
~Mengapa selalu saja ada orang diluar sana yang mengusik hidupku~Liza
Liza turun dari mobil dengan lesu, masih digandeng Enrique. Karyawan sudah menunggu kedatangan mereka tujuh pria dan 13 wanita. Mereka berdiri bersamaan menyambut kedatangan Enrique.
Enrique terus menggandeng Liza berlalu dari hadapan mereka mendahului masuk kepesawat. Ya beginilah Enrique. Pikir Liza. Sudah datang belakangan bukannya menyapa karyawan malah nyelonong duluan. Liza hanya bisa geleng-geleng kepala. Karyawan yang sedari tadi menunggu Enrique dengan patuh mengikuti bosnya. Mereka masuk kelas bisnis tanpa banyak bicara.
Enrique bersandar dengan nyaman dikursinya. Sedangkan Liza memandang dua wanita disebelahnya dengan tidak nyaman. Mereka berbisik rendah. Entah apa yang mereka bicarakan. Liza berusaha bersikap biasa dan mengacuhkan mereka.
Selang beberapa lama.
"Kamu tidak tidur?" Enrique melirik istrinya heran. Karena biasanya Liza sangat mudah tertidur diperjalanan seperti sekarang.
"Aku tidak mengantuk" jawab Liza asal.
Enrique menyerngit namun mengabaikan saja tingkah aneh istrinya. Enrique menyandarkan kepalanya dibahu Liza.
"Enrique...malu dilihat yang lain" tolak Liza.
Enrique mendongak menatap wajah istrinya.
"Any something wrong?" Enrique mengerutkan keningnya.
"Tidak... hanya saja, aku malu" Liza bersikeras.
"Princess, kamu itu istri aku...jadi kenapa harus malu sih?" Enrique berbisik keras ditelinga Liza. Liza memutar bola matanya jengah. Percuma berdebat dengan Enrique. Tidak akan ada habisnya. Pikir Liza sembari menyenderkan kepala Enrique kembali kebahunya dan ia pun ikut bersandar. Biarkan saja apa kata orang. Liza memejamkan matanya dengan paksa. Karena memang Lizanya tukang tidur. Jadilah Liza yang tidur sangat nyenyak. Enrique sampai geleng-geleng kepala melihat betapa mudahnya istrinya tidur padahal baru beberapa menit berkata tidak ngantuk. Ada ada saja. 😅
Liza bangun sesaat sebelum pesawat turun. Enrique menuntun Liza turun dengan lembut. Karyawan wanita yang melihat mereka sebagian ada yang tersenyum sebagian melirik sirik.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan bus wisata ke hotel Shangri-la untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Sesampainya dihotel mereka diberikan kartu kamar masing-masing deluxe room. Hanya Liza dan Enrique yang mengambil satu kartu kamar untuk suite room.
Enrique melenggang menuntun Liza kekamar mereka. Tanpa pamit lagi. Emang dasar Enrique batu. Pikir Liza.
Mau tidak mau Liza mengekor Enrique pasrah sampai didepan pintu kamar hotel mereka. Enrique membuka pintu kamar hotel dengan menggesek kartu tersebut.
"Tara..." Enrique membuka pintu kamar dengan lebar.
Liza melongo. Oh my. Kamar itu tidak seluas kamar penthouse mereka tapi dari sana mereka bisa melihat pemandangan menara Eiffel dengan sangat jelas jika pintu balkon dibuka. Dan diluar sana terdapat beberapa kursi dan meja santai yang sangat nyaman.
"Hei...jangan melamun, aku mandi dulu" ucap Enrique mengaburkan lamunan istrinya sembari mencium pipi Liza cepat kemudian berlalu kekamar mandi.
Liza menggelengkan kepalanya gemas dengan kelakuan suaminya. Kemudian dengan cepat menyiapkan pakaiannya dengan Enrique. Malam ini agenda mereka hanya jalan-jalan, jadi Liza mengeluarkan baju santai. Semoga semuanya berjalan lancar. Pikir Liza.
