
~Ketika kamu bangun dan melihatku disampingmu, katakanlah... hari ini akan baik-baik saja~ Liza
Liza merasa tubuhnya gerah dan dengan enggan membuka mata. Dan seketika ia tahu penyebab kegerahannya. Enrique sedang memeluknya seolah ular yang melilit ditubuhnya. Oh my.
"Eghh..." Liza berusaha keras menyingkirkan tangan Enrique dari atas tubuhnya. Tapi berakhir dengan percuma. Kenapa tubuh lelaki begitu berat. Batin Liza kesal.
"Enrique... bangun!" Seru Liza sembari meraba nakas disamping ranjang dan mengambil handphonenya. Pukul 07.00 pagi!!! Yg benar saja. Baby twin pasti sudah bangun. Pikir Liza panik. Dengan lebih keras Liza mencoba menyingkirkan tangan Enrique. Dan berakhir nihil. Tapi berkat itu semua Enrique bangun! Aha.
"What happen?" Enrique bertanya dengan suara khasnya baru bangun tidur. Ohh..my, kenapa suaranya bisa begitu seksi? Batin Liza.
"Eumhh... aku mau bangun!" Liza menyahut gagap sembari menunjuk tangan Enrique yang melingkari tubuhnya. Enrique menyerngit lalu kemudian memeluk Liza dan bergulung sehingga Liza jadi diatas tubuhnya.
"Heiii!!" Liza menjerit histeris tak menyangka dengan pergerakan Enrique yang begitu tiba-tiba itu.
Enrique menyeringai kuda tanpa jejak ngantuk dimatanya.
"Ada apa?" Goda Enrique. Liza melotot kesal.
"Hentikan Enrique. Aku harus bangun ini sudah jam tujuh pagi" Liza memalingkan wajahnya yang begitu dekat dengan bibir Enrique yang merah basah. (*Hei apa yang kamu pikirkan?)
"Kenapa? Menginginkanku? Heh" Enrique mengerlingkan matanya.
Liza memutar bola matanya jengah. Liza akui ia memang agak agresif tadi malam. Ia bahkan meminta lagi dan lagi. Well, tapi itu karena ia hamil lagi. Enrique begitu senang saat mendengar ia hamil. Yang benar aja. Baby twin sekarang berumur empat tahun.
"Enrique..berhenti menggodaku, aku harus mengurus baby twin sekarang" Liza mengelak dari pembicaraan kotor suaminya.
"Oh...ayolah, sekali saja. Eumhh?" Enrique memasang wajah manjanya.
Liza menghembuskan nafas berat. Okay...ia tahu Enrique sangat menginginkannya sekarang. Darimana ia tahu? Dibawah sana ia bisa merasakan sesuatu yang mengeras menyentuh pahanya.
"Enrique... baby twin harus sekolah" Liza bersi keras.
Enrique membulatkan matanya.
"Heii...hari ini minggu princess. Tidakkah kamu ingat?" Enrique menaikkan satu alisnya.
Oo... bagaimana Liza bisa lupa hari? Batinnya konyol.
"Jadi?" Enrique kembali mengerling. Liza hanya bisa memutar matanya. Enrique segera menggerayangi istrinya dengan semangat. Namun seketika terduduk saat mendengar suara kecil polos yang bersamaan terbukanya pintu.
"Daddy?" Rinnai melongok kedalam dengan wajah polosnya.
"Yeahh??" Enrique menyahut dengan keras, antara gugup dan kesal. Bagaimana tidak?
Rinnai mendekati orang tuanya dengan wajah kesalnya.
"Hei...whats going on?" Liza langsung merengkuh tubuh mungil anaknya.
" I want eat...but i want with you" Rinnai memonyongkan bibirnya kesal.
Enrique seketika berdiri menggendong anak manjanya. Ck. See 😂
"Come on, lets go baby girls" seru Enrique sembari mengangkat Rinnai tinggi. Baby twin sudah mandi dengan Gwen nanny mereka. Yang benar saja? Liza dan Enrique bahkan belum mandi. Ck.
Liza mengikuti ayah dan anaknya itu menuju ruang makan. Dapur kecil itu menjadi ramai. Rinnai makan disuapi Enrique. Naya? Tentu saja ia makan sendiri. Liza duduk makan dengan menahan tawa melihat kelakuan anak dan suaminya. Gwen duduk bersampingan dengan Marry makan dengan sesekali tertawa melihat tingkah aneh Rinnai.
