
~Terkadang kamu salah menilai hati yang lembut karena kerasnya permukaan~ Liza
Seminggu berlalu sejak hilangnya Liza. Enrique masih saja seperti mayat hidup. Ia jarang makan dan sering melamun sendiri. Sampai dering handphonenya berbunyi. Ia bergegas mengangkatnya.
"Apa??? Amerika? Ya Tuhan....Enrique menganga, pantas saja Liza begitu sulit ditemukan. Ternyata ia dibawa ke Amerika. Dan yang lebih mengejutkan lagi. Liza diculik oleh Nicho. Benar bukan? Ada yang tidak beres dengan lelaki itu ia sudah tidak suka melihat Nicho dari awal bertemu dan ternyata firasat buruknya teebukti benar. Pikir Enrique.
Tapi...seketika ia tertegun. Nicho Andreas Michelo. Emma Andreas Michelo. Ya Tuhan! Apa jangan-jangan lelaki itu menculik Liza karena dirinya? Ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa Liza.Ini semua karena dirinya.
Enrique bersama bodyguardnya bergegas naik Pesawat Jet miliknya ke Amerika. Dengan tergesa ia mempersiapkan semuanya. Ia akan menjemput wanitanya. Bertahanlah Princes.
***
Liza bergerak gelisah. Pasalnya sudah satu minggu lebih iya terkurung dirumah itu. Rumah itu terlalu besar. Dan suasana rumah akan menjadi tegang saat Nicho sudah pergi. Liza tidak diperbolehkan Nicho lagi ikut kekantornya. Ia keluar kamar. Kemudian meneguk salivanya sulit. Banyak bodyguard berjaga dimana-mana.
Liza terus memikirkan cara untuk keluar dari rumah Nicho. Ia bisa menerima alasan Nicho membenci Enrique. Tapi ia tidak suka cara Nicho membalaskan dendamnya dengan menculik dan mengurungnya seperti ini.
Sebenarnya ia senang bisa merasakan bagaimana hidup dengan seorang Nicho. Nicho adalah lelaki yang lembut. Ia benar-benar perhatian. Ia mengurus segala keperluan Liza. Andai kata ia belum bersama Enrique, ia sudah pasti jatuh cinta akan kebaikan Nicho. Namun disisi lain semenjak kepergian Emma adik kembarnya, ia menjadi lelaki yang sangat rapuh. Ya, kehilangan orang yang kamu cintai bukanlah hal yang mudah bukan?
Tidak ada satu haripun setelah kejadian penculikkan itu ia merasa dirugikan oleh Nicho. Jika saja keadaannya berbeda, ia akan dengan senang hati tinggal bersama Nicho.
Tapi kembali kekenyataan, diluar sana ada seorang lelaki yang begitu mencintainya sedang menunggu. Lantas tegakah ia hanya berdiam diri seperti ini? Tidak. Tentu saja tidak.
Ia berjalan keluar kamar dengan tenang. Ya dia harus tenang bukan? Kalau tidak ia takkan pernah berhasil melarikan diri dari sini.
Nicho kekantor seperti biasa dan pasti hanya akan pulang pada malam hari saat Liza sudah tertidur. Mungkin ini kesempatannya untuk keluar dari rumah ini. Sekarang atau tidak sama sekali. Tekad Liza.
Ia berjalan melewati tangga. Salah satu bodyguard meliriknya curiga. Tapi tetap berdiri biasa. Tidak ada gerakan mendekati Liza. Karena tugas mereka hanya menjaga Liza agar tidak keluar rumah, atau mencapai pintu utama. Sedangkan Liza berjalan kedapur. Bodyguard itu kembali memfokuskan pandangannya kedepan. Mengacuhkan Liza yang sedang mengambil air dikulkas.
Liza menghela nafas pelan saat bodyguard yang tadi meliriknya mengacuhkannya kembali. Ia pura-pura mengambil minum. Setelah dirasa tidak ada yang memperhatikan. Liza masuk ke dalam WC dan kemudian menguncinya dari dalam.
"Come on Liza, think..." Liza memperhatikan WC yang lebih pantas disebut sauna itu dan berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan???
Ia berkeliling dan melihat pentilasi kecil yang tertutup kaca. Ia menyalakan air dengan deras dan memukulkan tangannya dengan keras hingga kaca tersebut pecah.
Prankkk!!! Terdengar suara kaca pecah. Selang beberapa menit terdengar gedoran pintu dari luar. Ohhh ayolahh...Liza naik ke Sisi Closet dan memasukkan badan kecilnya ke pentilasi seukuran 50 CM dan tinggi kira-kira 10 CM. Ohh Tuhan saat ini ia sangat bersyukur akan badan kurusnya.
