
~ Jika airmata adalah jawaban dari kesedihan kamu tak perlu menyembunyikannya~ Enrique
Enrique POV
Aku melangkah dengan gontai. Setelah pertengkaranku dengan Liza istriku semua hal yang kulakukan salah. Dia pusat duniaku. Aku sadar itu. Aku telah menyakitinya, aku sadar itu.
Istriku sedang berbaring disofa ruang TV dengan pose yang tidak nyaman. Ku rengkuh tubuh mungilnya, aku harus menggendongnya kekamar. Dia terlihat sangat lelah. Kerutan V didahinya tanda ia terlalu banyak berpikir. Apakah aku membuatnya tertekan?
Aku sudah berjanji pada Tuhan untuk membahagiankannya, lalu mengapa ia tak bahagia? Ya, karena aku salah. Cukup sudah penderitaannya tinggal dipanti asuhan sejak kecil. Tidak bisakah aku menjadi satu-satunya kebahagiaannya?
Kuletakkan tubuh mungilnya diranjang kami perlahan. Ia masih saja tertidur tenang. Aku tersenyum, dia adalah wanita tercantik saat tidur yang pernah kulihat. Dia adalah perwujudan kebahagiaan Tuhan saat menciptakan makhluknya. Sempurna.
Aku membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ikut bergabung dengannya.
"Princess...maafkan aku, percayalah aku sangat menyesal telah menyakitimu. Princess kamu adalah segalanya bagiku. Jika tidak ada seorangpun didunia ini yang dapat kamu percaya, percayalah aku mencintaimu lebih dari apapun" Bisikku sembari memeluk tubuh mungilnya dari samping.
"I love you"
***
Liza POV
Aku menyergit, memperhatikan sekitar. Ternyata aku sudah dikamar. Siapa yang membawaku kesini?
Dari dalam kamar mandi terdengar pancuran air. Ah...Enrique sudah pulang?
Apa yang harus kulakukan? Ah lebih baik aku pura-pura tidur saja. Tekadku.
Selang beberapa lama kemudian terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka perlahan. Dia sudah selesai. Pikirku.
Aku mendengarkan dengan seksama kegiatan yang dia lakukan. Buka lemari tutup lemari. Masih dengan mata terpejam.
Selang beberapa menit kemudian, aku merasakan sedikit getaran saat ia berbaring disampingku. Ia memelukku.
Jujur seberapapun aku kesal padanya. Tetap saja aku merindukan dirinya. Sosoknya. Tubuh hangatnya. Hei aku istrinya bukan??
"Princess...maafkan aku, percayalah aku sangat menyesal telah menyakitimu. Princess kamu adalah segalanya bagiku. Jika tidak ada seorangpun didunia ini yang dapat kamu percaya, percayalah aku mencintaimu lebih dari apapun"
Oh...my, airmataku mulai mengancam disudut mata. Dia peduli padaku? Ya tentu saja.
Ia terus memelukku. Aku bisa merasakan setetes airmata di tengkuk kiriku. Ia menangis? Oh my...boy.
Seketika aku berbalik memeluknya.
"Enrique" hanya nama itu yang bisa kukatakan sebelum menelungsupkan kepalaku kedada bidangnya, menangis.
"Maafkan aku juga!" Kataku pelan.
"Shhh....dont cry my little princess."
Enrique mengusap kepalaku berulang ulang. Ia tahu cara membuatku nyaman. Kami memang bukan orang yang pandai berkata-kata. Semuanya seolah terjawab saat salah satu diantara kami meminta maaf.
***
Enrique POV
Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara muntahan istriku dari kamar mandi. Apa dia sakit? Pikirku.
Aku beranjak dari zona nyamanku menghampiri istriku yang terduduk lemah di depan Closet.
Ia muntah sepertinya sudah beberapa kali.
"Hei...whats going on?" Aku mendekatinya segera.
"Stop it Enrique...ini menjijikkan" Larangnya.
"Its ok Princess" aku mendekatinya. Merapikan rambutnya yang berantakkan kemudian menggendong tubuhnya yang lemah. Ku rebahkan ia diranjang dengan perlahan.
"Aku akan memanggil dokter, sebentar" Kataku sembari mengeluarkan ponsel menghubungi dokter kenalanku.
Lisa terlihat sangat lemas bibirnya pucat. Apa yang terjadi padanya?
Selang beberapa lama Dokter Sherina yang tadi kupanggil datang dan langsung memeriksa keberadaan istriku.
Setelah selesai ia tersenyum menatapku.
"Congratulation Mr.Leonardo, you will be a twin baby father" katanya sembari menyalamiku dengan antusias.
Aku melongo. Twin? Oh..my.
Aku masih saja melongo saat dokter sherina mengemasi barang-barangnya, untungnya aku tersadar dan segera membayar biaya check dan mengantarnya keluar.
"Just take care your wife and your twin baby Mr.Leonardo" pesannya padaku sembari berlalu dari hadapanku.
