GENIUS

GENIUS
Ch 1 Perkenalan



Kenalkan nama ku Vian. Aku adalah seorang siswa SMA kelas 11. Prestasi ku sangat lah banyak. Sejak kecil aku selalu ikut suatu perlombaan dari tingkat Kecamatan hingga Nasional. Orang-orang memanggil ku dengan sebutan si jenius.


Kecerdasan yang kudapatkan di karenakan dua hal yaitu gen dan lingkungan. Ayahku adalah seorang dosen matematika dan ibuku adalah seorang pebisnis ternama.


Lingkungan tempat tinggalku diselimuti manusia-manusia jenius. Pamanku adalah seorang letnan jendral. Bibiku seorang seniman musik terkenal yang sukses berbagai macam musik terkenal. Abang tertua ku adalah seorang dokter spesialis jantung dan kakak perempuanku adalah seorang Profesor fisika.


Aku hidup dengan fasilitas super mewah yang diberikan ibuku. Tapi itu tidak membuatku lalai. Bagi ku dalam hidup itu yang terpenting adalah belajar dan bekerja keras. Apapun dalam hidup semuanya ku pelajari. Aku seperti orang yang benar-benar haus akan ilmu.


Kembali ke masa ketika aku masih berumur 7 tahun. Aku adalah Murid kelas 2 sd pertama yang menyelesaikan soal Ujian Nasional murid kelas 6. kenapa bisa?. Kalian mungkin tak akan percaya. Satu buah buku pembelajaran seperti buku sains berhasil aku pahami hanya dalam waktu seminggu. Aku terus membaca dan menghapal setiap buku pelajaran yang aku punya. Soal-soal seperti matematika juga aku kerjakan semua meski bukan pelajaran untuk anak seumuran ku.


Kebiasaan dari kecil hingga sekarang memang tak bisa berubah. Buku ilmu pengetahuan mana yang belum pernah aku baca. Sekolah hanyalah formalitas bagiku. Aku datang kesekolah hanya 1 Minggu dalam sebulan, kenapa?. Itu karena aku sibukkan diri untuk belajar diluar dari pada disekolah. Aku diberikan hak seperti itu dari sekolah dengan cara menyelesaikan semua soal yang diberikan dari mulai kelas 10 hingga kelas 12. Bahkan aku juga menyelesaikan soal-soal ujian matematika mahasiswa S2.


Guru-guru sudah percaya dengan kemampuan ku. Jadi aku bebas datang ke sekolah kapanpun. Tapi guru-guruku tetap memberikan aku tugas sekolah.


Tentang ujian aku teringat pas aku ujian Nasional tingkat SMP. Semua orang terkejut dengan hasil UN ku. Tertinggi se indonesia? bukan. Hasil UN ku hanya pas di angka 6.5, angka standar kelulusan. Itu membuat Guru-guru se indonesia terperangah, apakah kemampuanku menurun, tentu tidak. Aku sengaja melakukannya.


Awalnya waktu ujian pertamaku, aku berhasil menjawab 40 soal hanya dalam waktu 10 menit. Sementara waktu ujian adalah 120 menit. Itu membuat ku jenuh. Aku harus menunggu lama untuk keluar dari ruang itu. Dalam kejenuhanku terlintas satu kebodohan dalam otak ku. Untuk lulus aku hanya butuh nilai rata-rata 6.5. Akhirnya dengan hasutan setan jenuh aku menghapus 14 jawaban dari total 40 jawaban dan menyisakan 26 jawaban. Aku melakukannya di semua mata Ujian Nasional.


Orang tuaku benar-benar marah. Sementara aku hanya tertawa melihat ekspresi semua orang. Orang-orang menganggap aku sombong. Mereka menilai bahwa aku orang yang selalu meremehkan segala sesuatu. Kenyataannya tidak, aku selalu detail dalam menyelesaikan persoalan sekecil apapun. Tapi memang bagiku nilai bukan lah suatu hal yang penting. Yang terpenting adalah ilmu.


