From Wa To London

From Wa To London
Part Twenty Four ( The Wonderful Begin)



~Karena dalam hidup Tuhan sudah menakarkan penderitaan dan kebahagian dalam porsi yang seimbang, maka jika kamu masih menderita sekarang. Yakinlah bahwa kebahagiaan akan sesegera mungkin datang dan terseyumlah~Author


"Enrique bisa tolong kamu pegang Rinnai sayang? Aku harus memandikan Naya!" teriak Liza dari dalam kamar mandi. Enrique yang masih tidur paska begadang tadi malam mau tidak mau harus bangun dan berjalan dengan gontai memenuhi panggilan istrinya. Baby twin beranjak besar begitu cepat. Diumur mereka yang sudah enam bulan mereka sudah bisa mengucap "mom" walau dengan artikulasi yang kadang belum jelas.


Enrique berkali kali mengajarkan mereka mengucap "dad" dan sebagai jawabannya mereka hanya tertawa. Yang benar saja.


"Wait...!" Enrique berusaha berjalan lebih cepat dan masuk kekamar mandi kemudian segera mengambil Rinnai yang masih berbalut handuk dari tangan Liza.


"Oh...my baby girl" seru Enrique sembari mengangkat Rinnai tinggi-tinggi. Liza hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan absurd suaminya.


"Kami akan menjenguk Nicho bersama Rizky, apa kamu mau ikut?" Liza bertanya sambil lalu sembari membasuh tubuh mungil Naya dengan air hangat.


Enrique menghentikan aktivitasnya mengangkat tubuh Rinnai. Rinnaipun seketika berhenti tertawa karena daddynya berhenti mengangkatnya.


"Kenapa harus dengan Rizky? Aku kan bisa princess" Enrique berujar heran.


"Kamu kan capek sayang...lebih baik kamu istirahat saja aku hanya ingin membawa mereka menemui Nicho pamannya. Terakhir kali Nicho melihat mereka adalah saat aku melahirkan dirumah sakit. Benarkan?" Liza menjelaskan dengan sabar kepada suaminya yang susah mengerti itu.


"Baiklah... aku akan tidur nyenyak setelah kalian pergi. Sampaikan salamku untuknya" Enrique berujar pasrah. Entah mengapa beberapa bulan terakhir ia menjadi sangat penurut dengan istrinya. Dan Liza menjadi sedikit bossy jika sudah menyangkut baby twin. Ck. Yang enar saja.


Liza keluar kamar mandi menggendong Naya yang juga sudah berbalut handuk dan merebahkannya di atas ranjang. Enriquepun segera merebahkan Rinnai disamping Naya. Liza dengan cekatan memasang pampers untuk kedua serta ***** bengek yang Enrique jelas tidak tahu itu apa, sampai mereka sudah rapi memakai baju yang sama.


"Tolong jaga mereka berdua, aku mau mandi dulu!" ucap Liza cepat sembari berbalik kekamar mandi tanpa melihat lagi wajah Enrique yang melongo seketika.


Ya Tuhan aku harus menyewa seorang nanny untuknya nanti. Batin Enrique sembari bersimpuh dihadapan Rinnai Alfaro Leonardo dan Naya Alfaro Leonardo. Ia tersenyum melihat dua babynya yang saling berpegangan tangan. Percayalah walau ia lelah harus membantu Liza mengurus baby twin tetap saja ia luluh melihat wajah lucu mereka. Orang tua mana yang tidak bahagia memiliki dua baby twin secantik mereka.


"Don't cry beautiful babies, please just stay cool and keep smile here with dad, daddy so sleepy right now. Ok?" (Jangan menangis bayi bayi cantik, tetap tenang dan tersenyum disini dengan ayah, ayah sangat ngantuk sekarang. Ok?) tutur Enrique kepada baby twin yang hanya menatapnya dengan seringaian khas batita, iapun ikut berbaring disamping mereka dengan perlahan. Ngantuknya tak tertahankan.


Selang beberapa lama Liza keluar kamar mandi dengan jubah mandinya, kemudian melongo melihat pemandangan ditempat tidur mereka Baby twin berbaring bersampingan dengan daddynya yang tertidur pulas. Hei...siapa lelaki yang mencoba memaksa ikut tadi? Batin Liza heran. Enrique memang suka tidak ingat dengan dirinya sendiri kalau sudah memikirkan keluarganya. Kasian suaminya yang malang. Batin Liza lagi.


Rinnai dan Naya mulai menggapaikan tangannya keudara menyadari kehadiran mommynya.


"Shh...your daddy is sleeping" Liza meletakkan jari telunjuknya didepan mulut mengisyaratkan diam pada baby twinnya. Baby twin kembali menyeringai dengan mulut yang giginya belum tumbuh.


Liza tersenyum lebar melihat tingkah baby twinnya. Namun kemudian bergegas memakai baju dan makeup seadanya. Ditengah kegiatannya merias wajah terdengar bel dari luar.


