From Wa To London

From Wa To London
Part Eighteen (Clara)



~Kamu adalah duniaku, aku tidak akan membiarkan siapapun mengusikmu~Enrique.


Enrique gelisah menunggu dokter menggips tangan istrinya. Liza sudah berhenti menangis. Mungkin karena malu dengan dokter lelaki didepannya yang tersenyum menenangkan.


"Well...it's done, your hand will heal in a few weeks and you can remove at near hospital in your city and dont forget to change that bandage." ( Nah...sudah selesai, tanganmu akan sembuh dalam beberapa minggu, kamu dapat melepaskannya dirumah sakit terdekat dikotamu, dan jangan lupa untuk mengganti perbannya). Dokter itu menjelaskan dengan sabar seolah berbicara dengan anak kecil.


Liza menggerakkan tangannya perlahan. Sakit ditangannya tidak lagi terlalu terasa, tapi tangannya pun seakan mati rasa.


Enrique mendekati Liza.


"Apa kamu baik-baik saja?" Enrique bertanya khawatir.


"Ya, sekarang tidak terasa sakit lagi" Liza memaksakan senyumnya. Enrique menuntun Liza kemobil setelah menyelesaikan administrasi. Liza muak selalu kerumah sakit. Seolah baru kemarin keluar rumah sakit. Dan sekarang ia harus masuk lagi. Semoga ini yang terakhir sebelum persalinannya. Pikir Liza.


Mereka tidak kembali kehotel. Enrique sudah menyuruh Alex untuk mengemas barang mereka berdua. Enrique berniat membawa Liza kembali ke London. Ia tidak ingin istrinya melihat Clara lagi. Ia akan mengurus Clara setelah ini. Pikir Enrique.


Liza mengikuti Enrique dengan patuh. Ia langsung tertidur dipesawat jet Enrique yang membawa mereka pulang. Ya, pulang. Entah mengapa Liza merindukan kata itu.


***


Enrique menitipkan Liza kerumah orang tuanya. Ia trauma membawa Liza kekantornya. Jadi solusi yang bisa ia pikirkan adalan Mansion ayahnya.


...


...


"Enrique..tidakkah ini memalukan" Liza memasang tampang memelas. Ia sudah berdebat sangat sering tentang ini sebelumnya dengan Enrique.


"Princess..ayolah, sekali ini saja. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian dipenthouse apalagi dengan keadaanmu seperti ini. Marry tidak bisa menjagamu. Ia punya keluarga yang harus ia urus. Bunda akan menemanimu disini. Juga ada maid yang bisa membantumu jika perlu sesuatu. Aku tidak bisa membawamu kekantor lagi. Aku tidak ingin." Enrique kembali menjelaskan dengan panjang lebar.


Liza menghembuskan nafasnya lelah. Namun ia tersenyum saat Marissa keluar dan menyambutnya dengan semangat. Siapa yang tidak tertulatr cerianya?? Pikir Liza.


"Ohh...my, came in I'm so glad you came here" ( Masuklah, aku sangat senang kamu kesini). Sambut Marissa gembira sembari memeluk Liza hati-hati.


"I'm so sad to hear you hurt darling"


(aku sedih mendengar kamu terluka sayang). Marissa menatap Liza prihatin.


"I am okay now... (aku baik baik saja sekarang). Liza tersenyum kecil.


"Mom please keep Liza until I pick her up" (bunda tolong jaga Liza sampai aku menjemputnya) Enrique memeluk marissa dengan sayang.


Marissa tersenyum penuh pengertian melihat begitu khawatirnya putranya dengan istrinya.


"Its ok...i will keep her very well" (baiklah, aku akan menjaganya dengan baik).


"Aku akan menjemputmu nanti pricess, jaga dirimu" pesan Enrique sembari memeluk istrinya dan berlalu masuk kemobil.


Liza dan Marissa melambaikan tangan.


Enrique melajukan mobilnya menuju kantor. Ia sudah menyuruh Alex memanggil Clara kekantor dan menunggunya datang. Setelah insiden itu para karyawan tim satu memilih untuk kembali ke London juga mengikuti Enrique. Tapi Alex memberikan dispensasi 3 hari libur dan tunjangan kepada mereka sebagai gantinya. Enrique dengan bijak menyetujui keputusan Alex. Sudah pasti mereka tidak akan melanjutkan Liburan mereka setelah insiden itu karena walau Enrique bukan bos yang ramah tapi mereka sangat menyegani Enrique.


Enrique memarkirkan mobilnya asal. Kemudian berjalan melenggang dengan langkah lebar menuju kantornya.


Enrique membuka pintu kantornya. Disana Clara duduk dengan wajah menunduk didepan mejanya. Enrique menarik nafasnya kasar. Walau bagaimanapun Clara sudah berkontribusi besar untuk perusahaannya. Jadi ia tidak akan mungkin memecat Clara. Ia hanya ingin Clara sadar. Bahwa apa yang Clara lakukan sangat salah.


"Sir..."Clara segera berdiri kikuk menyambut kedatangan Enrique dengan wajah kerasnya.


"**** down!" Enrique mempersilahkan Clara duduk kembali.


Enrique meletakkan tasnya asal kemudian melonggarkan dasinya.


Ia masih berdiri menatap Clara dengan pandangan menusuk.


Clara tiba-tiba menangis dan bersujud dikaki Enrique.


