From Wa To London

From Wa To London
Part Six (She Is Emma...)



~Aku tidak minta hal yang berlebihan pada Tuhan, aku hanya minta DIA~ Nicho.


"Hey....berhenti tertawa, atau aku akan turun disini". Liza mengancam dengan mata melotot. Namun Enrique masih saja terkikik pelan. Ia tidak bisa berhenti merasa lucu akan semua tingkah wanitanya itu. Mata Liza melebar lucu saat ia marah dan menghentak-hentakkan kakinya seperti sekarang.


"Hey...ayolahh, aku minta maaf princes". Enrique mencegat Liza dan memegang kedua telinganya sembari menahan senyum.


"Berhenti tertawa atau aku akan benar-benar marah padamu". Liza kembali mengancam.


"Okkay...aku berhenti". Enrique berhenti tertawa dengan susah payah.


"Nahh...begitu". Liza berhenti manyun.


Enrique hanya bisa geleng-geleng dan mengambil kedua tangan Liza.


"Bekerjalah..jika sudah selesai hubungi aku. Kita kerumah Orang tuaku malam ini". Enrique berujar kemudian mengecup kening Liza.


Liza jadi agak gugup mengingat pertemuannya nanti malam dengan orang tua Enrique.


"Baiklah...aku masuk sekarang". Liza berujar sembari berjalan masuk kedalam, ia tidak boleh berburuk sangka lebih dahulu. Ia akan menjalani malam ini sepertia ia apadanya. Kalaupun toh orang tua Enrique tidak menyukainya ia akan memikirkan itu belakangan. Yang terpenting jalani saja.


Sementara diotak Enrique bukan kegelisahan yang sama dengan Liza, entah mengapa perasaan Enrique tidak tenang melepaskan Liza.


Dari dalam ruangan lain. Seseorang menatap adegan dua kekasih itu dengan geram.


...***...


Liza sibuk dengan tugasnya mengkristalisasi penemuan proffesor Aitken sampai lupa waktu. Jam menunjukkan pukul 18.30 sore, Liza menghentikan kegiatannya. Lagipula sudah banyak Pil yang ia buat dari tadi siang, professor Aitken sudah pulang satu jam yang lalu begitu pula dengan Nicho hanya ia dan segelintir OB dan OG serta karyawan magang lain yang tersisa di Lab, ia harus segera pulang mempersiapkan segala sesuatunya untuk malam ini. Ya, dengan menghembuskan nafas panjang ia mengemas barang-barangnya dan berjalan santai dilorong Lab menuju pagar.


Ia berjalan dengan senang, karena jerih payahnya terbayarkan dengan berhasilnya obat mereka.


Ia sudah memberitahu Enrique 10 menit sebelum pulang dan sekarang ia menunggu didepan gerbang dengan sabar. Lima menit berlalu Enrique belum juga nampak batang hidungnya, namun tiba-tiba sebuah mobil Audi hitam berhenti didepannya.


Liza menyerngit mencoba melihat orang yang berada didalam mobil, ia yakin orang yang berada didalam bukanlah Enrique. Namun bersamaan dengan ia menengok kearah mobil itu dua orang berjas hitam keluar dari mobil dan menariknya masuk dengan paksa. Liza yang masih syok dengan kejadian yang tiba-tiba itu tidak sempat memproses apa yang terjadi padanya sekarang? Apa ia diculik seperti difilm-film action barat?


"Apa-apaan ini!" Liza berteriak untuk yang terakhir kalinya sebelum mulutnya di bekap


...***...


Lama rasanya kegelapan menelannya. Ia merasa beberapa kali tubuhnya diangkat kesana dan kesini. Ia mendengar suara-suara. Ia mendengar Amerika? Ada apa dengan Amerika? Pikirnya dalam kegelapan. Ia ingin membuka matanya. Tapi kegelapan menelannya lagi~


Entah sudah beberapa lama ia hilang kesadaran.


"Hey...bangun pemalas". Ia mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Tapi siapa?


Liza mencoba membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah manik cokelat mata Nicho. Apa Nicho?? Ia seketika tersadar.


