From Wa To London

From Wa To London
Part Twenty Two ( He Is...)



~Namamu memenuhi seluruh tarikan dan deru nafasku lebih besar dari diriku sendiri~Enrique


Liza POV


"Enrique!!!" seruku sembari memegang handle pagar, entah mengapa aku merasa berada di scene horor filmnya susana sekarang (*ehh 😅).


"Krakk!!!" terdengar derit pagar yang sudah berkarat dan aku mulai merasa tidak enak hati memikirkannya.


Aku melihat sekeliling, apa ini tempat yang akan dijadikan proyek besar mereka?


Aku memang buta masalah bisnis (karena jurusan lab *😅), tapi sepertinya tempat ini terlalu riskan untuk dijadikan tempat ramai? Lihat saja, sejauh mata memandang yang ada hanya hutan cemara?? Oh...mungkin saat natal pohon-pohon ini bisa dimanfaatkan. Batinku agak geli dengan pikiranku.


Tapi sudah didepan ini kan? Masa iya aku langsung pulang? Separuh hatiku yang lain berbicara. Entah itu suara setan atau malaikat. Pikirku lagi.


Dan setelah pikiranku yang campur aduk, akhirnya aku memutuskan masuk. Aku membuka handle pintu berwarna biru yang segede gaban, juga terbuat dari besi yang sudah berkarat. Aduh... mengapa semuanya terlihat tidak pantas. Bantinku yang tidak tahu diri kembali berbicara. Namun, tetap meyakinkan diri untuk masuk.


Aku memperhatikan sekitar, menguar bau tanah basah yang tidak enak sama sekali untuk dicium. Aku mual! Oh... mungkin baby twin juga merasa ini bukan tempat yang bagus. Namun baru saja aku ingin berbalik.


"Buk!!!" satu pukulan mendarat di belakangku, yang membuatku jatuh duduk bersimpuh ditanah lembab yang menurut ekspetasiku disebabkan karena gedung ini lama tidak dihuni hingga lantai dasarnya dipenuhi dengan debu yang menumpuk.


"Arghh!" aku merasakan sakit luar biasa ditulang punggungku. Seketika aku mendongak menatap biang dari perbuatan itu. Orang itu berpindah berdiri tepat dihadapanku.


"Prof??" seruku tercekat.


Ternyata orang yang tadi memukulku adalah proffesor Aitken! Aku tercengang. Bukankah ia harusnya dipenjara? Bagaimana bisa.


"Proff? Hahahaha" serunya tertawa dengan suara yang menurutku begitu menyeramkan. Bulu kudukku meremang.


" Gara-gara kau!!! Aku bahkan lupa sebutan itu! Gara-gara kau! Aku tidak punya apa-apa seperti ini! Gara-gara kau! Aku harus bersembunyi di gudang ini! Gara-gara kau! Hidupku menderita!" serunya tanpa henti.


"Tapi prof,...perkataanku terthenti saat rasa sakit yang sama mendera lutut kananku.


"Arghhh!" aku tak bisa menahan sakit yang langsung menjalar keseluruh tubuhku. Aku tidak bisa merasakan kakiku lagi.


"Aku tidak menyuruhmu angkat suara wanita ****** !!!!" teriaknya sembari berjongkok tepat dihadapanku dengan wajah bengis.


"Kalau saja keponakkan brengsekku itu tidak tergila-gila padamu, semua ini tidak akan terjadi. Apa sih susahnya membunuh satu cecunguk sepertimu?" pandangnya heran padaku.


"Arghhh!" kembali ia memukul lututku yang satunya. Aku baru bisa melihat dengan jelas pentungan berbahan besi itu yang ia gunakan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya keadaanku sekarang. Tuhan...tolong aku. Perih yang teramat sangat bisa kurasakan dengan sangat jelas. Bau amis darah menguar keudara. Kesadaranku hampir hilang. Orang ini saiko! batinku.


Kesadaranku hampir hilang. Sebelum mataku terpejam aku bisa mendengar teriakan dimana-mana. Mungkin polisi? Atau siapapun mereka yang jelas aku sempat mencium bau khas Enrique mendekat merengkuh tubuhku yang aku yakin dipenuhi dengan darah. Satu hal yang kusyukuri. Baby twin tidak apa apa. Pukulan proff Aitken tidak mengenai bagian belakang ataupun perutku.


"Princess...tolong bertahanlah sayang!" itu suara Enrique. Pekikku dalam hati. Aku bisa merasakan tetesan airmata dipunggungku. Ia menangis? Aku ingin berbicara padanya. Aku baik baik saja. Aku ingin bilang padanya bahwa aku tidak akan lagi menentang apa yang ia katakan. Aku menyesal. Aku ingin bilang aku tidak ingin bertengkar lagi. Andai saja aku mengikuti apa yang dia katakan, aku tidak mungkin seperti sekarang. Ini semua salahku. Maafkan aku. Tapi kegelapan merenggut kesadaranku dengan angkuhnya. Seketika semua gelap. Apakah kali ini aku bisa lagi? Batinku sedih.


Enrque POV


Alex segera menyambut kedatanganku kemudian menhsejejari langkahku. Aku membawa segelintir aparat polisi bersamaku Michael dan Rizky mengekor dibelakangku dengan langkah besar. Aku mendengar teriakan memilukan kesakitan istriku dari dalam. Brengsekkkk! Aku tidak bisa menahan emosiku. Terlebih setelah gudang itu terbuka. Yang pertama kulihat adalah sosok istriku yang terdampar dengan dipenuhi darah disekujur tubuhnya. Sekali lagi, aku harus melihat istriku lemah tak berdaya. Mengapa tidak kau ambil saja hidupku Tuhan? Mengapa selalu dia yang menderita? Batinku sakit.


