
Aku sudah nyaris menyerah, nyaris berpikir bahwa mungkin sama sekali tidak ada tempat untukku di hati Gea, meski hanya secuil. Mungkin perasaannya untuk Saka memang sebesar itu.
Namun, saat kepala itu akhirnya mengangguk, aku tahu ada saat di mana penantian akan berakhir bahagia.
Sudut-sudut bibirku tertarik ke atas, lantas makin melebar dan berubah jadi cengiran. Seringai bahagia.
Apa yang bisa aku lakukan? Memeluknya? Tidak. Bersorak? Pun tidak.
Mungkin karena terlalu bahagia, mungkin karena jantung ini yang bertalu tanpa irama, membuatku hanya mampu meremas pelan jemarinya.
“Thank’s, Ge ....”
Aku tahu perjuanganku belum berakhir. Bahkan mungkin akan lebih panjang dan menyakitkan. Mengetahui bahwa, dia yang setuju jalan denganmu ternyata masih menyimpan rasa untuk orang lain, tentu butuh hati berlapis baja untuk menghadapinya, kan?
Tapi itu tidak masalah. Sekian tahun aku menunggu. Tak hanya hitungan hari aku menjadi pemuja dalam diam. Maka, aku siap untuk menempuh perjalanan lebih jauh lagi.
***
Laju motor sengaja aku pelankan saat memasuki gang indekos. Senyum di wajahku masih sesekali menyembul dari balik helm. Senyum yang disebabkan oleh gadis yang baru saja aku antarkan ke rumahnya.
Pada akhirnya hari ini menjadi kencan pertama kami. Meski tak ada yang spesial. Gea tetap galak seperti biasa, tetap tak segan memukulku dengan tangannya. Bahkan dia mengajukan syarat absurd.
“Tapi inget ya, Zaf, gue gak mau kayak pasangan alay. Lu gak usah sok-sokkan anter jemput gue. Gak usah ngasih gue kado atau apa pun itu namanya,” kata Gea.
Aku mengangguk-anggukan kepala. “Tapi panggil sayang, boleh, kan?” godaku.
“Gak!” jawabnya telak dan galak.
Hal yang membuatku menghela napas. Jika tidak boleh bermanis-manis, bagaimana caraku merebut hatinya?
Ah, itu bisa aku pikirkan nanti. Zafran selalu punya cara untuk itu, yang penting Gea sudah bersedia membuka hati untukku.
Aku mengernyit saat melihat seseorang di teras indekosku. Dia tampak sedang berbicara dengan Mas Angga, tetangga indekosku.
“Nah, itu si Zafran dah balik,” kata Mas Angga saat aku menghentikan motor di halaman. “Zaf, ditungguin cewek lu nih. Gimana sih, bukannya dijemput malah disuruh nunggu.”
Aku hanya menanggapi dengan cengiran. Mas Angga belum tahu jika kami sudah bukan pasangan kekasih lagi. Sepertinya Mila pun belum menjelaskannya.
Mas Angga tahu hubungan kami saat aku membawa Mila mampir ke sini untuk mengambil kamera. Hari ini untuk kedua kalinya Mila datang ke sini. Namun, statusnya telah berbeda.
“Thank’s, Mas, udah nemenin Mila,” kataku setelah melepas helm.
“Sama-sama. Lain kali jangan lama-lama perginya, gue tikung cewek lu, baru nyahok lu!” canda Mas Angga.
Kami tertawa untuk alasan yang berbeda. Lelaki itu dengan candaannya, sedangkan aku tertawa karena sadar jika yang diucapkannya tak berpengaruh apa-apa.
“Ya udah, gue balik, ya,” pamit lelaki itu.
Setelahnya, kecanggungan jelas terasa.
“Dah lama, Mil?” tanyaku setelah berdehem lebih dulu.
Dia menggeleng, “Belum lama kok. Kamu baru balik?” tanya gadis itu.
“Iya.” Aku mengangguk. “Elu-kamu kirain masih sama temen-temen?” Menggigit lidah, aku merutuk dalam hati, hanya menyebut panggilan untuknya jadi sekaku ini.
“Aku pulang duluan.”
Kalimat itu entah kenapa terdengar seperti ‘gara-gara lu, acara hangout gue berantakan’, tapi begitulah Mila selalu sulit menebak apa yang sebenarnya dia rasakan.
“Aku gak lama kok,” ucap Mila, seperti menyadari gelagatku yang akan membuka pintu. “Aku cuma mau nyerahin ini.” Dia menyodorkan paper bag warna coklat yang sedari tadi dipegangnya.
