasa akan seperti yang di film-film. Rumah ibuku yang di desa ini pun terbilang cukup mewah bahkan dilengkapai ruangan garasi seperti rumah orang-orang kota. Awalnya aku menyangka rumah-rumah orang desa adalah sebuah gubuk kayu, tapi ternyata desa ibuku ini sudah cukup berkembang.


Oh ya .. Ibuku juga akan mengantarkan aku sebuah mobil, tapi aku rasa itu tak kan ada gunanya jadi aku hanya meminta satu buah sepeda motor matic. Dan ternyata ibuku malah mengirimkan keduanya.


Aku disini akan tinggal bersama pamanku. Adik ibu ku satu-satunya yang masih di desa. Dia juga bekerja di kantor Kecamatan. Sebenarnya dia sudah punya istri, jadi dia bisa dibilang dia tidak benar-benar tinggal bersamaku tapi hanya mengawasi dan menjagaku.


Tapi film-film ada benarnya juga. Udara disini jauh lebih baik dari pada udara di kota. Pohon-pohon rimbun tumbuh tinggi menjulang. Bukit-bukit hijau yang indah berbaris mengelilingi desa. Aliran air sungai yang jernih bercampur kicauan burung benar-benar menghasilkan nada yang indah. Paling tidak ini lah yang benar-benar dinikmati dari sebuah desa.


Ketika sedang berdiri dibelakang rumah menikmati udara di desa ini seorang menegurku dari belakang.


"kamu anaknya ibu jas ya"


"iya.. ada apa buk?" tanya ku pada ibu itu.


"kenalin nama ibu.. buk mar.. teman masa kecil ibumu"


"oh ya kenalin aku Vian buk aku anak ke tiga"


Ibu itu terus menatapku dengan tersenyum kepadaku.


"ganteng kamu ya.." kata ibu itu dengan gemes.


"ih perasaan ibumu gak cantik-cantik amat"


Aku hanya bisa tertawa terpaksa dengan leluconya biar ibu itu tak tersinggung.


"ya udah.. ibu mau lanjut ke sawah dulu ya" kata ibu itu.


Oh iya aku lupa bilang bahwa dibelakang rumahku itu adalah persawahan yang cukup luas. Beberapa diantranya aku lihat sudah menguning tapi yang didekat rumahku masih hijau belum berbuah.


Jarak rumah ku dan rumah tetangga disini cukup berjauhan. Emang enggak banyak rumah yang berdekatan, cuman sawah yang selalu tetanggaan.


Jalan ke rumahku pun sebenarnya cukup mulus sudah beraspal. Diluar ekspetasi ku yang mengira masih jalanan tanah. Jalannya pun cukup lebar yang ketika dua mobil berselisih tidak akan menyebabkan masalah.


Aku sampai di desa sekitar jam 1 siang. Sekitar 2 jam berselang paketan barang-barang akupun sampai. Yaitu komputer, tv, ps4, kulkas, lemari, tempat tidur dan lainya. Sebenarnya barang-barang ini aku paketin duluan sebelum aku berangkat biar pas aku sampai barangnya juga sampai.


Sekitar jam 5 sore aku ajak paman ku berkeliling menggunakan motornya agar aku hafal sedikit-sedikit jalan di desa ini.


Ternyata di desa ini ada sebuah pemandangan yang cukup indah. Tempat itu adalah jalan menuju sebuah danau. Dari atas terlihat bagaimana indahnya sebuah danau dengan warna airnya yang biru. Tempat itu bernama Puncak Pas, sesuai namanya emang Pas untuk bersantai.


Sekitar jam 6 sore akhirnya aku balik ke rumah lanjut beres-beres dan masak buat makan malam. Tidurku harus nyenyak karena besok hari pertamaku sekolah


 


\*