
~Karena perjalanan kita yang sesungguhnya baru saja dimulai, aku mohon tetaplah bertahan, untuk kita~
Enrique
Enrique : I Enrique Alfaro Leonardo accept you Liza Tuffahati, to be my wife of my days. The companion of my house, friend of my life. We shall together whatever trouble and sorrow life may lay upon us, and we shall share together whatever good and joyful things life may bring us. With these words and all the words of my heart i marry you and bind my life to yours.
Liza : I Liza Tuffahati accept you Enrique Alfaro Leonardo, to be my husband, to have and hold from this day forward, for better and worse, for richer and poorer, in sickness and health, to love and cherish till death us do part.
Enrique: Saya Enrique Alfaro Leonardo menerima Anda Liza Tuffahati, untuk menjadi istri saya dalam hari-hari saya. Pendamping rumahku, sahabat hidupku. Kita akan bersama-sama dengan apa pun penderitaan dan kesedihan yang menimpa kepada kita, dan kita akan berbagi semua hal baik dan menyenangkan yang bisa kita hadapi. Dengan kata-kata ini dan semua kata dalam hatiku aku menikahi Anda dan mengikat hidup saya dengan Anda.
Liza: Saya Liza Tuffahati menerima Anda Enrique Alfaro Leonardo, untuk menjadi suami saya, untuk sama-sama bertahan sejak hari ini, dalam keadaan yang baik dan buruk, kaya dan miskin, sakit dan sehat, untuk mencintai dan menghargai sampai kematian menjemput.

Perlahan Enrique membuka Veil yang menutupi wajah istrinya.Ya, Istrinya. Kata bahagia tidak cukup untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Liza memberikan senyuman paling sempurna yang pernah ia lihat dalam hidup. Dengan pasti Enrique menambatkan bibirnya pada bibir Liza yang terasa begitu lembut baginya. Kemudian menarik diri kembali ketengah keramaian tepuk tangan yang menggema diseluruh ruangan.

Hahh....Liza menghembuskan nafasnya lega. Begitu pula dengan Enrique. Setelah apa yang mereka lalui. Mengucapkan sumpah pernikahan bersama Enrique adalah pencapaian terbesar yang bisa ia capai. Hal paling membahagiaakan yang pernah ia rasakan sejauh ini.
Acara selanjutnya adalah moment photo-photo bersama. Liza sangat menikmati moment ini. Ia seolah memiliki keluarga baru yang lengkap. Seluruh kerabat Enrique begitu senang menyambut khabar pernikahan mereia. Mereka semua menyukai Liza. Setidaknya menurutnya. Kecuali Valentine tentu saja. Ia bahkan tidak menghadiri pernikahan Enrique dan Liza. Karena ia sedang menjalani kuliah disana dan beralasan tidak bisa pulang. Mungkin ia masih marah denganku. Batin Liza.
Liza kembali mengingat dua minggu sebelum pernikahan ini.
*Flash back on*
Liza terlihat begitu gugup menjelang hari pernikahan mereka. Ia menerima saja apa yang disarankan oleh Marissa. Kau harus ini. Lebih baik yang ini. Warna ini lebih cocok. Bukankah begini lebih baik?. Liza selalu menjawab pertanyaan Marissa dengan ya.
Ya, siapa yang berani mengambil kebahagiaan menjadi seorang ibu yang merencanakan pernikahan untuk anak semata wayangnya?
Tentu saja ia ingin wanita anaknya tampil bergitu mengesankan.
Enrique juga tak kalah dibuat pusing dibuat Marissa, dia terlihat lebih antusias dibanding pasangan pengantinnya. Yang benar saja.
Menjelang hari H Liza dikejutkan oleh kehadiran Leya bersama Eddy dan tentu saja dede gemas yang baru lahir seorang putri bernama Salsabella Liza Tuffahati. Ohh my... Liza tak kuasa menahan tangis harunya saat Leya memberitahunya nama putri mereka itu. Leya ingin anaknya setegar Liza karena dalam diam Leya selalu mengagumi sosok sahabatnya itu.
Enrique begitu keras kepala membawa Leya sekeluarga. Naik pesawat jet pula!! Keterlaluan, bagaimana kalau anak mereka kenapa-napa? Pikir Liza.
Namun ia bersyukur dimoment bahagianya ini ia didampingi Leya. Ia tidak tau harus didampingi siapa kalau bukan Leya untuk naik ke Altar. Ia tidak punya seorang ayah atau seorang ibu untuk itu semua.
***
Ditengah kebahagiaan itu Liza tidak menyangka Bryan juga hadir ke Pernikahan mereka.
"Hey....Bryan mendekat setelah moment sumpah tersebut.
Enrique yang sibuk dengan family nya yang lain dengan penuh pengertian meninggalkan Liza dan Bryan untuk bicara. Enrique tak lagi khawatir tentang Bryan, tohh Liza sudah menjadi istri sahnya? Pikir Enrique.
"Hey...Liza menyahut gugup.
"Congratulation...Liza" Bryan memeluk Liza ringan. Apa yang bisa ia perbuat? Liza sudah menjadi milik orang lain. Lelaki yang menjadi pilihan hatinya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Bryan saat ini. Sakit? Tentu saja. Tapi ia hanya bisa ikut berbahagia untuk kebahagiaan Liza.
"Bagaimana khabar kamu?" Liza mencoba berbasa-basi sembari melepaskan pelukan Bryan tanpa kentara.
"Aku baik...Bryan memaksakan sebuah senyumnya. Baik? Tentu saja tidak. Bagaimana Bryan akan baik-baik saja saat ia tak bisa melihat sinar indah mata Liza setiap paginya? Liza yang selalu membuatnya tertawa dengan segala tingkah konyolnya terlambat setiap pagi. Bryan akan keruang CCTV setiap pagi hanya demi hanya bisa melihat tingkah konyol Liza.
"Terimakasih karena sudah datang" Liza memberikan senyum tulusnya.
"Sama-sama" Bryan membalas senyum Liza dengan tulus.
Liza hanya berharap suatu saat nanti Bryan akan menemukan tambatan hatinya. Seseorang yang bisa ia cintai juga diterima oleh keluarganya. Ya...tentu saja Bryan akan mendapatkannya. Pikir Liza.
Acara berlangsung hikmat. Tidak ada sedikitpun kekacauan yang terjadi berkat ketelitian Marissa.
Setelah resepsi pernikahan mereka Enrique bersi keras mengajak Liza pergi. Liza yang tidak tahu menahu kemana akan diajak pergi hanya bisa pasrah saat Marissa memberikan kopernya. Hey...apa yang Marissa kemas untuknya? Pikir Liza curiga.
Tapi ia tidak punya waktu untuk menebak-nebak isi koper itu. Karena dengan sigap Enrique mengangkatnya masuk pesawat Jet yang sudah siap siaga. Ohh...yang benar saja.
Saat pesawat itu sudah lepas landas. Liza hanya bisa menyandarkan tubuhnya kekursi empuk yang memanggilnya untuk tidur setelah terlebih dahulu mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih santai. Ia sangat lelah...terlalu lelah.
Enrique tersenyum melihat istrinya yang begitu mudah tertidur. Ia pun ikut tertidur disamping istrinya yang sudah tertidur pulas. Harinya yang melelahkan sudah berakhir. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan. Kebahagiannya yang utuh bersama seorang malaikat bernama Liza.
Liza menggeliat dari tidurnya. Sudah berapa lama ia tidur? Ia memperhatikan sekeliling. Satu kata yang ada dalam benaknya. Mimpi. Ya mimpi, tentu saja ini mimpi pikirnya. Bagaimana tidak? Ia berada disebuah kamar ditengah laut...benar-benar laut. Ohh...my...kurasa aku tak ingin bangun. Pikir Liza.
Ia beranjak dari ranjang empuk itu, dan berdiri di ambang pintu kaca yang menjadi pembatas antara kamar dengan pemandangan laut luas berwarna biru kehijauan.