"Nicho?" Liza menyebut nama Nicho dengan heran.


"Hey...Liza. Kenapa? Kamu terkejut?" Nicho bertanya mencemooh.


"Apa yang kamu lakukan!!!" Seketika Liza emosi dan berusaha berdiri. Tapi ia tidak bisa. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Ia diikat? Ohh yang benar saja. Kenapa Nicho melakukan ini? Padanya? Apa Liza punya salah dengannya?


"Eits....tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu kalau kamu tidak menyusahkanku Girl". Nicho lagi-lagi tersenyum. Senyum yang menjijikan.


"Apa yang kamu inginkan?" Liza bertanya lebih tenang. Ia tidak menyangka sama sekali kalau biang dari penculikkannya adalah Nicho? Nicho yang beberapa hari ini menjadi temannya di Lab? Nicho yang selalu membuatnya tertawa? Mengapa hidup ini terlalu lucu??? Pikir Liza.


"Oh...aku inginkan?" Tidak...aku sama kali tidak menginginkan apa-apa, setidaknya bukan darimu". Nicho mencemooh.


"Lalu apa? Kamu ingin memeras Enrique? Menggunakan aku?" Liza bertanya takut ia tidak ingin Enrique mengalami kesulitan karenanya.


Nicho tertawa mendengar pertanyaan Liza. Memeras? Percayalah Nicho bukan orang yang akan kekurangan uang.


"Memeras katamu?" Ohh ayolah... aku bahkan bisa membeli seluruh perusahaan Enrique dengan uangku. Aku berkali-kali lipat lebih kaya daripadanya". Nicho tersenyum mencemooh.


"Lalu apa?" Tanya Liza lagi yang terdengar seperti cicitan.


"Aku menginginkan Enrique menderita. Dalam arti sesungguhnya. Aku tidak ingin ia menderita karena bangkrut. Aku ingin ia menderita karena kehilangan orang yang dicintainya. Seperti aku". Enrique menekan setiap kata-katanya.


"Jadi kamu ingin membunuhku? Kalau itu yang kamu inginkan silahkan saja. Aku tidak takut. Cuihh!" Liza meludahkan air salivanya dengan kesal ia begitu muak melihat wajah Nicho. Jadi selama ini ia hanya bersandiwara baik didepannya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Mungkinkah Nicho bekerjasama dengan pihak rumah sakit hanya gara-gara ingin menjebaknya? Untuk semua ini? Ohh...yang benar saja.


"Plakkk!" Terdengar tamparan keras yang mendarat dipipi Liza.


"Bicaralah semaumu, aku tidak akan membunuhmu. Jika itu yang kuinginkan sudah sejak pertama kali melihatmu kulakukan. Tidak perlu membawamu jauh-jauh ke Amerika!!!" Nicho berteriak geram.


"Apa??? Amerika? Jadi maksudmu kita sekarang di Amerika?" Liza berteriak tidak kalah nyaring.


"Tutup mulutmu wanita ******!" Nicho berteriak kesal. Ia berniat menampar wajah Liza kembali. Tapi melihat Liza yang dengan sengaja menyodorkan wajahnya ia mengurungkan niatnya. Ia tidak berniat menyakiti Liza.


"Kenapa? Tampar saja Nicho! Aku tidak peduli sakit yang kamu berikan. Tidak sama sekali" Tantang Liza melototkan matanya.


"Lepaskan aku brengsek!" Liza menendang-nendangkan kakinya dengan sia-sia. Nicho tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan dan menutup pintu dan kemudian menguncinya dari luar.


...***...


"Kamu dimana princess? " Enrique menatap layar ponsel Liza. Sudah 2 hari Liza menghilang. Sudah beratus ratus polisi disuruhnya mencari kemana-mana. Bahkan agen-agen handal juga dibayar Enrique untuk mencari Liza. Tapi sampai sekarang belum ada khabar yang berarti. DA Mobil yang menculik Liza menggunakan DA palsu. Tentu saja. Penculik itu menggunakan mobil yang berbeda-beda sehingga sangat sulit untuk ditangkap.