Come on Liza. Ia merasakan perih yang teramat sangat saat ia keluar dari pentilasi itu. Bagian perutnya tergores sisa pecahan kaca. Namun ia tetap memaksakan berjalan di luasnya taman rumah besar itu.
Terdengar suara-suara kaki orang mengejarnya keluar dari pintu utama. Ia lari ke Hutan belakang. Terus lari tanpa memedulikan perutnya yang terus meneteskan darah dan tangannya yang juga berdarah. Mereka semakin dekat. Ia terus berlari sampai tubuhnya menabrak seseorang.
"Brukk!" Liza sangat terkejut. Dan ternyata orang yang ditabraknya adalah Nicho. Bukankah Nicho bilang akan pulang agak malam? Lalu kenapa ia pulang begitu cepat?
"Nicho?" Liza seketika gugup sekali.
Nicho menatap Liza nyalang. Ia tidak menyangka Liza berani melarikan diri darinya. Ia keluar untuk membelikan Liza Sebuket bunga dan kue ulang tahun. Ia tahu hari ini tanggal 15 Mei 2018 adalah ulang tahun Liza. Ia ingin memberi kejutan dengan pulang lebih dari waktu biasanya. Tapi kejutan yang sudah ia siapkan ternyata tidak akan pernah berhasil. Justru ia yang dikejutkan keberanian Liza. Ia menatap nyalang pada darah yang berlumuran ditangan dan tubuh Liza. Apa yang ia pikirkan???
Liza beringsut mundur. Nicho mencegat dan menarik Liza hingga tubuh mereka berdempetan. Liza memundurkan wajahnya.
Bodyguard yang mengejar Liza pun ikut berhenti.
"Apa yang kamu lakukan Liza !!!" Nicho berteriak kencang. Ia menggenggam bahu Liza sangat keras.
"Auu....Liza meringis kesakitan. Air matanya mulai berjatuhan. Ia takut, takut sekali.
"Sakit? Kamu sakit hanya gara-gara ini? Nicho melirik tangannya yang mencengkram bahu Liza.
"Lalu apa yang kamu pikirkan saat membuat dirimu berlumuran darah seperti ini hahh???" Nicho mengguncang tubuh Liza.
"Nicho...maafkan aku, aku...Liza tak bisa menyelesaikan perkataannya. Ia sengungukan tanpa bisa dicegah.
"Apa kamu begitu ingin lari dariku?" Nicho bertanya dengan keperihan yang tampak jelas diwajahnya. Tidakkah hari-hari yang mereka lewati berarti bagi Liza?
"Apa kamu begitu tidak sudi berada didekatku sehingga kamu rela melukai tubuhmu seperti ini....hahh??" Suara Nicho naik beberapa otaf lagi.
Liza menggeleng keras, airmatanya tak kunjung berhenti.
" Bukan itu tapi...." seketika kata-kata terhenti. Bunyi baling-baling pesawat yang memekakkan telinga mengalihkan semua perhatian Nicho dan bodyguardnya. Bahkan Liza terhenyak.
" Brengsek!!!" Nicho mengumpat keras sebelum mendorong Liza kesalah satu bodyguardnya.
"Jaga dia...!" Perintah Nicho.
Liza panik. Ia memandang semua orang yang turun dari pesawat. Ia melihat Enrique dengan wajah kerasnya.
"Enrique!!!" Liza berteriak.
Ternyata teriakan Liza didengar dengan jelas oleh Enrique. Enrique menatap Liza dan seketika murka melihat wanitanya berlumuran darah.
***
Enrique POV
Aku menatap kediaman si Brengsek itu dari atas. Setelah mengumpulkan semua informasi tentang keluarga Michelo hasilnya sangat menakjubkan.Ya, harus kuakui dia sangat kaya. Tapi bukan itu permasalahannya. Ia bisa saja membuatku bangkrut dengan segala cara.. dengan kekayaan dan perusahaan besarnya yang tidak ternilai. Nicho bisa saja membuatku runtuh. Tapi bukan itu yang dilakukannya. Aku yakin, ia tidak hanya ingin melihatku menderita. Ia juga menginginkan Liza. Ya...si brengsek itu pasti menyukai wanita ku. Pikir Enrique.
Sekarang ia tahu alasan dari semua penculikkan ini. Ia bertangguh kalau ini erat hubungannya dengan Emma yang ternyata adik kembar Nicho.
Bodoh bagaimana ia bisa lupa?? Ia mengingat dengan jelas wanita yang bernama Emma, teman perempuan yang selalu satu sekolah dengannya. Teman yang selalu memberinya bekal dan juga selalu ia berikan kepada teman-temannya. Wanita yang selalu ia abaikan bukan karena ia sombong atau tidak menyukai wanita seperti Emma. Ia menyukai Emma. Sangat malah.
