
~Kamu adalah pusat duniaku? Lalu bagaimana aku bisa hidup tanpa mengitarimu. Tentu saja tidak!~ Enrique
"Come on princess kamu sudah terlalu cantik berhentilah mempercantik diri..." Enrique memeluk istrinya yang sedang menghias dirinya didepan cermin.
"Nah...sudah selesai. Ayo" Liza berdiri dan berjalan mendahului Enrique dengan senyum lebar.
Enrique hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
" Jangan pernah berniat menggoda pria lain di kantor selain aku, percayalah mereka bahkan tidak berani hanya melihatmu. Akan kupatahkan leher mereka" gerutu Enrique sembari mengiringi langkah lebar istrinya.
Liza hanya bisa tersenyum mendengar penuturan suaminya yang cemburu akut.
Liza masuk kemobil yang sudah dibukakan Enrique dan duduk dengan anggun.
Enrique melajukan mobilnya perlahan menuju kantor.
Sesampainya dikantor semua pasang mata menatap mereka dengan takjub, terutama Liza.
Enrique dengan sigap memeluk pinggang istrinya dan berjalan bersisin keluar dari parkir.
"Tidakkah kamu merasa berlebihan Enrique?" Liza berbisik pelan. Ia risih dengan pandangan para wanita yang menatapnya dengan tatapan mencemooh.
"Kamu istriku princess, tidak ada yang berlebihan" Enrique menekankan setiap katanya. Jika kalimat itu keluar dari mulut seorang Enrique, itu bukan perkataan biasa...tapi aturannya.
Liza hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah lebar Enrique sampai kekantornya.
Liza duduk disofa tamu ruangan Enrique. Ia tersenyum mengingat hari ia pertama kali masuk kesini. Ia masih sendiri. Sekarang ia membawa baby twin bersamanya.
Enrique menaikkan alisnya melihat istrinya tersenyum dalam diam. Namun, ia mengabaikannya dan langsung berkutat dengan dokumen-dokumen yang kemarin belum terjamah olehnya. Sebutlah ia workholic, memang begitu kenyataannya. Ia merintis perusahaan ini dari nol, ia bukan type prince charming yang kaya raya dengan warisan kakek moyangnya. Jadi ia sama sekali tidak pernah sedikitpun membayangkan perusahaannya akan bangkrut. Ia dengan sekuat tenaga terus menopang perusahaannya.
Liza memandang suaminya yang sedang serius bekerja. Ia sama sekali tidak mual jika berdekatan dengan suaminya. Entah mengapa.
Beberapa menit kemudian Liza bosan. Ya bosan. Memandang wajah lelaki tampan manapun hanya akan menyenangkan di sepuluh menit pertama sisanya. Ngantuk. 😂
Liza mulai mengatur posisi tidurnya.
Selang beberapa menit nafasnya mulai teratur.
Enrique memandang istrinya yang sudah terlelap. Ia pun tersenyum, istrinya memang paling jago kalau masalah tidur.
"Tok..tok.
Enrique mendongak dan mempersilahkan Alex masuk.
"Mr.Adam is here, he is waiting room meeting with his son" Alex memberitahu Enrique yang mengangguk dan langsung berdiri mengikuti Alex.
Enrique melirik istrinya yang tertidur lelap, kemudian berlalu keluar ruangan.
***
Liza menyerngit, ia mencium bau terbakar. Mau tidak mau ia membuka matanya. Ia terbelalak...ada gumpalan api dimana-mana. Api itu memang tidak bisa membakar lantai tapi sudah membakar sofa disampingnya. Bunyi alarm kebakaran langsung terdengar seantero gedung orang-orang berlarian. Suara lari sepatu petugas keamanan sedang mendekat kekantor Enrique. Liza sempat melihat seseorang berpakaian hitam mengintip lewat jendela luar dan turun dengan tali. Ia seperti mengenal bola mata itu. Tapi entah dimana.
Liza tersadar dari pikirannya saat Enrique menggendongnya.
"Princess!!! Enrique segera berlari keluar kantornya. Kantornya dilengkapi sistem anti kebaran. Jadi api tersebut tidak bisa membesar karena langsung tersemprot gas pemadam api yang otomatis keluar dari dinding jika alarm berbunyi.
