
~ Karena pada dasarnya, cinta bukan tentang seberapa lama orang itu dihatimu, tapi seberapa kuat orang itu bertahan untukmu~Michael.
Wanita itu berdiri dari kejauhan, dari balik pagar memandang seorang pria dengan seorang anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa yang tengah berbicara seolah mereka adalah teman.
"Oh...come on dad, itu tidak adil" seru Rizky tidak terima dengan keputusan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak salah satu rekan kerjanya.
"Kalau begitu tunjukkan, siapa wanitamu sekarang? Waktumu satu minggu dari hari ini" tegas Michael. Bukannya ia tidak percaya dengan anak lelakinya untuk mencari pasangan hidup, tapi Rizky terlalu santai. Liza saja yang notabenenya adalah adiknya sudah memiliki dua anak. Lha ini? Jangankan dua anak calon istri saja dia belum punya.
"Dad..." rengek Rizky.
"Dont call me like that boy..." sahut Michael acuh.
Rizky hanya bisa memutar bola matanya. Satu minggu? Oh my God. Memangnya daddy pikir beli baju? Yang benar saja. Pikirnya.
Rizky berlalu dari hadapan ayahnya dengan hati dongkol. Dijodohkan? yang benar saja memangnya dia tidak laku? Percayalah ia bisa menunjuk wanita manapun yang ia inginkan dan mereka akan dengan senang hati menjadi pasangannya. Hanya saja memang tidak ada seorangpun yang ia inginkan sampai sekarang. Ya, sampai saat perkenalannya dengan Valentine. Valentine? Entah mengapa sosok gadis itu terus saja terbayang disetiap malamnya? Ia bukan lagi remaja yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama bukan? Pikirnya heran.
Michael hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan puternya Rizky kemudian menghabiskan tegukkan terakhir kopinya. Ia ingin beranjak dari teras menyusul putera semata wayangnya yang merajuk itu. Namun baru saja ia ingin melangkah, suara yang sangat ia kenal tiba-tiba menyerukan namanya.
"Michael" seru wanita itu.
Deg. Michael tertegun seketika berpaling dan kemudian terpana melihat seorang wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan takut.
"Nayla?" Michael mengucapkan satu kata itu dengan sangat tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" tambahnya dengan wajah syok.
"Maafkan aku" ucap Nayla sembari bersimpuh dikaki Michael dan menangis tersedu seketika. Ia menangis sejadi-jadinya, seolah ia tidak lagi bisa menangis.
Ia menyesal, sungguh menyesal telah meninggalkan Michael. Ia pergi karena ingin melindungi puterinya Liza. Ia pulang ke negara asalnya. Berharap bisa menjalani hidup dengan puterinya dengan tenang. Tanpa dihinggapi rasa bersalah karena telah mengkhianati suaminya. Tapi naas setibanya di bandara Soekarno-Hatta ia dirampok. Bukan hanya itu ia juga hampir diperkosa oleh perampok itu ketika mengejar mereka. Namun ia berhasil lari dari perampok itu, tetapi kemudian sebuah taksi menabraknya.
Untungnya ia sempat menitipkan Liza kepada seorang ibu lanjut usia sebelum mengejar perampok itu. Tapi justru itu yang menjadi masalah terbesar dalam hidupnya. Paska kecelakaan itu ia mengalami amnesia dan kanker menggenaskan. Namun dokter dirumah sakit dimana ia dirawat tersebut yang mana adalah seorang janda yang tidak memiliki siapapun berbaik hati menanggung semua biaya pengobatannya sampai saat ini. Sampai ia mengingat bahwa ia memiliki seorang puteri yang entah dimana berada sekarang. Namun ia bisa mengingat semua masa lalunya sekarang. Masa lalunya dengan Michael dan juga Aitken. Dan ia ingin membuka lembaran baru lagi dalam hidupnya. Dan ia pikir semuanya dimulai dengan menemui Michael dan puteranya Rizky.
"Dad!!!" Seru Rizky dari dalam. Ia berjalan dengan kesal berniat mencari ayahnya yang belum juga masuk kedalam rumah. Ia butuh sarapan. Naura sudah menyiapkan sarapan yang sangat menggiurkan dimeja makan. Dan makan sendirian tidak ada dalam kamusnya. Namun ayahnya tidak kunjung masuk dari acara minum kopi paska olahraganya.
