From Wa To London

From Wa To London
Part Eleven (Honeymoon)



~Aku akan memberikan seluruh kebahagiaanku padamu, jika itu bisa membuatmu terus bahagia bersamaku~Enrique


Liza berusaha mengancingkan risleting gaunnya. Tapi tetap tidak bisa. Oh...my, apa yang harus kulakukan?


Ketukan pelan menyadarkan Liza. Itu pasti Enrique. Pikirnya


"Masuk" Liza menyeru.


"Hey...sudah siap?" Enrique bertanya sembari melongok kedalam.


"Any trouble?"(Ada masalah?) Ia bertanya sambil tersenyum melihat punggung telanjang istrinya.


"Euumhh...aku tidak bisa membuatnya menutup". Jelas Liza malu.


"Mom memasukkan gaun-gaun yang berlebihan kedalam koperku, hanya ini yang bisa kupakai. Tapi nyatanya tidak bisa kupakai dengan mudah" liza mengedikkan bahunya.


Dengan menahan senyumnya Enrique masuk dan membantu Liza mengancingkan risleting punggung Liza.


"Mom memang seperti itu, kamu tahu dia sangat ingin memiliki anak perempuan. Dia pasti ingin melampiaskan padamu princess"


Enrique membelai ringan punggung istrinya. Yang membuat gelenyar nikmat paska hubungan tadi sore kembali Liza rasakan.


"Kamu menginginkannya lagi? Enrique tersenyum melihat wajah merah Liza.


"Stop it Enrique, berhenti menggodaku" Liza berjalan melaluinya dengan cemberut.


"Ohh....ayolah princess, kamu begitu menggoda bagaimana aku bisa berhenti" Enrique terus saja menggoda istrinya.


Liza berjalan mendahului Enrique yang masih saja menahan tawanya. Ohh yang benar saja.


Mereka berniat menikmati candle light berdua. Liza dengan gaun hitam elegannya dan Enrique dengan jas maskulinnya, mereka berjalan bersisian ke restoran tepi pantai hotel yang menyuguhkan makan malam romantis untuk semua pengunjung dan penginap disana.


...


...


Enrique mengekor Liza. Sesampainya di salah satu meja di pantai itu pelayan mempersilahkan mereka duduk.


"This our menu, choise please Sir Ma'am!" ( Ini menu kami, silahkan dipilih Tuan Nyonya) Waiter memberikan buku menu.


Enrique membuka sesaat kemudian menutupnya kembali.


"I would like to have spring rolls and chicken steak with mushroom, and ice lemon tea" ( Aku ingin Spring rolls dan Stik ayam saus jamur) Enrique menyerahkan buku menu kepada waiter.


"Kamu ingin apa Princess? Enrique bertanya pada Liza yang sibuk dengan buku menunya.


"Eumhh...entahlah, samakan saja" Liza tersenyum kikuk.


"Spring rolls and chicken steak with mushroom, and ice lemon tea double" (Spring roll dan stik ayam saus jamur) Enrique menambahkan.


"Okay sir...spring rolls and chicken steak with mushroom, and ice lemon tea double, right?" ( Baik tuan... spring rolls dan stik ayam saus jamur dua, benar?) Waiter mengulang pesanan mereka.


"Yeah...Enrique menyahut singkat.


Waiter itupun pamit dan meninggalkan mereka berdua.


"Kamu sangat cantik, kalau aku lupa bilang padamu" Enrique memandang istrinya dengan sayang.


"Terimakasih...Liza lagi-lagi bersemu merah.


"Kamu juga sangat tampan" Liza tersenyum.


"Terima kasih juga" Enrique membalas senyum Liza.


"Apakah kamu senang dengan tempat ini?" Enrique bertanya masih menatap wajah indah istrinya.


"Tentu saja, tempat ini sangat indah" Liza menjawab antusias.


"Terimakasih" Liza mengucap terimakasih lagi.


Enrique bersyukur Tuhan telah menggariskan jodohnya bersama Liza.