Aku berbalik kekamar dan menatap istriku yang terlihat begitu lemas. Pantas saja. Bagaimana tidak? Ia mengandung kedua anak kami sekaligus. Oh...my.
"Kita punya dua baby Enrique" istriku mengatakannya dengan senyum sumringah.
Aku berjalan mendekati dan kemudian memeluknya erat.
"Tenang saja, aku akan merawatmu dan anak kita dengan baik" kataku menenangkan. Aku tak ingin menunjukkan kekalutanku. Dua anak? Yang benar saja? Aku bahkan belum siap untuk menjadi ayah.
***
Liza POV
Dokter itu mengatakannya dengan senyum sumringahnya.
"You have a twin baby"
Twin? Yang benar saja? Aku bahkan belum siap menjadi seorang ibu? Pikirku.
Lalu apa? Kamu menyesalinya? Tentu saja tidak? Enrique akan jadi ayah yang baik. Akupun akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya. Tentu saja.
Enrique masuk kekamar kami setelah mengantarkan dokter Sherina keluar.
Ia menatapku. Aku tahu arti tatapan itu. Ia belum sanggup menerima kenyataan ini. Hatiku sakit. Tentu saja. Tapi aku tidak bisa membuatnya mengetahui bahwa aku tahu ia belum menginginkan kehadiran seorang bayi dikehidupan kami. Apalagi dua bayi??
"Kita punya dua baby Enrique" kataku pelan sembari memaksakan senyum sumringahku.
Ia mendekat padaku dengan perlahan dan memelukku erat.
"Tenang saja, aku akan merawatmu dan anak kita dengan baik" katanya.
Aku tahu ia hanya meyakinkan dirinya dengan kalimat itu. Oh...my lost boy. Maafkan aku. Pikirku perih.
Enrique pergi kekantor pukul 11 setelah memastikan aku istirahat tenang.
Sepeninggal Enrique. Aku bangun. Kemudian seketika sengungukkan.
Apa yang harus kulakukan? Pikirku. Enrique tidak menginginkan baby twin?
Aku terus menangis. Hingga lelah. Ya aku lelah. Jika Enrique tidak menginginkan bayi ini maka biarlah aku yang saja yang menginginkan mereka.
***
Sejak saat itu Liza bersikap tegar. Ia tidak menunjukkan sedikitpun keluhan kehamilannya.
Seperti pagi ini...
Enrique berniat pergi kekantor, Liza mengantarnya sampai pintu penthouse mereka.
"Its okay...fine". Liza menyahut sembari tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan pusing yang ia rasakan setiap pagi. Setelah Enrique pergi baru ia memuntahkan semua isi perutnya.
Makanan yang ia makan pagi ini tidak diinginkan baby twinnya. Mereka menginginkan makanan asem seperti mangga mentah yang sering ditemukan di negaranya. Ia menginginkan itu. Sangat menginginkannya.
" Ah..telpon aku kalau terjadi sesuatu" pesannya khawatir sembari berlalu dari hadapan Liza.
Sepeninggal Enrique Liza keluar naik taksi. Ia harus menemukan makanan yang diinginkan babynya. Pikirnya.
Taksi yang membawanya terus melaju. Hingga sampai dipusat perbelanjaan kota The Camden Market.
Ia bergegas berjalan kejejeran buah segar. Matanya membulat menemukan jejeran buah mangga yang masih hijau. Saking semangatnya Liza sampai menabrak seseorang.
"Au..." Liza seketika mengusap kepalanya yang teratuk dada orang itu.
"Liza?" Suara yang Liza kenal menyadarkannya dari rasa sakit.
Ia mendongak dan kemudian melongo melihat Rizky sedang tersenyum lebar padanya.
"Rizky? Bagaimana kamu bisa disini?" Liza bertanya heran dengan jas dan penampilan klimis seperti itu. Sepertinya tidak mungkin ia sedang belanja bulanan. Pikir Liza.
"Ahh...aku melihatmu dari jauh, kemudian menyusulmu. Kamu tahu? Kita bahkan tidak bertukar nomor setelah perbincangan itu". Rizky berkata dengan antusias.
"Ahh...benar juga" Liza dengan segera mengeluarkan ponselnya begitu pula dengan Rizky.
"Berapa nomormu?" Rizky yang pertama bertanya.
"0813462319** Liza memberitahukan nomornya.
"Ahh...biar ku misscall" Rizky memanggil nomor Liza.
Merekapun menyimpan nomor handphone masing-masing.
"Kamu mau apa kesini?" Tanya Rizky.
"Aku mau buah itu" Liza menunjuk buah mangga mentah yang diinginkannya.
Rizky menyerngit memandang mangga mentah yang ditunjuk Liza.
"Itu? Apa tidak terlalu asam?" Rizky bertanya heran.
"Bukan aku, tapi babyku" Liza menjawab malu.
"Baby? Kamu sedang hamil? Rizky bertanya hampir seperti berteriak. Orang yang berlalu lalang menatap mereka aneh.
"Shh...iya" Liza menjawab pelan.
