
~Sometimes secret will be better always hidden~ Author
"Aku mengenalnya ayah, sangat mengenalnya" Rizky bersikeras.
"My boy...ibumu lari ke Indonesia bukan? Bagaimana adikmu bisa kembali lagi ke London?" Michael menatap putranya prihatin ia mengerti putranya sangat merindukan adiknya.
23 tahun yang lalu istrinya pergi meninggalkannya. Entah untuk alasan apa. Ia hanya tahu istrinya Nayla kembali ke Negaranya Indonesia membawa putri mereka.
Ia sudah mengerahkan semua orangnya untuk mencari istrinya. Namun 5 tahun pencarian yang sia-sia membuatnya hanya bisa pasrah.
Mungkin Tuhan menginginkan perpisahan mereka. Pikir Michael.
Dari awal ia merasa kalau istrinya Nayla tidak betah tinggal bersama keluarganya. Ia selalu bertanya kenapa? Tapi istrinya selalu menjawab dengan gelengan.
"Tapi yah....Rizky tetap bersikeras.
Michael heran dengan kegigihan putranya ini. Rizky memang anak yang keras kepala. Seperti ibunya.
"Okay...nanti aku akan melihat wanita itu" Ucap Michael mengalah.
Rizky tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin wanita itu adalah adiknya. Liza Tuffahati. Bagaimana mereka punya nama yang persis?
...***...
Liza masuk kembali ke Pethhouse, setelah bosan kesana kemari disekitar apartemen, ia sudah merasa bosan. Ia membuka laptopnya dan membuka app WA windows berniat video call dengan Leya.
Selang beberapa menit Leya tidak juga mengangkat panggilan Liza. Liza melihat jam tangannya. Pukul 8 malam waktu London. Oh my...berarti pukul 1 malam waktu Indonesia. Bagaimana tidak? Pikirnya.
Pukul 8 malam? Enrique belum juga pulang? Apa yang harus kulakukan? Apa aku tidur saja?
Liza menatap meja makan yang tertata rapi dengan hidangan lengkap diatasnya. Setelah bulan madu kehidupan berdua ternyata tak seindah sinetron Indonesia (*😂) jika kamu menikah dengan pengusaha besar yang diotaknya setiap detik hanya tentang dollar, kamu hanya selingkuhannya...percayalah. Ckckck
Liza meringkuk diranjang king size Enrique sendiri.
Niatnya untuk menggarap Novel tidak terlaksana, moodnya sedang buruk. Ya, mungkin besok akan lebih baik. Pikirnya.
Berbekal pikiran itu Liza tidur dengan tidak nyaman.
Keesokan harinya Liza bangun, pukul 06.00 dan tersenyum mencium wanginya masakan dari dapur. Pasti Enrique sedang duduk dimeja makan. Pikir Liza.
Ia bergegas kekamar mandi dan membersihkan diri.
Selang beberapa menit kemudian ia berlari kearah dapur dengan senyum terpatri diwajahnya.
"Enrique!!! Serunya dari pertengahan ruang tamu
Ia masih tersenyum ketika melihat sosok Mary sedang menyiapkan makanan. Hanya ada Mary. Tanpa Enrique.
"Where's Enrique Mary?" Liza bertanya bingung.
"Sorry mrs...mr.Leonardo has been left for work in early morning" Mary menjawab prihatin.
Ya tentu saja ia prihatin. Tuannya itu selalu saja sibuk bekerja. Ia sangat jarang berada dirumah. Bagaimana bisa seorang suami lebih memilih bekerja keras sedang sang istri hanya disuruh berdiam diri. Mary tidak habis pikir.
"Ahh...its Ok" Liza mencoba memaksakan senyumnya.
Liza berbalik ingin kekamar dengan lesu. Hilang sudah semangatnya yang tadi menggebu. Kembali ia harus melalui hari tanpa Enrique. Liza tau ia tidak boleh egois dan memaksakan kehendaknya pada Enrique. Tapi apakah salah jika ia merasa terabaikan? Bahkan satu pesan singkatpun tidak ada untuknya. Kenapa setelah menikah keromantisan itu hilang begitu saja.
"Mrs...you won't eat?" Mary berseru.
"I dont want Mary...maybe later" Liza menjawab pelan takut menyinggung perasaan Mary.
***
Liza memutuskan keluar dari apartemen mereka. Ia berkeliling kota London dengan taksi. Sudah dua jam ia hanya berkeliling tanpa tujuan. Sampai ia memutuskan untuk turun dari taksi dan masuk kesebuah Cafe bernama kennington Lane Cafe.
Liza memesan Espresso dan Snacks yang sama sekali tidak disentuhnya.
Ia hanya terus melamun, ada sakit disudut hatinya yang tidak bisa ia jelaskan. Ia bahkan tidak sadar saat seorang lelaki duduk didepannya.
"Hei...berhenti melamun, minuman itu tak akan habis tanpa kamu meminumnya" Lelaki itu sukses membuat Liza tersadar dari lamunannya, memfokuskan pandangan padanya.
"Hei...sorry" Liza tersenyum kecut.
"Boleh aku duduk disini?" Lelaki itu bertanya.
Liza menatap lelaki itu dengan mata membulat
" Kamu bahkan sudah duduk, buat apa kamu bertanya?" Liza menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Yaa...siapa tahu saja kamu ingin mengusirku?" Lelaki itu tersenyum.
