GENIUS

GENIUS
Ch 5 Menunggu Pulang



Entah mengapa aku menjadi sangat bosan dikelas ini. Baik pelajaran atau apapun tidak ada yang berhasil menarik perhatianku. Jam pelajaran kimia yang sebenarnya salah satu mata pelajaran favoritku terasa sangat hambar. Dalam otak ku, aku hanya ingin pulang dan beristirahat.


Karena sangat bosan dan hanya bermenung membuatku hampir saja terlelap. Tiba-tiba bel sekolah kembali berbunyi. Aku sangat senang, tapi aku merasa ada yang aneh. Kulihat jam tanganku menunjuk angka jam 12.10pm.


"Ok anak-anak bel sudah berbunyi ayo kita sholat berjamaah" kata Bu guru Kimia tersebut.


Ah.. seperti dugaan ku, itu bukanlah bel untuk pulang sekolah. Lagi-lagi aku kesal karena merasa seolah-olah aku kena prank. Dan ini tentu bukanlah prank tapi penyiksaan batin.


Disampingku aku melihat si manusia setengahan duduk sambil melepas sepatunya. Iya aku sadar bahwa aku harus pergi berwhudu' dan menuju mushalla. Pikirku mungkin di mushalla tak ada tempat menaruh sepatu jadi aku ikuti saja cara dia.


Kemudian sang manusia setengahan pun berdiri dan menuju lemari yang tepat berada di belakang kami. Dia membuka lemari tersebut dan mengambil sepasang sendal yang memang telah ia persiapkan.


"Oh My God" kata ku dalam hati karena merasa sangat dibodoh-bodohi. Dia melepas sepatunya karena memiliki sendal biar lebih enteng. Dia ternyata tidak berniat untuk berjalan secara ceker ayam seperti dugaanku. Dengan segera ku kenakan kembali sepatu ku.


Baru saja sepatu terpasang sebelah seorang guru berbadan tegap dan kekar masuk ke kelasku.


"Hei cepat keluar keluar.. sholat sudah mau dimulai kalian masih main-main disini" bentaknya dengan sangat tegas.


Dalam kondisi mendesak aku berfikir mana yang lebih cepat melepaskan dari pada memasang. Dengan mengandalkan pemikiran ku yang teramat cerdas aku lebih memilih melepaskan sepatu ku lagi dan kemudian berlari.


"Hei kamu kenapa buka sepatu.. disana(mushalla) sudah ada tempat taruh sepatu yang bagus" tanya guru tersebut dengan nada yang masih tegas.


"Hmmm lagi pengen refleksi dikit pak.. lagian juga ga pa pa kan pak" jawabku asal-asalan.


"Apanya yang gak pa pa.. kalau kaki kamu kena paku, kaca atau benda tajam lainnya gimana? cepat pasang lagi" perintahnya dengan tegas tegas dan tegas.


Hatiku benar-benar kacau. Aku gak tau harus marah kah atau gimana. Kalaupun aku marah siapa yang bakal aku marahin. Karena dalam dilema ini memang aku lah yang bodoh. Untuk pertama kalinya aku mengakuinya.


Setelah mengenakan sepatu dengan segera aku menuju mushalla karena Sholat berjamaah akan segera dilaksanakan.


Kulihat dari luar mushalla para murid sudah berkumpul semua didalam. Sepertinya hanya tersisa aku yang masih diluar. Dengan sangat terburu-buru aku lepas sepatuku kemudian berlari-lari kecil mencari tempah berwhudu'. Akhirnya aku menemukan sebuah pipa besi berukuran sebesar betis dengan lima keran saluran air menempel padanya. Dengan cekatan aku memilih keran saluran air paling tengah.


Saat aku masih membasuh kedua tangan, lima orang siswi datang mendekat kearah ku. Kemudian aku menoleh kearah mereka.


"Lah kamu anak baru itu ya" tanya seorang siswi itu padaku.


"Lain kali nanya kalau gak tau.. ini tu khusus tempat buat cewek.. tempat cowok tu sebelah sana" katanya padaku sambil menunjuk pipa besi yang sama berjarak sekitar 10 meter.


