GENIUS

GENIUS
Ch 12 Adik Kelas



Aku tak menyangka perjalananku disini cukup rumit. Satu minggu ku lewati tanpa bicara dikelas. Banyak diantara guru-guru disini tidak perhatian kepada ku. Terutama buk Teli.


Aku yakin buk Teli masih merasa kesal terhadapku. Tak sekalipun ia menanyakan buku tugas ku lagi. Tak sekalipun ia mau menatap wajahku. Jika ku sapa, maka ia hanya akan menjawab "yap" tanpa menoleh.


Teman ku disini hanya Ami, itupun hanya disekolah. Dirumah kerjaan ku hanya menyelesaikan soal-soal yang diberikan para profesorku dari ibu kota. Pamanku pun juga belum kembali dari kampung istrinya.


Mesin pompa air yang juga masih belum selesai untuk sementara ku ganti dengan katrol tunggal. Kadang cukup melelahkan ketika menimba air dalam jumlah yang banyak. Tapi bisa lah dijadikan salah satu alat fitnes. Bak mandi yang bocor pun juga ku akali dengan menggunakan banyak baskom besar untuk menampung air.


Sore hari seseorang datang memanggilku dari luar pagar rumahku. "Bang Vian!!!" begitulah dia memanggil namaku.


Aku keluar untuk melihatnya. Tampak seorang wanita yang lebih kecil dari ku sedang berdiri memegang jeruji pagar. Aku pernah melihatnya tapi tak mengenalnya.


"Ya.. ada apa?" tanya ku dengan sederhana.


"Bang Vian.. kenalin nama aku Rima.. anak kelas X2." balasnya memperkenalkan diri.


Ketika dia tersenyum baru lah aku teringat bahwa aku pernah sekali memboncengnya ke sekolah. Aku bertemu dengannya dibengkel dekat rumahku ketika hendak ke sekolah. Saat itu si pemilik bengkel memberhentikan ku dan memintaku memberinya tumpangan. Dia atas motor dia dan aku tak bicara sama sekali dan sekarang entah apa niatnya untuk menemuiku.


"Bang waktu itu aku gak sempat ucapin terima kasih.. jadi aku ingin ucapin sekarang.. terima kasih bang.." ucapnya dengan begitu lugunya.


Aku benar-benar tak kuat menahan tawa melihat mimik wajahnya yang sangat lugu. Walau sebenarnya sedikit ku akui dia cantik dan manis.


"Jadi cuma mau ngucapin itu doang?" tanya ku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya.


Wajahnya begitu memerah dia dan tidak sekalipun mengedipkan matanya. Aku tak kuat membuatnya begitu malu terlalu lama jadi ku tegapkan kembali tubuhku.


"Bang... aku balik dulu ya.. rumah aku dekat sini kok tepat disebelah bengkel itu." katanya dengan sangat gugup yang terlihat dari wajahnya.


"Gak ada bang.. kenapa?" jawabnya padaku dengan mimik wajah penasaran.


"Kamu kesini naik apa?" tanyaku lagi.


"Jalan kaki bang." jawabnya dengan wajah semakin penasaran.


"Ok biar abang antar kamu pulang.. tapi kamu temenin dulu abang jalan-jalan ke danau mau gak?." ajak ku berharap tak ada penolakan.


"Hmmm ok deh bang." jawabnya dengan wajah yang kembali memerah.


Aku membuka pagar rumah dan bersamanya aku berjalan menuju garasi.


"Mobil siapa bang?" tanyanya yang melihat satu unit Honda Jazz terparkir di garasi rumahku.


"Oh.. itu kiriman ibu abang.." jawabku mencoba menjelaskan.


"Yah bensinnya sekarat.." sambung ku ketika melihat jarum indikator bensin motor menunjuk huruf E.


Aku sempat berfikir sejenak karena pom bensin ataupun bensin eceran hanya ada dijalan menuju sekolahku sedangkan jalan menuju danau tak ada satupun yang jual bensin.


"Rima.. kita naik mobil aja ya.. bensin motor abang sudah sangat sekarat." ajak ku kembali.


Rima hanya mengangguk pertanda dia menurut. Ku keluarkan mobilku dan langsung menuju danau.