
~Semua ini kulakukan karena cinta, walau harus mengulanginya lagi aku akan dengan senang hati melakukannya kembali~ Liza
Seminggu setelah kejadian penculikkan itu. Semuanya berubah. Nicho dengan senang hati menyerahkan dirinya ke kantor polisi. Pengadilan sudah menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara untuknya dan 3 tahun untuk pamannya Aitken. Namun bukan itu yang jadi masalah. Perbuatan Nicho berdampak buruk bagi perusahaannya. Image buruknya menjadi desas-desus dikalangan investor. Sehingga perusahaan besarnya terancam bangkrut.
Nicho dan Enrique menemukan titik terang. Enrique meminta maaf pada Nicho setelah tahu, bahwa luka-luka ditubuh wanitanya bukan hasil dari pebuatan Nicho. Tapi akibat usaha wanitanya dalam melarikan diri.
Ia menjelaskan perasaannya dulu pada Emma adik Nicho. Ia tidak bisa memendam tangisya. Enrique tertegun mengetahui Emma meninggal karena perbuatannya.
Tapi itu semua sudah berlalu. Hanya Liza yang tidak juga kunjung berubah sejak dibawa kerumah sakit. Ia masih saja tak sadarkan diri karena begitu banyak kehilangan darah, kata dokter terlambat sedikit saja akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidupnya. Dan Enrique masih setia berada disampingnya walau dengan keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Ya..Enrique hanya akan pulang untuk mandi satu kali. Dan hanya makan jungfood yang ia pesan. Ia tidak ingin meninggalkan Liza. Ia tidak ingin kehilangan Liza lagi. Cukup sudah ia kehilangan Liza.
"Enqrique...just go home darling. You are not okkay now, take a rest. How if Liza wake up and look you like this? She will sad... (Enrique, pulanglah sayang. Kamu tidak baik saja sekarang, istirahatlah. Bagaimana kalau Liza bangun dan melihatmu seperti ini) Marissa meremas pundak anaknya sayang. Ia sedih melihat keadaan Enrique yang seperti mayat hidup. Ia kurang tidur, selalu terjaga dengan air mata yang kadang-kadang menetes disudut matanya.
Marissa dan Leon begitu sedih melihat anak semata wayangnya kembali seperti ini. Dulu sekali saat pertama kali marissa melihat anak lelaki itu dibawa Leon kerumah mereka, anak lelaki itu melihatnya dengan tatapan nanar. Ia akan menjerit saat ada orang yang berusaha menyentuhnya. Begitu malang nasibnya. Diumur yang masih belia harus menghadapi tekanan yang begitu berat sehingga meninggalkan trauma yang begitu dalam. Mereka terus mengobati trauma Enrique ke psikiater berkali-berkali. Syukurlah Enrique bisa perlahan sembuh. Setidaknya Enrique tidak lagi menjerit saat ada orang yang mendekatinya.
Saat beranjak remaja Enrique terlihat begitu menyukai Lego, Leon selalu membelikannya Lego. Kemanapun Leon berpergian untuk bisnis ia pasti membawa Lego saat pulang. Dan saat umurnya beranjak dewasa ia begitu tertarik dengan segala hal berbau property. Leon selalu mengarahkannya dengan benar, sampai Enrique sukses sekalipun ia tetap meminta pendapat ayahnya itu dalam bertindak. Mereka lebih seperti teman daripada ayah dan anak.
Marissa sangat bersyukur diberikan seorang anak yang begitu menyayangi mereka. Enrique adalah seorang lelaki yang akan mendahulukan orang tuanya diatas apapun. Mungkin Tuhan menggantikan anak mereka yang meninggal saat lahir dulu. Ya dulu Marissa begitu bahagia bisa mengandung. Tapi mungkin Tuhan belum memberinya rejeki untuk mengasuh seorang anak, hingga putranya yang lahir prematur dulu kembali kesisi-Nya. Sejak saat itu Marissa dinyatakan tidak boleh mengandung lagi, karena rahimnya tidak sanggup untuk itu semua. Kandungannya lemah. Tapi berkat kehadiran Enrique hidupnya dengan Leon begitu sempurna.
"Thats right Son...You must go home and take a bath. (Itu benar putraku, kamu harus pulang dan mandi) Leon menutup hidungnya pura-pura.
"Dad...its not funny. (Ayah, tidak lucu) Enrique mendelik. Namun beranjak dari duduknya. Seberapapun sakitnya apa yang ia rasakan, ia akan mendengarkan nasihat orang tuanya.
