
~Jika aku boleh memohon pada Tuhan berikanlah sakit yang ia rasakan saat ini padaku, aku dengan hati akan menerimanya~Enrique.
6 bulan kemudian...
Aitken tak kuasa menahan tetes airmatanya membaca tulisan tangan Nayla lagi dan lagi. Akibat perbuatannya kurang lebih 6 bulan yang lalu anak kandungnya harus menanggung cacat selama hampir 4 bulan dan harus menggunakan kursi roda, itupun khabar yang ia dapatkan dari keponakkannya Rizky.
Rizky menjenguknya dijeruji besi itu beberapa kali dengan atau tanpa Michael. Rizky masih marah kepadanya sampai sekarang. Tapi Aitken tahu jauh didalam hati kecilnya anak itu pasti sangat menyayanginya. Kalau tidak ia tidak akan datang menjenguknya. Hati anak itu terlalu lembut walau dari luar terlihat keras. Persis seperti Nayla. Kenangnya.
Michael seperti biasa, ia tidak pernah berbicara apapun. Ia hanya menyodorkan tulisan tangan Nayla sebagai penjelasannya.
Menyesal? Aitken bahkan tidak membayangkan hidup lagi setelah melakukan perbuatan hina itu. Apa yang akan Nayla katakan jika ia tahu perbuatannya? Aitken sudah berkali-kali ingin bunuh diri. Tapi selalu saja digagalkan penjaga penjaranya. Salah satu penjaga disana malah selalu berjaga didepan sel Aitken sejak percobaan bunuh dirinya yang kedua.
Mungkin ini belum saatnya ia tiada. Pikirnya. Mungkin Tuhan ingin ia menebus semua dosanya terhadap orang-orang terdekatnya.
Ia ingin segera menyusul wanitanya kealam sana dan meminta maaf padanya karena telah menjadi pengecut.
Berbicara tentang Nayla. Khabar terakhir yang ia dengar tentang wanitanya itu sejak lari kenegara asalnya adalah karena ia mengidap kanker mematikan. Ia membawa serta Liza karena ia tidak ingin suatu hari Michael mengetahui kalau Liza bukan anaknya tapi ia.
"Lihat sayang...ternyata kau salah Michael sangat menyayangi Liza" batinnya pahit.
***
Dilain tempat...
"Arghhhh!" itu adalah teriakan kedua Liza dari lahirnya baby twin. Liza melepas genggaman terakhirnya pada tangan Enrique yang ia yakin sangat sakit.
Deraian tangis baby twin menggaung seantero rumah sakit. Leya, Edy, Rizky, Michael, Marissa, Leon bahkan Nicho seketika bersyukur bersamaan. Mereka sangat gugup menyambut kedatangan baby twin. Nicho bersikeras meminta ijin khusus keluar untuk menunggu kelahiran Liza yang ternyata adalah adik sepupunya. Nicho tidak menyangka sama sekali kalau Liza adalah bagian dari keluarganya anak pamannya? Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Namun, Nicho bersyukur atas apa yang Tuhan telah tunjukkan. Setidaknya setelah ini keluarga mereka akan menjadi keluarga yang utuh walau dalam keadaan yang belum bisa dibilang baik.
...
...
Enrique dengan segera merengkuh istrinya sayang dan mengecup tangan istrinya berkali-kali.
Tidak terasa airmata menetes dari sisi ujung mata Liza. Ya, setelah kesulitan yang ia lalu beberapa bulan terakhir hari ini adalah hari paling bahagia yang pernah ia rasakan. Kenyataan dan fakta fakta aneh mulai menyeruak kepermukaan setelah kejadian penculikkannya yang kedua. Ternyata Rizky adalah kakak tirinya Michael adalah ayah tirinya. Tidakkah semuanya terasa lucu? Apa Tuhan sedang bercanda padanya?
Setelah sekian lama ia mencari jati diri orang tuanya. Ia menemukan mereka di London? Ibunya kemungkinan besar telah tiada karena menyrut khabar terakhir yang ia dengar ibunya mengidap penyakit kanker mematikan. Dan yang terparah dari semuanya adalah orang yang menculik serta menganiayanya adalah ayah kandungnya sendiri? Bagaimana mungkin kebetulan yang begitu kebetulan terjadi dalam hidupnya setelah kepindahannya ke London? Kota impiannya yang ternyata menyimpan sejuta rahasia kelam hidupnya?