Hampir saja aku menerkam sibrengsek yang sudah diringkus polisi itu jika saja Rizky tidak mengingatkanku.


"Hei...Liza lebih membutuhkanmu sekarang!" tuturnya dengan suara sedingin es. Aku tidak tahu apa alasan dari perubahan nada bicaranya yang selama ini tidak pernah kudengar. Yang jelas setelah mendengar kalimat Rizky seketika aku tersadar. Aku langsung merengkuh tubuh istriku yang terkulai lemah.


"Princess... tolong bertahanlah sayang!" aku tak kuasa melihat keadaanya yang hampir sama buruknya dengan kejadian sebelumnya. Tanpa bisa ditahan airmataku mulai mengalir deras.


Dengan cepat aku berdiri dan menggendong tubuh lemah istriku. Alex dengan pahamnya berlari mendahuluiku masuk kemobil dan mengantarku ke Rumah Sakit terdekat.


Sementara sepeninggal Enrique Rizky langsung menerjang Proff Aitken dengan murka hingga terpelanting kebelakang, pegangan dua orang polisi itu ternyata tidak terlalu kuat.


Polisi yang lain ingin mencegah Rizky tapi Michael melarang mereka. Michael menyuruh mereka menunggu diluar. Aparat polisi tersebut walaupun dengan keheranan mau tidak mau menuruti saja apa perkataan Michael.


"Kau!!!" Rizky menunjuk wajah Aitken dengan telunjuknya.


"Rizky, Michael?" Aitken baru tersadar kalau diantara gerombolan orang tadi ada kakak dan keponakkannya. Betapa ia sangat merindukan Rizky. Batinnya.


"Jangan pernah sebut namaku dengan mulut kotormu!" Rizky menatap Aitken dengan nyalang. Ia tidak pernah semarah ini dalam hidupnya.


"Kau tahu brengsek, wanita yang kau Lukai tadi adalah adikku LIZA TUFFAHATI" raungnya geram.


Seketika Aitken tertegun. Bagaimana bisa Liza adalah adik Rizky? Ia memang merasa kalau Liza mirip Nayla. Tapi ia tidak pernah sama sekali terpikir kalau Liza adalah anak Nayla. Dari sudut manapun ia tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Dan kau tahu brengsek, ia adalah anak kandungmu!" Rizky kembali berteriak. Ia sudah tidak peduli mulutnya akan sobek sekalipun. Wajahnya sudah sangat panas, darah mengalir dengan cepat dinadinya. Ia tidak bisa menggambarkan sebesar apa kemarahannya sekarang.


"Apa???" kali ini Aitken benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Liza adalah anaknya? Kalaupun Nayla dan ia pernah berhubungan itu hanya sesekali saat Michael tidak ada. Dan Nayla tidak pernah mengatakan padanya bahwa Liza adalah anaknya? Bagaimana mungkin? Kebetulan apa ini?


Michael maju menghalangi Rizky.


"Be calm son... biarkan polisi mengurusnya terlebih dahulu" Michael menarik tangan putranya. Sebenarnya sekarang ia sangat marah. Tapi ia tidak ingin menambah kekalutan diantara mereka.


"Aku akan menceritakan semuanya nanti, disel tahanan. Cepat serahkan dirimu pada polisi. Jangan pernah lagi berniat untuk kabur. Semua ini akibat kesalahanmu" Michael berkata sedatar-datarnya. Walau ia tidak murka seperti Rizky. Tapi Aitken tahu dengan pasti bahwa sekarang kakaknya jauh dari kata biasa saja.


Ia tidak pernah melihat kakaknya marah seumur hidupnya. Michael adalah tipe kakak yang memberikan apapun yang adiknya inginkan darinya. Karenanya saat Aitken tahu Michael mencintai wanitanya ia tidak mampu membuat kakaknya itu sakit hati. Ia ingat betapa sedihnya Nayla saat itu untuk memintanya membatalkan pernikahan mereka. Memaksaknya mengatakan bahwa mereka lebih dulu bersama. Tapi karena kegoisan Aitken rela memohon dengan Nayla agar ia mau menikahi kakak yang paling Aitken sayang itu. Nayla sangat patah hati kala itu.


Tapi karena keputusan ibu mereka jadilah Clara dan dia tetap diam dirumah keluarga mereka bersama dengan Michael dan Nayla. Dari sanalah Aitken merasa seharusnya ia yang duduk disamping Nayla kala makan sekeluarga berlangsung. Seharusnya ia yang dipasangkan dasi oleh Nayla setiap hari. Seharusnya ia yang tertawa bahagia menyambut lahirnya seorang putra ditengah keluarga mereka. Ia merasa Tuhan tidak adil. Hingga ia dengan angkuhnya mengambil kesempatan disaat Michael tidak ada.


Ia menunjukkan penyesalannya karena membiarkan Nayla menikah dengan kakaknya. Ia mengatakan sangat mencintai Nayla. Hingga Nayla luluh kembali kepelukkannya. Ia begitu bahagia karena Nayla merespon balik perasaannya. Mereka sering berduaan diperpustakaan saat Rizky telah tertidur lelap. Michael jarang sekali berada dirumah. Ia selalu sibuk bekerja.


Dengan pasrah ia menyerahkan dirinya pada polisi ketika aparat polisi masuk bersamaan dengan keluarnya Rizky dan Michael.


Ia tidak mengerti mengapa Tuhan mengaitkan segalanya kembali pada dirinya? Kalau memang benar Liza adalah anaknya. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah menganiaya buah hatinya dengan Nayla.


***