GENIUS

GENIUS
Ch 6 menunggu pulang 2



Dalam perjalananku kembali ke mushalla. Seorang siswi mencoba menghadang perjalananku.


"Vian mau kemana?" tanyanya padaku.


Aku menegakkan kepala ku dan mencoba melihat wajahnya. Ya ampun ternyata dia adalah bidadari kelas ku.


"Eee.. aku mau ngambil sepatuku tadi ketinggalan" jawabku agak gugup.


"Gak usah.. ini udah aku bawain" balasnya sambil tersenyum manis dan menyodorkan sepatuku.


"A.. makasih banyak Mi" aku mengambil sepatuku dan langsung mengenakannya.


"Oh iya.. Ami kok bisa tau ini sepatuku?" tanyaku agak penasaran.


"Iya aku kan udah liat kamu make ini di kelas.. lagian gak ada orang lain yang make sepatu sebagus ini disekolah" jawabnya padaku sambil kembali tersenyum kecil. "ayok balik ke kelas" sambungnya mengajakku.


"(Ya Allah kenapa seorang bidadari harus berada di neraka seperti ini)" kata batinku.


Coba bayangkan siapa yang mau membawakan sepatu atau barang apapun yang tertinggal oleh orang yang baru kita kenal. Kalau aku diposisi Ami melihat ada barang orang lain yang tertinggal aku bakal memilih membiarkannya dan bersikap tak mau tau. Sungguh Ami memiliki hati yang mulia.


Aku terus mengikuti langkahnya sembari mencoba berjalan beriringan. Tapi entah kenapa aku agak merasa sedikit grogi. Melihat senyum manisnya sepanjang jalan terus membuat jantungku berdebar-debar.


Akhirnya aku sampai lagi dikelas. Aku terus memikirkan apa yang telah terjadi hari ini. Dalam renungan ku, aku kembali merasakan ada satu hal yang aneh. Biasanya murid kelas ku begitu ribut dan heboh sebelum guru datang. Tapi kali ini benar-benar berbeda, setiap murid duduk tenang di bangkunya sambil mengembangkan bukunya.


"Bro jam terakhir ini kita belajar apaan?" tanyaku pada teman sebangku ku atau si manusia setengahan.


"Biologi dengan Buk Teli" jawabnya padaku dengan ekspresi tegang.


"(Alhamdulillah pelajaran kesukaanku.. lagian semua materi Biologi untuk SMA udah aku bahas semua kan)" kataku dalam hati merasa senang.


Buk Guru pun masuk ke kelas. Semua siswa tampak tegang. Wajah mereka benar-benar serius. Melihat ekspresi wajah demikian membuatku menyangka bahwa murid-murid disini sangat serius dalam belajar Biologi.


"Keluarkan seluruh buku tugas kalian dan letakan di meja masing-masing" perintah Buk Guru Biologi tersebut.


Para murid dengan panik langsung mengeluarkan buku tugas mereka. Wajah mereka mulai semakin tegang. Sedangkan aku memilih untuk tetap santai karena ini hari pertamaku.


Buk Guru Biologi atau sering dipanggil Buk Teli berjalan menuju bangku demi bangku memeriksa tugas yang ia berikan kepada murid-murid kelasku. Dia berjalan dimulai dari bangku murid yang terdekat darinya. Mejaku akan mendapat giliran paling Akhir karena bangkuku berada dipojok kiri paling belakang.


Buk Teli terus berjalan sampai akhirnya tiba di meja ku. Dia menatapku dengan tajam. Tatapannya mengandung aura kekejaman. Matanya seperti samurai yang teramat tajam.


"Mana buku tugas kamu?" tanyanya dengan dengan nada tinggi.


"Eh.. sebenarnya saya murid baru Buk.. jadi belum tau tentang tugas yang Ibuk berikan" jawabku juga mulai ikut menegang.


"Hari ini saya mengajar pada jam terakhir.. walaupun kamu anak baru, kamu bisa tanya-tanya sama teman kamu dan kamu punya waktu banyak mengerjakannya.. saya gak melarang kamu membuatnya disekolah.. yang saya larang kamu tu jangan sampai gak buat tugas.. mengerti?" balasnya sambil marah-marah.


Mendengar kata-katanya sungguh membuatku emosi. Entah setan apa yang merasuki guru yang satu ini. Tentu aku tidak tinggal diam, aku pun membalasnya.


"Gak usah marah-marah Buk.. Semua tugas Ibuk itu udah ada dalam otak saya" jawabku menentangnya.


"Oh ya? Coba sebutkan satu-satu dari jawaban tugas yang saya berikan?" pintanya dengan nada mengejek.


"Sebutin soalnya dulu dong Buk" balasku bertanya.


