GENIUS

GENIUS
Ch 10 Belum Berakhir



Aku hanya duduk manis dikantin sekolah sambil menikmati cemilan dan memainkan ponselku. Karena masih jam pembelajaran kantin sepi bagaikan kuburan jadi aku bebas mau ngapain. Ku mainkan beberapa game untuk menghilangkan suntuk.


Bosan memainkan ponsel. Aku berjalan ke dapur kantin berniat mau memesan sepiring nasi goreng. Tak kala sampai di dapurnya aku melihat suatu ruangan rahasia lengkap dengan meja dan kursinya.


"Oups dek.. mau makan apa?" sapa sipemilik kantin dari belakang.


"Nasi goreng pake telur dadar ya bang" jawabku padanya.


"Oh ya bang.. tempat yang disamping dapur ini dipake juga untuk anak-anak sekolah?" sambung ku bertanya.


"Oh.. kamu mau makan disitu juga boleh.. tempat itu biasa dipakai buat anak-anak ngerokok atau yang gak masuk jam pelajaran" jelas sang pemilik kantin.


"Bang inikan masih didalam pekarangan sekolah.. apa gak pernah katahuan gitu?" tanya ku sekali lagi.


"Ya pernah digerebek guru.. cuman kalau emang dasar murid bandel ya mau diapain aja tetap ga bakal jera.. bentar lagi pun mungkin bakalan datang anak-anak yang mau ngerokok kesini" jelasnya sekali lagi.


Dan benar saja. Dua orang murid yang kelihatannya murid kelas 12 masuk kedalam kantin. Wajah mereka lebih kelihatan sebagai preman dibandingkan pelajar. Itu membuatku jijik.


"Bang rokok sama nasi gorengnya bang" sahut siswa itu meminta pesanannya kepada pemilik kantin.


"Eh Yoga.. gak belajar Ga?" tanya sang pemilik kantin.


Yoga, aku tau tentang nama ini. Murid disebelah bangku ku pernah saling bercerita dengan temannya tentang nama Yoga. Dia adalah murid jagoan disekolah ini. Dia ketua geng sekolah dimana tak ada satupun yang berani melawannya.


"Ah presiden udah ada gubernur juga udah ada, jadi untuk apa belajar mulu bang hahaha" jawab Yoga membalas pertanyaan pemilik kantin.


Jawabanya sungguh seperti manusia tanpa masa depan. Sungguh memalukan bagi orang yan


g berilmu jika memiliki jawaban seperti itu. Aku ambil nasi goreng ku dan duduk kembali didepan kantin.


Aku terus duduk dan memakan nasi goreng ku. Cukup lama aku disana sampai akhirnya terdengarlah bunyi bel sekolah tanda berakhirnya jam pembelajaran yang pertama yang artinya jam biologi ku habis bakal dilanjut jam pembelajaran yang ke dua.


Sebelum aku beranjak dari kantin. Terlihat dari jauh Ami juga menuju kearahku. Dia terus menatapku dari kejauhan. Wajahnya yang cantik dan manis berhasil membuat mataku tak bisa berpaling.


"Vian disini ternyata.. ayo masuk kelas" sahut Ami mengajakku.


"Hahaha nggak juga sih.. tadi aku balik dari toilet terus liat kamu disini jadi aku panggil" jawabnya ngeles.


"Lah bukannya dari kelas ke toilet gak lewat sini ya?" tanyaku sambil senyum-senyum.


"Hahaha udah lah ayok ke kelas.. pelajarannya asik loh seni budaya" balas Ami mencoba mengalihkan situasi.


"Eh Ami sini dulu.. aku mau nanya?" pintaku pada Ami untuk duduk sebentar.


"Buk Teli ngomong apa setelah aku pergi" tanya ku penasaran.


"Dia cuman diam dan hanya menyuruh anak-anak ngerjain soal di buku paket doang.. bahkan sampai akhir jam pelajaran dia gak ngomong" jelas Ami padaku.


"Hahaha benarkah.. syukurlah guru kek gitu memang harus diberi pelajaran" balasku dengan sangat senang.


"Vian.. gak boleh gitu sama guru kita.. seperti apapun dia atau bagaimana pun dia, dia tetap guru kita.. dia seperti itu karena sayang sama kita cuman mungkin caranya aja yang mungkin berbeda dengan guru lain" Ami membalas perkataan ku dengan pikiran yang benar-benar terbuka.


Jawaban Ami berhasil menyentuh lubuk hatiku. Kata-katanya benar juga. Kita boleh menaklukan guru killer tapi tak boleh membencinya.


Sebenarnya ada banyak cara menaklukan hati guru killer, salah satunya dengan prestasi. Tapi kebanyakan siswa malah memilih membenci guru killer dibandingkan menaklukan hatinya.


"Ami.. emang ada berapa guru killer disekolah kita" tanyaku pada Ami sekali lagi.


"Sebenarnya ada 5.. tapi 2 diantaranya kita gak akan kita temui dikelas" jelas Ami padaku.


"Guru apa aja tuh Mi?" aku mencoba meminta detailnya.


"Yang pertama buk Teli Biologi kamu udah tau, yang kedua buk Ira Fisika abis jam istirahat kita bakal belajar sama dia, yang ketiga Mam Cen Bahasa Inggris besok dia ngajar dilokal kita.. untuk dua lagi itu buk Linda matematika cuman ngajar di kelas 10 dan buk Emi Ekonomi IPS.. dan yang paling killer sejagat sih kata anak-anak itu buk Emi.. aku pernah belajar sama dia pas belum bagi jurusan dikelas 10.. tapi kamu masih bisa belajar sama buk Emi jika kamu mau.. soalnya tiap sabtu itu ada ekskul untuk pelajaran luar jurusan yang diminati.. jika kamu pilih ekonomi maka bakal ketemu tuh sama buk Emi" Kata Ami menjelaskan detailnya.


"Ok aku akan taklukan semua hati guru killer Mi.. aku bakal liatin siapa itu Vian yang sebenarnya" jelasku pada Ami.


Ini bagaikan dalam sebuah game pasti ada Boss dalam tingkatannya. Dimulai Boss pertama Buk Teli, Boss kedua Buk Ira, Bos ketiga Mam Cen, Dan Boss terakhir Buk Emi. Setiap mata pelajaran mereka adalah koloninya yang harus aku tumpas terlebih dahulu. Dan persoalan ku dengan Boss pertama masih Belum Berakhir.