Yang Enrique Tahu. Lelaki yang bernama Nicho itu juga menghilang bersamaan dengan hilangnya Liza. Tapi apa ada hubungannya hilangnya Liza dengan lelaki itu? Dari keterangan Professor Joanna lelaki itu mengundurkan diri karena mendapat pekerjaan ditempat lain. Mungkinkah orang akan berpindah pekerjaan secepat itu?Andai saja ia tahu akan jadi begini. Ia akan bersikeras melarang Liza bekerja disana.


Sudah dua hari Enrique tidak pergi kekantor. Ia mengendarai mobil kemana-mana mencari Liza. Untung saja ada Alex yang menggantikan pekerjaannya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada dipikirannya hanya Liza. Bagaimana kalau orang itu melukainya? Enrique mengacak rambutnya putus asa. Andai saja ia tidak memaksa Liza ke London, semua ini tak mungkin terjadi. Semua ini gara-gara dia.


Ibu Enrique Marissa begitu sedih melihat anaknya begitu putus asa kehilangan kekasihnya. Ia ingat bagaimana antusiasnya Enrique menelpon dan memintanya memasakkan makanan yang lezat karena ia ingin membawa kekasihnya kerumah untuk bertemu dia dan Leon ayah Enrique.


Ia tahu betapa berharganya wanita itu untuk anaknya. Ia berharap Tuhan mendengar doanya untuk menjaga wanita yang tidak pernah dilihatnya itu agar kelak bisa bertemu dengan mereka berdua. Semoga.


...***...


"Makan Liza!" Nicho membentak Liza yang sejak tadi hanya menatap nanar makanan didepannya. Sudah 3 hari ia tidak menyentuh sedikitpun makanan yang diberikan Nicho. Ia khawatir Liza akan kehabisan tenaga karena tidak mendapat asupan makanan sama sekali. Pelayan yang bertugas menyuapi Liza undur diri dan berjingkat meninggalkan mereka.


"Tidak, aku tidak mau!" Liza menjawab lemah. Ia sudah tidak peduli dengan tubuhnya. Biarkan saja ia mati. Pikirnya.


Nicho menggeram kesal. Ia tidak menyangka Liza akan keras kepala seperti ini.


" Aku mohon Liza makanlah!" Nicho berlutut dihadapan Liza dan menatap manik matanya yang mulai redup.


Liza menatap Nicho lama.


"Kenapa Nicho? Kenapa kamu melakukan ini? Apa yang kamu dapatkan dari menculikku?" Liza bertanya lemah.


Nicho menarik nafas sulit.


"Kamu benar-benar ingin tahu?" Nicho bertanya lembut. Tidak ada lagi tampang mencemooh Nicho. Semuanya luruh melihat tubuh Liza yang terkulai lemas.


Liza merasa Nicho kembali menjadi sosok tempo hari. Nicho yang dia kenal. Teman kerjanya yang menyenangkan.


" Ya...aku ingin tahu". Liza menyahut serak. Ia ingin tahu mengapa Nicho sangat membenci Enrique.


Nicho duduk disamping Liza. Ia memejamkan matanya mengingat masa kelamnya.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan!" Nicho menghela nafas berat kemudian mengumpulkan keberaniaanya mengingat kenangan masa kelamnya.


"Delapan tahun yang lalu, adik kembarku Emma menyukai Enrique teman satu angkatannya. Enrique, lelaki yang bersamamu". Nicho menjeda kisahnya.


"Lalu? Dimana adikmu sekarang?" Liza bertanya takut.


"Ia sudah tiada. Lelaki itu tidak pernah melihatnya sama sekali. Tidak sekalipun. Emma menyukainya sejak Junior High School, kemudian ia masuk Senior High School yang sama, sampai kuliah pun, ia masih mengikuti si Brengsek itu.