Tapi ia tidak ingin menghancurkan kepolosan Emma dengan kebejatannya. Ia tidak ingin menghancurkan Emma seperti perempuan lain yang sudah ia nodai sebelum-sebelumnya.
Dulu sekali ia tidaklah hidup berkecukupan seperti sekarang. Dulu ia tinggal dipanti Asuhan. Ditempat itu ia dianiaya dan dilecehkan oleh orang-orang yang pura-pura dermawan itu. Orang-orang yang diluar seperti malaikat tapi didalam begitu bejat.
Satu persatu anak disana di lecehkan secara seksual. Sampai satu malam yang dingin ia berhasil lari dari neraka itu dan ditabrak oleh mobil ayahnya sekarang Leon. Sejak itulah ia diangkat menjadi anak mereka. Karena kebetulan mereka tidak mempunyai keturunan. Tapi masa lalu itu membentuk dirinya, dirinya yang ia kira bejat dan tidak mengenal cinta.
Namun nyatanya ia sangat terpukul saat mengetahui Emma telah meninggal secara tragis, ditabrak lari truk yang tidak bertanggung jawab. Dimalam Prom Night.
Dimalam ia ingin menyatakan perasaan sebenarnya kepada Emma. Malam dimana ia harus terseret ciuman tidak perlu dari Monica yang sedang main truth or dare dan mengambil tantangan teman-temannya untuk menciumku dipanggung. Yang benar saja, aku naik kepanggung karena ingin melihat dengan jelas dimana keberadaan Emma. Tapi wanita ****** itu malah menciumku. Brengsek!
Tapi masa lalu hanyalah masa lalu. Masa inilah yang dapat kuperjuangkan.
Sekarang aku tidak ingin kehilangan orang yang kucinta karena kebodohanku lagi.
***
Enrique memejamkan matanya sesaat.
Sesampainya mereka mendarat. Peluru bertubi-tubi diarahkan kepada mereka. Tentu saja dibalas juga oleh orang-orang Enrique.
"Enrique!!!" Suara wanitanya menyeru ditengah kebisingan tembakan peluru. Tapi bukan itu yang membuat ia terkejut. Tubuh wanitanya berlumuran darah. Ya darah.
Brengsek. Ternyata si brengsek itu menyiksa wanitanya. Hatinya teriris melihat keadaan wanitanya. Aku akan membunuh lelaki itu !!! Tekadnya dalam hati.
Liza melotot melihat apa yang selanjutnya dilakukan Enrique. Pria itu menarik pelatuk pistol yang ia arahkan tepat pada Nicho. Ia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus terjadi. Ia harus mencegahnya.
Beberapa saat sebelum peluru itu mengenai sasarannya Liza berbalik menarik Nicho yang berdiri tertegun didepannya. Dan peluru itu tepat mengenai sasarannya. Liza.
"Dorr" terdengar bunyi peluru mengenai sasaran.
Enrique melotot tidak percaya. Nicho terhenyak dan segera menyambut tubuh lemah Liza yang jatuh tepat kepelukkannya dengan lebih banyak darah. Demi apa???
Tiba-tiba bunyi letusan peluru berhenti. Mereka semua fokus pada satu titik. Tubuh Liza yang terkulai lemah tak berdaya.
"Princess!!!" Enrique tersadar dan berlari kearah Liza dan Nicho tanpa menghiraukan apapun. Ia tidak percaya, dengan tangannya sendirilah wanitanya tertembak.
Enrique meraih Liza dipelukkan Nicho yang masih syok.
"Biar aku saja brengsek!!!" Enrique merebut Liza dari Nicho.
Nicho masih tertegun. Ia masih memproses kejadian beberapa detik lalu. Liza melindunginya.
Selama satu minggu lebih hidup bersama Liza memberikan arti tersendiri bagi Nicho.
Setiap pagi Liza akan kedapur membantu Margareth memasak. Liza menyiapkan Nicho sarapan dan menemani Nicho makan. Begitu pula makan malam. Hanya pada saat makan siang mereka tidak bertemu.
Nicho menemukan kebahagian lain bersama Liza. Liza tersenyum saat bersamanya. Liza selalu bercerita menarik tentang kehidupannya di Indonesia. Liza membuat hidupnya lebih berwarna dan lebih bermakna.
Nicho pikir Liza senang bersamanya. Tapi melihat usaha Liza keluar rumahnya. Ia mempertanyakan kembali pikirannya.
Tapi saat Liza melindunginya seperti ini. Hatinya sakit sekaligus membuncah bahagia. Entah perasaan apakah itu.
***