From Wa To London

From Wa To London
Part Seven (Can't You Just Look At Me?)



~Aku tau sakit yang kamu rasa, tapi hatiku hanya untuk DIA~Liza


Liza menepati janjinya, ia bertahan hidup. Setiap pagi ia kedapur membantu Margareth menyiapkan sarapan. Ia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri dalam keadaan seperti ini. Ia akan bertemu Enrique segera. Ia tahu dengan pasti kalau sekarang Enrique sedang mencarinya. Dan ia yakin Enrique akan menemukannya cepat atau lambat. Dan selama itu ia akan hidup dengan baik.


"Hey...Nicho menyapa sembari berjalan mendekat.


Liza hanya tersenyum simpul. Nicho terlihat mengesankan memakai jas kantoran seperti itu.


"Good Morning, Sir...Margareth menyapa sopan.


"Morning Margareth...Nicho membalas.


"Apa yang kalian masak?" Nicho bertanya pada Liza sembari mengintip makanan yang hampir masak itu.


"Entahlah...aku hanya membantunya menyiapkan bahan" Liza menyengir kuda karena memang bukan rahasia kalau Liza tidak terlalu pandai memasak, selama dikontrakkannya di Indonesia ia terbiasa makan mie instan serta makanan siap saji lainnya. Ia tidak punya tenaga lebih setelah pulang bekerja.


Nicho mengacak rambut Liza dengan sayang.


"Hey hentikan...tidak sopan" Liza pura-pura mendelik, yang malah membuat Nicho mencubit pipi tembemnya. Liza hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nicho. Nicho yang sebenarnya telah kembali. Pikir Liza. Liza menyiapkan peralatan makan. Nicho pun berjalan kemeja makan dan duduk dengan rapi. Selang beberapa lama Liza menyusul dan duduk disalah satu kursi didekatnya.


"Apa yang akan kamu lakukan hari ini?" Nicho bertanya sembari mengiris roti panggangnya.


"Entahlah" Liza membalas dengan mulut penuh.


"Kamu mau ikut denganku?" Nicho bertanya penuh harap.


"Kemana?" Liza balik bertanya.


"Kekantorku...Nicho menyahut dengan mulut penuh juga. Masakan Margareth adalah masakan paling enak yang selalu Nicho rindukan saat berpergian jauh. Margareth tahu caranya mempertahankan cita rasa dalam setiap masakannya.


"Eummhh....baiklah" Liza menjawab antusias. Lebih baik ia keluar dan menghirup udara segar bukan? Dari pada berdiam diri.


Setelah selesai makan Liza naik pergi kekamar menggosok gigi dan merapikan dandanannya sebelum kemudian keluar menemui Nicho yang telah menunggunya.


Liza mengekor dengan senang. Ia ikut bersama Nicho kekantor dengan mobil yang dijalankan supirnya. Inilah perbedaan Enrique dengan semua lelaki kaya yang pernah ia kenal. Walaupun Enrique berkelimpahan uang, ia tidak akan menggunakan orang lain untuk hal yang bisa ia lakukan sendiri. Batin Liza.


Selang beberapa lama mereka sampai dikantor Nicho mereka dihadang para pengawal yang membukakan pintu untuk mereka.


Perusahaan Nicho sangat besar. Perusahaannya bergerak dibidang asuransi. Semua orang tampak sibuk, mereka memberikan anggukan hormat saat Nicho melewati mereka. Tidak ada raut takut kepada bos seperti diperusahaan lain. Mereka sepertinya segan pada Nicho. Pikir Liza.


Mereka sampai didepan ruangan Nicho, Nicho membukan pintu ruangannya dan mempersilahkan Liza masuk terlebih dahulu.


"Tunggulah disini, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Nanti kamu akan ku ajak jalan-jalan".


Pinta Nicho sembari mendudukkan Liza di Sofa.


"Siapp boss..." Liza mengangkat tangan hormat. Seketika ia teringat Enrique. Bukankah itu hal yang biasa ia tunjukkan pada Enrique? Bagaimana keadaan Enrique sekarang? Apa dia juga merindukanku?