Michael dan putranya yang tenyata Rizky juga ikut berlari menyusul Enrique. Liza yang berada dalam gendongan Enrique masih terlihat syok saat Enrique menyampirkan jasnya dan memberinya air. Mereka berada diruang rapat. Tempat pertemuan Enrique dan Michael serta putranya beberapa saat lalu.
"Liza...!" Rizky mendekat dan berlutut didepannya. Enrique yang melihat itu hanya bisa mendelik. Mau bagaimanapun Rizky menunjukkan simpati yang sebenarnya. Jadi tidak etis rasanya melarang mereka berdekatan.
"Kamu baik-baik saja?" Rizky bertanya khawatir, dan mencermati seluruh tubuh Liza. Tidak ada lecet. Syukurlah. Pikirnya.
"Aku baik-baik saja" Liza menjawab singkat. Ia masih syok, dan Rizky? Ada urusan apa dia disini? Pikir Liza.
"Aku dan ayahku kesini untuk kepentingan bisnis dengan suamimu" Tutur Rizky seolah bisa membaca isi pikiran Liza.
"Ehemm..." Enrique berdehem tidak suka.
"Kami harus pulang Mr.Adam" Enrique menggendong Liza kembali.
"Ahh...baiklah" kata Mr.Adam terbata. Sejak tadi ia terus berpikir. Mungkinkah Liza yang dimaksud putranya adalah wanita ini? Wanita inikah yang putranya sangat ingin ia temui? Sejak tadi ia memang terpaku melihat wajah Liza. Ia sangat mirip dengan almarhum istrinya. Pantas saja putranya bersikeras kalau wanita ini adalah saudaranya.
"Aku bisa jalan sendiri Enrique" protes Liza.
"Shh...aku sedang tidak mood tawar menawar princess" ucap Enrique tegas. Ia sedang gugup sekarang. Ia bagai tersambar petir saat mendengar alarm kebakaran dari kantornya. Tentu saja. Istrinya sedang tidur dikantornya sendiri. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Liza.
Flash back on
Enrique masuk ruangan rapat dan begitu terkejut saat melihat pria itu, pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang bersama istrinya tempo hari direstoran The Camden Market. Ia pun sepertinya sama terkejutnya dengan Enrique.
"Sudah lama menunggu?" Enrique menggunakan bahasa Indonesia. Ia sudah tahu kalau keluarga Adam kental dengan bahasa indonesia. Khabarnya istrinya dari Micahel adalah darah Indonesia. Pantas saja putranya sangat lancar bahasa Indonesia. Pikirnya mengingat umpatan Rizky tempo hari.
"Ahh...tidak juga" balas Michael berdiri sembari menjabat tangan Enrique.
"Perkenalkan putraku Rizky"
"Rizky" Ucap Rizky kaku. Ia masih geram dengan Enrique paska kejadian tempo hari.
"Baiklah kalau begitu rapat kita mulai" kata Enrique sembari duduk kursinya.
Baru saja Enrique ingin menuturkan projectnya. Tiba-tiba Alex masuk tanpa mengetuk pintu.
"Sir...baru saja Alex ingin mengatakan sesuatu Enrique sudah menghambur keluar. Ia mendengar alarm kebakaran dari ruangannya.
Istriku!!! Benaknya berkecamuk. Ia lari tanpa mempedulikan apapun. Ia bahkan tidak sadar Alex, Michael dan Rizky ikut berlari dibelakangnya.
Flash back off
***
Liza cemberut sepanjang pemeriksaan dokter. Tentu saja. Ia kira Enrique benar-benar membawa ia pulang. Ternyata ia dibawa kerumah sakit. Ia diberikan serangkaian pemeriksaan. Dan nyatanya ia dinyatakan baik-baik saja.
Enrique menyetir perlahan. Liza tidak mengucapkan satu katapun sampai mereka masuk ke penthouse. Liza berjalan lebih dulu. Ia kesal. Sampai diruang tamu ia berbalik bermaksud ingin protes atas semua yang Enrique lakukan paska kebakaran tadi.
Tapi baru saja Liza berpaling. Ia tertegun melihat Enrique terduduk lemas dilantai. Oh...my ada apa gerangan?
Liza mendekat ikut duduk dilantai.
"Hei...whats going on" Liza mengusap wajah tampan suaminya prihatin. Enrique terlihat sangat tertekan.
