
Aku berhenti di depan gerbang Garuda. Sengaja tak membawa motor karena hari ini istimewa. Pengumuman kelas baru. Apa hubungannya? Aku juga tidak tahu. Hanya ingin melakukan ini sebentar, berdiri di depan Gerbang megah itu. Sembari berharap tahun ajaran baru akan memberi semangat baru.
Pun mengenang beberapa momen yang terjadi selama aku di sana. Bertemu Zafran pertama kali. Beruntung, ya aku beruntung bertemu Zafran, lantas jadi sahabatnya. Meski fakta yang beberapa saat lalu terungkap tidak pernah aku harapkan. Aku pikir selamanya kami akan tetap berteman. Hingga lulus, kuliah, bahkan memasuki dunia kerja. Aku butuh dia sebagai teman. Namun, sepertinya benar, tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan.
Lalu jadi pemuja rahasia Eldi. Ha ha ... sampai sekarang aku geli sendiri kalau mengingatnya. Mungkin waktu itu mataku terkena debu. Berbicara tentang Eldi, dia sudah tahu kalau Ayahku bekerja pada ayahnya. Bersyukurnya, dia tidak menjadikan itu ancaman. Ya, untuk beberapa hal cowok itu memang baik. Kecuali yang menyangku Saka.
Aku harus menarik napas panjang saat menyebutkan nama itu. Saka Kelana. Pun aku harus merasakan sesuatu di dalam sini. Seperti ada lubang di sana.
Kalau dipikir, cinta itu aneh. Kenapa cinta harus ada di hati Zafran untukku? Kenapa aku tidak bisa balik memiliki rasa yang sama pada Zafran. Malah mengharap lelaki yang entah.
“Oke, Gea!” Aku bermonolog, menyemangati diri sendiri. “Moga lu dapet temen kece badai nanti.” Lantas melangkah mantap memasuki sekolah.
Belum ada sepuluh meter aku berjalan saat tiba-tiba langkahku tersendat. Seperti ada beban di balik punggungku. Seakan ada yang sengaja menarik ranselku.
“Siapa, s—“ Netraku melebar sebelum umpatan keluar. Melihat dia yang menampilkan cengiran yang sudah lama tak kudapati. “Zafran?”
“Ngapa lu? Kek liat hantu aja!”
Aku mengatupkan bibir yang sedari tadi terbuka. Lantas menarik sudut-sudutnya. Senyuman yang aku sajikan sekarang mungkin lebih mirip cengiran.
Agak kaget juga dengan kehadiran Zafran yang tiba-tiba. Kami memang masih saling sapa, tapi hanya sebatas itu. Masih kaku. Tidak seperti dulu.
Namun, hari ini, ada yang berbeda dengan Zafran. Dia tampak lebih ceria dan friendly. Seperti Zafran yang kukenal dulu.
“Mau denger kabar bagus gak?” tanyanya. Cengkeramannya di ujung ranselku sudah terlepas. Kami berjalan bersisian.
“Apa?” tanyaku antusias.
“Gue yakin sih, lu bakal seneng banget dengernya.” Sudah lama tak kudapati ekspresi itu. Khas Zafran yang suka mem-bully-ku.
“Apaan, sih?” tuntutku tak sabar.
“Sini!” Zafran menyuruhku mendekat.
Aku mengikuti instruksinya, mendekatkan telinga karena dia yang seperti akan berbisik.
Benar saja, Zafran berucap lirih serupa orang yang tengah membisikkan sesuatu maha penting. “Kita satu kelas.”
Mengerjap, aku masih memproses ucapannya. Lalu saat sadar, aku segera menjauh dan menggeplak bahunya. “Kabar baik apaan tuh!”
“Double G!” pekik Zafran sembari mengusap bahunya.
Aku terbahak. Selain karena senang, pun karena rindu dengan momen itu. Rindu dengan panggilan khusus dari Zafran untukku.
“Yakin bukan kabar baik?” ujar Zafran, seolah berusaha mengejekku. “Yakin lu gak butuh contekan matematika dari gue?”
Menarik sudut bibir, aku menggaruk sisi kepala. “Iya juga si.”
“Tapi gue ogah bantuin lu. Males punya temen galak kayak lu!” Zafran berlagak membuang muka.
“Heleh, mulai deh. Sini gue usapin!” Aku mencoba menjangkau bahunya, tapi cowok itu keburu berkelit. Lantas lari. Jadilah kami bermain kejar-kejaran sepanjang koridor.
***
“Bagus gak?” Zafran memperlihatkan barisan aksara hasil tulisan tangannya sendiri.
“Lu bikin puisi?” tanyaku setelah melihat sekilas bait-bait itu. Belum membacanya. Yang aku tahu selama ini dia tidak pandai membuat puisi.
Kami masih di dalam kelas. Kelas baru tepatnya. Tapi dengan formasi tempat duduk yang sama. Aku di bangku kedua, Zafran tepat di belakangku. Kadang kalau mapel matematika tiba, kami bertukar tempat. Tentu saja agar aku lebih mudah menyonteknya, apa lagi?