Nicho menyerngit melihat perubahan raut muka Liza.


"Ada yang salah?" Nicho menyela lamunan Liza.


"Ahh...its ok, fine...Liza berusaha tersenyum dengan segera duduk manis di sofa yang ditunjuk Enrique.


"Baiklah...Nicho meninggalkan Liza berjalan ke tempat duduknya.


Liza duduk dengan patuh. Awanya ia begitu antusias memperhatikan setiap sudut ruangan Nicho. Namun lama kelamaan ia bosan. Ia mulai memainkan kakinya. Kemudian tangannya. Selang beberapa menit ia berhebti dan merebahkan kepalanya dipinggiran sofa, ia pun tertidur.


"Hey....wake up Liza". Nicho membangunkan Liza pelan.


Liza tidak bergerak sedikit, namun kembali tidur. Ya ampun.


"Liza wake up...." Nicho mengguncang tubuh Liza pelan.


"Sebentar Enrique..." Liza menggumam malas.


Tubuh Nicho menegang. Ia tidak menyangka bahkan saat tidurpun Liza masih mengingat Enrique.


"Liza!!!" Nicho menaikkan suaranya beberapa oktaf sampai siempunya nama terbangun.


"Ahh...maaf, aku tertidur." Liza menyerngit kemudian mengucek matanya pelan.


Nicho hanya diam tanpa kata. Kemudian berlalu dari hadapan Liza keluar kantor.


"Mau kemana kita?" Liza bertanya bingung dengan perubahan sifat Nicho kemudian berdiri dengan sangat malas.


"Makan" Nicho berujar singkat.


Liza mengekor Nicho dengan lesu. Nyawanya seolah belum kembali. Lehernya kaku karena posisi tidurnya yang tidak nyaman. Ia masih saja bersandar di dinding saat didalam lift.


Nicho yang melihat Liza masih mengantuk merasa bersalah karena membangunkannya dengan kasar.


Memangnya kenapa kalau ia masih mengingat Enrique? Apa dia cemburu? Ada apa dengan hatinya? Mengapa ia sangat tidak suka jika Liza mengungkit sedikit saja tentang Enrique?Apa sekarang tujuannya membuat Enrique menderita sudah berpaling menjadi obsesi untuk memiliki Liza?


Nicho menggelengkan kepala menghilangkan pikirannya.


"Nothing...jawab Nicho berbarengan dengan terbukanya lift.


Nicho terus berjalan hingga sampai kekantin perusahaan.


Liza melongo melihat kantin yang lebih menyerupai Restoran.


Nicho mendekati seorang lelaki yang duduk disalah satu meja kantin.


"Uncle..." Nicho memanggil lelaki itu. Liza sangat terkejut saat lelaki itu berpaling. Professor Aitken?


"Nicho...sambut Professor.


"Ahh....Liza, kamu pasti terkejut. Sebenarnya Professor Aitken adalah pamanku, kakak ibuku tepatnya" Nicho menjelaskan menjawab raut muka Liza yang bingung.


Liza hanya tersenyum kemudian ikut duduk disamping Nicho.


"Apa khabar Liza?" Professor Aitken tersenyum ramah. Ahh...yang benar saja? Ia juga bisa bahasa Indonesia? Kebohongan apa lagi sekarang? Pikir Liza.


"Fine...Proff, thanks...jawab Liza tanpa minat.


"Ahh...baguslah" Professor Aitken tersenyum tidak nyaman, ia tahu dengan pasti apa yang ada dibenak Liza sekarang setelah melihatnya.


Liza lebih banyak diam setelahnya. Iapun makan dalam diam. Begitu banyak pertanyaan yang ada dikepalanya. Ia ingin pergi. Toilet. Ya benar, ia harus ke Toilet sekarang.


Liza berdiri tiba-tiba.


"Ada apa?" Nicho menyerngit menatap Liza.


