GENIUS

GENIUS
Ch 13 Adik Kelas pt2



Untuk pertama kalinya disini aku jalan-jalan pakai mobil dengan wanita yang baru ku kenal. Tapi Rima ini cukup asik, ia lebih terbuka dari yang ku kira.


Rima menunjukkan ku satu tempat terindah yang ada di tepi danau. Nama tempatnya Tanjung Mutiara. Aku duduk bersama Rima sambil makan pop mi dengan jus jeruk yang ku pesan pada pedagang disini.


"Enak ya jadi bang Vian." kata Rima dengan spontan.


Sontak cukup membuat ku kaget. "Kenapa?" tanyaku atas kata-katanya.


"Dapat kiriman dari orang tua eh kirimannya mobil... aku jangankan dibelikan mobil, dibeliin sepeda aja gak pernah!" jawab Rima dengan ekspresi wajah yang kecewa.


"Rima.. gak semua orang tua sanggup belikan anaknya suatu yang mahal.. jadi kamu pahami dulu lah kondisi orang tua kamu." balas ku coba mengajarinya.


"Iya bang aku tau.. cuman kadang aku merasa bahwa aku tu tak pernah dianggap oleh orang tua ku.. mereka jauh lebih peduli pada kakak ku.. tiap apa yang kakak aku minta pasti dikasih karena kakak dulunya pas sekolah selalu mendapatkan juara satu dikelas." jelas Rima yang mencoba curhat padaku.


"Kalau kamu ga pernah juara kah?." tanya ku mencoba mencari balasan atas kata-katanya.


"Ga pernah sama sekali... kemarin kelas sepuluh semester satu aku pun cuman peringkat lima." jawabnya dengan mimik wajah kembali kecewa.


"Gini aja... biar abang bantu kamu untuk dapat juara satu tapi kamu juga bantu abang sekali-kali bersihin rumah mau gak?" tanyaku padanya memberikan tawaran.


"Bersihin rumah kayak gimana bang?" Rima balik bertanya.


"Ya bersihin rumah pada umumnya... gak tiap hari.. cuman sekali seminggu.. mumpung rumah kamu juga dekat sama rumah abang." aku mencoba menjelaskan agar ia menerima tawaran ku.


"Ok deh bang." jawabnya sambil mengangguk.


Rima terpaku menatap riak air danau yang menepi. Ia seperti membayangkan sesuatu.


"Aku iri deh sama abang.. kok bisa abang sepintar ini?" tanya Rima penasaran.


"Ibu abang pasti sangat bangga sama abang." kata Rima dengan sangat yakin.


"Setiap orang tua pasti bangga jika anaknya berprestasi.. tapi ibu abang mempunyai keinginan yang berbeda dengan abang... Dia ingin abang jadi penerusnya untuk memimpin perusahaan.. sedangkan abang lebih ingin menjadi seorang ilmuan. Dari kecil abang sedikit diperlakukan dengan cara yang berbeda.. abang dipaksa untuk bisa mengerti bisnis.. bahkan waktu masih kelas 1 SMP abang sudah diminta memimpin perusahaan kecilnya ibu abang." kata ku mencoba menceritakan.


"Abang tu benar-benar sempurna ya.. tak heran tiap hari banyak guru-guru membangga-banggakan abang di kelas." kata Rima sambil tersenyum.


"Maksudnya?" aku benar-benar tak mengerti apa mengerti kata Rima.


"Iya hampir semua guru yang mengajar selalu banggain abang.. apa lagi buk Teli biologi." kata Rima lagi yang membuatku kaget.


"Buk Teli ngajar lokal kamu juga?.. trus dia pernah bilang apa aja?" tanyaku mulai penasaran.


"Buk Teli sering bilang bahwa abang lebih jenius dari cerita yang ia dengar... bahkan abang berhasil memberinya pelajaran yang berarti... tapi aku penasaran.. emang abang ngajarin apa ke buk Teli?" jawab Rima sambil balik bertanya.


"Hahaha.. bukan apa-apa kok." entah mengapa aku merasa sangat senang padahal sebelumya aku juga sudah banyak mendapat pujian.


"Bang.. ceritain lah!!" pinta Rima dengan manja.


"Besok-besok aja ya!" jawabku dengan Ramah.


"Hmmm ya udah lah.. oh ya.. buk Pit kimia juga pernah cerita loh bang." kata Rima lagi.


"buk Pit kimia?.. emang dia bilang apa?" tanya ku ingin tau.


"Diwaktu ibu abang nelfon bapak kepala sekolah buk Pit juga ada di ruangan bapak kepala sekolah tersebut.. kata buk Pit waktu itu bapak kepala sekolah senangnya luar biasa.. bahkan dia langsung memberi informasi tersebut kepada semua guru-guru. Pak kepala sekolah pernah sekali melihat abang sebelumnya.. yaitu waktu pertemuan kepala sekolah se negara ini di ibu kota.. makanya abang langsung dikenalin kepada semua orang." jelas Rima dengan senyuman manisnya.


Mendengar kata Rima membuatku sangat bangga akan diriku sendiri. Untuk pertama kali aku sangat bahagia di puji, karena ini memang cukup aneh. Aku dicuekin didepan tapi dipuji dibelakang.