
~Jika aku harus bertanya cinta itu apa, maka aku akan bertanya padamu. Karena darimulah aku mengenal cinta yang sebenarnya~Liza.
Liza POV
Keesokan paginya aku bangun lebih awal, karena terlalu banyak tidur dan menangis mukaku terlihat mengerikan. Setelah memakai baju aku merias wajah sewajarnya untuk menutupi mata bengkakku dan kemudian berjalan kedapur. Disana kulihat Enrique sudah duduk dengan pakaian kantor lengkap. Akupun melenggang lebih percaya diri daripada tadi malam dan duduk tepat didepannya. Ia sudah menikmati sarapan paginya. Kulirik ia sesaat sebelum menyuap omelet saus tiram milikku. Ia selalu tampak sempurna dimataku. Tapi... dasinya agak miring? Biasanya aku yang memakaikan dasi itu untuknya. Batinku muram.
Aku melanjutkan makanku dalam diam. Ia sudah selesai, kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku akan pulang agak malam, tidak usah menungguku" ucapnya tiba-tiba.
Aku menatapnya sesaat namun tersadar untuk menjawab pernyataannya barusan.
"Ya" hanya dua huruf itu yang bisa keluar dari mulutku.
Ia menyerngit tapi kemudian mengabaikan saja jawaban singkatku.
"Aku berangkat" ucapnya sembari berlalu dari hadapanku. Tidak ada kecupan pagi untukmu nona.
Enrique POV
Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, aku mendengar sayup tangisan istriku dikamar sebelah dan aku tidak berani menjenguknya. Biarkan ia menumpahkan semua kekesalannya dulu. Pikirku.
Aku bangun lebih awal untuk mandi dan kemudian bersiap memakai pakaian kantor. Semuanya bisa kulakukan sendiri dengan mudah. Hanya saja dasi yang membuatku sangat kesusahan. Karena kebiasaan manjaku yang selalu minta dipakaikan Liza, jadilah aku seperti sekarang mematut dasi berkali kali. Pada akhirnya kubiarkan saja seburuk apapun kelihatannya, aku menyerah.
Aku berjalan menuju dapur, disana sudah ada Marry dan makanannya yang tidak pernah mengecewakan sepanjang ekspetasiku. Aku duduk disalah satu kursi meja makan. Marry dengan penuh pengertian menata makanan didepanku. Ia tidak pernah bertanya aku ingin makan apa? Karena aku akan memakan apapun yang ia buat. Aneh bukan? Tidak juga. Semua itu berkat penelitiannya melayaniku lebih dari 8 tahun sejak aku pindah ke penthouse ini. Ck. Tentu saja dia hafal semuanya.
Aku mengunyah omelet saus tiram buatan Marry yang sudah kutambah dengan kacang polong goreng. Aku tidak ingin Liza melihat wajahku pagi ini. Aku tak ingin ia menghindariku, ya walaupun sekarang kesannya aku yang menghindarinya.
Aku hampir menyelesaikan sarapan pagiku saat Liza datang melenggang dan duduk tepat didepanku. Oh my. Aku tidak tahu hatiku bisa serindu ini padanya. Kulirik sedikit wajahnya. Garis dibawah matanya terlihat bengkak. Pasti itu akibat ia menangis tadi malam. Bantinku sendu.
Aku beranjak dari dudukku setelah menandaskan sarapan. Aku tidak mungkin diam saja bukan? Dengan hati-hati aku angkat bicara.
"Aku akan pulang agak malam, tidak usah menungguku"
Aku memang akan berdiskusi lama dengan Michael perihal proyek yang akan dimulai dalam waktu dekat ini, Rizky juga akan turut ambil peran dalam proyek ayahnya itu.
Ia menatapku sesaat namun tersadar untuk menjawab pernyataanku barusan.
"Ya" hanya kata itu yang ia berikan sebagai jawaban.
Aku menyerngit tapi kemudian mengabaikan jawaban singkatnya.
"Aku berangkat" ucapku sembari berlalu dari hadapannya.
Sejujurnya aku sangat merindukannya. Aku bertekad setelah pulang nanti akan mengenyahkan egoku. Aku akan memberikan semua pengertianku untuknya. Apapun yang ia inginkan. Aku lelah terus bertengkar dengannya untuk sesuatu yang bahkan tidak jarang sangat sepele untukku tapi begitu berarti untuknya.
***
Liza merasa tidak bernafsu lagi untuk makan, iapun beranjak meninggalkan meja dapur menuju ruang TV. Marry segera membersihkan meja dapur, selang beberapa lama ia pamit. Seluruh ruangan sudah bersih, Marry sudah pulang dan tinggallah Liza sendiri berteman TV dengan acara tidak jelas.
Selang beberapa menit yang panjang handphonenya berbunyi, ia beranjak malas kekamar untuk mengambilnya.
"Hallo?" suara diseberang menyapa telinga Liza lebih dulu.
"Ya, Hallo?" sahutnya.
"Exusme madam, I am Gerry. Mister Enrique employee. He told me to call you and ask you to come here to bring his other work clothes his clothes got coffee spill"
(Maaf nyonya, saya Gerry karyawan pak Enrique. Beliau menyuruhku menelpon anda dan meminta anda datang kesini membawakan baju kerjanya yang lain baju beliau kena tumpahan kopi.) terang pemilik suara diseberang sana.
