GENIUS

GENIUS
Ch 8 Kesekolah lagi



Pagi ini ku kuatkan mental untuk pergi ke sekolah. Dengan perasaan yang sangat bimbang aku kendarai sepeda motorku dengan sangat cepat.


Aku juga tidak lupa membawa lima botol parfum terwangi yang aku punya. Setelah aku cium seluruh badanku aku rasa parfum ini berhasil menutupi bau keringatku.


7:30am. Jam pembelajaran dimulai. Seorang guru berjilbab dalam berjalan menuju kelas ku. Ku perhatikan dari kejauhan dia tetap cantik walaupun sudah berusia tak muda lagi.


Aturan disekolah untuk jam pertama sebelum guru masuk kelas, semua murid dan guru harus berbaris didepan kelas terlebih dahulu untuk bersalaman. Aku cukup bingung untuk anak laki-laki sangat enggan berbaris di barisan paling depan.


Sang ketua kelas berdiri didepan disamping bu guru. Setelah ia menyiapkan barisan murid perempuan terlebih dahulu bersalaman. Setelah semua murid perempuan bersalaman, aku dibarisan depan langsung mengacungkan tanganku untuk bersalaman. Sang guru menatapku dan hanya tersenyum manis.


"Langsung masuk aja" kata ibu itu.


"Lah kenapa?" tanya ku penasaran.


"Udah ga pa pa" jawab ibuk itu pelan.


Semua murid ketawa melihat ekspresi ku yang kebingungan. Wah perasaanku mulai nggak enak. Apakah ibuk itu tau aku belum mandi.


Aku menoleh kebelakang menyaksikan murid laki-laki lain. Untung ternyata emang murid laki-laki tidaklah bersalaman dengan mencium atau menyentuh tangannya.


Baru 20 menit aku dikelas aku sudah mulai merasa gerah. Badanku mulai terasa gatal. Keringat bercucuran deras di wajahku. Aku seperti kepanasan.


"Vian kenapa?" tanya Ami yang menoleh ke arahku dan melihatku yang sedang gelisah.


"Hah? enggak apa-apa kok" jawabku sambil mencoba untuk tetap tenang.


"Oh ok.. btw tugas biologi kemarin udah dikerjakan belum.. abis ini biologi loh" tanya Ami lagi mencoba mengingatkan aku.


"Astaga aku lupa.. ya ampun" jawabku dan mulai bertambah khawatir.


"Hahaha kamu pemalas juga ya.. ya udah ini buku tugas aku silahkan kamu salin biar cepat" balasnya dengan tersenyum kecil kearahku.


Tanpa pikir panjang langsung aku kerjakan semua tugas kemarin dengan bantuan buku tugasnya Ami.


"Vian kamu sedang catat apa itu? tanya bu guru yang sedang memperhatikan ku.


"Dengar ya.. saya enggak suka ada yang melakukan kegiatan lain selain pelajaran yang saya berikan di jam pembelajaran saya.. silahkan disimpan dulu bukunya ya" balas ibuk itu dengan sangat tegas.


"Tapi buk.. eeee tentang rumus trigonometri yang ibuk ajarkan sekarang saya sudah paham semua buk.. jadi izinkan saya mencatat ini sebentar buk" kata ku sambil mencoba meminta izinnya.


"Saya gak peduli kamu sudah paham atau tidak.. tapi dengan begini kamu memberi contoh yang buruk pada siswa-siswa lain" balasnya lagi dengan sangat tegas.


"Iya budaya orang kota emang kayak gitu mungkin buk.. sombong dan tak mau menghargai orang lain" sambung si jutek ikut campur.


Dengan sangat terpaksa aku mengalah. Kusimpan kembali buku tugasku kedalam laci seperti kusimpan dendam ku pada sijutek. Entah kenapa dari kemarin dia seperti tidak menerima dengan kehadiranku. Apakah dia takut tersaingi dan kehilangan gelar murid terpandai disekolah? apapun alasannya tetap aku sudah mulai membencinya.


Jam pembelajaran pertama telah usai. Dengan cepat aku keluarkan kembali buku tugasku dan melanjutkan kembali tugas biologi tersebut.


Baru saja bu guru matematika ini keluar buk Teli sudah berjalan dengan kecepatan cahaya menuju kelasku. Entah mengapa langkahnya seperti maut yang menghampiri. Semua murid dengan segera meletakan buku tugasnya diatas meja mereka.


"Vian cepat.. buk Teli bentar udah hampir sampai" pinta Ami yang juga sudah mulai panik.


Kepanikan ku sudah mencapai puncaknya. Tulisan ala dokter bukan lagi persoalan. Tak peduli bisa dibaca atau tidak, yang jelas aku mencoba menulis secepat mungkin. Tulisan ku bukan hanya typo saja, tapi sudah terlihat seperti cacing yang berserakan dibukuku.


Tepat setelah buk Teli masuk kelas aku sudah selesai mencatat semua nya. Ami pun dengan segera menarik kembali buku tugasnya.


" Ok anak-anak keluarkan buku tugas kalian"


Inilah kata-kata pertama yang selalu ia ucapkan ketika masuk kelas. Perasaanku sudah lega karena sudah menyelesaikan tugasku. Aku tak memeriksa buku tugas ku sekali lagi, dengan kepedean ku aku merasa semuanya sudah selesai.


Buk Teli berjalan kearahku. Melihat isi buku tugas ku. Dia tampak seperti memelototi buku tugas ku.


"Coba kamu bacakan kepada saya apa yang kamu tulis" perintahnya dengan tampang sangarnya.


Ku ambil kembali buku tugasku dan oups...


\*\*\*