Rizky melongo sekaligus geram bisa-bisa Enrique bajingan itu membiarkan adiknya membeli buah sendiri dalam keaadaan hamil? Apa lagi itu keinginan baby mereka.
"Sini biar aku yang membelikannya" Rizky mengambil hampir setiap buah didepannya dan memasukkan kedalam keranjang.
"Aku cuma mau itu ky" Liza menunjuk buah asam mentah dikeranjang yang dipedang Rizky.
"Shh...biarkan saja" Ucap Rizky sembari membayar belanjaannya.
Setelah membayar Rizky menuntun Liza ke Restoran terdekat.
"Aku tidak lapar" Tolak Liza.
Rizky tetap menuntun Liza hingga duduk disalah satu kursi.
"Tenanglah...ini Restoran temanku" Rizky tersenyum.
Seorang pria mendekati mereka.
"Hei..Rizky whats going on? Who is she?" ( Hei...Rizky ada apa? Siapa dia) Pria itu menyapa Rizky akrab.
"She is my friend Liza, Liza he is Ben" (Dia adalah temanku Liza, Liza dia adalah Ben) Rizky memperkenalkan mereka berdua.
Liza dan Ben saling berjabat tangan.
"Liza"
"Ben"
"Ahh...you are will have breakfast?" ( ahh... kamu ingin sarapan?) Ben melirik jam tangannya pukul 9 pagi.
"Ahh...i just need help, can you slice this fruit for liza?" ( Ahh...aku hanya butuh bantuan, bisakah kamu memotongkan buah ini untuk Liza?) Rizky menyerahkan mangga mentah Liza pada Ben.
"Ahh...sure, why not" ( ahh.. tentu mengapa tidak?) Ben menerima dengan senang hati.
" Juice mango and coffe latte please" (Tolong, Jus manga dan coffe latte) Rizky menambahkan.
"Okkay..." Benpun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ben kembali beberapa menit dengan membawa irisan buah mangga mentah, jus mangga dan coffe latte.
"Thank you" ucap Liza dan Rizky berbarengan.
"Just take your time" Ben membalas sembari tersenyum dan kemudian berlalu.
Liza menikmati mangga mentahnya dengan lahap tanpa merasakan asam sama sekali. Rizky berkali kali menyerngitkan wajahnya melihat Liza menggigit dengan cepat buah mangga mentah itu.
Rizky bercerita tentang kesibukkannya di kantor. Liza sesekali menyela pembicaraan Rizky dan tertawa saat Rizky menceritakan kejadian lucu dikantornya. Ya, Rizky orang yang menyenangkan, tapi sebatas itu. Liza rasa Rizky juga hanya menganggapnya teman. Mereka terus saja mengobrol sampai lengan kokoh seseorang tiba-tiba menyentak Liza.
"Apa yang kamu lakukan disini??" Bentak pria yang ternyata Enrique itu.
"Enrique?" Liza terkejut melihat Enrique yang tiba tiba sudah ada dihadapannya.
Rizky yang melihat Enrique menyentak Liza langsung balas menyentak tangan Enrique, ia tidak sampai hati melihat wajah Liza yang seketika terkejut bercampur takut .
"Lepaskan brengsek, itu menyakitinya" Rizky menatap Enrique nyalang.
Enrique memandang Rizky dengan sangat murka.
"Apa pedulimu? Dan kamu? Siapa kamu? Mengapa kamu bersama istriku???" Enrique mulai berteriak.
Semua pasang mata menatap heran pada dua lelaki dan satu perempuan yang saling tarik menarik itu.
"Ahh...itu yang harus aku tanyakan. Kenapa bukan kamu yang menemani istrimu yang sedang mengidam buah ini untuk membeli buah yang ia inginkan???? Apa yang kamu lakukan??? Sibukkk?? Cuihhh...!!! Dasar lelaki brengsek!!!" Umpat Rizky sembari mendorong Enrique kencang. Enrique yang tidak siap akan serangan itu terlempar kebelakang.
"Enrique!!!" Liza berteriak panik.
Liza berlari seketika mendekati Enrique.
"Stop it ky...!!!" Liza menatap Rizky nyalang. Walaupun perkataan Rizky benar adanya, Liza tidak setuju dengan perlakuan Rizky pada suaminya.
"Ohh..comeon Liza, biarkan suamimu ini sadar. Betapa sulit apa yang kamu lalui, agar ia punya sedikit saja kepedulian padamu." Rizky masih menatap nyalang Enrique yang tersandar kursi.
Liza muak, bukan karena apa yang dikatakan Rizky salah. Tapi ia muak karena apa yang dikatakan Rizky semuanya benar. Ya, Enrique memang tidak sepeduli itu sebagai seorang suami.
"Aku pulang" Liza beranjak dari posisi jongkoknya, ia tidak peduli lagi walau Rizky akan menghajar Enrique sekalipun. Itu urusan mereka.
Liza terus berjalan kemudian naik taksi tanpa menggubris teriakan dua pria dibelakangnya.
Kadang orang dewasa belum bisa bersikap dewasa. Pikir Liza geram.
***