GENIUS

GENIUS
Genius 2 (Part 1)



Perlahan lampu-lampu mulai meredup, lantas mati sepenuhnya. Menyisakan gelap, pekat. Lalu, layar maha lebar di depan sana mulai menampilkan gambar. Adegan pembuka film yang aku tonton. Dengung perbincangan dari para pengunjung yang memenuhi teater perlahan hilang. Berganti hening. Masing-masing mulai fokus menatap ke layar.


Aku menoleh ke samping kiri saat merasakan rangkulan tangan seseorang. Meski gelap, tapi aku tahu dia juga tengah menatapku dengan senyum tulus seperti biasa.


“Makasih, ya,” bisiknya.


Dengan tangan yang bebas, aku menepuk pelan kepalanya. Gadis di sampingku ini sudah lebih dari tiga tahun aku pacari, tapi intensitas nge-date kami bisa dihitung dengan jari. Makanya saat aku bilang ingin mengajaknya nonton hari ini, dia begitu antusias.


Masih aku ingat dengan jelas saat menjemputnya tadi. Netranya berbinar. Senyumnya tersungging lebar.


Lalu soal ucapan terima kasih itu ... mungkin karena dia senang, karena bahagia, aku tak mangkir lagi.


Ya, dari sekian banyak lelaki yang menyandang gelar pacar di dunia ini, mungkin aku salah satu yang paling buruk. Jika perhatian seseorang ada tingkatan nilainya, mungkin aku berada di nilai terendah, bahkan minus.


Bagaimana tidak? Selain sangat jarang mengajaknya keluar, aku juga nyaris lupa menghubunginya tiap hari jika bukan dia yang melakukannya lebih dulu.


“Gue yang harusnya bilang makasih,” ucapku, masih mengacak pelan rambutnya, “makasih udah sabar jadi pacar gue.”


“Ssttt!” Suara di samping kananku menginterupsi. Isyarat bahwa aku harus diam.


Aku mengulum bibir, menahan tawa. Sadar jika suaraku telah mengganggu pengunjung itu, bahkan mungkin yang lainnya.


Sekali lagi, aku mengacak rambut gadis itu, lantas memperbaiki posisi duduk. Kembali fokus pada layar lebar di depan.


Namun, konsentrasiku harus kembali pecah karena getaran di saku celana. Meraih benda pipih itu, sebuah notifikasi pesan terpampang di layar.


Double G: Lu di mana?


Dengan satu tangan, aku mengetik balasan padanya. Bukan menjawab pertanyaannya, tapi bertanya kenapa?


Balasan segera datang tak sampai satu menit setelah pesanku terkirim, menandakan bahwa seseorang di ujung sana memang tengah menanti pesan dariku.


Double G: Ban motor gue pecah.


Seketika perasaan tak nyaman menggelayuti hati, membuatku tak lagi berkonsentrasi dengan putaran film itu. Gelisah, berulang kali aku membenarkan posisi duduk sembari melirik gadis di sampingku.


Nyaris saja aku melompat saat sebuah ide tercetus. Sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya, aku lantas berbisik, “Gue ke toilet bentar, ya.”


Tanpa menunggu jawabannya, aku berdiri, lalu berjalan menuju toilet. Di dalam bilik, aku segera men-dial nomor yang beberapa menit lalu mengirim pesan itu. Dering pertama panggilan terjawab.


“Zaf ....” Aku hafal rengekan itu. Suara yang keluar saat dia tengah dilanda kepanikan.


“Lu di mana? Gak ada tukang tambel ban di situ? Gak ada orang lewat?” berondongku.


“Gue, gak tau ini di mana. Mana gelap, banyak semak-semak.”


Tanpa melihatnya pun, aku tahu jika saat ini wajahnya campuran antara tegang dan takut. Hal yang semakin membuatku gusar. Jika bisa, ingin rasanya aku terbang ke sana.


“Ya udah, share loc, gue susulin elu.”


Lantas secepat yang aku bisa, aku segera menuju parkiran, memacu motor dengan kecepatan di atas rata-rata.


***


Aku mengembuskan napas lega saat melihat sosok itu. Cukup sulit menemukannya tadi, karena tempat yang cukup terpencil ini.


Gadis itu, yang awalnya tengah berjongkok di samping motornya, segera berdiri saat mendengar suara motorku. Meski gelap tapi aku bisa melihat matanya yang berbinar. Mungkin sama sepertiku, dia pun lega.


“Zaf!” teriaknya sembari melambaikan tangan.