Kembali tentang ilmu. Ilmu mana yang belum aku pelajari. Bahkan Ilmu beladiri seperti silat, karate, dan tekwondo aku pelajari sampai sabuk hitam. Aku berlatih ilmu beladiri langsung bersama sang master sendirian. Aku tak berlatih di perguruan. Tapi aku berlatih di alam bebas. Aku juga belajar menembak dari pamanku yang seorang letnan jendral. Bahkan bisa dibilang aku lebih ahli menembak dibandingkan perwiranya.


Tapi, tentulah aku bukan manusia yang sempurna. Aku punya kelemahan. Aku punya emosi yang tak sedikitpun bisa aku kontrol. Tercatat aku sudah melakukan perkelahian ratusan kali dari aku berumur 6 tahun.


Kembali ke masa kecilku ketika berumur 8 tahun ketika aku pertama kali dikeluarkan dari sekolah. Aku memukul sampai babak belur cucu kepala sekolah. Dikarenakan dia dengan sengaja mematahkan pensil baru ku. Aku berdiri dan menghempaskan kepalanya ke meja. Kemudian aku tarik kembali kepalanya dan memukul tepat di bagian kelopak matanya. Dia terjatuh dan menangis, tapi aku benar-benar tak peduli. Berbeda dengan Anak kecil pada umumnya yang ketika berkelahi dan anak yang dia lawan sudah nangis maka dia berhenti karena merasa sudah menang. Tapi aku terus menghajarnya walaupun dia sudah minta ampun dan menangis kesakitan. Kemudian dia berlari menuju ruang kepala sekolah. Aku terus mengejarnya, aku tarik bajunya hingga sobek tapi ia terus berlari. Hingga akhirnya dia masuk dan bersembunyi dibelakang punggung kepala sekolah. Apakah itu membuatku takut?. Aku tak pernah takut dengan siapapun. Aku tetap mengejarnya kemanapun dia pergi. Sampai-sampai kepala sekolah yang berniat menahan ku juga menerima pukulan dari ku dan akhirnya datang lah guru-guru untuk memegangi ku.


"tak peduli siapapun dia apapun dia... jika berani mengganggu saya.. saya akan benar-benar menghajarnya tap peduli dia hidup atau mati"


Mendengar kata-kata ku itu kepala sekolah langsung mengeluarkan aku dari sekolah. Bahkan tanpa menghubungi orang tuaku terlebih dahulu. Dia hanya memberiku sebuah surat dan berkata


"bilangin ke mamamu bahwa kamu gak usah sekolah kesini lagi.. mengerti?"


Banyak diantara guru-guru yang tidak setuju dengan keputusan kepala sekolah tersebut. Banyak guru yang mendebat keputusan kepala sekolah tersebut, tapi tetap tidak merubah keputusannya.


Kemudian aku langsung pulang kerumah dan memberikan surat itu ke ibuku. Lalu aku menceritakan semua kejadian itu pada ibuku. Ibuku tidak lah marah kepadaku. Ibuku hanya bilang.


"nak besok kita cari sekolah yang lebih bagus ya.. yang ini jangan dipikirin"


Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tentu ibuku tidak tinggal diam. Hanya dalam hitungan jam kepala sekolah tersebut kehilangan jabatannya bahkan tidak di perbolehkan lagi mengajar.


Dan ternyata kejadian ini kembali terulang. Aku kembali dikeluarkan sekolah karena terlibat perkelahian dengan seorang anak wakil kepala sekolah. Ini membuatku jenuh dikarenakan di masa SMA ku ini aku sudah tiga kali pindah sekolah karena kasus yang sama yaitu perkelahian.


Akhirnya aku memutuskan untuk pindah dan sekolah di desa yang cukup jauh dari kota. Desa tersebut merupakan desa leluhurku. Dan ibuku punya satu rumah yang sudah lama tidak dihuni di desa tersebut. Dan disinilah ceritaku bermula.


 


\*