Ia bangun setiap pagi. Menyiapkan bekal untuk lelaki itu. Tapi lelaki itu tidak pernah memakannya. Ia melakukan itu semua sampai kuliah. Dan si Brengsek itu tidak menggubrisnya sama sekali, memang ia tidak membuang makanan itu tapi ia selalu saja memberikan makanan itu kepada temannya. Emma tahu itu semua, tapi tetap saja ia melakukannya setiap hari. Baginya saat itulah ia bisa menatap wajah Enrique." Mata Nicho mulai berkaca-kaca.


Liza mulai meneteskan air mata. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya tidak dihiraukan seperti Emma. Ia beruntung memiliki Enrique yang balas mencintainya.


"Sampai malam Prom Night. Emma yang malang berdandan dengan cantik. Ia ingin mengatakan perasaannya. Walau ia tahu Enrique tidak akan menyukainya. Tapi ia tetap ingin menyampaikan perasaannya untuk yang terakhir kali. Tapi malam itu ia melihat Enrique sedang berciuman dengan teman satu angkatannya diatas panggung tanpa tahu malu. Hatinya sakit. Ia berpikir bahwa ternyata Enrique hanya menyukai wanita cantik dan seksi. Ia berlari dari acara prom night itu dengan bercucuran air mata. Ia terus berlari hingga sebuah truk menabraknya. Dan ia pun meregang nyawa" Nicho tak kuasa menahan tetesan airmatanya mengingat masa kelam adiknya.


"Dan yang paling menyakitkan, aku tidak pernah mengetahuinya. Aku baru tahu setelah dia tiada, itupun dari buku diarynya" Nicho mengepalkan tangannya geram.


"Aku selalu mengikuti ayah keluar negeri. Aku tidak sekolah disekolah umum seperti Emma. Aku menjalani home schooling sampai kuliah. Aku tidak tahu ia menderita di sekolahnya. Ia selalu ceria didepan keluarga kami, terutama didepanku. Ia adalah adik yang menyenangkan kami sama sekali tidak pernah bertengkar.


"Ibuku tidak terima dengan kepergian anak perempuan satu-satunya itu dan meregang nyawa dengan bunuh diri. Ia tidak tahu kalau anak perempuannya yang selalu ceria itu memendam banyak kesedihan. Kemudian ayah sakit-sakitan dan meninggalkanku sendirian. Semua itu karena Enrique !!!" Nicho kembali mengepalkan tangannya. Ia melempar vas bunga yang berada di atas meja lampu tidur.


Liza menyerngit takut. Ia bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam didiri Nicho. Tapi itu semua juga bukan kesalahan Enrique bukan? Ia tidak tahu bahwa ketidak acuhannya akan menelan nyawa orang lain? Tapi Liza tidak bisa menyuarakan pikirannya itu. Jelas Nicho akan marah dan kembali kesosoknya yang menyeramkan.


Baiklah, ia akan bertahan untuk Enrique. Ia akan menjernihkan kesalahpahaman ini. Ia harus hidup. Yaa...setidaknya ia harus hidup bukan?


Liza menggenggam tangan Nicho dengan tangan yang masih diikat. Liza hanya dilepaskan saat ingin buang air dan mandi.


"Tenanglah...semuanya akan baik-baik saja". Liza menatap dalam manik mata Nicho yang begitu rapuh.


Liza menyandarkan Nicho dibahunya. Nicho terus meneteskan air matanya, walau tidak ada sedikitpun suara yang keluar.


Beberapa saat kemudian Nicho mulai tenang. Ia menatap tangan Liza yang masih terikat. Ia tidak akan mengikat Liza seperti itu kalau saja Liza tidak terus memberontak. Ia perlahan membuka ikatan tangan dan kaki Liza sembari meniup bekas ikatan ditangan dan kaki Liza.


"Kamu tidak akan lari bukan?" Nicho bertanya lebih tegas.


"Ya..." Liza menyahut lemah.


"Makanlah" Nicho memerintah dengan nada lebih lembut.


Tanpa banyak suara Liza mengambil makanan tadi dan melahapnya sampai habis. Demi Tuhan ia sangat kelaparan. Demi gengsinya, ia bahkan meminum air di wastafel sehabis cuci muka. Sekarang ia merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Semoga saja tidak apa-apa. Pikir Liza.


...***...