From Wa To London

From Wa To London
Part Twenty Five (Big Family Event)



~Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu. (Roy Croft - penyair asal Amerika Serikat)~


"Bye...thanks ya Uncle" ucap Liza sembari melepaskan Rizky dari ciuman Rinnai.


Rizky hanya bisa tergelak saat tangan Rinnai tidak juga mau melepas pipi Rizky.


"Hei...biarkan uncle pulang" ucap Liza sembari menarik Rinnai perlahan hingga lepas dan memberikannya kepangkuan Enrique yang duduk diruang tamu. Rizky mencium Naya yang masih setia digendongan Liza dan kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Sudah satu hari bersama Unclenya?" Sindir Enrique seolah bicara dengan Rinnai yang sama sekali tidak tahu menahu. Ia sibuk dengan mainan boneka ikan ditangannya yang dibelikan Rizky saat diperjalanan pulang.


"Ohh...ayolah, berhenti jadi daddy yang cemburuan" seloroh Liza sembari duduk disamping Enrique dengan Naya dipangkuannya.


Enrique hanya mencebikkan bibirnya kesal.


"Tadi mommy menelpon" tutur Enrique sambil asyik bermain dengan Rinnai yang terus menggigit bonekanya. Seoalah dia punya gigi.


Liza mendongakkan wajahnya menatap Enrique seketika.


"Ada apa mommy menelpon?" tanya Liza lagi.


"Mom ingin kita menghadiri acara kumpul-kumpul keluarga nanti malam" jawab Enrique sembari terkikik pelan karena Rinnai mulai asyik menjilati jari Enrique bukannya boneka ikan miliknya.


"Ohh,,," Liza ber ohh ria lalu kembali sibuk dengan Naya.


Tepat pukul 19.00 Enrique sudah siap dengan baju kaos dan jas hitamnya sedangkan Liza dengan dress pink selututnya yang matching dengan dress pink baby twin dan bandananya.


" Sudah siap?" tanya Enrique sebelum membukakan pintu penumpang untuk Liza dan Naya.


"Sudah, ayo kita berangkat!" seru Liza dengan senyum lebarnya sembari masuk kedalam mobil kekursi penumpang dengan anggun. Enrique menyusul dengan Rinnai setelahnya. Mobilpun berjalan perlahan dengan Gerard sebagai supirnya. Ya, semenjak baby twin lahir mau tidak mau mereka harus mempunyai supir pribadi untuk kepentingan seperti sekarang.


"Lets meet grandma and granfa baby twin" seru Enrique sembari mencium baby twin bergantian, Liza hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan suaminya itu. Pernahkah ia membayangkan kebahagiaannya akan sebesar ini? Tidak, dalam sepanjang hidupnya ia tidak pernah sekalipun bisa membayangkan akan mendapat suami sesempurna Enrique dan anak anak seindah baby twin. Batinnya.


Selang beberapa lama mereka sampai didepan rumah orang tua Enrique. Mereka berdua melongo. Apa benar ini hanya acara kumpul keluarga? Tentu saja tidak. Dilihat dari banyaknya tamu yang datang sepertinya ini bukan acara panggang barbeque. Pikir Liza geli dengan kehebatan mertuanya itu.


Enrique hanya bisa mengedikkan bahunya saat mata Liza beralih menatapnya. Percayalah, apa yang Enrique pikirkan diotaknya sekarang kurang lebih sama dengan apa yang ada diotak Liza. Kau tahu? Marissa bukan orang yang bisa ditebak. Pikir Enrique sambil tersenyum pasrah.


Dengan langkah ringan merekapun melangkahkan kaki masuk kedalam acara keluarga yang lebih terlihat seperti pesta itu. Ck.


Sesampainya didalam mereka langsung disambut kehebohan Marissa yang dengan gembira mengambil Rinnai dari tangan Enrique dan menggandeng Liza dengan Naya digendongannya ketengah tamu-tamunya yang sebagian besar ibu-ibu seumurannya.


"They are my grandchild " serunya bangga sembari mencium Rinnai yang dibalas gelak tawa Rinnai. Semua tamu itu berebut ingin menggendong Rinnai dan Naya bergantian. Liza hanya bisa pasrah dan menengok kebelakang mencoba bertelepati dengan suaminya yang sedang berbicara dengan Leon. Enrique hanya menggedikkan bahunya seakan berkata "aku tidak tahu, biarkan saja ia seperti itu selama ia bahagia".Ck.


Mau tidak mau Liza hanya bisa pasrah membiarkan baby twin dengan grandmanya. Liza mencoba menjauh dari gerombolan tersebut dan mencari tempat untuk duduk. Setelah dirasa menemukan tempat yang agak sunyi iapun duduk dan memesan minuman ringan untuknya. Dari kejauhan ia memperthatikan Marissa yang masih saja membanggakan baby twin kesemua tamunya. Liza masih saja fokus memperhatikan dari jauh sampai tidak sadar ada seseorang yang duduk disampingya.