"Oh ya maaf.. tapi ini nanggung bentar lagi siap" balasku sambil terburu-buru. Bahkan aku lupa sudah sampai mana hingga mengulangnya dari awal.


Empat diantara lima siswi tersebut tak mau menunggu lama langsung menghidupkan juga keran di kedua sisiku. Tanpa basa basi mereka juga segera mengambil whudu' dengan dua dikiri ku dan dua dikanan ku. Satu lagi mengantri dibelakang ku. Benar-benar fokus ku hilang. Aku berwhudu di antara cewek-cewek bahkan ada yang menunggu antrian ku.


Sakin paniknya, bagaikan ditengah balapan setelah berwhudu aku langsung tancap gas. Tapi malang yang lebih malang dari kota malang, kaki yang basah dan lantai yang licin benar-benar mendatangkan petaka dalam hidupku. Aku terpeleset dan jatuh tepat di hadapan siswi-siwi tersebut. Mereka yang melihat tak sanggup menahan tawa. Mereka tertawa lepas bagai menonton drama komedi.


Dengan perasaan penuh amarah, kesal dan malu aku berlari dari tempat itu. Bahkan aku tak menyadari bahwa bokong celana ku basah bagaikan orang yang sedang ngompol.


Ketika aku masuk ternyata sholat sudah berlangsung dua rakaat. Tanpa pikir panjang aku langsung mengikuti jamaah.


Pikiranku mulai melayang-layang dan tak bisa kyusuk. Bagaimana tidak, aku akhirnya menyadari bahwa bokong celana ku basah karena terpeleset ditambah ketawa kecil-kecil lima siswi tadi yang juga baru masuk.


Ya tuhan maafkan aku. Aku juga teringat bahwa aku tertinggal dua rakaat yang artinya aku harus menambah dua rakaat lagi setelah imam selesai dengan rakaat keempatnya. Aku khawatir ketika aku berdiri lagi siswi-siswi dibelakangku bahkan para ibuk guru akan menyaksikan bokong celana ku yang basah karena memang tak ada pembatas antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan seperti dimasjid-masjid besar. Aku takut mereka bepikir nantinya yang tidak-tidak. Aku takut mereka bepikir bahwa aku sedang ngompol atau berak tak cebok.


Akhirnya imam menyelesaikan rakaat keempatnya. Dengan sangat tak berdaya aku mencoba bangkit menyelesaikan dua rakaat yang tertinggal. Ketika aku berdiri aku tak bisa membaca ayat apapun, bahkan Surah wajib Alfatihah tidak ku selesaikan dengan sempurna. Rukuk ku juga sangat ku percepat begitu juga dengan sujud ku dimana kepala ku hanya menyentuh sedikit ke sejadah tanpa membaca bacaan sujud aku langsung mengangkat kembali kepala ku. Hanya duduk diantara dua sujud yang agak aku perlama. Begitulah aku menyelesaikan dua rakaat ku tersebut.


Selesai sholat aku benar-benar meminta ampunan kepada tuhan atas kelalaian ku dalam sholat tersebut. Itu pertama kalinya aku sholat seperti itu. Benar-benar membuatku malu dan merasa berdosa.


Selesai berdzikir dan berdoa dalam keadaan masih panik aku berlari menuju kelas. Aku benar-benar ingin menghindari siswa-siswi lainya.


Oups lagi dan lagi, kebodohan demi kebodohan terus aku lakukan. Aku lupa bahwa sepatuku aku tinggalkan di mushalla. Dengan perasaan yang sudah hancur lebur bagaikan orang yang sedang putus cinta aku kembali menuju mushalla mengambil sepatu ku. Persoalannya bukan masalah mengambil sepatunya. Persoalannya adalah bokong celanaku yang masih basah dan juga aku berjalan dengan tapak ayam. Aku juga harus melewati banyak kelas yang mana murid-muridnya masih duduk-duduk diluar kelas mereka.


Aku kuatkan batin ku dengan membaca banyak-banyak istighfar seperti melewati kuburan. Ku tundukan kepala ku dan berjalan bagaikan orang bungkuk.


 


\*