GENIUS

GENIUS
Ch 7 Kesialan demi Kesialan



Aku terus melajukan kendaraan ku menuju rumah. Aku sudah tidak sabar untuk sampai dirumah. Sungguh hari yang benar-benar sangat berat bagiku. Entah kenapa aku sepanjang perjalanan pulang aku terus teringat dengan rumah ibuku yang jauh di kota sana.


Sekitar jam 02:30pm aku akhirnya sampai dirumah. Ku parkirkan sepeda motorku digarasi dan masuk kedalam rumah.


Aku langsung melepas seluruh pakaian ku dan mengambil handuk untuk mandi. Aku benar-benar lelah dan berkeringat. Ketika sudah masuk dalam kamar mandi aku melihat air dalam bak mandi ku kering. Terpaksa aku harus menghidupkan dulu pompa airku dan menunggu bak mandi ku penuh.


Aku kemudian kembali ke kamar dan berbaring disana. Tubuhku yang lelah membuat mataku sangat mengantuk. Dalam hitungan menit aku langsung tertidur.


Jam 04:15 aku terbangun dari tidurku. Ketika terbangun, aku teringat bahwa sebelum ketiduran aku telah menghidupkan mesin pompa air. Aku cemas apakah rumahku sudah kebanjiran. Benar saja lantai dapurku ternyata sudah basah seperti habis digenangi air.


Ada yang aneh, aku tidak mendengar suara mesin pompa air ku lagi. Aku pun langsung berjalan menuju mesin pompa airku tersebut. Tampak mesin itu sudah mati. Aku mencoba menghidupkannya kembali tapi tidak bisa, apa mungkin sudah rusak?. Lalu aku mencoba menoleh melihat kedalam sumur. Ya diluar dugaan ternyata air sumurku sudah kering, itu lah yang membuat mesin pompa Airku rusak.


Dalam keadaan seperti itu aku mendengar bunyi suara sepeda motor berhenti di halaman rumahku. Itu mungkin pamanku, aku sangat berharap ia bisa membantuku memperbaiki mesin pompa air ini.


Aku kemudian berjalan kedepan untuk membuka pintu. Kulihat paman berdiri bersama istrinya.


"Vian.. Paman sama bibimu ini mau keluar kota.. adek bibimu ini mau menikah.. jadi untuk tiga hari ini paman gak ada dirumah.. nanti kalau ada masalah telepon aja ok" kata paman ketika aku membuka pintu.


"Iya gak apa-apa.. paman pergi aja sama bibi" balas ku pada paman mengizinkannya pergi.


"Oh ya paman.. tempat orang jual mesin pompa air diamana ya paman?" sambungku bertanya.


"Kenapa? mesin pompa air kamu rusak?" paman bertanya balik.


"Iya paman tadi barusan gak bisa hidup lagi" jawabku padanya.


"Kalau kamu mau memperbaiki paman ada nomor hp tukang servisnya.. atau kalau kamu memang mau beli baru ya ada satu toko bangunan dekat sini yang jual itu.. jalan nya lurus aja pas udah lewat sekolah kamu itu, sekitar 1km lah dari sekolah kamu" jelas paman panjang lebar padaku.


"Kayaknya beri baru lebih baik deh.. soalnya mesin pompa air ini udah tua banget" balas ku pada paman.


"Oh ya udah.. tapi nanti kamu bisa masangnya sendiri?" tanya paman lagi.


"Hahaha ya bisa lah" jawabku percaya diri sambil ketawa.


"Ya udah paman sama bibimu pergi dulu" kata paman berpamitan.


Setelah paman pergi, ku urungkan niat ku buat mandi terlebih dahulu. Aku nyalakan mesin mobil ku karena aku rasa lebih mudah bawa benda itu pakai mobil ketimbang dengan motor. Ku jalankan mobilku menuju toko yang diberitahu paman tersebut.


Sekitar 20 menitan aku sampai di toko tersebut.


"Cari apa dek?" sapa karyawan toko.


"Bang ada mesin pompa air gak.. tapi yang bagusnya ya bang jangan yang kw" pintaku padanya.


"Oh ada dong dek.." jawabnya padaku.


Si karyawan toko menyodorkan aku beberapa merek pompa mesin yang terkenal. Aku pilih pompa air yang bermerek SANYO. Aku bukan promo tapi kata si karyawan toko, merek ini lebih bagus dari pada merek lain. Aku juga membeli pipa baru karena aku yakin pipa dirumah juga sudah tua.


Setelah membeli mesin tersebut aku kembali masuk kemobil dan membawanya pulang. Dalam perjalanan aku ingat bahwa Ami pernah bilang rumahnya berada di jalan ini. Ku pelankan laju mobil ku dalam kecepatan 40km/h, berharap aku akan melihatnya dan mengetahui rumahnya.


Ya harapan hanya tinggal kenangan. Sepanjang jalan aku tak melihat si Ami, bahkan aku sudah melewati sekolahku. Aku naikan kembali kecepatan mobilku karena aku perlu memasang mesin pompa ini dirumah.


Setibanya dirumah aku segera memasang pompa air yang barusan aku beli. Awalnya aku pikir semuanya akan mudah, tapi ternyata aku mengalami banyak kesulitan.


Setelah semua aku rasa beres ketika pipa paralon dan juga mesin sudah terpasang rapi. Akan tetapi airnya tidak mau naik juga keatas. Aku coba baca petunjuk lebih detail dan aku lakukan sesuai yang tertulis tapi tetap hasilnya belum ada.


Aku memulainya dari sebelum magrib tapi bahkan setelah isya aku masih belum menyelesaikannya. Akhirnya aku menyerah. Untungnya bak mandi sudah terisi banyak air walaupun tadinya aku melihat penuh tapi sekarang sudah berkurang cukup banyak mungkin karena aku pakai buat ambil whudu.


Setelah itu aku coba membersihkan kembali dapurku yang habis tergenang air dan pergi istirahat kekamar. Dalam hitungan menit aku kembali tertidur.


Pagi ini aku bangun jam 04:45 am ketika adzan subuh berkumandang. Seperti biasa aku langsung pergi mandi. Dan kalian tau apa yang terjadi?. Bak mandi ku yang semalam ada banyak air tiba-tiba kering kerontang. Setelah aku perhatian ternyata ada bagian dinding bak mandi ku yang bocor. Itulah alasan kenapa air bak mandi ku terlihat berkurang drastis semalam.


Aku merasa benar-benar lalai. Desa ini seperti kutukan bagiku. Dari kemarin sampai sekarang aku terus ditimpa kesialan. Apakah aku akan membuat sejarah baru dalam hidupku bahwa aku tidak mandi kesekolah atau aku memilih untuk libur.


Jika aku tidak sekolah, apa kata orang-orang nantinya padahal aku baru saja sekolah disana. Dan jika aku pergi kesekolah tapi ketahuan belum mandi apa yang akan dikatakan dunia.


Aku duduk termenung didalam kamar mandi. Apakah hari-hari berikutnya aku akan terus tertimpa kesialan seperti hari ini. Dan benar juga kata orang-orang, sehebat apapun manusia pasti bakal apes kalau lagi ketiban sial. Dikota aku hidup layaknya Albert Einsten dan disini aku hidup layaknya Mr.bean.


\*\*\*