"Its ok...kamu bisa duduk dimana saja" Liza mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah....kamu tidak ingin tahu namaku?" Lelaki itu bertanya masih dengan senyum lebarnya.
Liza menatap lelaki itu.
"Kamu ingin memperkenalkan diri?"
Lelaki itu mendekatkan wajahnya sembari mengulurkan tangannya.
Liza menyambut uluran tangan Rizky dengan hangat.
"Liza" namanya berbau Indonesia pikir Liza, pantas saja ia fasih berbahasa Indonesia.
Mereka berbincang panjang lebar. Rizky menceritakan betapa lelahnya ia bekerja, hingga kadang ia mencuri waktu untuk jalan-jalan seperti sekarang. Liza hanya mendengarkan dengan penuh minat sampai tidak sadar bahwa ia sudah menghabiskan Espressonya yang ketiga. Espresso yang hanya dipandanginya beberapa jam lalu.
"Ah...sorry ky, tapi aku harus pulang sekarang" Liza memandangi jam tangannya sudah jam makan siang pikirnya. Berapa lama sudah ia pergi? Berbincang dengan Rizky membuatnya lupa waktu. Iapun beranjak dari duduknya.
"Ah...begitu, mau aku antarkan?" Rizky menawarkan dengan sopan sembari berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi" tolaknya.
"Baiklah....hati-hati" Rizky menatap punggu Liza yang menjauh.
Ah...aku bahkan lupa meminta nomor ponselnya. Pikir Rizky. Ia terlalu senang bisa duduk bersebrangan dan berbincang ringan dengan wanita yang ia yakin adalah adiknya.
...***...
Liza membuka pintu penthouse suaminya masuk dengan gontai. Ya setelah perbincangannya dengan Rizky moodnya kembali down. Kembali ke realita membuatnya merasa sedih.
Baru saja ia ingin melepas sepatu jalannya, ia terkejut oleh suara suaminya dari ruang tengah.
"Shitttt!!!!" I told you looking for her everywhere!!! She's been missing for 6 more hours!"
Liza berjalan dengan tegar keruang tamu. Melewati Enrique yang terkejut dengan kedatangannya.
"Its not need again! She is here" Enrique mengakhiri panggilan ponselnya.
"Liza!!!" Enrique memanggil Liza dengan intonasi yang cukup tinggi.
Ya, bahkan Enrique tidak lagi memanggilnya dengan sebutan princess. Kemana keromantisan yang dulu? Yang benar saja. Pikir Liza
Liza berbalik menatap suaminya yang terlihat sangat kusut.
"What?" Liza menyahut malas.
"What??? Are you kidding me?" Enrique menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya.
"Ada apa denganmu? Kemana saja kamu? Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku? Kenapa kamu sama sekali tidak berpikir sebelum bertindak? Tidak bisakah kamu mengirim satu saja pesan singkat saat ingin pergi?" Enrique menatap nyalang istrinya yang begitu acuh dengan kekhawatirannya.
Liza menarik nafas berat.
"Sudah?" Liza bertanya.
"Apa?" Enrique semakin heran dengan sikap acuh istrinya.
"Aku lelah" Liza berlalu dari hadapan Enrique.
Tapi bukan Enrique namanya jika ia membiarkan Liza pergi begitu saja.
Enrique menahan kedua bahu Liza. Memaksa Liza agar menghadapnya.
"Jawab pertanyaanku Princess? Ada apa denganmu?" Enrique bersikeras.
Liza menatap Enrique dengan tatapan kosong.
"Tanyakan saja semua itu pada dirimu Enrique? Kamu tahu apa jawabannya" ucap Liza sembari menepis tangan Enrique dengan kasar.
Enrique tertegun menatap kepergian Liza dari hadapannya. Apa katanya? Aku? Pikir Enrique.
Memang beberapa hari ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus memenangkan tender perusahaan ternama di London, ia harus meyakinkan client mereka agar mau berkerjasama dengan perusahaannya.
Memang dia bahkan lupa mengirim pesan untuk istrinya. Ia pulang saat istrinya sudah terlelap dengan tenang, dan pergi saat istrinya masih terlelap.
Enrique sadar kalau ia sudah mengabaikan istrinya.
Tapi ia tidak menyangka istrinya akan semurka itu padanya. Apa yang salah? Pikirnya.
Ia melangkah menuju kamar mengekor Liza, tapi ternyata Liza lebih dulu menguncinya.
"Princess!" Teriak Enrique dari luar sambil menggedor pintu.
Oh...yang benar saja.
Tidak ada sahutan dari dalam. Liza bahkan tidak mau bersusah payah menjawab teriakan suaminya.
"Princess, please open the door...we need to talk" Enrique bersikeras. Namun Liza tetap saja diam.
Enrique melirik jam tangannya, sudah pukul 14.00 siang waktu London.
Ia harus kembali untuk rapat. Shitt! Enrique berbalik meninggalkan Liza.
Liza keluar setelah 5 jam lebih mendekam dikamar dan dalam keadaan sudah mandi. Oh my....suaminya bahkan bukan lelaki seperti FTV Indonesia yang rela menunggu wanitanya sampai berjam jam bahkan sampai hujan hujanan. Pikir Liza.
Liza duduk berselonjor didepan TV yang sedang menayangkan tayangan melodrama sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Oh yang benar saja bahkan televisi saja seolah mengejeknya.
Ia terus menonton TV tanpa berniat menyaksikannya. Selang beberapa jam ia tertidur.
***