GENIUS

GENIUS
Genius 2 (Part 2)



Aku berdecak ketika lagi-lagi panggilan telepon yang kulakukan tak terjawab. Entah karena pemiliknya yang memang tak mengetahui atau sengaja mengabaikan panggilan dariku. Namun, mengingat apa yang baru saja aku lakukan padanya, sepertinya kemungkinan kedua lebih masuk akal.


Dia marah.


Wajar. Gadis normal mana yang tidak akan marah setelah ditinggal pacarnya di tengah kencan mereka, dengan alasan tak masuk akal pula.


Mengacak rambut dengan sebelah tangan yang bebas, aku kembali membuka aplikasi pesan. Masih sama, centang abu-abu pada deret pesan yang aku kirim, menandakan belum terbaca. Atau memang sengaja tidak dibaca?


Aku memutuskan untuk mengirim pesan sekali lagi, berharap saat dia membukanya nanti, kemarahannya surut.


Gue beneran minta maaf. Lain kali—Dahiku mengernyit, dua kata terakhir itu aku hapus lagi. Tidak ingin mengumbar janji lagi. Lalu mengirimnya setelah membubuhi tanda hati.


Meletakkan ponsel di kasur, aku lantas rebah di sisinya. Menatap nyalang langit-langit kamar. Lantas tawaku mengudara entah karena apa.


Sigap, aku ambil benda pipih yang beberapa saat lalu aku letakkan setelah terdengar nada notifikasi di sana. Satu pesan masuk, tapi bukan dari orang yang aku kirimi pesan sebelumnya.


***Double G**: Zaf, motor gue lama gak jadinya? Besok udah bisa diambil belum*?


***Zafran**: Kenapa emang*?


***Double G**: Pakai nanya, ya buat dipakailah*.


Aku terkekeh karena balasan itu. Dasar cewek gak ada manis-manisnya!


***Zafran**: Besok gue jemput.


Double G: Jam tujuh teng! Jangan telat*.


Lagi, aku mendengkus tawa. Bukannya mengucapkan terima kasih, dia justru memerintah layaknya bos. Anehnya, aku tidak merasa diperintah oleh bos. Anehnya, aku dengan senang hati melakukan semua itu.


Baru saja aku akan menaruh ponsel pintar itu ketika sebuah panggilan masuk, hal yang membuat perasaan lega muncul. Segera kugeser tombol penerima panggilan.


“Hai?” sapaku. “Gue minta maaf soal yang tadi.”


Cukup lama, dia tak langsung menjawab, membuatku harus memeriksa layar, memastikan tanda speaker tidak tercoret. Hingga akhirnya, suara lembut itu membelai telinga.


“Kenapa gak bilang dulu tadi? Kamu gak tau aku khawatir banget tadi?”


Aku meringis, sadar jika apa yang aku lakukan memang kelewatan. Harusnya aku segera memberitahunya sebelum keluar gedung bioskop, tapi entah setan apa yang membuatku melupakan semua itu. Bahkan keberadaannya sekalipun.


“Maaf, tadi ada panggilan mendadak. Salah satu pebisnis muda ngadain sumbang dana di panti. Gue telat dapat kabar. Makanya bu bos langsung nyuruh buat cepetan ke sana.”


Aku harus memberi penghargaan untuk diri sendiri yang paripurna memainkan sandiwara. Beruntung, dia tidak bertanya lebih lanjut.


“Oh.”


Hanya itu tanggapannya.


“Kamu udah makan? Tadi gak lama kan nungguinnya?”


Terdengar tarikan napas dari seberang sana sebelum menjawab, “Kalau aku bilang belum makan, apa kamu bakal ke sini bawa makanan, Zaf?”


“Hm?” Aku mengerjap, lantas terkekeh. “Ini kan, udah malem banget, Mil. Yang ada gue digerebek hansip kalau nyamperin kamu jam segini.”


“Kalau Gea yang minta, kamu dateng gak?”


Aku tidak tahu kenapa Mila tiba-tiba menanyakan itu. Yang jelas aku tak mampu langsung menjawab. Lebih tepatnya tak bisa mengatakan yang sejujurnya.


“Kok jadi bawa-bawa Gea sih?” Pertanyaan dibalas pertanyaan adalah jalan ninjaku berkelit. “Besok aja gimana?” Akhirnya aku mencoba menawarkan solusi lain.


“Besok, jemput aku bisa?”


“Bis—“ Aku menggigit lidah mencegah ucapan itu terlontar seiring ingatan akan sesuatu tentang besok menyambangi otak. “Besok ... gue mesti berangkat pagi-pagi. Ada job.”