Ia bersyukur Lima tahun yang lalu iseng mendownload app anonim chat dating. Ia bosan dengan wanita disekitarnya. Enrique sudah berhubungan dengan berbagai jenis wanita. Ada yang matre, manja, sok imut, munafik, dan banyak lagi.


Ia mencoba mencari wanita dari Indonesia. Dan Liza lah yang pertama ia temukan.


Hey...


Ya...wt ur name?


Liza. U?


Enrique. Wr r from?


Indonesia, n u?


London. Berapa umurmu?


20, kamu bisa bahasa Indonesia?


Tentu saja, aku belajar bahasa itu dikampus dulu. Umurku 24.


Ah...senang berkenalan denganmu.


Ya, bisakah kita berkenalan lebih lanjut?


Maksudmu?


Bisakah aku minta nomor WA mu?


Tentu saja +62813462319**


Ah...thanks. Aku akan menchat kamu nanti kalau tidak keberetan?


Tentu saja, silahkan...


Bye, see u at whatapps.


Bye.


Waiter mengantarkan pesanan mereka. Merekapun menikmati hidangan itu dalam diam. Hanya sesekali mereka bicara, soal cita rasa hidangan yang mereka pesan.


Usai dinner mereka kembali kekamar. Berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.


Liza yang pertama merebahkan diri.


Enrique mengikuti Liza kemudian memeluknya.


"Kamu sangat wangi princess" Enrique mengirup wangi tubuh Liza dengan rakus.


"Eumhh....Liza menyahut singkat, matanya mulai terpejam.


"I love you more than anything" Enrique membisikkan kata terakhirnya sebelum memejamkan mata juga.


***


Setelah tiga hari honeymoon yang penuh cinta. Enrique dan Liza harus ditarik kembali kekenyataan.


"Apa kita benar-benar harus pulang?" Liza menyandarkan kepalanya ke dada Enrique. Mereka sudah berada dipesawat jet Enrique yang akan mengantarkan mereka ke London.


Enrique tersenyum melihat sikap manja istrinya. Percayalah ia sangat menyukai istrinya yang manja ini.


"Pangeranmu ini harus bekerja Princess, Axel akan kewalahan kalau aku tidak pulang" Enrique mengelus punggung mulus istrinya dengan sayang.


Liza memeluk Enrique erat.


"Apa yang harus kulakukan? Kamu bahkan melarangku bekerja di Lab bukan?" Liza mencebikkan bibirnya.


Tentu saja Enrique melarangnya bekerja. Ia bahkan tidak ingin melepaskan Liza dari pandangannya. Ia trauma kehilangan Liza. Cukup sudah ia menderita karena kehilangan Liza sekali.


Enrique membangunkan Liza dari sandarannya dan menegakkan wajah Liza agar dapat menatapnya.


"Princess mengertilah...kamu tau aku sangat mengkhawatirkanmu"


"Tapi Enrique...Liza menyela.


"Please...princess. Enrique bersikeras.


Liza mengangguk lemah.


"Baiklah.


"Kamu bisa bekerja dikantorku kalau kamu mau Princess"


"Apa yang harus kulakukan, aku tidak ingin jadi sekretarismu ?" Liza bertanya bingung.


"Kamu suka menggambar bukan? Bagaimana kalau kamu masuk bagian perencanaan?" Enrique bertanya antusias.


Liza memang senang menggambar. Tapi bangunan?? Ia tidak mungkin bisa menggambar bangunan, yang ada konstruksinya akan timpang. Pikir Liza.


"Eummhh...nanti kupikirkan. Sementara ini aku ingin melanjutkan project Novelku saja di *******" Liza mulai terdengar antusias.


Menulis adalah sebagian jiwanya yang tak bisa ia lestarikan lagi semenjak ia bekerja di Laboratorium.


Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengasah bakat terpendam sependam pendamnya itu. 😅


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, as you wish princess." Enrique tersenyum sembari menarik Liza kedalam pelukkannya.


