
~ Ketika dia yang begitu mencintaimu menjadi dia yang membencimu, sebenarnya itu tak ubahnya adalah cinta yang bertambah dalam~ Author
Liza tergesa berjalan dengan langkah lebar menuju pintu. Pasalnya seseorang yang entah siapa masih saja memencet bel berkali-kali ditengah malam yang sunyi ini. Enrique sedang lembur dikantornya. Jadi siapa gerangan tamu tak diundang ini? Pikir Liza geram. Untung saja Rinnai dan Naya bukan tipe baby yang mudah terganggu tidurnya. Seperti ibunya. Ck.
"Iya,,,tunggu" Liza melihat diintercom siapa gerangan tamu berkunjung pukul 12 malam seperti ini. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat layar dintercom terpampang wajah lesu kakaknya Rizky. Liza segera membukakan pintu dengan benak berkecamuk. Apa yang membuat kakaknya seperti itu?
"Kakak?" Seru Liza heran.
Rizky menatap Liza dengan pandangan redup.
"Boleh aku masuk?" Tanya Rizky yang hanya dijawab Liza dengan bergeser kesamping mempersilahkan Rizky masuk. Rizky berjalan gontai menuju ruang tamu dan duduk perlahan disofa.
Seketika ngantuk Liza enyah entah kemana. Ia berjalan kedapur dan menuangkan air dingin kedua gelas kaca kemudian kembali keruang tamu dan duduk disamping Rizky, diam. Ia tahu Rizky ingin bercerita sesuatu padanya. Liza hanya perlu menunggu.
Rizky menghembuskan nafasnya berat.
"Bunda kembali" Rizky mengutarakan kalimat pertamanya.
Deg. Liza terkejut. Apa maksud Rizky dengan kembali? Bukankah khabar terakhir yang mereka dengar ibunya mengidap kanker ganas? Apa mungkin ibu mereka masih hidup? Atau pengertian kembali yang Rizky maksud adalah hantu? Pikirnya horor.
"Dia masih hidup" lanjut Rizky seolah tahu isi pikiran aneh adik konyolnya itu.
Liza tertegun. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Apa ia senang? Tidak. Apa ia sedih? Tidak juga. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selalin pengasuh mereka dipanti asuhan.
"Dia bersimpuh dikaki daddy meminta maaf, namun daddy sangat murka padanya" tambah Rizky lagi sambil memandang karpet dikakinya dengan tatapan kosong.
Liza seketika menatap wajah Rizky yang memancarkan luka. Liza merengkuh tubuh Rizky dan memeluknya dalam diam. Liza tahu dengan pasti bukan kata-kata yang dibutuhkan Rizky sekarang. Ia hanya butuh tempat bersandar. Liza bisa merasakan setetes demi setetes air mata Rizky jatuh di punggungnya.
"Shh...semuanya akan baik-baik saja" seru Liza sembari mengusap punggung Rizky dengan sayang.
***
Liza menatap makanan didepannya dengan tatapan kosong. Ibunya masih hidup? Apa dia menyesal telah membuangku? Kenapa dia belum juga mencariku? Pikir Liza miris.
"Hei..." Enrique melambaikan tangan didepan wajah istrinya yang sedari tadi melamun itu.
"Whats going on?" Tanya Enrique sembari menyuap nasi goreng kemulutnya.
Seketika Liza tersadar dan mengerjapkan matanya.
"Ahh...tidak, hanya sedang berpikir hal tidak penting" jawab Liza sekenanya.
"Eumhh... benarkah?" Selidik Enrique.
"Ohh... ayolah, cepat habiskan sarapanmu Enrique sebelum baby twin bangun dan mengganggumu" ucap Liza sembari menghabiskan nasi goreng dipiringnya.
Enrique dengan patuh menghabiskan makanannya. Hari ini lagi-lagi ia harus menghadiri rapat dikantornya. Padahal hari ini hari minggu. Tapi Client nya dari Jepang hanya punya waktu sekarang. Lebih baik hari libur dari pada ia yang harus ke Jepang. Batinnya pasrah.
Selang beberapa lama Enrique berpamitan dengan Liza yang mulai sibuk dengan perlengkapan mandi baby twin.
"Dasi aku mana?" tanya Enrique bingung.
Liza menyerngitkan keningnya entah mengapa ia merasa suaminya menjadi lebih manja sejak baby twin ada diantara mereka.
"Kan sudah aku siapkan diatas ranjang bersama jas kamu Enrique sayang" jawab Liza.
Enrique melirik ranjang mereka dan seketika tersenyum kuda.
"Aku berangkat!" Ucapnya sembari mencium anak dan istrinya bergantian.
Liza mengantar suaminya sampai kedepan pintu Penthouse kemudian segera kembali mengurus persiapan baby twin untuk mandi. Baru saja ia ingin mengatur panas air yang keluar. Terdengar bunyi bel dipencet seseorang dari luar.
"Ohh...my, tidak bisakah aku hidup tenang sebentar saja?" keluh Liza sembari mengurungkan niatnya membuka keran air mandi dan dengan sangat terpaksa berjalan keruang tamu. Maary sudah membukakan pintu untuk orang itu. Liza sampai diruang tamu dan melihat seorang perempuan sedang berdiri membelakanginya.