"I'm sorry sir, I know I'm wrong, very wrong, I do not mean to hurt your wife. Forgive me. please do not fire me! (Maafkan aku tuan, aku tahu aku salah, sangat salah, aku tidak bermaksud menyakiti istri anda. Maafkan aku. tolong jangan pecat aku!).


Enrique menuntun Clara kembali ketempat duduk. Ia tahu Clara wanita yang baik. Ia sangat menyukai kinerja Clara. Ia karyawan yang ulet dalam bekerja. Ia juga punya toleran yang tinggi pada rekan kerjanya. Tapi kenapa Clara berubah begitu menyangkut perasaannya? Pikir Enrique.


"Just listen Clara...i know you love me" ( Dengarkan Clara, aku tahu kamu mencintaiku). Enrique menekankan setiap katanya.


Clara mendongak terkejut, wajahnya pias karena malu.


"But i can't love you, my heart is full of my wife. I know her so far away than i know you...(Tapi aku tidak bisa mencintaimu, hatiku sudah penuh oleh istriku. Aku mengenalnya jauh sebelum mengenalmu). Lanjut Enrique.


"You are beautiful and smart, you can find a good man but not me. Just open your heart" (Kamu cantik dan pintar, kamu dapat menemukan lelaki yang baik tapi bukan aku. Bukalah matamu).


Clara kembali menangis. Ia menyesal telah melakukan kesalahan itu. Sangat menyesal.


"I will not fire you, but I'm gonna move you to our company's branch in Southampton" (Aku tidak akan memecatmu, tapi aku akan memindahkanmu kecabang perusahaan kita di Southampton).


Ucap Enrique tegas.


Clara berhenti menangis kemudian kembali hendak bersujud kepada Enrique. Tapi ditahan olehnya.


"Thank you sir...thank you" Ucap Clara penuh syukur. Inilah yang sangat disukai Clara dari seorang Enrique. Semarah apapun dia. Ia takkan pernah menyulitkan karyawan yang berdedikasi tinggi untuk perusahaan. Ia akan memberikan keputusan bijak yang bisa diterima semua orang.


" Just remember, do not do the same mistake again. And you do not have a day off like the others. Do your unfinished work. finish before you move" ( Hanya ingat, jangan lakukan kesalahan yang sama lagi. Dan kamu tidak punya hari libur seperti yang lain. Kerjakan pekerjaanmu yang belum selesai. selesaikan sebelum kamu dipindahkan). Titah Enrique.


"Yes sir...sahut Clara tersenyum tulus. Biarlah ia melepaskan cinta terpendamnya sebagai hukuman atas perbuatannya. Setidaknya ia masih punya tiga hari untuk melihat Enrique. Dan satu bulan sekali Enrique pasti akan memeriksa kantor cabang. Pikir Clara.


Enrique mendesah pelan. Semoga tidak ada kejadian buruk lagi menimpa istrinya setelah ini. Pikir Enrique.


Tinggal meeting dengan tuan Adam dirumah kediaman Adam yang harus dipikirkannya sekarang. Apa ia harus membawa Liza atau tidak? Kalau ia membawa Liza. Liza pasti akan sangat senang bertemu Rizky. Entah mengapa sebenarnya Enrique tidak cemburu sama sekali dengan Rizky. Cara Rizky memandang Liza bukanlah cara pandang seorang lelaki yang menyukai wanita. Ia juga sangat sadar kalau istrinya sangat mencintainya.


Enrique kembali berkutat dengan file-file didepannya. Ia harus cepat pulang. Untuk menjemput istrinya. Pikir Enrique.


***


Liza terkikik pelan mendengarkan cerita masa muda Marissa. Ternyata Leon adalah lelaki yang sangat romantis. Marissa menceritakan bagaimana manisnya seorang Leon yang selalu menggombali Marissa setiap pagi dengan puisi gilanya didepan teman-teman Kuliahnya. Tentu saja itu memalukan tapi romatis dalam waktu bersamaan.


Marissa merasa begitu senang bisa menghabiskan waktu bersama Liza. Liza mengajarkannya membuat kue bolu yang sangat lembut hanya dari bahan-bahan didapurnya. Marissa merasa malu dengan Liza. Karena sampai diusianya yang sekarang ia bahkan belum pernah membuat kue sendiri.


Tanpa terasa waktu sudah sore. Klakson mobil Enrique mengaburkan obrolan panjang mereka.


"Enrique has arrived, let't we see..." (Enrique sudah tiba, ayo kita lihat). Ajak Marissa.


Marissa dan Liza menyambut kedatangan Enrique dipintu depan. Enrique yang kelihatan sangat lelah masih bisa tersenyum melihat keakraban dua wanita paling berarti dalam hidupnya itu.


"Sudah selesai? Ayo kita pulang" ajak Enrique pada Liza sembari menyalami dan memeluk Marissa.


"See you later mom" Liza memeluk Marissa dengan sayang kemudian berlalu mengekor Enrique kemobil.


"Okay...becareful darling" Marissa melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.


"Are you okay?" Liza bertanya menatap Enrique khawatir.


"Aku baik baik saja princess, tidak usah khawatir" jawab Enrique sembari tersenyum lembut.


"Miss you...ucapnya rendah sembari mengecup singkat bibir lembut istrinya.


"Miss you too...balas Liza tersenyum merona.


...***...