"Aku mau ke toilet" Liza berujar singkat.


"Biar ku antar...Nicho beranjak berdiri. Namun baru saja ia ingin melangkah mengikuti Liza. Tiba-tiba saja Liza jatuh pingsan. Oh my....


"Shitt!" Nicho dengan sigap menggendong Liza dan berlari menuju parkiran mobilnya.


***


Nicho bergerak gelisah menunggu dokter memeriksa Liza. Ia tidak peduli dengan keringatnya. Ia gugup. Apa yang terjadi pada Liza? Pikirnya.


Selang beberapa menit dokter itu berhenti melakukan pemeriksaan. Ia tersenyum melihat Nicho yang begitu cemas.


"Be calm your wife is fine, she only has stomach cramps. I've given the antidote she will soon be aware." (Tenanglah istrimu baik baik saja, dia hanya kram perut. Saya sudah memberinya obat penawar. Dia akan segera sadar) Dokter itu berlalu meninggalkan Nicho yang menghembuskan nafas lega. Ini semua pasti gara-gara kekeras kepalaan Liza yang tidak mau makan tempo hari. Pikir Nicho.


Andai saja ia tidak bersikap kasar pada Liza. Ia pasti akan menurut dengan senang hati. Ini semua salahnya.


Nicho dari awal sudah tau Enrique memiliki seorang kekasih dibelahan bumi lain. Sudah sejak lama Nicho mengincar Liza. Saat awal melihat Liza ia sangat geram. Pasalnya wanita itu sangat bahagia bersama Enrique. Nicho berpikir harusnya adiknya Emma yang berhak tersenyum bahagia bersama Enrique. Bukan Liza.


Saat tahu Liza berniat mencari pekerjaan sebagai lab assistant. Ia menggunakan segala cara untuk membuat Liza bekerja dirumah sakit ST.Marry's Rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan Nicho.


Namun setelah mengenal Liza lebih jauh Nicho sadar, bahwa Liza begitu baik. Namun pamannya mengingatkan kembali dendamnya yang membuat hidupnya hancur.


Ia pun menjalankan niat awalnya untuk menyekap Liza. Namun sekarang? Yang terjadi adalah dia menginginkan Liza. Untuknya. Apa yang dia pikirkan? Nicho mengacak rambutnya kesal. Ada apa dengan dirinya? Ia tersadar saat melihat Liza yang bergerak gelisah kemudian perlahan sadar.


"Nicho?" Liza menatap Nicho dengan pandangan redup.


"Shh....just take a rest, kita akan pulang sebentar lagi" Nicho menatap mata redup Liza dengan pedih. Nicho memegang tangan Liza dengan lembut dan membelainya.


"Kamu sudah agak baikkan? Butuh sesuatu?" Nicho bertanya tulus.


"Tidak, aku hanya ingin keluar dari sini" Liza menjawab lemah.


Nicho tersenyum, kemudian beranjak dari duduknya.


"Tunggulah sebentar aku ke bagian administrasi dulu" Nicho berujar sembari berlalu dari Liza.


Liza merasa perutnya mulai bisa bekerjasama. Ia bernafas lega.


Selang beberapa menit Nicho kembali.


"Ayo kita pulang!" Nicho tersenyum lembut sembari mengangkat tubuh Liza. Ia ingin menggendong Liza.


Liza yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu seketika merona.


"Aku bisa jalan sendiri Nicho" Liza berusaha menolak.


"Shh...menurut saja, kamu mau kugendong dan kita pulang atau tetap disini?" Tanya Nicho pura-pura marah.


Liza tertawa tertahan kemudian mengalungkan tangannya keleher Nicho. "Terima kasih...ucap Liza pelan.


"Mulai hari ini kamu tidak boleh kemana-mana, istirahat saja" Titah Nicho dengan wajah masih bepura-pura datar.


Liza hanya tersenyum. Ia merasakan hangat disudut hatinya, ia heran bagaimana lelaki sebaik Nicho pernah berniat jahat padanya?Dan merekapun pulang.


***