"Excuse me?" Liza mencoba mengintrupsi orang itu. Namun yang terjadi adalah ia sangat terkejut melihat wajah wanita yang hanya bisa dilihatnya dari photo keluarga Rizky. (Well, kalian tahu dengan pasti siapa wanita itu).
"Liza?" Wanita itu menatap Liza dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Ia mengangkat tangannya berniat ingin memeluk Liza. Namun Liza dengan segera mundur menjauh. Entah setan apa yang membuatnya bertingkah seperti itu.
"Dengar...mungkin daddy atau Rizky mampu memaafkanmu, mungkin. Tapi aku takkan pernah bisa memaafkan wanita yang telah membuang anaknya!" Hardik Liza geram.
Seketika mata Nayla membulat tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Membuang?" Tanya Nayla dengan suara mencicit.
"Ya, membuang. Tidakkah kamu lupa siapa yang menaruh aku didepan panti asuhan? Huh?" Liza bertanya mengejek.
"Dengar...aku tidak pernah membuangmu Liza!" Terang Nayla sembari tak kuasa menahan tangisnya yang pecah seketika.
"Lalu apa namanya itu?" Tanya Liza lagi dengan sorot mata penuh kebencian. Ia tidak akan termakan airmata palsu wanita ini. Pikirnya.
"Aku..., arghhh!" Tiba-tiba Nayla menjerit kesakitan dan memegang kepalanya.
Liza hanya bisa melongo melihat Nayla yang benar-benar kesakitan atau berpura-pura kesakitan.
Namun saat tubuh Nayla terkulai lemas tak berdaya serta darah segar yang mengalir seketika dari hidungnya, ia tahu bahkan aktris terhebat sekalipun takkan bisa berakting senyata itu. Dengan panik ia meminta bantuan Marry dan dengan segera ingin menelpon Enrique. Namun diurungkannya mengingar rapat suaminya dengan tamu dari Jepang itu. Iapun menelpon Rizky. Dan menjelaskan semuanya dengan cepat.
Selang beberapa lama Ambulans datang berbarengan dengan mobil Rizky. Liza membawa baby twin dan menitipkan mereka kepada Marissa dalam perjalanan menunju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit. Nayla dengan segera dibawa keruang UGD.
Ia dan Rizky menunggu dengan gugup. Rizky memberitahu ayahnya. Dan ayahnya sedang dalam perjalanan kerumah sakit itu.
"Dia akan baik-baik saja?" Liza bertanya dengan wajah masih syok.
Rizky menatap Liza dengan wajah yang tidak bisa dibilang baik juga.
"Ya, dia akan baik saja" jawab Rizky dengan gamang seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Mereka duduk dalam diam. Selang beberapa lama datanglah Michael dengan seorang wanita paruh baya yang menatap mereka dengan pandangan murka.
Sesampainya didepan mereka wanita itu menampar pipi kanan Liza.
"PLAKK" setika Liza terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita paruh baya itu padanya.
Rizky melotot tidak percaya begitu pula dengan Michael.
"Apa yang anda lakukan pada adikku!!!" Teriak Rizky geram.
"Tanyakan pada adikmu itu apa yang ia lakukan pada Nayla hingga ia sekarat seperti itu!!!" Wanita tua itu berteriak tidak kalah keras dari Rizky.
"Memangnya anda siapa? Berani sekali menggurui adikku?" Rizky kembali meneriakki wanita itu.
"Aku orang yang selama ini merawat Nayla. Aku orang yang selama ini melihat dengan jelas penderitaannya. Ia bisa bertahan sampai sekarang karena berharap ingin bertemu putrinya yang hilang. Tapi apa??? Kalian bahkan sama sekali tidak bisa menerimanya" wanita itu menatap mereka dengan pandangan tajam menusuk.
"Hilang anda bilang? Aku dibuang!!!" Teriak Liza tidak terima.
Wanita paruh baya itu menatap Liza dengan geram.
"Dibuang katamu? Kau bahkan bisa mati kalau saja ia membawamu dalam kecelakaan itu. Tapi ia tidak membawamu tentu saja. Ia menitipkanmu pada orang lain sebelum mengantar nyawanya dikecelakaan itu. Namun Tuhan masih berbaik hati padanya" wanita itu terengah menjelaskan pada Liza.
"Maksud anda?" Kali ini Liza bisa mengendalikan dirinya.
Dengan menghembuskan nafas beratnya wanita paruh baya itu menceritakan semuanya. Semua yang ia tahu.
Setelah penuturan panjang wanita itu Liza, Rizky maupun Michael terpuruk seketika. Mereka tidak menyangka penderitaan wanita yang mereka sama-sama benci tersebut begitu besar. Dan ia menghadapinya sendiri? Betapa malang nasib Nayla.
Tidak terasa air mata terus menetes dari sudut mata Liza. Rizky dengan penuh pengertian menyandarkan kepala adiknya itu kebahunya.
Selama ini ia begitu membenci ibunya. Walau jauh didalam lubuk hatinya ia menginginkan sosok seorang ibu disampingnya. Dan tak lama kemudian beberapa dokter dan suster berlari panik keruang UGD. Ada apa gerangan !!!
...***...