Iya, Zafran memang sebaik itu. Aku sudah bilang, kan, kalau aku beruntung memiliki dia?
Jika ada yang bertanya tentang perasaanku saat ini, aku lega. Mendapati hubunganku dengan Zafran yang membaik adalah kebahagiaan tersendiri. Setidaknya ada pengalihan perhatian saat hati ini mengingat Saka. Setidaknya ada tempatku melampiaskan segala gundah dengan menjahili Zafran.
Meski ... kadang rasa tak enak masih ada karena aku belum bisa memastikan bagaimana perasaan Zafran. Tapi mengingat betapa santainya dia bersikap akhir-akhir ini, membuatku berkesimpulan bahwa Zafran sudah lebih baik. Bahwa cowok berambut ikal itu telah menganggapku layaknya sahabat seperti dulu.
“Yup.” Zafran mengangguk mantap. “Cakep, kan?” Dia menatapku.
“Buat apaan emang? Ngisi rubrik Genius?” tebakku. Masih belum membacanya. “Tumben-tumbenan lu bikin puisi.”
“Bukanlah.” Cowok itu mengibaskan tangan di depan wajah. “Lagian gue emang biasa kali bikin puisi, elu aja yang gak tau.”
Kali ini aku benar-benar melongo. Ternyata aku belum sekenal itu dengan Zafran. “Serius? Puisi yang mana? Lu pakai nama pena?”
“Pernah mejeng di mading juga kok, judulnya ibu. Selebihnya gak perlu gue bahaslah.”
Aku mengerjap, merasa tak asing dengan judul puisi itu. Lantas terkesiap, “Jadi, itu elu?” Aku menepuk bahunya cukup keras.
“Ampun!” Zafran refleks mengumpat. “Ni badan lama-lama jadi samsak!”
Aku menahan tawa karena aduannya itu. “Lebay lu, lu kan cowok.”
“Cowok juga manusia kali.” Zafran masih mengusap-usap bahunya.
“Eh, terus itu puisi buat apaan?”
“Buat pujaan hati gue.” Zafran tersenyum lebar sembari menaik-naikkan alis.
“Jangan GR lu!” ujarnya. Seakan tahu apa yang sempat melintasi pikiranku.
“Emang buat siapa?”
“Belum saatnya lu tau. Ntar kalau dia udah nerima gue, baru lu gue kenalin sama tu cewek.”
“Ish, sok misterius!” cibirku. “Emang ... secepet itu ya?” tanyaku ragu, tapi aku yakin Zafran tahu maksud pertanyaan itu.
“Apa? Lu pikir gue sesuka itu sama lu? Lu aja bisa dari Eldi pindah ke Saka.”
“Kok jadi gue sih!” Bibirku mengerucut sebal.
“Lu gak terima, Ge? Lu gak seneng gua suka sama cewek lain?”
“Ya senenglah.” Aku serius mengatakan itu. Itu artinya harapanku terkabul, kan? Zafran memiliki tambatan hati yang baru. Hanya ... tak menyangka akan secepat ini.
“Baguslah. Jadi gue gak perlu pusing ntar gara-gara temen yang cemburu.”
“Gue gak gitu kali.”
“Iya, gue tau kok.” Zafran menepuk pelan puncak kepalaku. “So, jangan pernah lagi sok bersikap gak enak sama gue. Gue tetep temen lu, Gea.”
Pengecut
Mentari menyambut
bersama riuh pagi yang bersahut
Menyapa netraku pada bayang semu
Begitu dekat, namun tak bisa kudapat
Awan beranjak,
Membiarkan siang merangkak
Terik mengolok langkahku
Yang masih terpaku dan membisu
Senja bertandang
Bersama desau angin petang
Menggelitik nurani dan angan
Mencuri pandang tanpa bergandeng tangan
Katakan saja aku lemah, malam
Ejek saja aku dengan pekat duniamu
Tertawalah sunyi dan sepi
Untukku yang hanya bisa menepi
Aku memang pengecut
Aku memang pecundang
Tapi ....
Si kerdil ini masih punya hati untuk dijaga
Hati yang berdenyut pada satu nama yang tak bisa kusebut
Timit
---------@@-------------------------------
**Timpukin othornya yang suka bikin ending nggantung!😂😂
Kalau di bikin season 2, kemungkinna pakai pov Zafran. Trus season 3 pov Saka. Halah ... kapan kelarnya ni cerita.😂😂😂
Anu, othornya gak pinter bikin puisi, yang mau nyumbang puisi bolehlah, buat ganti itu puisinya Zafran.
Ada yang tau sapa yang disukai Zafran?
Iya, itu emak...Ahahaha..😂😂
Terima kasih buat yang udah ngikutin cerita ini. Kecup atu-atu...😘😘
Silakan mampir ke work-ku yang lain.🙏🙏🙏**