Ia menyesal? Tentu saja tidak. Ia bersyukur mempunyai saudara tiri sebaik Rizky Tuffahati? Belakangan ia tahu nama panjang kakaknya itu. Ia hampir tersedak karena terbahak. Setelah beberapa kali bertemu ia bahkan tidak pernah menanyakan nama panjang Rizky? Ck. Ia juga sangat bersyukur mempunyai ayah tiri seperhatian Michael. Ayahnya itu selalu menjenguknya dengan membawa semua buah dari Indonesia. Liza sampai menangis karena terharu dan merasa lucu dalam waktu bersamaan. Yang pasti ia sangat bersyukur.
Dan yang paling ia syukuri adalah ia memeliki seorang sahabat yang tiada duanya. Leya Fransesca. Ia tidak menyangka kalau pengaruh keberadaan Leya dalam kehidupannya begitu besar sampai saat ini.
Saat ia mengetahui Liza hamil. Ia yang selalu mengingatkan Liza lewat WA apa yang boleh dan tak boleh ia makan dan minum. Ia yang selalu mewanti-wanti Liza dalam setiap kesempatan. Mungkin hanya lewat chat, tapi itu berarti sangat besar untuknya.
Ia sangat terharu ketika Leya muncul dihadapannya kemarin. Enrique sangat tahu apa yang ia butuhkan. Leya sudah seperti saudara untuknya. Bahkan mungkin lebih, Leya lebih muda darinya satu tahun tapi dari kedewasaannya Leyalah yang selalu menjadi sosok seorang kakak untuk Liza dikantor. Leya yang selalu menyelesaikan kebodohan yang Liza lakukan. Intinya Liza tidak akan pernah menemukan patner kerja yang sebaik Leya dimanapun didunia ini. Lagi.
Lamunan Liza terhapus seketika saat dokter cantik bernama Elissa menggendong satu bayinya dan meletakkan satu baby twin disampingnya dan satu lagi untuk Enrique gendong. Enrique masih begitu kaku menggendong baby twin. Tentu saja. Ini yang pertama untuknya. Dan Liza sangat yakin. Kalau Enrique akan menjadi ayah yang hebat untuk mereka kelak. Apalagi setelah kejadian-kejadian Ekstrim yang menimpa hubungan rumah tangga mereka hampir satu tahun belakangan ini.
"Congratulations your baby are both born safely! " (selamat bayi anda keduanya lahir dengan selamat!) ucap dokter Elissa dengan senyum lebar.
"Thank you doctor" sahut Liza sembari tersenyum.
"Thank you doctor" tambah Enrique.
"You are welcome" sahut beliau sembari memperhatikan cara mereka berdua meraih baby twin.
Selang beberapa lama Liza dipindahkan keruang rawat inap. Disana Liza merasa lebih nyaman dengan ruangan yang begitu besar dapat menampung semua yang menunggu kelahiran baby twin.
Marissa bahkan tidak hentinya mencium baby twin satu persatu. Dalam sepanjang hidupnya ia tidak pernah sampai saat ini menggendong seorang bayi. Dan sekarang ia mempunyai dua cucu sekaligus bagaimana tidak?
Leya tidak henti-hentinya mewejangi Liza tentang apa boleh dan tidak boleh dimakan setelah melahirkan. Liza hanya bisa manggut-manggut sambil sesekali tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang tak lain seperti seorang ibu untuknya. Tidak hanya sampai disitu Marry juga kena sasaran selanjutnya sebab Marry yang bertanggung jawab didapur mereka. Rizky dengan patuh menerjemahkan bahasa indonesia Leya kepada Marry yang mendengarkan dengan seksama. Ck. Dasar Leya. Batin Liza.
"Hei...tidakkah ia lebih seperti ibu dari pada sahabat?" Kikik Rizky disamping telinga Liza.
Liza hanya bisa menahan tawanya medengar penuturan Rizky lelaki yang sekarang ia ketahui adalah kakak tirinya.
"Dia memang selalu seperti itu, aku aja sampai heran kenapa aku bisa tahan dengannya"
Enrique mendekati dua saudara itu dengan curiga.
"Apa kalian sedang membicarakanku?" Enrique menaikkan satu alisnya.
Rizky memutar bola matanya kemudian mundur teratur dari sisi Liza. Walau ia sudah bisa menerima kenyataan kalau Enrique adalah suami yang baik untuk adiknya tetap saja masih ada perasaan tidak suka padanya.
Begitu pula dengan Enrique. Ia masih belum bisa menerima dengan mata terbuka bahwasanya Rizky adalah kakak iparnya. Bagaimana mungkin dunia bisa sesempit ini??
"Shh...Enrique berhenti membuat orang kesal" Liza mendelik menegur suaminya itu.
"Okke baiklah" Enrique mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
***