“Ish, siapa yang keluyuran, sih? Gue tu abis ngeliput.”


Baru aku sadari jika Gea masih memakai pakaian yang sama dengan tadi pagi. Bawahan hitam dan atasan putih yang tertutup hoodie. Pun ransel hitam kesayangannya masih nangkring di punggung. “Lu belum pulang?”


“Ya, belom lah. Kalau udah ngapain coba gue di sini?”


“Emang ngliput apaan, sih?”


“Ada pebisnis yang ngadain acara sumbangan buat salah satu panti di daerah sini. Eh, pas mau pulang malah bocor ban motor gue.”


Aku mengembuskan napas. “Nenek lampir lagi yang nyuruh lu?”


Detik setelah pertanyaan itu terlontar, aku mengaduh karena geplakan tangan Gea di lengan atas. “Double G!” seruku sembari mengusap bekas geplakan yang menyisakan rasa panas itu. Jika ada predikat teman paling kejam, maka Gea orangnya. Mungkin baginya tubuhku sudah serupa samsak tinju yang bebas dipukuli kapan saja.


“Udah berapa kali dibilang jangan sembarangan kasih julukan orang,” ujarnya.


Aku hanya berdecak. Heran juga dengan sikap gadis satu ini yang masih membela orang yang sudah menyuruhnya secara semena-mena. Yang lebih heran lagi dia bisa bertindak kasar padaku yang selalu baik padanya, tapi tidak bisa kasar pada orang lain.


“Gue udah telepon temen gue yang di bengkel buat ambil motor lu. Kita tunggu bentar, ya,” ujarku.


“Gue laper, Zaf,” rengek Gea sembari menepuk-nepuk perutnya.


Menghela napas, aku menjawab, “Kenapa gak ngomong tadi? Gue kan bisa beliin roti di jalan.”


“Gimana gue mau ngomong, lunya main tutup telepon! Pas telepon lagi cuma buat ngomel, lu di mana sih, Ge? Ada ancer-ancer apa di situ?” Gea menirukan ucapanku beberapa saat lalu saat mencarinya.


Aku mendengkus tawa, “Itu karena gue khawatir sama lu, Double G.” Aku memberi penekanan pada kata terakhir. Julukan khusus dariku untuk gadis bernama lengkap Anggea Radeva itu. Orang yang aku kenal sejak SMA.


Dia nyengir, menampilkan deret giginya. “Thank’s, ya, my best friend.” Kali ini tangannya menyentuh lengan atasku, mengusap-usapnya.


Tak berapa lama kemudian, mobil derek datang. Motor Gea segera diangkut. Sementara aku dan gadis itu menaiki motorku. Lantas meluncur membelah jalanan malam.


Di depan warmindo aku menghentikan motor. Memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Seperti dugaanku, mata Gea berbinar saat aku menoleh padanya. Seperti sebuah isyarat bahwa inilah yang diinginkannya.


Dua porsi mie kuah plus telur jadi pesanan kami. Ditambah jeruk hangat untuk Gea, dan kopi untukku.


“Zaf,” panggil Gea sembari menyenggol sikuku di tengah acara makan.


Menoleh, kudapati dia yang menaikkan-naikkan alis sembari melirik mangkukku. Tanpa bertanya lebih lanjut aku memindah telur yang memang belum kusentuh itu ke mangkuknya. Kebiasaan kami jika makan mie, jatah telurku akan dipalak Gea.


“Tengkyu, Zaf,” ucapnya girang. Lantas kembali menyuap. Lahap.


“Kenapa tadi gak ngajak gue, sih?”


Entah berapa lama Gea mendorong motornya tadi. Tapi melihat bagaimana dia makan seperti itu membuatku menyimpulkan jika energi yang dia keluarkan cukup banyak tersita. Hal yang seharusnya tidak terjadi jika aku bersamanya.


Gea mengelap dagu yang terkena kuah mie dengan punggung tangan, lantas menjawab, “Lu tadi kayaknya buru-buru. Ke mana emang?”


Aku tersedak, hingga batuk selama beberapa saat. Bukan karena pertanyaan Gea yang membuatku begini, tapi karena baru menyadari sesuatu. Lebih tepatnya seseorang.


Kira-kira apa yang dilakukan orang di toilet umum sampai selama ini? Berapa jam waktu yang telah aku habiskan? Dan yang lebih krusial adalah lelaki macam apa yang meninggalkan pacarnya demi seorang gadis yang hanya menganggapnya BEST FRIEND?


-----------@-------@----------------------


Gimana, gimana part satu ini? komen ya, kalian.😉