
“Shit!”
Entah sudah berapa kali aku menggaungkan kata makian itu. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri. Si pelupa yang lagi-lagi melalaikan janjinya. Si penipu yang entah ke berapa kalinya menyampaikan janji palsu.
Aku memacu motor dengan kecepatan angin setelah jam pulang kantor berdenting. Mengabaikan teriakan pengguna jalan lain yang berpapasan. Menulikan telinga dari sopir angkot yang mengumpat dengan bahasa paling kasar.
Beruntung nyawaku masih di badan saat berhenti di depan bangunan itu, sebuah butik ternama tempat Mila bekerja.
Ya, hari ini aku kembali mengingkari janjiku sendiri. Janji untuk menjemputnya saat makan siang, nyata-nyata aku lupakan. Parahnya aku baru teringat menjelang pulang tadi. Saat melihat ponsel, bermaksud mengecek notifikasi. Dan yang tersaji di layarnya adalah tiga pesan dan lima panggilan tak terjawab dari Mila.
*Jadi jemput?
Zaf, kamu gak lupa kan sama janjimu kemarin?
Zaf, jadi makan siang gak sih*!
Alhasil aku mendatanginya sore ini. Berharap Mila masih sudi memberi maaf padaku.
Lagi pula ini bukan sepenuhnya salahku. Salahkan saja Gea yang membuatku melupakan janji makan siang itu. Andai dia tidak terus menertawakanku dan membuat aku lupa, tentu aku tidak perlu berada dalam situasi seperti ini.
Plis, Zaf! Jangan melempar kesalahan pada orang lain!
Cibiran dari sisi otakku yang lain membuatku merasa seperti mendapat pukulan keras di kepala. Lagi-lagi aku menjadi si jahat.
Menghela napas, aku memutuskan masuk ke dalam setelah melepas helm. Tepat saat kaki menjejak lantai butik, saat itu pula Mila turun dari lantai dua. Melihat penampilannya yang sudah melapisi seragam dengan sweater, aku tahu dia akan pulang.
Aku memasang senyum terlebar, bersiap menyambut sekaligus mengejutkannya dengan kedatanganku. Sialnya, yang terjadi kemudian tak seperti bayanganku.
Mila memang terlihat melebarkan mata saat netra kami berserobok. Tapi hanya itu. Setelah itu dia seperti menganggapku orang asing atau mungkin makhluk tak kasat mata. Gadis yang tak lagi memakai kacamata karena diganti soflens itu melewatiku begitu saja. Mengabaikan senyum sejuta watt yang sangat jarang aku pamerkan. Pun tak menggubris saat aku memanggil namanya.
Gegas aku mengikuti langkah Mila keluar butik. “Mila!” kembali menyebutkan namanya. Namun, dia tetap tak menghiraukanku. Terus berjalan di trotoar itu
“Mil, Mila!” Kali ini aku berhasil mencekal tangannya, memaksanya berhenti.
“Kamu marah?”
Bodoh! Untuk apa aku menanyakan hal yang sudah jelas terjadi?
“Gue minta maaf,” kataku. Sedikit malu sebenarnya, mengingat kalimat serupa sudah aku ucapkan sejak semalam. Padahal lebaran masih jauh, tapi aku minta maaf melulu pada Mila.
Dia memalingkan muka, tak menjawab.
Sepanjang hubungan kami yang entah sehat atau tidak ini, baru kali ini Mila mendiamkanku. Baru kali ini dia membuang muka saat aku menatapnya. Biasanya dia paling hanya cemberut sembari menuntut agar aku tidak mengulanginya lagi.
Namun, sekarang ... aku mulai percaya jika marahnya orang yang tak pernah marah itu mengerikan. Jika pengabaian adalah bentuk paling menakutkan dari kemarahan seseorang.
Aku bergeser agar dia menatapku, lantas berkata, “Gue bener-bener lupa. Suer!” Mengangkat tangan, jari tengah dan telunjukku membentuk huruf v.
Sejenak dia menatapku. Hal yang sempat aku salah artikan. Mengira dia akan berkata sesuatu, tapi ternyata tidak. Dia melepas cekalanku di pergelangan tangannya. Lantas kembali berjalan.
Lagi aku membuntutinya. “Mil, beneran ngambek, nih?”
Masih sama, Mila tak menggubris. Dia berhenti di halte bis. Berdiri di pojok samping bangku tunggu.
Aku mengikutinya, berdiri di sampingnya. Tak ada lagi yang aku ucapkan karena selain percuma, pun akan mengundang banyak pasang mata menatap kami. Aku tidak suka menjadi tontonan.