Alisku berjengit saat menerima benda itu. Lantas mulai paham saat melihat ke dalamnya. Jumper hitam itu aku pinjamkan pada Mila saat dia memakai rok pendek sepulang kerja. Pakaian itu digunakan untuk menutup pahanya saat naik motor.
“Harusnya gak perlu dikembaliin.” Aku tulus mengatakan itu. Harusnya Mila simpan saja benda ini. Toh hanya jumper.
Namun, sepertinya pemikiran kami berbeda. Mila menggeleng, “Aku gak mau nyimpen barang-barang yang bikin aku inget sama kamu.”
Aku meringis, merasa tidak enak untuk yang ke sekian kali.
“Jadi ... elu-kamu mau buang semuanya?” tebakku, mencoba mengingat beberapa barang yang aku berikan, meski sadar itu bisa dihitung dengan jari. Paling banter aku memberi hadiah pada Mila ketika dia ulang tahun.
“Gak, mungkin bakalan gue kardusin aja. Itu kan kamu pinjemin makanya aku balikin.” Dia menunjuk paper bag yang kini berada di tanganku.
Aku mengangguk paham.
Lalu selama dua menitan hening. Aku merasa ada hal lain yang ingin disampaikan Mila, maka aku membiarkannya mempersiapkan diri. Tetap berdiri di sampingnya, di teras indekos ini.
“Jadi ....” terdengar helaan napasnya. Hela napas yang cukup berat dari gadis yang tetap menatap ke depan meski saat ini aku sudah menghadapkan badan padanya. “Pada akhirnya Gea tau perasaanmu, Zaf? Trus kalian, yah ....” Dia mengangkat bahu sekilas, terlihat enggan menggenapi ucapannya. Mungkin dia ingin bilang pacaran atau jadian atau semacamnya.
Barulah dia menoleh, membuat kami beradu pandang beberapa saat. Saat menatap manik coklat itu, aku seolah sedang bercermin. Mila mengingatkanku pada diri sendiri yang mencintai seseorang hingga sedemikian konyol.
Gadis itu, mungkin sudah lama menyadari jika hanya aku jadikan topeng, topeng untukku bisa tetap bersama Gea. Namun, dia memilih tetap bertahan.
Sama sepertiku, memilih memakai topeng dan bertahan menunggu Gea.
Bukankah semua ini sangat konyol? Entah apa salah kami sampai harus terjebak perasaan macam ini. Mencintai seseorang yang sebenarnya mencintai orang lain.
“Iya,” jawabku mantap. Bukan untuk menyakitinya, tapi aku berharap dengan tahu yang sebenarnya, Mila akan belajar melupakanku atau bahkan membenciku. Biar aku saja yang merasakan cinta konyol ini, Mil. “Kami jadian,” imbuhku.
Dia memalingkan wajah, menengadahkan kepala sejenak, lalu lagi-lagi menarik napas panjang.
“Dengar, Mil, mulai sekarang lu harus lupain gue, kalau perlu lu benci gue, sebenci-bencinya,” kataku.
Mencoba menyugesti Mila. Bahwa aku layak dilupakan. Bahwa aku layak dibenci begitu dalam.
Tawa Mila mengudara, tawa yang terdengar mengejek di telinga.
Kembali menatapku, manik itu memerah. “Kamu tau, Zaf, kadang saking inginnya membenci seseorang, kita justru semakin terjebak dalam bayang wajahnya.” Suara Mila serak. “Dari dulu, Zaf, aku pengen benci kamu, tapi ....” dia menggeleng, isyarat dari kata-kata selanjutnya.
Menunduk, aku tak kuasa menatap. Tak kuasa menatap sorot mata penuh luka darinya.
Tanganku terkepal, merasa ingin menonjok diri sendiri yang telah menyebabkan Mila seperti itu.
Terdengar lagi helaan napas Mila. Sepertinya gadis itu sedang melakukan treatment agar air matanya tidak tumpah.
“Kalau gitu, aku pulang dulu,” ujar Mila kemudian.
“Mau gue anter?” tanyaku ragu. Bukan karena tidak benar-benar ingin mengantar pulang, tapi sadar jika mungkin Mila tak mau.
Dia menggeleng, tersenyum sembari menatapku cukup lama. “Thank’s, Zaf.”
Ucapan itu membuatku menjengitkan alis, untuk apa dia berterima kasih?
“Makasih, udah pura-pura jadi pacarku selama ini.”