"Keep my Girl very well Dad Mom... ( Jaga perempuanku dengan baik ayah bunda) Enrique berlalu dari hadapan Leon.
"Yes sir!" Jawab Leon bercanda.
"Darling!" Marissa mendelik pada suaminya yang selalu saja bercanda itu.
***
Liza mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan putih yang begitu bersih dengan funitur bernuansa cokelat. Di sudut ruangan ada seorang pria dan wanita berusia sedang bercengkrama.
Ia melihat sekeliling. Hanya ada mereka? Dimana Enrique? Dimana ia sekarang? Apa yang terjadi padanya? Begitu banyak pertanyaan dibenaknya. Sakit diperutnya sudah berkurang. Tapi masih terasa nyeri.
"Excuse..me....Liza berujar pelan dan terputus-putus. Suaranya serak...ia butuh minum.
"Ohh...my. Liza..." wanita itu beranjak dari duduknya dengan segera menghampiri Liza.
"Hey...darling, you wake up?" (Hei...sayang, kamu bangun?) Wanita itu tampak sangat bahagia melihatnya. Pria yang tadi bicara bersamanya mengekor dibelakang wanita itu.
"Do you need something?" (Apa kamu butuh sesuatu) Pria itu bertanya lembut padanya. Siapa mereka? Apa ia masih di Amerika? Apa yang terjadi.
"Water" hanya kata itu yang bisa ia ucapkan. Ia sangat kehausan.
"Let me take you drink...( Biar aku ambilkan minum ) Marissa mengambilkan segelas air putih dari dispenser samping kulkas dan meminumkannya pada Liza.
Liza meminumnya hingga tetes terakhir. (*Iklan 😅)
"Thanks....Liza tersenyum tulus.
"You're Welcome darling...Marissa tersenyum senang.
Liza mengedarkan pandangan keseluruhan ruang.
"Do you looking for Enrique?" (Apa kamu mencari Enrique) Pria itu bertanya sambil tersenyum.
"You know him?" (Kamu mengenalnya?) Liza bertanya antusias.
"Sure, he is my son" (Tentu, dia putraku) Pria itu tersenyum lebar.
"Ohh my...you're Mr.Leon? And Mrs.Marissa?" (Ohh..anda adalah tuan Leon dan nyonya Marissa?).
Liza bertanya dengan mulut menganga.
"Thats right darling...Enrique come back to home. He need take a rest...
Sorry". ( Benar sayang, Enrique pulang kerumah. Dia butuh istirahat, maaf...) Marissa terlihat begitu menyesal.
"Its ok Mrs..i am okkay" (Tidak apa nyonya... saya baik saja) Liza tersenyum kembali.
"Just wait, maybe he will came..just take a minutes" (Tunggu saja, mungkin dia akan datang sebentar lagi) Leon mencoba menghibur.
Liza tersenyum lembut. Ia tidak pernah menyangka pertemuan mereka akan jadi seperti ini. Ia tersenyum hambar. Ya tentu saja, harusnya ia bertemu mereka jauh hari bukan? Dimalam ia diculik? Emhh... Bagaimana keadaan Nicho? Apa yang terjadi kepadanya? Liza terus berpikir.
Sampai seseorang masuk kedalam.
Liza tertegun melihat kehadiran lelaki yang begitu dirindukannya. Rasanya sudah terlalu lama ia merindukannya.Tanpa terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.
Seketika Enrique tergesa mendekat.
"Hey...princess...why you are crying? Stop it...." (Hey... Putri...kenapa kamu menangis? Berhentilah) Enrique menggenggam tangan Liza erat.
"I miss you so much... (Aku sangat merindukanmu) Liza seketika sengungukan.
"Me too, more than everything... (Aku juga melebihi apapun) Enrique memeluk Liza erat.
"Auu...Liza refleks meringis, luka diperut dan pundaknya terasa begitu menyakitkan.
Enrique seketika melepaskan pelukkannya.
"Sorry...." Enrique ikut meringis.
"Ehemm...Marissa berdehem menyadarkan dua insan yang melepaskan rindunya.
"Ahh...mom, Enrique seketika malu karena melupakan keberadaan mereka.
"See you later...Leon menimpali.
"Bye darling...Marissa memberikan senyum lebarnya untuk Liza.
Mereka pun keluar dari ruangan itu sambil berpegangan tangan. Entahlah mereka berdua selalu tampak serasi. Layaknya dua pasang kekasih baru. Pikir Enrique.
Tinggallah Liza dan Enrique dalam ruangan itu.
"Apa kamu lapar?" Enrique bertanya penuh perhatian.
"Belum..." Liza menyahut serak.