"Lah lah lah kok balik nanya.. katanya semua udah ada dalam otak kamu ya buktikan perkataan kamu itu" balas ibu itu dengan sangat egois tak mau kalah.


"Lah kok diam?.. Ya udah karena ga bisa jawab dan ga buat tugas silahkan berdiri sampai habis jam pelajaran" perintahnya padaku dengan sangat arogan.


Kali ini aku mencoba bersabar dan menuruti mau nya. Murid-murid lain menatapku dengan iba. Buk Teli kembali mengajar dengan senyum lebarnya yang menjijikan. Aku yakin hatinya sedang berbunga-bunga usai mengalahkan aku dalam perdebatan singkat barusan.


Setengah jam lamanya aku berdiri tegap dengan hati yang kesal. Tiba-tiba si manusia setengahan tak sengaja menjatuhkan pulpennya dikakiku. Dengan reflek aku membungkuk mengambilnya.


"Woi anak baru.. kamu berani-beraninya duduk ya.. sekarang kamu berdiri di depan didekat papan tulis ini" tiba-tiba dengan nada yang keras Buk Teli meneriaki ku.


Dalam hatiku berkata apakah ini yang dinamakan guru killer. Seumur aku sekolah dikota belum pernah ada satupun guru yang meneriaki ku pada jam pelajaran seperti ini, bahkan menyuruhku berdiri sepanjang jam pelajaran.


Tubuhku bergetar menahan emosi. Aku berusaha sabar dan kembali menuruti apa mau Buk Teli. Aku berdiri menghadap seluruh murid kelasku. Wajah mereka semakin prihatin padaku. Dari kejauhan Ami tampak mengisyaratkan aku untuk tetap tenang dan diam. Melihat itu membuatku tersenyum karena dalam keadaan ini Ami masih mencoba membantu ku.


"Eh apanya yang lucu?" tanya Buk Teli dengan marah melihat senyum di wajahku.


"Hah? gak ada apa-apa kok buk" jawabku sangat kaget.


"Jelas-jelas saya lihat kamu ketawa.. kamu berani ngeledek saya" balasnya lagi semakin marah.


"Ya ampun ini Mak Lampir maunya apa sih" kataku dengan suara kecil yang spontan keluar dari mulut.


"Apa?.. kamu bilang saya Mak Lampir.. sekarang kamu berdiri di luar" perintahnya dengan wajah yang sudah merah padam.


Aku berjalan keluar dan berdiri di depan pintu. Murid-murid lokal sebelah tampak sedang asik menyaksikan ku yang sedang berdiri diluar. Mereka ketawa geli melihat keadaan ku. Sungguh hari yang benar-benar sial bagiku.


Bel pulang sekolah pun berbunyi. Para murid-murid lokal lain bergegas merapikan buku mereka dan memasukan kedalam tas mereka. Diantaranya sudah berhamburan keluar kelas dan menuju parkiran. Sedang kan di lokal ku Buk Teli terus sibuk melanjutkan pembelajaran. Aku berfikir Buk Teli tidak mendengarkan bel tersebut.


"Buk.. bel pulang sekolah udah bunyi buk.. anak-anak yang lain juga udah pada pulang buk" aku mencoba menyampaikan informasi kepada Buk Teli dari dekat pintu.


"Biarkan saja mereka.. kamu kalau mau pulang silahkan sana pulang.. saya hanya tinggal memberi mu absen cabut" jawabnya padaku tanpa merasa bersalah.


Seandainya mukul orang yang sudah tua itu gak dosa udah aku hajar habis-habisan itu orang. Atau enggak, jika aku tau siapa anaknya dan jika anaknya laki-laki pengen rasanya aku ajak berantem melampiaskan kekesalanku padanya.


Pada akhirnya dia menyelesaikan pembelajaran dan meninggalkan sebuah tugas rumah. Diapun beranjak meninggalkan kelas.


"Hey anak baru.. itu saya udah mencatat dipapan tulis tugas untuk besok.. silahkan kamu catat karena besok gak ada konsekuensi buat kamu lagi jika tidak mengerjakan tugas" katanya padaku dan lanjut berjalan menuju kantornya.


Aku kembali masuk kelas dan hendak mengambil tas ku untuk pulang.


"Vian.. ini aku udah catatin dibuku kamu tugas untuk besok.. jangan lupa dikerjain ya" kata Ami sambil memberikan bukuku.


"Idih.. Ami baik banget" kata teman sebangku Ami sambil nyengir.


"Oh makasih banyak Mi.. pasti aku kerjain, aku gak mau berdiri didepan kelas lagi" balasku sambil memasukan bukuku ke dalam tas.


Setelah menyandang tas aku langsung menuju parkiran mengambil motorku.


 


\*