***
Liza mengekor Enrique yang sedang berbicara santai dengan Alex sembari mengitari taman Eiffel. Karyawan yang lain sudah menyebar kemana-mana. Mereka tertawa cekikikan sambil bergroupi ria. Hanya Liza yang merasa bosan ditengah banyak orang.
Liza berhenti digazebo terdekat duduk meregangkan kakinya. Entahlah Liza merasa bosan, padahal ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Paris. Ia memijit kakinya. Sampai tidak sadar ada yang duduk disampingnya.
"Are you tired of being a cinderella, Mrs?" (Apa kamu lelah menjadi cinderella, nyonya?)
Sindir seorang karyawati Enrique yang belakangan ia tahu bernama Clara.
...
...
Liza mendongak memandang wanita yang sedang duduk disampingnya. Dia adalah wanita yang duduk disamping mereka saat dipesawat. Cantik. Tapi mulutnya itu lho.
"Maybe" (mungkin). Jawab Liza acuh. Ia tetap memijit kakinya dengan acuh. Ia sangat tahu tujuan wanita ular seperti dia apa. Karena jika kamu sering menonton sinetron Indonesia kamu akan sangat tahu apa maksud siwanita ular ini. Pikir Liza.
"You know what, i think Enrique just not realize how is worse you are and if he has realize. He will go away from you soon." (Kamu tahu apa, saya pikir Enrique tidak menyadari betapa buruknya kamu dan jika dia menyadari, dia akan menjauh dari kamu, segera) wanita itu berbicara seolah menggumam pada dirinya sendiri. Pasalnya ia berbicara sambil memandang karyawan lain yang sedang asik berfoto didepan mereka.
Liza mengehembuskan nafasnya kasar. Sabar. Ia hanya sedang mengujimu. Jika kamu juga menyalak balik lalu apa bedanya kamu dengannya? Pikir Liza.
"Aha? Just let him think later" (aha? Biarkan saja dia berpikir nanti). Sahut Liza.
Clara mulai panas. Bukan begini respon yang ia inginkan.Ia menatap Liza dengan pandangan menusuk.
"You..." perkataannya terpotong saat Enrique memanggil Liza dan berjalan kearah mereka.
"Princess...kenapa kamu disini?" Enrique berjalan mendekati mereka kemudian menggandeng Liza berjalan menjauh. Tanpa menghiraukan Clara yang menatap mereka dengan pandangan murka.
"Ah...namanya clara? Entahlah tidak penting" Liza menjawab acuh.
"Benarkah? Kenapa aku mencium bau ketegangan?" Lanjut Enrique masih penasaran.
"Entahlah" jawab Liza malas.
"Baiklah...aku berhenti bertanya" ucap Enrique pasrah. Sembari berjalan kembali ke hotel. Rencananya mereka akan dinner dihotel saja. Karena mereka pikir dinner direstorant hotel tidak kalah menakjubkan.
Liza masih saja berdiam ditengah dentingan garpu dan pisau makan diantaranya. Semua karyawan berbincang ria bahkan ada yang berselfi. Liza memasukkan stik daging kemulutnya dengan malas. Ia merasa mual. Selang beberapa menit ia pamit. Ia sudah tidak tahan dengan rasa mualnya.
Liza beranjak dari duduknya. Enrique menatap istrinya dengan pandangan bertanya.
"Mau kemana?"
"Aku mau ketoilet sebentar" jawab Liza sambil lalu.
"Perlu kutemani?" Enrique menahan tangan Liza.
"Tidak perlu" Liza meyakinkan kemudian cepat berlalu.
Sesampainya ditoilet wanita Liza memuntahkan semuanya. Makanan itu tidak cocok dengan perutnya. Babynya tidak suka. Pikirnya.
Liza melap mulut dan tangannya dengan tisu di westafel. Ia merasa ada seseorang dibelakangnya. Liza berbalik dan melihat Clara yang sedang bersandar didinding sambil melipat tangannya didepan dada.
"Not familiar with expensive food, hah?" (Tidak terbiasa dengan makan mahal, hah?). Ejek Clara dengan wajah meremehkan.
Liza mengacuhkan Clara kemudian berjalan berlalu ingin keluar toilet. Percuma meladeni wanita sepertinya. Pikir Liza. Tapi tiba-tiba saja Clara menahan tangannya.