“Oh. Ya udah.”


“Kamu yakin? Gak ada kerjaan lagi?”


Meski aku tidak sedang melihatnya, tapi aku tahu, ucapan itu dimaksudkan untuk menyindirku.


“Gue janji, besok gue jemput pas makan siang, ya?”


“Oke.”


“Oke, bye, Mila.”


***


Harus aku sebut apa perasaan ini? Berdebar saat dia berada di bocenganku. Lalu semacam ada kewajiban untuk melindunginya yang menyebabkan laju motorku tak secepat biasanya. Tak ingin dia sampai celaka.


Rasa yang tetap sama sejak lima tahun lalu. Meski dia telah mengikrarkan diri menyukai lelaki lain. Meski dia hanya menganggapku best friend.


Ya, aku masih menyukai Anggea Radeva. Masih diam-diam memperhatikan, bukan sebagai teman, tapi laki-laki terhadap lawan jenis. Masih diam-diam menuliskan puisi untuknya.


Itu aku, yang berpura-pura menyukai orang lain agar dia tak lagi menghindar. Itu aku, yang bertahan menjadi pacar orang lain agar Gea tak perlu canggung padaku. Agar dia senantiasa seperti ini. Menganggapku teman. Merepotkanku. Bahkan memukulku sekalipun.


Ha ha ... aku mungkin patut mendapat piala Oscar untuk semua akting itu. Penghargaan sebagai pembohong terbaik. Lelaki yang pandai menyembunyikan rasanya. Memanipulasi perasaan sendiri.


Jika ada yang bertanya sampai kapan aku akan seperti ini? Aku tidak tahu. Mungkin sampai aku benar-benar menyukai Mila, meski aku sanksi untuk itu. Atau mungkin sampai Gea menendangku.


Membunuh mati perasaanku.


Apa pun itu, satu yang aku tahu. Bahwa cinta tidak bisa dipaksakan berubah halauan. Bahwa rasa tidak mudah disingkirkan begitu saja. Meski terkadang di luar logika.


Nyatanya kebersamaanku dengan Mila selama tiga tahun tak jua mampu menggeser singgasana Gea. Nyatanya aku masih tetap menomor satukan Anggea. Seperti pagi ini contoh kecilnya.


Lalu ... kenapa aku tak memperjuangkan Gea saja? Nyata-nyata menunjukkan perhatian sebagai lawan jenis.


Aku pernah melakukannya. Mengakui dengan berani rasaku padanya. Tapi apa yang terjadi? Gadis itu menjauh. Meski aku sudah bilang tidak apa-apa, meski aku telah meyakinkan bahwa dia tak harus menggubris perasaanku, faktanya dia berubah. Gea menjaga jarak, bahkan terkesan risih.


Dan aku tak mau lagi itu terjadi. Tak ingin lagi mendapati dia yang berjuang seorang diri sementara aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Biarlah seperti ini. Aku akan menikmatinya sampai takdir sendiri yang mengakhiri.


“Pagi ini ada meeting, kan, Zaf?” tanya Gea sembari melepas helm.


Kami baru saja tiba di basement gedung tempat kerja. Sebuah gedung tiga puluh lantai yang di puncak menaranya tertulis GL berwarna emas. Genius leader, perusahaan berbasis media terbesar saat ini. Perusahaan yang tak hanya menjadi induk beberapa stasiun TV tapi juga surat kabar dan majalah.


Aku dan Gea menjadi dua orang beruntung yang selain mendapat beasiswa kuliah, juga berkesempatan bekerja di majalah GL yang mengusung tema bisnis dan olahraga. Ya, meski kami masih tergolong karyawan training karena baru satu bulan menjejak gedung ini.


“Yup, bahas edisi bulan depan.”


Kami berjalan bersisian menuju lift. Tempat kerja kami ada di lantai sepuluh.


“Kira-kira konsepnya apaan?”


Ada cukup banyak orang di dalam kotak besi. Aku mendorong lembut bahu Gea ke pinggir, memastikan tubuhnya tak tergencet orang lain.


“Ng ... palingan ngulas Indonesia Open.”


Perubahan sikap tubuh Gea tak luput dari perhatianku. Bagaimana badan itu menegang hanya karena mendengar sesuatu yang berhubungan dengan bulu tangkis. Bagaimana tarikan napasnya mengencang hanya karena itu.


Aku mungkin bodoh karena mencintai orang yang hanya menganggapku teman. Namun, aku juga tahu ada yang lebih konyol daripada aku.


---------@----------@---------------------


Suka gak sama part ini? komen, ya?😉