"Apa kamu butuh sesuatu?" Enrique kembali bertanya.
"Aku ingin buang air kecil?" Liza menyeringai.
"Bisakah kamu membantuku?"
"Tentu saja...Enrique berdiri dan menggendong Liza dengan lembut.
"Kamu kehilangan banyak berat badan." Gumam Enrique sedih.
"Benarkah?" Liza bertanya sembari tersenyum. Ia ingat bagaimana dulu ia dan Leya berusaha untuk melangsingkan badan. Ia tidak menyangka akan kehilangan berat badannya. Ia merasa bobot tubuhnya turun jauh.
"Apakah kamu menyukainya?" Enrique bertanya sembari menyerngit memperhatikan senyum Liza.
"Ahh..tentu saja tidak" Liza seketika menggeleng.
"Kamu harus banyak makan mulai sekarang princess" Tegas Enrique.
"Siapp boss..." Liza mengangkat tangannya tanda hormat, sambil tertawa.
"Nahh...selamat buang air Princes." Enrique menurunkan Liza didepan kamar mandi sekaligus toilet itu dengan gaya ala pengawal istana ia mempersilahkan Liza masuk. Liza hanya bisa geleng kepala sambil menahan senyum melihat kelakuan Enrique yang selalu dirindukannya.
Selang beberapa menit Liza keluar. Enrique menggendong Liza dan kembali merebahkannya diranjang dengan perlahan.
"Sudah baikkan?" Enrique bertanya lembut.
"Ya...sekarang lebih baik" Liza tersenyum manis.
"Apa kamu ingin tidur?" Enrique bertanya sembari melirik jam tangannya. Pukul 22:15 waktu London.
"Eumhh sepertinya belum". Liza menggelengkan kepalanya.
"Baiklah..Enrique tersenyum penuh pengertian.
Enrique merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kotak kado kecil sederhana bertema koran klasik.
Liza melongo sembari menerimanya dengan senang.
"Happy birthday Princess...walaupun sudah lewat satu minggu, aku harap kamu senang menerimanya.
"Enrique....Liza masih syok dengan kejutan Enrique. Ia saja lupa dengan hari Ulang Tahunnya. Tentu saja. Setelah semua hal yang dilaluinya. Mungkinkah ia bisa mengingat hal sepele seperti hari ulang tahun? Yang benar saja.
"Bukalah Princess..." Enrique tersenyum melihat kebahagiaan wanitanya itu.
Liza membukanya dengan sangat perlahan dan terpana melihat isi kado kecil itu.

Sebuah cincin emas dengan berlian cantik menghiasinya. Tapi bukan itu yang membuatnya terdiam lama.
Tapi satu kalimat di kertas kecil bertuliskan "Be my Wife" yang membuatnya tertegun. Apa Enrique melamarnya?
Liza mendongakkan wajahnya dan melihat manik mata Enrinque. Mencari jawaban.
"Will you marry me princess?". Enrique menjawab pertanyaan tak terucap Liza dengan pertanyaan.
"Enrique...Liza ingin mengucapkan sesuatu. Tapi segera dipotong Enrique...
"Please Princess jangan katakan penolakkan dengan alasan apapun. Kamu tahu, seberapa menderitanya aku kehilanganmu dua minggu ini. Aku tidak tahu apakah bisa hidup lagi jika saja kamu tidak bisa ditemukan". Enrique menatap Liza penuh pengharapan.
Liza terdiam. Ya,untuk apa dia menunggu lebih lama lagi? Setelah semua yang ia lalui. Apa ada gunanya menunda untuk menikah dengan Enrique? Setelah kejadian itu, ia sangat takut tidak bisa melihat Enrique. Lalu sekarang Enrique melamarnya kembali apa yang ia tunggu?
Liza meneguk salivanya dengan susah.
"Baiklah Enrique, aku bersedia mebikah denganmu" Liza mengatakannya dengan tersenyum lebar.
Enrique segera memeluk Liza dengan erat.
"Thanks princess...aku janji takkan pernah membuatmu menderita sedikitpun. Aku akan membuat kamu hanya akan mengenal bahagia dalam peenikahan kita" Tekad Enrique.
"Ya...Enrique, tapi kamu menyakitiku sekarang" Liza berkata sambil meringis.
"Maafkan aku...Enrique segera melepaskan pelukkannya sambil meringis ikut merasakan sakit Liza.
Liza tersenyum lembut melihat wajah Enrique yang meringis seolah merasakan sakit Liza.
Ya....aku bisa hidup dengan lelaki ini. Cukuplah cinta yang menyatukan kami. Pikir Liza.
***