
“Gea, tolong buatin kopi, ya!”
“Sekalian gue ya, Ge!”
Bibirku terkatup rapat, merasa jengkel sendiri mendengar perintah-perintah itu. Padahal bukan ditujukan padaku. Tapi entah kenapa aku tidak suka. Terlebih saat si objek yang disuruh dengan senang hati melakukan perintah mereka.
Come on, Ge! Lu bukan kacung di sini!
Mendorong kursi ke belakang, aku berdiri lantas menghampiri Gea di pantry. Sekadar informasi, kantor yang kami tempati terdiri atas beberapa ruangan. Yang paling luas, tepat menghadap pintu masuk adalah tempat para karyawan. Mulai dari reporter, lay outer, sampai direktur editor. Meja kami hanya dipisah sekat-sekat pendek, sehingga kami bisa berkomunikasi bebas satu sama lain.
Menempel dinding sebelah utara ada tangga menuju ruang pemred dan wakilnya. Nah, tepat di bawah tangga ada pantry yang menyediakan mesin pembuat kopi dan beberapa camilan. OB di kantor ini memang hanya mengurusi masalah kebersihan, sehingga untuk urusan mengisi perut kami biasa melakukan sendiri.
Namun, semenjak ada Anggea Radeva yang harusnya menjabat sebagai reporter, tugas membuat minuman dilimpahkan padanya. Setiap kali gadis itu datang, orang-orang akan rebutan menyuruhnya ini dan itu. Bahkan sekadar memfotokopi pun, Gea yang melakukannya.
“Lu ngapain sih, mau aja disuruh-suruh?” protesku, setelah sampai di sisi Gea.
Gadis itu hanya menoleh sekilas, lantas kembali menekuri mesin kopi. Seolah kalimatku barusan hanya angin lalu.
Aku berdecak, menggeser tubuh Gea dengan sengaja, lantas menggantikannya meletakkan cangkir di bawah pipa yang mulai mengeluarkan cairan hitam pekat.
“Ih, lu ngapain sih, Zaf! Sono!” Giliran dia yang mendorong tubuhku, tapi tentu saja tidak berhasil.
“Eh, balik sana!” ucapnya lagi, sedikit menahan volume suara, mungkin takut terdengar yang lain.
Aku meletakkan cangkir ketiga sedikit kasar, hingga cairan hitam itu muncrat ke meja. Anggea terkesiap, lantas buru-buru mengelap bekasnya sembari menggerutu. Mengatakan bahwa jika tidak ikhlas, harusnya tidak perlu membantu.
Menyilangkan tangan di dada, aku menatapnya tajam.
“Iya ... iya ... tau, ini gak termasuk job desc gue,” kata Gea, “tapi gak ada salahnya bantuin mereka, kan? Kerjaan mereka pasti banyak makanya gak sempet bikin.”
Aku mendengkus, “Yang ada mereka bakalan ngelunjak dan jadiin lu tukang bikin kopi.”
Dia mengedikkan bahu enteng, “It’s oke, selama gue bisa, mah.”
“Dodol!”
“Enak.”
“Double G!”
“Gea Geulis.” Gea menjulurkan lidah, membuatku menahan senyum karena gemas.
“Gea Galak!” ralatku.
“Gea Gahul!”
Lantas kami sama-sama tertawa.
Kalian tahu hal apa yang paling membahagiakan dalam hidupku? Bukan saat mendapat kabar bahwa aku diterima di GL, meski itu salah satunya. Namun, ada yang lebih dari itu. Saat melihat tawa gadis di depanku ini. Apalagi jika alasan dia tertawa adalah aku. Semacam ada sensasi hangat yang menjalari dada. Seolah hanya dengan melihatnya tertawa, aku pun turut merasakannya.
Mungkin ini cinta. Mungkin ini juga gila.
Fokus kami terinterupsi setelah mendengar seruan untuk segera berkumpul di ruang rapat. Aku membantu Gea mendistribusikan kopi itu pada pemiliknya, lantas mengiringi langkah gadis itu menaiki tangga. Ruang rapat berada di sebelah ruang pemred.
“Halo, Zafran ....”
Langkahku terhenti di ambang pintu karena seorang wanita yang berdiri di depanku. Namanya Mery, tapi kerap aku panggil Mak Lampir. Terutama kalau aku sedang bersama Gea. Kenapa aku panggil Mak Lampir? Karena kuku-kuku tangannya yang super runcing itu. Selain itu suara tawanya juga aneh menurutku.