Empat tahun yang lalu adalah bagian tersulit dalam hidupnya. Ia kehilangan ibu yang baru saja dilihatnya dan ayah yang memilih bunuh diri saat mengetahui wanita yang dicintainya masih hidup namun sudah merenggang nyawa.
Liza tak kuasa menahan tangis tak berdayanya ketika khabar meninggalnya Aitken sampai padanya. Ia sedih? Tentu saja. Karena walau bagaimanapun Liza membencinya ia tetap ayah biologisnya. Ayah yang berperan penting dalam prosesnya melihat dunia. Bagaimana ia bisa membencinya?
*Flash Back On*
Koridor tempat mereka menunggu Nayla dipenuhi dokter yang berlalu lalang dengan suster.
Liza gemetar. Ia belum siap menerima hasil terburuk. Ia belum siap melepaskan wanita yang baru hari ini ditemuinya. Wanita yang ia sebut ibu.
Tidak. Liza bahkan belum memberitahunya kalau wanita itu memiliki dua cucu yang menggemaskan. Tidak ia belum boleh pergi. Kenapa ia ingin pergi saat ia baru kembali? Kenapa?
Selang beberapa lama dokter yang menangani Nayla keluar dari ruang UGD dengan wajah yang siapapun tabu. Bahwa semuanya telah berlalu. Dengan artian yang tidak baik.
"I am sorry, but the woman can not be saved. Cancer she suffered had gnawed all her liver" ( maafkan saya, tapi wanita itu tidak bisa diselamatkan. kanker yang dideritanya sudah menggerogoti seluruh organ hatinya) terang dokter itu dengan sangat menyesal.
Seketika dunia disekitar Liza gelap. Hal terakhir yang ia dengan dan teriakan Enrique yang mendekat.
"Princess!!!!"
*Flash back off*
Naya menyentuh tangan Liza dengan lembut.
"Mom?" Ia berujar pelan menyadarkan Liza dari kenangan pahitnya.
"Iya?" Liza menyahut lembut.
"We will go to uncle Rizky house right?" Tanya Naya serius dengan mimik yang siapapun pasti mengira ia lebih tua dari umurnya. Dia sangat mengerti dengan Liza yang pelupa.
" Astaga!" Seketika Liza melompat dari duduknya dan melihat jam dinding dengan panik.
"Ya ampunnn!!!" Liza seketika memekik tertahan. Bagaimana aku bisa lupa?? Hari ini hari pertunangan Rizky dengan Valentine. Dan acaranya akan dimulai jam sembilan pagi. Dan sekarang? Hampir jam 8. Oh my??
Liza setika langsung berlari kekamar meninggalkan piringnya yang masih penuh. Enrique hanya bisa tertawa nyaring. Naya menggelengkan kepalanya. Ia tidak heran dengan mommynya yang selau saja lupa hal-hal penting.
Setengah jam kemudian mereka berempat sudah siap pergi kerumah Rizky. Saat mereka sampai dihalaman Rumah keluarga Adam sudah dipenuhi mobil-mobil mewah. Itu tandanya mereka hampir terlambat.
Rizky sudah memasangkan cincin pertunangan mereka ketangan Valentine begitu pula Rizky, saat mereka memasuki ruang tamu yang sudah berubah menjadi ruang pesta yang mewah. Dengan semua makanan dan minuman yang tidak bisa dibilang biasa saja. Wow.
Valentine dan Rizky terlihat sangat bahagia ditengah para tamu yang menyalami mereka dan memberi selamat.
Liza dan Enrique mendekat.
"Congratulations Valentine" Liza memeluk Liza penuh kasih.
Valentine bersemu merah dan balas memeluk Liza dan Naya digendongannya.
"Thanks a lot Liza" ucap Valentine tulus.
Rasanya Valentine belum benar-benar percaya ia bisa mendapatkan lelaki seperti Rizky. Dan semua berawal dari Liza. Ya, bagaimana mungkin Valentine bisa melupakan semua yang telah ia lakukan pada Liza?
Hari ini Liza sangat bahagia. Dan kebahagiannya lengkap melihat kakak lelaki satu-satunya bertunangan dengan keponakkan suaminya. Bagaimana mungkin hidup begitu kebetulan? Jawabanya adalah, semua kebetulan tersebut adalah cara Tuhan memberitahu pada hamba-Nya. Bahwa Tuhan maha kuasa atas segalanya. Ya, segalanya.