Aku membuka mulut, nyaris mengumpat lagi andai tidak ingat siapa yang berdiri di hadapanku. Sepertinya kepikunanku sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Aku bahkan lupa jika meninggalkan motor di depan butik Mila bekerja. “Kamu beneran mau naik bis aja?” tanyaku, memastikan.
Mila tidak menjawab, pandangannya terarah ke luar jendela di sampingnya.
“Oke, take care ya, gue buntutin kamu dari belakang.” Aku menyugar rambut, merasa seperti orang tak waras yang bicara sendiri. Lantas segera turun, saat mobil mulai melaju.
Menunduk, aku menyusuri jalanan yang tadi. Aku tidak akan menyalahkan Mila. Tidak akan men-judge Mila sebagai gadis manja yang ambekan. Karena sadar jika aku yang bersalah di sini. Memangnya siapa yang tidak akan marah saat dikibulin dua kali berturut-turut seperti itu?
Menaiki motor, aku mengangkat tangan, bermaksud mengacak rambut saat melihat seseorang berdiri tak jauh dari motorku. Senyumku terbit, gerakan tanganku terhenti di udara. “Mila?”
Entah apa yang menyebabkan dia tak jadi naik bis, yang jelas aku cukup lega sekarang. Kembali turun, aku menghampirinya. Masih menyunggingkan senyum seperti semula.
“Mau dianter—”
“Kita putus aja, Zaf!”
Aku mengerjap, mencoba mencerna kembali apa yang Mila katakan. Lantas ketika kata putus terngiang kembali di telinga, aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. “Apa? Pu-tus?” Kepanikan melanda. “Maksud kamu apa, Mil?”
“Putus, Zaf. Selesai.” Tangan Mila membentuk gerakan membelah. “Aku capek, Zaf,” ucapnya lirih, terdengar seolah benar-benar kelelahan. Bukan lelah fisik tentu saja, tapi lelah batin.
“Soal kepikunan gue? Gue beneran gak sengaja, Mil. Gue emang lup—”
“Bukan tentang sifat pelupa kamu, Zaf!” Lagi, Mila memotong ucapanku. Kali ini suaranya meninggi. Napasnya memburu. “Tapi tentang hati kamu!”
Pandanganku mengikuti telunjuk Mila yang mengarah ke dadaku itu.
“Percuma kita menjalin hubungan kalau hati kamu bukan buat aku.”
Panik. Detak jantungku bertalu lebih cepat. Namun, masih berusaha aku tutupi dengan menanyakan maksud Mila. “Maksud kamu apa, sih?”
Aku semakin tak nyaman saat Mila justru meneteskan air mata. Terlebih kami masih berada di tempat umum, di mana kadang orang lewat dan menatap penuh ingin tahu.
“Aku nunggu, Zaf ... nunggu ...,” ucap Mila sembari menyeka air mata, percuma karena cairan bening itu menetes lagi. “Nunggu kamu untuk bener-bener natap aku. Nunggu kamu beneran nganggep aku pa-car.” Lagi, Mila menyeka pipinya. Hidung dan matanya memerah, membuatku semakin tak tega.
Namun, lebih dari itu, aku benar-benar merasa seperti penjahat. Aku pikir aktingku selama ini berhasil. Aku kira peran sebagai kekasih berhasil aku mainkan dengan sempurna.
Faktanya bukan aku yang hebat, tapi Mila. Mila yang dengan apik menutupi luka hatinya. Mila yang memerankan peran kekasih dengan paripurna.
“Kamu tau Zaf hal apa yang paling bodoh pernah aku lakuin?”
Aku tidak menjawab, karena tahu Mila tak butuh jawaban dariku.
“Saat aku dengan ***** bersedia jadi pacar kamu, padahal udah jelas-jelas cuma Gea yang ada di matamu.” Mila tertawa. Tawa yang terdengar mengiris jiwa.
Sementara aku hanya mampu menunduk. Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Jika semua yang dikatakannya benar.
“Lalu apa yang terjadi?” lanjut Mila, masih ingin mengeluarkan beban di hatinya. “Tiga tahun, Zaf. Tiga tahun yang lebih bodoh. Tiga tahun yang penuh kebohongan.” Isak Mila keluar, dia menunduk sembari menutup wajah dengan telapak tangan.
Tanganku terangkat, ingin menepuk pucuk kepalanya tapi urung. Sadar jika aku mungkin tak punya hak untuk itu lagi. Pada akhirnya aku hanya mengepalkan tangan erat.
“Maafin gue, Mil ....”