"Ya...where is him now?" (Ya, dimana dia sekarang?) tanya Liza.
"I will chat you the adress after this call" (Saya akan mengirim anda pesan teks Alamat, setelah panggilan ini).
Tanpa semangat Liza mengemas pakaian kantor Enrique kedalam tas. Kemudian bersiap untuk keluar. Saat Liza hendak keluar penthouse barulah pesan teks dari nomor yang menelponya masuk.
London.91 London Road, Holmes Chapel Crewe, Chesire CWA 7BG
Liza menyerngit membaca pesan teks diponselnya, tapi ia memutuskan mengikuti saja. Ia cukup memberikan alamat ini pada supir taksi bukan? Gampang. Pikir Liza.
Liza berjalan keluar dan langsung menghentikan taksi, iapun masuk kedalam taksi dan memberikan Alamat itu ke supir taksi. Supir taksi menyerngit membaca alamat yang Liza berikan, tapi memilih diam dan menjalankan mobilnya perlahan.
Sesampainya dilokasi Liza melongo. Tempat didepannya sekarang adalah bangunan tua atau lebih tepatnya gedung tak berpenghuni. Didepannya terparkir sebuah mobil hitam yang tidak Liza kenal. Apa Enrique ikut mobil Client? Bantin Liza.
Dengan keraguan besar Liza turun dari taksi kemudian membayarnya.
Supir taksi juga menatap Liza dengan pandangan ragu.
"Do you want me waitting you madam?" supir itu menawarkan dengan penuh pengertian.
Liza berpikir sesaat sebelum menjawab tidak. Ya, ia akan pulang bersama Enrique. Ia bertekad ingin memperbaiki hubungan mereka. Ia lelah dengan pertengkaran yang tidak berguna.
Supir taksi menjalankan mobilnya perlahan, meninggalkan Liza yang masih bingung ingin masuk atau menelpon Enrique lebih dulu? Dan ia memilih opsi yang pertama. Dari dalam gedung sepasang mata berkilat tajam menunggu kehadiran Liza. Ia akan menyelesaikan semuanya hari ini. Batinnya.
Sementara ditempat lain...
"****!!! Enrique memukul meja dengan tangannya yang bebas. Ia sedang menerima telpon dari Alex yang sejak tadi pagi mengawasi Liza.
Istrinya pergi dan sepertinya menuju tempat berbahaya. Apa yang dilakukan Liza? Batin Enrique gundah. Jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Enrique bergegas ingin keluar menyusul Alex menjemput istrinya.
"Whats going on?" Rizky yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Enrique mau tidak mau penasaran, ia yakin pasti ada hubungannya dengan Liza. Hari ini adalah agendanya dengan ayah untuk melihat bangunan yang harus tim Enrique renovasi.
"Tidak, hanya masalah keluarga" sanggah Enrique. Walau Rizky mengenal Liza tapi ia tidak ingin menceritakan semua hal yang berhubungan dengan Liza, memangnya dia siapa? Batin Enrique.
"Benarkah? Apa ini ada hubungannya dengan Liza?" Rizky bertanya mulai gusar, kenapa ia merasa ada yang tidak beres.
"Rizky, Liza adalah istriku dan semua masalah dikeluarga kami adalah urusanku tidak ada sangkut pautnya denganmu. Urusanmu denganku hanya sebatas masalah bisnis, mengerti?" tutur Enrique dengan sangat sabar, ia mulai terusik dengan keingintahuan Rizky yang berlebihan.
"Tentu saja ia juga urusanku, Liza adalah adikku!" gertak Rizky geram. Jika sudah berhubungan dengan Liza ia tidak akan tinggal diam.
Enrique menyerngit.
"Oh...come on ky, jangan bilang karena bertemu beberapa kali kamu menganggap istriku adalah adikmu? Jangan bercanda denganku" kali ini Enrique benar-benar tidak terima dengan reaksi Rizky yang berlebihan.
"Kau..." Rizky menggeram.
"Son!!" kali ini Michael angkat bicara.
"Enrique, apa yang dikatakan Rizky benar dia adalah kakak Liza. Kakak tiri tepatnya. Tapi kurasa bukan itu tepatnya yang harus kalian bahas sekarang, bukankah Liza dalam keadaan bahaya kalau aku tidak salah menilai gelagatmu tadi?" nasihat Michael.
Enrique mendelik memandang Rizky yang juga mulai emosi. Ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau memang benar Rizky adalah saudara istrinya? Yang benar saja. Tapi perkataan Michael ada benarnya, yang harus ia pikirkan sekarang adalah istrinya bukan sicunguk ini. Batin Enrique.
"Ya, anda benar" ucap Enrique sebelum berlalu dari hadapan mereka.
"Aku ikut" Rizky bersikeras dan mau tidak mau Michael pun harus ikut.
"Shhh..." Enrique memutar matanya sembari mengibaskan tangannya acuh.
Batin Enrique berkecamuk, bagaimana bisa Liza adalah adik Rizky? Hah... lelucon apa lagi sekarang?
Enrique naik mobilnya sendiri diikuti Rizky dan Michael mengekor dibelakangnya.
***