"Liza" panggil seseorang disampingnya yang ternyata adalah Valentine. Liza seketika terkejut melihat Valentine yang sudah duduk disampingnya.


"Sorry, did i shock you?" (Maaf, apa aku mengejutkanmu?) tanya Valentine khawatir.


Seketika Liza mengubah air mukanya yang jelas-jelas terkejut.


"Ahh... its ok, you are not" (Ahh... tidak) jawab Liza mengelak.


Valentine tersenyum seketika merasa lega.


" Sorry , i am not came to your wedding with uncle Enrique" ( Maaf, aku tidak hadir kepernikahanmu dengan paman Enrique) ucapnya sembari menundukkan kepalanya menyesal.


"Shh... dont ever thinking about past again we are family now, you are never wrong in my eyes so dont say apologize again. Okay" (Shh... jangan pernah berpikir tentang masa lalu lagi kita adalah keluarga sekarang, kamu tidak pernah salah dimataku jadi jangan meminta maaf lagi. Okay) ucap Liza dengan senyum menenangkannya.


Dengan segera Valentine memeluknya sayang. Sebenarnya dari awal bertemu Liza ia tahu dengan pasti kalau Liza adalah wanita yang baik. Tapi karena cinta sepihaknya dengan Enrique yang tidak terbalas ia mengabaikan kenyataan itu dan beranggapan bahwa Liza tidak pantas untuk pamannya.


Dari kecil hanya Enrique yang selalu memperhatikannya. Orang tua Valentine adalah pasangan workholic yang tidak pernah memperhatikan putri semata wayangnya, yang mereka pikirkan hanyalah pekerjaan. Bahkan setiap kali ia kabur dari rumah tidak pernah sekalipun mereka mencarinya atau mungkin tidak sadar sama sekali bahwa anak mereka kabur. Miris.


Ditengah pembicaraan mereka tiba-tiba Rizky muncul dengan Naya ditangannya.


"Hei..." seketika Liza berdiri menyambut Naya yang terlihat ingin menangis ditangan Rizky, ia terkejut mengetahui Rizky juga diundang keacara keluarga Enrique. Memang sejak kejadian enam bulan lalu Fakta bahwa Rizky adalah kakak tirinya sudah diketahui semua keluarga Enrique dan mereka dapat menerima fakta tersebut dengan senang hati.


" Marissa bingung dengan Naya yang hampir menangis, jadi kubawa ia mencarimu. Dan ternyata kamu disini" ucap Rizky dengan senyum lebarnya.


"Ahh...terima kasih uncle" ucap Liza sembari menenangkan Naya yang terlihat sangat gelisah. Liza yang sadar Valentine sedang memperhatikan Rizky dengan segera tersadar untuk memperkenalkan mereka.


" Perkenalkan dia Valentine keponakkan Enrique" ucap Liza.


" And Valentine, he is my step brother Rizky" tambah Liza.


Valentine dengan Rizky masing-masing mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan menyebut nama mereka bergantian.


"Valentine"


"Rizky"


Setelah beberapa detik berlalu mereka masih berjabat tangan dan saling memandang. Liza berinisiatif berdehem untuk menyadarkan keduanya.


"Ehemm..." Liza menggosok tenggorokannya yang tidak sakit.


Seketika mereka berdua melepas tangan mereka.


"Ahh...kalau begitu aku akan menemui Enrique dulu" pamit Rizky mencairkan suasana.


Liza menahan senyum dengan susah payah. Percayalah ia sangat mengerti moment seperti apa yang terjadi antara Valentine dan Rizky sekarang.


"Baiklah..." jawab Liza mengiringi langkah Rizky yang berjalan menjauh dari hadapan mereka.


"May i hold the baby?" tanya Valentine mencairkan suasana sepeninggal Rizky.


Mata Liza membulat dan dengan segera menyerahkan Naya kepada Valentine.


"Sure...why not" ucap Liza dengan senang hati.


Valentine menerima Naya dengan canggung namun segera terbiasa setelahnya. Naya yang awalnya tidak tenang paska dioper sana sini oleh grandmanya seketika menyeringai senang digendongan Valentine. Ck. Naya.


"She is so beautiful" gumam Valentine senang. Ia berharap bisa punya adik yang cantik seperti Naya jadi ia takkan kesepian saat besar seperti ini. Pikirnya.


Tepat pukul 22.00 malam acara tersebut selesai. Semua tamu sudah pulang. Enrique dan Lizapun pamit pulang. Dengan berat hati Marissa menyerahkan Rinnai dan mengantar kepulangan mereka. Baby twin tidur nyenyak saat diperjalanan pulang.


Enrique dengan Lizapun segera tertidur setelah ritual ***** bengek sebelum tidur dilakukan. Hari yang menyenangkan telah terlewati.


...***...