Liza terpaksa berhenti dan menatap Clara geram.
"What do you want exactly?" (Apa yang kamu inginkan sebenarnya). Tanya Liza dengan nada setenang mungkin.
"Ahh..what i want?" (Ahh..yang kuinginkan?). Clara tertawa dibuat-buat.
"You think, any something special from you till i want?" (Kamu pikir ada sesuatu yang spesial darimu hingga aku ingin?). Clara kembali mencemooh Liza.
"So what?" (Lalu apa). Liza mulai geram.
"I just want you go away from Enrique" (Aku hanya ingin kamu pergi dari Enrique). Clara mendorong Liza dengan kasar.
" Hei...!!!" Liza mulai tidak sabar.
"Who are you so dare told me leave Enrique my husband??" (siapa kamu sehingga beraninya menyuruhku meninggalkan Enrique suamiku??). Liza mulai emosi. Kenapa selalu saja ada wanita seperti ini dikehidupanku. Pikir Liza.
"You..." Clara kembali mendorong kali dengan sekuat tenaganya.
Liza yang memang tidak sekuat Clara tentu saja terjatuh kelantai.
"Arghhh...." Liza berteriak kesakitan. Ia terjatuh dengan posisi menahan perutnya. Ia masih bisa memikirkan Babynya sebelum jatuh. Jadilah tangannya yang patah.
"Krakk...." Liza menahan sakit ditangannya hingga airmatanya keluar.
Clara yang melihat keadaan Liza seketika panik. Ia tidak bermaksud akan sekasar itu dengan Liza. Ia hanya geram dengan respon Liza yang biasa saja. Ia mencintainya Enrique sejak pertama kali bekerja di perusahaan Enrique. Enrique pria yang selalu diimpikannya. Ia bekerja dengan sangat keras hingga menduduki posisi General Manager Tim satu ini karena ingin semakin dekat dengan Enrique. Ia selalu menyapa Enrique dengan riang saat bertemu walau kadang diacuhkan Enrique. Semua karyawan tahu bahwa Clara menaruh hati dengan bos mereka. Tapi apa yang ia dapat? Hanya sakit hati yang ia rasakan ketika mendengar Enrique menikah dengan seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dikehidupan Enrique. Ia tidak rela Enrique bersama wanita lain.
Liza masih berteriak kesakitan saat orang-orang bergerombol melihatnya. Clara juga tidak bereaksi apa-apa karena bingung. Sampai suara Enrique menyadarkan keduanya.
"Princess!!!" Enrique berteriak lantang. Ia curiga karena Liza belum juga datang kerestorant sejak ijin ketoilet dan berniat mencari Liza. Ia terkejut begitu banyak orang berkumpul disana. Sampai mendengar suara teriakan kesakitan Liza yang sangat ia kenal.
Mata Enrique membulat melihat Istrinya terduduk dilantai kesakitan. Dengan sigap ia menggendong istrinya. Ia menatap Clara dengan garang. Ia tahu pasti semua ini ada hubungannya dengan Clara. Sebenarnya ia curiga saat Clara ijin ketoilet mengekor Liza. Enrique tahu dengan pasti perasaan Clara kepadanya. Tapi ia tidak pernah menggubrisnya sampai sekarang. Tapi jika ini berimbas pada istrinya. Ia tidak akan segan-segan mengenyahkan Clara dari perusahaannya.
"Sakit..." Liza menahan sakitnya saat Enrique menggendongnya.
"Shh....bertahanlah" ucap Enrique lembut. Ia menyuruh Alex yang sedari tadi menatap mereka khawatir memanggilkan mobil untuk membawanya kerumah sakit terdekat. Jika tahu semuanya akan begini. Ia tidak akan ikut Liburan ini. Pikir Enrique. Entah mengapa istrinya selalu saja tersakiti.
Enrique menurunkan Liza masuk kedalam mobil dengan perlahan sebelum ia masuk disamping istrinya. Liza masih saja menangis sengungukan memegang tangannya.
"Shhh.....Enrique memeluk istrinya sayang.
"Bertahanlah".
***