
~GOD always has something for you, a key for every problem, a light for every shadow, a relief for every sorrow and a plan for every tomorrow~ Author.
"Aaaa....." terdengar suara tangis seorang bocah laki-laki dari ruang tamu.
Enrique dengan segera melompat dari kursi dapur dan berlari keruang tamu segera.
Liza hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum kecil. Ya, itu adalah suara tangis Christian Alfaro Leonardo anak bungsu mereka.
Itu bukan jenis tangisan yang akan membuat Liza melompat dan berlari melihat anaknya dengan wajah tegang Enrique. Ck.
Seketika Enrique kembali menggendong Christian yang memegang cokelatnya.
"I do not bother him, he drops his chocolate and cry" (Aku tidak mengganggunya, ia menjatuhkan cokelatnya dan memangis) terang Naya sembari memeluk Liza meminta pembelaan.
"Its ok, baby girl you are not wrong" ucap Liza sembari mengusap punggung Naya sayang. Anak perempuannya yang satu ini begitu lembut hatinya. Ia berbicara sangat sedikit. Ia akan mengatakan semuanya dengan jujur. Ia tidak pernah berbohong. Jauh berbeda dengan Rinnai yang hiperaktif teriak sana teriak sini. Dan kadang berbohong jika salah. Ck.
"Mommmm!!!" teriak Rinnai dari ruang tamu. (See? Ck.)
"Yaa???" Sahut Liza sembari menggendong Naya berjalan keruang tamu.
Disana ada Rizky dan Valentine bersama Ozera anak mereka yang baru berumur enam bulan. Dan.... Nicho.
"Nicho!!!" Seketika Liza melepaskan Naya perlahan dan memeluk Nicho segera.
"Hei..." Nicho tersenyum dibalik pelukan Liza.
Liza seketika menangis kencang. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Ia sangat senang melihat Nicho sudah bebas. Ya, saking sibuknya ia dengan anak-anaknya. Ia sampai lupa kalau hari ini adalah hari kebebasan Nicho. Oh my.
" Shh... " Nicho mengusap punggung Liza dengan sayang. Liza sangat sering mengunjunginya dipenjara dengan atau tanpa baby twin. Namun sejak kehamilannya yang kedua Liza jadi jarang menjenguknya. Nicho berpikir positif dan menunggu dengan sabar hingga masa hukumannya berakhir.
Pagi tadi ia menyangka tidak ada satu orangpun yang akan menyambut hari kebebasannya. Namun ia salah, Rizky dengan keluarga kecilnya menunggunya dengan senang. Ia tidak bisa menjelaskan betapa senangnya ia melihat kebahagiaan Rizky sepupunya itu. Ia hanya berharap semoga kebahagiaannya akan segera hadir juga. Dan disinilah ia sekarang memeluk Liza yang tak kunjung berhenti dari tangisnya.
"Momm...stop crying you are not child, right?" Suara kecil siapa lagi kalau bukan Naya yang mengintrupsi tangis mommynya. Seketika semua orang dewasa diruangan itu tertawa. Kecuali Rinnai dan Naya tentunya.
Liza seketika berbalik menggendong Naya. Dan mencubit pipi anaknya itu dengan gemas.
"Uhhh...." Liza mencubit pipi tembem Naya dan kemudian menciumnya dengan sayang.
Mereka mengobrol dengan asyik. Seketika penthouse mereka ramai dengan macam-macam obrolan dan tawa sesekali serta kekonyolan Rinnai dan tangis Christian.
***
"Enrique!" Sekali lagi Liza berseru tidak terima dengan perlakuan Enrique. Bagaimana tidak? Ia diculik suaminya sendiri ditengah tidurnya dan ditutup mata! Oh yang benar saja.
"Shh...sebentar lagi kita sampai sayang, bersabarlah!" Kata Enrique menahan senyumnya. Arlojinya menunjukkan pukul 00.05. Hari ini adalah ulang tahun istrinya!!! Dan ia akan memberikan kejutan.
Selang beberapa lama mereka berhenti. Enrique menuntun Liza turun dan memandunya untuk berdiri tegak dan kemudian membuka penutup mata Liza.
Liza begitu kesal. Bagaimana tidak? Ia diculik suaminya dengan hanya menggunakan gaun tidur tipis. Tidak bisakah Enrique lebih menyebalkan dari ini? Tentu saja tidak. Batinnya kesal.
Namun kekesalannya berubah menjadi kekaguman luar biasa saat memandang bangunan didepannya dengan mulut menganga. Pasalnya bangunan itu adalah sebuah rumah mewah yang sederhana namun begitu mempesona.
"Enrique?" Seru Liza.
"Happy birhtday...princess" Enrique merentangkan kedua tangannya mempersembahkan rumah itu untuknya. Untuk mereka tinggali.
Sejak kelahiran baby twin, Enrique merasa Penthouse tidak lagi cocok untuk mereka tinggali. Enrique mengharapkan halaman luas untuk anak-anaknya bermain. Dan pilihannya terpatri pada rumah didepan mereka sekarang. Memang tidak terlalu besar tapi setidaknya nyaman untuk keluarga kecil mereka. Dan Enrique tahu pasti kalau Liza tidak senang dengan rumah yang terlalu besar. Tahu saja, kalau istrinya itu begitu penakut.
Liza tak kuasa menahan tangis harunya. Dengan penuh pengertian Enrique memeluk istrinya yang menangis bahagia itu. Syukurlah.
"Terima kasih" ucap Liza tulus.
"Shh...kamu tak perlu berterima kasih princess" kata Enrique sembari mengusap punggung istrinya dengan sayang.
