
Apa mataku mulai rabun, sehingga salah mengenali orang?
Atau jargon tentang setiap individu memiliki kembaran itu memang nyata adanya?
Lelaki di depanku ini secara wajah sama persis dengan Saka. Ya, kecuali proporsi fisik yang berubah karena pertambahan usia tentu saja. Namun, secara ekspresi ... bukan Saka sama sekali. Hal itu pula yang akhirnya membuatku lumayan yakin jika dia memang orang lain.
Oke, mari kita koreksi.
Si pengusaha yang aku wawancarai kali ini memiliki nama lengkap Aksara Dewangga. Dia tunangan dari perempuan cantik berdarah Perancis Indonesia bernama Peristeria Elata. Berbicara tentang bisnis, selain sebagai tunangan, mereka juga menjadi partner kerja. Aplikasi belajar online bernama Ruang Belajar yang tengah naik daun saat ini merupakan rintisan mereka sejak kuliah bersama di Inggris.
“Kenapa memilih aplikasi belajar?” Aku kembali mengajukan pertanyaan yang sebelumnya sudah aku siapkan. “Kenapa gak yang lain, misal dompet digital yang lebih luas peminatnya?”
Selama ini mereka lebih banyak berada di belakang layar. Baru-baru ini saja mulai mau menunjukkan diri ketika aplikasi RB sudah menunjukkan hasil signifikan. Penggunanya telah mencapai kurang lebih dua juta. Dan dipastikan akan terus bertambah terutama menjelang tahun ajaran baru nanti. Mungkin itu pula yang menyebabkan sejoli genius itu mau go public. Yah, sekalian endorse. Meningkatkan jumlah pengguna dengan couple goals yang mereka pamerkan.
“Karena buat kami ini bukan cuma bisnis, tapi ladang untuk berbuat baik. Kami sadar pendidikan di Indonesia masih kurang menjangkau seluruh lapisan. Harapan kami Ruang Belajar bisa membantu mengatasi itu.”
Apa tadi yang aku bilang tentang ekspresi?
Lelaki ini betul-betul murah senyum. Lain dengan Saka yang mungkin hanya bisa tersenyum pada Gea. Aksa terihat sangat fliendly. Pun seperti sangat menyayangi Elata.
Jika saja tidak ada Mak Lampir di sebelahku, aku pasti sudah menanyakan hal di luar daftar pertanyaan ini. Aku ingin tahu apa dia kenal Saka? Atau mereka kebetulan saudara? Kenapa wajah mereka bisa begitu mirip?
Namun, semua itu harus aku telan habis. Mungkin memang benar mereka hanya kebetulan mirip.
“Amazing!” Mbak Mery bertepuk tangan, seperti penonton yang baru mendengar ceramah motivator ulung. “Beruntung banget kamu dapat Aksa, Ta,” ujarnya pada Tata, panggilan untuk Elata.
“Bukan Tata yang beruntung, tapi aku.” Aksa menggenggam telapak tangan Tata. Membawanya ke depan bibir, lalu mengecupnya.
Tata tersenyum manis, semburat merah muda menghiasi pipi. “Aku lebih beruntung,” katanya.
Aku menunduk, bukan karena iri, tapi karena mual. Demi apa dua manusia di depanku ini mirip ABG labil yang baru pertama kali jatuh cinta.
Berdehen cukup keras, aku sengaja menginterupsi adegan ala drama Korea itu. Lantas kembali mengajukan pertanyaan selanjutnya. “Selama ini kalian lebih banyak bermain di belakang layar. Apa ada alasan tertentu?”
“Iya ....” Kali ini Tata yang angkat suara. “Selama ini publik tahunya aku anak pengusaha. Setiap kali mencoba dunia bisnis, akan timbul spekulasi bahwa bisnis yang aku geluti sukses karena papa ....”
Aku mengangguk, mulai bisa meraba alasannya. Ayah Tata adalah pebisnis sukses, mini market atas nama keluarga mereka menjamur di seantero negeri. Hal yang wajar jika kemudian masyarakat akan menganggap Tata sukses di suatu bidang karena pengaruh ayahnya.
“Aku suka itu,” lanjut Tata. “Karena itu artinya orang-orang perhatian sama aku. Tapi ada masa di mana itu menjadi semacam momok tersendiri. Saat usaha keras kita hanya dianggap isapan jempol belaka, itu ....” dia mengedikkan bahu. “Menyesakkan.”