Apa yang bisa Liza lakukan? Enrique yang keras kepala. Tak bisa dibalas dengan kekeras kepalaannya juga bukan? Sekarang hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan lima tahun Chat. Sekarang mereka adalah suami istri yang harus menjaga satu sama lain. Pikir Liza mengantuk.


"Lets go home"...Enrique membisikkannya di telinga Liza yang mulai mengantuk. Ohh...yang benar saja. Istrinya ini seperti putri tidur. Pikir Enrique.


***


"Hey....sleeping beauty, wake up. Enrique membangunkan istrinya yang masih saja tertidur. Sekarang pukul 06.00 pagi waktu London. Istrinya sudah tidur terlalu lama. Ia bahkan tidak terganggu sama sekali saat Enrique mengangkatnya dari pesawat sampai kekamar mereka. Untung saja tubuh istrinya sangat ringan. Entah ia harus bersyukur atau kasian dengan istrinya ini.


Liza membuka matanya dengan malas. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sudah siap dengan pakaian kantornya.


"Eummhh....Liza menggumam tak karuan, kemudian berbalik lagi.


Enrique hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu.


Enrique mendaratkan kecupan sayang dipipi kanan Liza.


"See you later..love you" Ucap Enrique penuh cinta sebelum keluar kamar. Ya istrinya memang bukan seorang yang akan bangun menyiapkan makanan untuknya, hanya ada Marry didapurnya. Tapi ia tidak akan mempermasalahkan itu. Ia menginginkan pasangan hidup untuk menjadi istrinya bukan seorang maid yang harus melayani kebutuhan sehari-harinya.


Selang beberapa menit kepergian Enrique Liza bangun dengan tiba-tiba, melihat sekeliling dan tersadar kalau Enrique sudah pergi.


"Ya ampunn!" Liza menepok jidatnya seketika.


Istri seperti apa dia ini? Suami sudah pergi kekantor tapi ia masih belum bangun. Menyeramkan. Pikirnya kemudian bergegas kekamar mandi. Sudah hampir 12 jam ia belum mandi. Tubuhnya terasa lengket. Ia melihat sekeliling. Ya ini penthouse Enrique. Ia pun meneruskan niatnya untuk mandi.


***


Hari ini Liza hanya berdiam diri dirumah. Ia merasa hidupnya seperti di Novel. Ia tidak menyangka percapakan mereka di Anonim chat dulu bisa membawanya ke London...menjadi istri seorang Enrique. Ya, "From WA to London" sepertinya itu judul yang cocok untuk novelku. Pikir Liza.


Ia pun melanjutkan bakat terpendamnya itu dengan menulis Novel sesuai alur cerita hidupnya sendiri. Percayalah walau isi kepalanya sudah jelas, untuk menuangkan semua itu dalam bentuk tulisan sangatlah susah.


Baru satu bab, ia mulai mengantuk. Oh yang benar saja. Liza menutup Laptopnya. Sebaiknya aku keluar sebentar. Pikir Liza.


Liza berjalan keluar penthouse Enrique.


Ia duduk ditaman apartemen yang luas. Disana banyak orang-orang yang sedang bersantai.


Liza tersenyum melihat seorang ibu sedang tersenyum pada bayinya.


Ada apa dengan dirinya? Apa ia menginginkan bayi? Pikir Liza.


Dari kejauhan seseorang sedang mengawasinya. Seseorang yang 3 hari lalu melihat Photo pernikahan Liza dengan Enrique. Bukan photo itu yang membuatnya penasaran dengan Liza. Tapi photo-photo sehari-hari mereka yang terpampang di tabloid.


Kalung yang dipakai Liza itu adalah satu-satunya kalung yang ia akan sangat tahu dimanapun ia melihat. Kalung itu adalah kalung yang terakhir dipakaikannya pada adik kecilnya saat berumur 10 bulan. Kalung yang ia pesan bersama ayahnya ditoko perhiasan untuk adik kecilnya. Hari dimana ibunya pergi dan meninggalkan mereka berdua.


Mungkinkah wanita itu adiknya?


***