Ia tahu dengan sangat pasti penderitaan yang dialami istrinya selama ini. Ia hanya bisa berharap semoga setelah ini tidak ada lagi penderitaan menghampiri istrinya.
Setelah apa yang mereka lalui, ia sangat bersyukur mempunyai istri sesempurna Liza baik fisik maupun hatinya.
"Boleh kita masuk?" Tanya Liza membuyarkan lamunan suaminya.
"Tentu saja" jawab Enrique sembari menyerahkan kunci rumah baru mereka.
Liza melangkah dengan lebar, ia tidak sabar untuk melihat keadaan didalam rumah baru mereka.
Liza membuka pintu perlahan. Dan tebentanglah pemandangan indah sebuah rumah yang akan membuat siapa saja menjadi tenang. Ruangan itu didominasi warna hijau dan cream. Didalam rumah terdapat tanaman bambu hias yang menambah kesan alaminya. Terdapat empat kamar tidur yang luas dan pantry dapur yang terlihat seperti bar dengan gelas bergelantungan. Dan ruang keluarga+ruang TV yang dilengkapi tiga sofa panjang yang sangat nyaman dilihat. Liza tak hentinya masuk kamar yang satu kekamar yang lain. Ia terlihat sangat senang.
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" Enrique bertanya was-was. Liza membulatkan matanya menatap suaminya.
"Bagaimana??? Tentu saja aku suka Enrique, ini adalah terindah yang pernah kuterima. Kau tahu?" Liza berteriak sembari memeluk Enrique. Ia sudah lupa akan ngantuk dan sebalnya pada Enrique. Ia sangat senang.
***
Liza mengerjapkan matanya terkejut. Pasalnya diluar sangat ribut. Ia melihat jam dinakasnya 06.07. Siapa yang membuat kegaduhan di pagi buta ini? Ia melirik disamping tempat tidurnya. Enrique sudah tidak ada.
Baru saja Liza ingin bangun wajah polos Naya muncul.
"What happen baby girl?" Liza bertanya lembut.
Naya mendekat dengan wajah bimbang.
"Heumh? Liza bertanya lagi.
"They are will came here bring cake with candle burns" (Mereka akan datang kesini membawa kuce dengan lilin menyala) ucap Naya sembari bergelung dengan ibunya.
Liza menyerngit kemudian tertawa terbahak-bahak. Naya memandang mommynya dengan bingung.
Bagaimana tidak? Baby twinnya yang polos ini sudah menggagalkan rencana entah berapa orang diluar sana yang sedang berkasak kusuk.
"Why mommy laugh?" Tanya Naya bingung.
"Its ok...baby, you are so cute" ucap Liza sembari memeluk erat baby twinnya. Liza menutup bantal gulingnya dengan selimut kemudian menggendong Naya mendekati pintu dan bersembunyi dibaliknya.
Selang beberapa menit terdengar suara kasak kusuk didepan pintu kamarnya. Dengan perlahan pintu kamarnya terbuka. Kepala Enrique melongok lebih dulu. Mereka berjalan mendekati ranjang dan bersiap membuka selimut.
"Happy..." kalimat mereka terpotong begitu melihat bahwa hanya guling yang ada dibalik selimut.
"Ahahaha" terdengar suara tawa Liza dari belakang mereka.
Enrique, Rizky, Marissa, Leon, Valentine, Nicho, serta Rinnai spontan melihat kebelakang dengan wajah melongo.
Seketika mereka semua paham apa yang baru saja terjadi.
"Naya!" Semua orang bersama-sama menyerukan nama Naya. Naya hanya bisa meringkuk dipelukkan mommynya.
***
Ruang tamu penthouse mereka berubah menjadi ruang pesta ulang tahun yang begitu meriah.
"Kamu tahu princess, kadang baby twin bisa begitu menyebalkan" kata Enrique sembari menggelungkan tangan dileher istrinya.
Liza terkikik pelan.
"Hei...jangan mengungkit hal itu lagi nanti Naya menangis" sahut Liza sewot.
Enrique tersenyum dibelakang Liza.
Marissa mendekati mereka berdua.
"Hei...beautiful girl" Marissa seketika memeluk Liza dengan sayang, kemudian melepaskan pelukkannya.
"This gift for you" ucap Marissa sembari menyerahkan kado kecil ketangan Liza yang ternyata adalah kunci mobil sport warna biru. Oh my.

Liza seketika memeluk Marissa dan Leon penuh syukur.
"Thanks mom, dad" ucap Liza menahan tangis haru.
Kemudian mereka memberi Liza hadiah satu persatu. Liza mengucap terimakasih kepada mereka satu persatu.
Sebenarnya Liza sangat senang, bukan karena hadiah yang mereka berikan. Tapi karena kehadiran mereka. Mereka yang dulu tidak dimilikinya. Dulu ia merasa akan sebatang kara selamanya. Tapi presepsi itu berubah semenjak kehadiran Leya, kemudian Enrique dihidupnya.
Liza tersenyum sembari menggendong baby Christian dan sesekali terbahak melihat tingkah aneh keluarga besarnya.
Baby twin memegang baby Ozera dan membuatnya tertawa berkali-kali.
Liza tak pernah membayangkan akan memiliki kebahagiaan sebesar kebaagiaannya sekarang. Dan ia percaya bahwa dalam hidup kita hanya perlu bersyukur dan menjalani semuanya dengan tulus. Maka Tuhan akan membuat semuanya lebih baik.
Enrique memeluknya erat.
Thanks God. For Everything in my life.
~Author_Lala
~The End~