“Pagi, Mbak,” balasku mencoba tetap ramah. Meski sebenarnya ingin segera enyah, apalagi saat jemarinya mulai mampir di kepalaku. Memilin rambut ikalku yang sudah sepanjang tengkuk.
“Kamu tau, Zaf, rambutmu itu seksih,” bisik wanita yang entah lima atau enam tahun lebih tua dariku itu.
Gea yang kebetulan duduk paling dekat dengan pintu keluar cekikikan. Aku menghadiahinya jitakkan pelan di kepala.
Kami duduk membentuk formasi lingkaran, dengan wapemred berada di ujung dekat proyektor. Mbak Mery sendiri yang memimpin rapat, sementara Pak Farhan selaku pemimpin redaksi hanya memantau. Ya, harus aku akui jika Mak Lampir memang mumpuni dalam memimpin anak buahnya. Ide-idenya brilian. Pun tidak segan-segan dia menyobek proposal yang dianggap murahan.
Seperti dugaanku, rapat yang membahas edisi terbaru GL ini menjadikan Indonesia Open sebagai tema utama. Gea ditugaskan untuk membantu Adli, reporter senior untuk meliput kegiatan di stadion dan atlet-atletnya.
Tadinya aku ingin mengajukan diri untuk membantu Gea, karena sedari awal memperhatikannya, aku tahu Gea tidak nyaman dengan topik ini. Namun, si nenek lampir menugasiku untuk meliput seorang pebisnis muda entah siapa tadi namanya yang baru pulang ke Indonesia.
Alhasil aku hanya bisa pasrah. Memangnya apalagi yang bisa dilakukan kacung rendahan macam aku, masih newbie pula.
***
Entah sudah berapa kali tawa gadis itu meledak sepanjang istirahat siang ini. Alasannya tentu saja karena kejadian pra rapat dua jam lalu.
“Rambutmu seksih.” Lagi, Gea menduplikat gaya Mak Lampir saat menyentuh rambutku. Lantas dia tertawa lagi. Mengabaikan makan siangnya yang sudah tersedia sejak lima menit lalu.
“Diem gak!” perintahku.
Namun, dia masih terpingkal sembari memegangi perut. Pun tak menghiraukan tatapan orang-orang yang melihat kami.
“Gea, makanan lu gue buang nih!” Aku mengancamnya dengan menggeser sedikit piringnya.
“Eh, jangan! Gue kan laper.” Gea merebut kembali piringnya.
“Laper tapi ngakak mulu. Lu kira gue badut!”
Gea melipat bibir ke dalam, menahan tawa. Lantas berujar, “Sumpah ya, Zaf, gue sih yakin banget Mbak Mery naksir sama lu.” Dia mulai menyuap nasi dengan lauk rendang itu.
“Terus gue mesti bilang wow gitu? Gak penting banget!” Aku juga tahu sejak pertama datang di GL, wapemred satu itu memang sudah berusaha caper padaku. Ada saja kelakuannya, mulai dari menanyaiku sudah sarapan, semalam tidur jam berapa, sampai skinsip macam tadi pagi. Dia pikir aku bakalan mimisan hanya dengan mendengar desahannya itu?
Maaf, aku tidak semurahan itu. Ya, kecuali mungkin jika yang berbicara seperti itu gadis lain.
Aku meliriknya, gadis berkucir kuda yang lahap menyantap makan siangnya.
“Eh, tapi lu udah pernah cerita sama Mila?” tanya Gea.
“Soal apa?”
“Ya soal kelakuan absurd Mbak Mery. Dia mesti siaga satu karena ada wanita cantik yang siap menikung kapan aja.”
Aku tertawa. Bukan karena perkataan Gea, tapi karena analisanya yang salah. Bukan Mery yang mengancam posisi Mila, tapi gadis lain. Gadis yang hanya menganggapku best friend.
Sial! Selalu tidak menyenangkan tiap mengingat itu.
“Mila gak perlu khawatir soal itu,” jawabku sekenanya.
Namun, sepertinya Gea menanggapi serius. “Kenapa? Karena lu setia? Iya, sih, awet bener kalian nyampe tahunan. Berapa tahun? Tiga atau empat?” cerocosnya.
Aku menusuk daging dengan garpu lantas menyorongkan ke mulutnya. “Berisik lu!” kataku.
Dia tidak tahu alasan apa di balik hubungan itu. Tiap mengingatnya aku akan merasa sangat jahat pada Mila.
-----@------@------------_-------------
Mau ngucapin makasih banyak buat yang masih baca Genius. lop u...💖
oya, rambut Zafran tuh kayak rambutnya Rangga di AADC 1. tapi kalau muka mah serah mau bayangin siapa.😉