“Jadi itu sebabnya kalian lebih memilih bersembunyi? Baru setelah orang-orang yakin jika apa yang kalian kerjakan memang bagus, maka ini saatnya menampakkan diri? Bukan begitu?”
Aku mencoba menebak.
Gadis berhidung bangir itu mengangguk sembari tersenyum. Untuk ukuran anak seorang konglomerat dia termasuk yang tahu adab. Dua jempol untuknya.
“Jadi, apa rencana ke depannya?” Aku menatap Aksa dan Tata bergantian.
“Rencana tahun ajaran baru nanti akan ada kejutan spesial.” Aksa yang menjawab.
“Wah, apa tuh?”
“Ini surprise yang gak bisa dibocorin sekarang.” Aksa dan Tata berbagi senyum, seolah berkata bahwa hanya mereka yang tahu hal itu.
***
Melihat Gea, aku jadi teringat lelaki yang aku temui beberapa saat lalu. Aksara Dewangga.
“*Siapa Aksara Dewangga?” Aku bertanya pada Mbak Mery dalam perjalanan pulang. “Maksudku apa ayahnya juga pebisnis? Sependengaranku tadi hanya ayah Elata yang lebih banyak dibahas.”
“Aku juga baru kenal sih, Zaf. Kata Tata keluarganya emang pebisnis, tapi mama papanya udah gak ada.”
“Gak ada? Meninggal maksudnya, Mbak?” Aku menoleh pada wanita itu sekilas karena sedang menyetir.
“Iya. Kenapa emang? Tumben banget kamu kepo?” Mbak Mery tertawa kecil.
Aku menimbang dalam hati, haruskah mengatakan perihal orang yang mirip Aksa atau tidak? Namun, saat sadar jika itu bisa menimbulkan persepsi lain bagi Mak Lampir, aku memilih menelan kata-kata itu. “Gak papa, Mbak*.”
“Zaf! Woi!”
Teguran seseorang mengembalikan kesadaranku.
“Ngapain lo bengong di situ? Mau jadi door man?” ledek Mbak Lisa.
Aku mengusap belakang kepala. Nyengir.
“Nyawanya masih belum ngumpul kali, Mbak,” timpal Riri. “Kan abis jalan bareng wapemred.” Gadis itu menekankan kata terakhirnya.
Memutar bola mata, aku memilih meninggalkan dua wanita itu. Mendekati Gea yang sekilas tadi aku lihat menatap ke arah kami.
“Gimana, lancar?” Aku menggeser kursi ke samping gadis itu.
“Apaan?” balas Gea tanpa menoleh. Dia masih sibuk dengan papan ketik dan layar datar di depannya.
Aku berdecak, “Liputannya, apa lagi?”
“Oh, lancar.” Gea masih tidak mengalihkan pandangan.
“Teringat sesuatu?”
Jemari Gea yang terhenti dari aktivitas semula, tak luput dari pengamatanku. Hanya sebentar, karena dia kembali mengetik sembari berkata, “Apaan?”
Aku memutar kursinya, mengabaikan protes Gea. Lantas saat posisi kami telah sepenuhnya berhadapan, aku menahan lengan kursi agar tidak berubah.
Gea melarikan matanya, menghindari tatapanku. Dari gelagatnya aku tahu, hari ini berat buat dia.
Menghela napas, aku memutuskan untuk menunda interogasi. Toh, pada saatnya nanti, aku yakin Gea akan bercerita dengan sendirinya. Seperti biasa.
“Yuk ngebakso!” ajakku padanya.
Netra Gea berbinar, lantas mengangguk-angguk antusias.
Kalian tahu apa yang aku pelajari selama ini?
Setelah mengenalnya begitu lama. Aku mulai hafal tabiatnya. Kebiasaan Gea saat sedang marah, kesal, atau butuh pelampiasan seperti sekarang.
Mendapati Gea yang galak, sedikit-sedikit memukulku itu biasa. Itu artinya dia baik-baik saja. Namun, lain cerita saat dia diam, berubah menjadi cewek anggun yang justru menyeramkan untukku.
Aku tidak suka melihat tatapan sendu itu. Tidak suka mendapati wajah murung Anggea Radeva.