"Thats uncle Rizky, come on!" Liza mengangkat kedua babynya setelah yakin tampilannya agak lumayan.


"Lets go, say to daddy...bye!" Liza berbisik kepada baby twin yang hanya bisa terkikik geli. Liza dengan segera membawa baby twin keluar menemui uncle Rizky dan meninggalkan Enrique yang sudah tidur pulas.


Liza meletakkan kedua babynya disofa besar ruang tamu kemudian berlari membukakan Rizky pintu.


"Heii...fyuh!" Liza menyapa dengan nafas tersengal capek.


"Hei...mana baby twin?" Tanya Rizky segera.


"Wait!" Seru Liza sembari kembali keruang tamu dan membawa baby twin bersamanya.


" Ahh...baby girl! " Rizky segera menyambut Rinnai gembira.


Merekapun melenggang keluar penthouse menuju parkiran. Dan masuk kemobil yang dikendarai driver pribadi ayah Rizky. Rizky dan Liza tertawa lebar ketika masuk kemobil dengan baby twin sama-sama dipangkuan mereka. Mobilpun berjalan perlahan.


"Enrique tidak marah kita pergi tanpa dia?" tanya Rizky membuka pembicaraan.


Liza mengalihkan pandangannya dari Naya dan menatap Rizky.


"Tadi sih pengen ikut, cuman orangnya ketiduran" jawab Liza sambil terkikik pelan.


Rizky seketika ikut tertawa.


"Kasihan dia" timpal Rizky sembari menggelengkan kepalanya.


Liza hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


Sesampainya ditempat tujuan mereka langsung bertanya dimana penjara Nicho. Suasana disana begitu tegang. Rinnai dan Naya seolah mengerti dimana mereka berada. Mereka hanya diam dengan sesekali tersenyum.


Sesampainya diruang kunjung mereka menunggu Nicho dengan sabar. Selang beberapa lama Nicho muncul dengan senyum sumringahnya. Walaupun dibatasi kaca tebal, Nicho begitu senang menyambut kedatangan mereka.


"Hai... baby girls" Nicho menyapa baby twin dengan gembira. Yang hanya dijawab jelak tawa Rinnai dan seringaian kecil Naya. Tentu saja karena Rinnai sangat senang dengan laki-laki


"Kamu baik-baik saja Nicho?" tanya Liza prihatin.


Nicho mengalihkan padangannya dari baby twin menatap wajah sendu dan mata Liza yang sudah berkaca-kaca.


"Bohong kalau aku bilang baik saja Liz, tapi dengan melihatmu sekarang aku merasa baik-baik saja" jawab Nicho jujur.


"Come on,,, dont crying, kamu ingin melihatku baik-baik saja bukan? Jadi jangan membuatku tidak baik-baik saja dengan airmatamu. Ok?" Ucap Nicho sembari menampilkan deretan gigi putihnya. Seketika Rinnai tertawa. Karena mengira Nicho sedang mencoba bercanda dengannya. Merekapun seketika tertawa bersamaan. Kecuali Naya yang hanya menatap mereka dengan pandangan bingung. Ck. Naya.


Lama mereka berbicara berbagai hal sepele sampai waktu jenguk habis. Nicho dengan terpaksa harus kembali ke selnya.


"Sampaikan salamku untuk Enrique" pesan Nicho sembari beranjak ditemani dua sipir yang mengawalnya masuk tadi.


"Dan...cobalah untuk berdamai dengan Uncle Liza, walau bagaimanapun ia adalah ayahmu" ucap Nicho pelan sembari berjalan meninggalkan Liza yang seketika tertegun.


Ia bukan orang pendendam yang terus mengingat kesalahan orang lain. Ia orang yang pemaaf malah. Tapi entah mengapa ia belum bisa menerima kenyataan kalau Aitken adalah ayah kandungnya. Ia masih merasa Tuhan sedang bercanda dengan takdirnya. Bagaimana bisa semuanya bisa sekebetulan itu? Baginya tidak mungkin ada kebetulan yang terlalu kebetulan seperti takdirnya sekarang. Ia bisa memaafkan Nicho karena disini Nicho adalah korban. Tapi Aitken? Tidak. Ia belum sesuci itu bisa dengan mudah memaafkan laki-laki yang hampir berkali-kali membunuhnya.


"Hei...kita pulang sekarang?" Tegur Rizky pelan. Ia sangat tahu apa yang ada dibenak Liza sekarang. Walau Rizky tahu apa yang dikatakan sepupunya benar, tetap saja ia tidak ingin melihat Liza gundah seperti sekarang. Ia tahu dengan pasti bahwa dibalik ketidakpedulian Liza terhadap Unclenya, jauh didalam lubuk hatinya ia menyayangi ayah kandungnya itu. Mereka hanya perlu menunggu Liza sadar dengan sendirinya. Batin Rizky.


Liza hanya mengangguk kecil kemudian berjalan perlahan dengan Naya digendongan mendahului Rizky yang masih setia menggendong Rinnai yang sudah tertidur pulas. Persis ibunya.


***