"Son..." ucap Nayla dengan suara tercekat dan mencoba untuk bangkit menggapai Rizky.
"Stop!!!!" Seru Michael dengan suara lantang. Terlampau lantang hingga Rizky terperanjat karenanya. Wajah Michael merah padam.
"RIZKY BUKAN LAGI PUTERAMU!" Teriak Michael dengan penekanan disetiap katanya.
"Dad??" Seru Rizky heran.
"KAMU SUDAH LAMA MATI bagi kami. Sejak hari dimana kamu pergi kami menganggapmu MATI!" Mengerti??? Jadi sekarang pergi dari hadapanku. PERGI!!!" Hardik Michael geram.
"Dad??" Lagi lagi Rizky menyela ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan segeram itu dengan ibunya. Kemana ayah yang selalu mencintai ibunya dengan segenap jiwanya?
"MASUK!!!" Teriak Michael lantang sembari menyeret Rizky bersamanya meninggalkan Nayla yang masih menangis sejadi-jadinya.
"Michael!!!!" Teriaknya ditengah tangis pilunya.
Rizky menatap ibunya dengan tatapan prihatin dan sakit hati dalam waktu bersamaan.
Walau ia bisa memaafkan uncle Aitken jujur saja ia belum bisa memaafkan ibunya yang telah membawa lari adiknya dan mengkhianati ayahnya yang selalu mencintai ibunya dengan segenap hatinya. Namun melihat ibunya menangis pilu seperti itu hatinya seakan diremas. Sakit.
Ia tahu dengan pasti betapa ayahnya masih sangat mencintai ibunya. Namun justru karena itu ia merasa sangat tersakiti.
"Rizky!!!" teriaknya lagi yang kemudian teredam suara pintu utama yang menutup otomatis saat Michael dan Rizky berlalu dari sana.
Nayla harus menelan kepahitan yang luarbiasa dibalik pintu tebal itu. Dulu ia sama sekali tidak memikirkan sakit hati yang akan ia rasakan begitu meninggalkan Michael. Selama hidupnya bersama Michael ia tidak pernah sekalipun mendapati Michael marah padanya. Michael adalah pihak yang selalu mengalah dengan segala apapun. Ia akan mengatakan "ya" bahkan sebelum ia meminta. Michael akan melakukan apapun untuknya dulu. Sekarang melihat wajah murka Michael padanya membuatnya merasakan sakit yang begitu dalam. Kenapa dulu ia tidak bisa mencintai Michael sepenuhnya? Karena Michael tidak pernah mengatakan "tidak" padanya. Karena Michael akan selalu tersenyum walau ia membentak Michael dengan segala kosakata kasar yang pernah ia tahu. Tapi itu dulu.
Nayla bangkit dari posisinya dengan perasaan kehilangan yang lebih besar dari pertama kali ia bisa mengingat semua kenangan dalam hidupnya. Ia berjalan gontai kejalan setapak yang mulai ramai dengan orang berlalu lalang ingin memulai aktivitas mereka dipagi hari. Security yang membiarkannya masuk tadi menatapnya dengan pandangan prihatin yang begitu kentara. Nayla menepis airmata yang terus saja mengalir tanpa henti. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Walau sampai mati sekalipun ia akan tetap memperjuangkan apa yang dulu pernah menjadi miliknya. Ia tidak ingin kanker ditubuhnya menggerogotinya dan membuatnya menyesal sekali lagi karena tidak bisa memperjuangkan apapun. Setahun yang lalu ia divonis tidak akan memiliki waktu yang lama lagi untuk melihat dunia. Namun, ia masih bisa bertahan sampai semua ingatannya pulih. Itu tandanya Tuhan menginginkannya untuk memperjuangkan apa yang dulu pernah menjadi miliknya. Ya, ia yakin Tuhan menginginkannya hidup lebih lama lagi karena semua hal itu. Dan ia akan pergi dengan damai setelahnya. Setelah ia menebus semua kesalahan yang ia perbuat dimasa lalu. Ia ingin bertemu puterinya. Dan menurut sumber yang ia dapat entah bagaimana puterinya sedang berada disini London.
Karena cinta selalu tahu dimana tempat untuk kembali walau tak pernah Tahu arah yang membawanya.
***