Enrique menggeleng kemudian memeluk liza tiba-tiba.
Liza hanya diam tanpa kata diperlakukan seperti itu, hatinya sedih melihat keadaan suaminya yang begitu rentan seperti sekarang.
"Aku sangat takut" hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Enrique. Oh...my lost boy.
"Shh...Liza hanya bisa menenangkan Enrique seperti cara Enrique menenangkannya. Ia mengusap punggung Enrique berulang-ulang dengan sayang.
"I am okay...Liza mengucapkan kalimat itu berulang kali. Ia pun sebenarnya takut sangat takut. Jika ia masih sendiri, ia tidak terlalu takut meskipun harus terbakar digedung itu. Jika memang seperti itu takdir akhir hidupnya. Tapi sekarang ia bersama baby twin dan Enrique yang begitu mencintainya. Ia tidak sanggup membayangkan harus meninggalkan mereka.
Liza menuntun Enrique keranjang mereka dan merebahkannya. Pertanyaannya bukankah seharusnya ia yang diperlakukan seperti ini? Pikir Liza. Kemudian melepas jas dan sepatu Enrique setelahnya iapun ikut berbaring disisi Enrique. Liza melirik jam tangannya pukul 12.20. Ia memeluk Enrique dalam diam dan mengusap pelipis Enrique perlahan sampai suaminya terlelap. Ia juga butuh tidur. Pikirnya.
Liza tidak menyangka hari keduanya kekantor Enrique akan berakhir tragis seperti ini. Siapa pria yang berpakaian serba hitam dan memakai penutup wajah itu? Siapa yang ia incar sebenarnya? Apa mungkin Enrique? Apa yang diinginkannya? Apa ia punya dendam dengan kami? Liza terus saja berpikir beberapa kemungkinan sampai ia jatuh terlelap.
Sementara ditempat lain....
"Shittt!!! Tidak bisakah semuanya berjalan lancar? Ia tidak menyangka kalau ruangan sibajingan itu dilengkapi alat anti kebakaran. Ia bahkan sudah memasukkan beberapa gumpalan api. Tapi sama sekali tidak ada pengaruhnya. Dan yang lebih sialnya wanita itu melihatnya. Ia masih bisa mengingat raut wajah bingung darinya. Wajah itu begitu mirip dengan wanita yang dicintainya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyelamatkannya. Sebelum ia melihat kerumunan orang berlarian kearah ruangan itu.
Apa yang ia pikirkan? Wanita itu adalah kekasih Enrique. Ia juga sumber masalah dari keterpurukannya sekarang. Keterpurukkan sampai ia harus bersembunyi digudang bekas toko ini. Sendiri. Dengan dihantui perasaan bersalah serta kesal yang tiada habisnya.
Ia bodoh mengira keponakkannya Nicho akan bersikap profesional dengan tindakan dan keputusannya. Nyatanya apa? Perusahaan mereka bangkrut karena semua investor menarik saham mereka. Mereka mendengar berita penculikkan itu. Yang berujung dijebloskannya Nicho kepenjara. Keponakkan gilanya itu masuk penjara dengan senang hati. Lalu ia harus menjebloskan dirinya juga dengan senang hati? Tentu saja tidak.
Ia akan membalas semuanya. Kepada Enrique maupun Liza yang telah membuatnya seperti ini. Ia dengan susah payah membangun perusahaan suami adiknya nya yang sudah tiada. Lalu dengan gampangnya Enrique membuatnya hancur. Ia akan mengajari anak ingusan itu arti dari peperangan yang sesungguhnya. Ia memang tidak bisa membuat perusahaan Enrique bangkrut. Tapi ia akan membuat Enrique menyesal pernah lahir kedunia ini. Ia akan membuat anak ingusan itu menderita karena kehilangan harta yang sangat dicintainya istri dan anaknya.
Selama ini ia selalu memantau kehidupan Liza. Termasuk pertemuan Liza dengan keponakkan lainnya Rizky. Mengapa wanita itu selalu dekat dengan kerabatnya? Pikir Aitken.
Ia juga tahu kalau saat ini Liza sedang mengandung anak kembar. Bagaimana bisa sibrengsek Enrique bisa seberuntung itu sedangkan ia harus semenderita ini? Tuhan sangat tidak adil. Pikirnya.
***