Ia berbalik dan melihat sosok Enrique yang sedang tertidur pulas. Mengapa dimimpinya ada Enrique. Pikirnya.
Ia mendekati Enrique yang masih terlena dalam tidurnya dan membelainya dengan sayang.
Tidak beberapa lama mata Enrique terbuka. Ia tersenyum melihat Liza. Namun tiba-tiba ia menarik Liza kepelukkannya.
"Apa yang kamu lakukan Enrique. Berhenti mengacaukan mimpiku. Pekik Liza.
Enrique terdiam.
"Apa? Mimpi? Mimpi apa maksudmu princess?" Tanya Enrique heran.
Liza menegakkan tubuhnya disamping Enrique. Liza meneguk salivanya pasalnya sekarang Enrique telanjang dada. Oh my...apa Enrique memang selalu seseksi ini? Pikirnya.
"Iya mimpi...ini mimpi ku" Liza berujar sambil cemberut. Lihat saja bahkan dimimpiku pun dia menyebalkan.
Enrique mendekat kemudian mengecup bibir Liza sesaat. Liza hanya bisa mematung.
"Thats still dream princess?" Enrique tersenyum melihat muka Liza yang seketika tegang.
Liza bisa merasakan basah bibir Enrique dibibirnya. Wangi mint mulut Enrique terlalu nyata untuk disebut mimpi.
"Aaaaaa!" Ia berteriak entah untuk apa.
"What happened princess?" Enrique terkejut bukan main melihat Liza berteriak dan menutup matanya.
"Kamu? Kamu benar-benar bertelanjang dada didepanku???" Liza berujar nyaring.
Enrique melongo sesaat, kemudian terbahak tidak bisa dicegah. Ia terus saja tertawa.
"Enrique!" Liza menghentakkan kakinya masih dengan keadaan menutup mata.
Enrique menahan tawanya dengan susah payah. Liza apa yang ada dalam otak kecilmu itu? Ckckck
"Princess, kita itu sudah suami istri. Sudah sah sayangg, jadi mau aku nggak pake baju sekalipun seharusnya itu tidak jadi masalah buat kamu sayang. Kenapa kamu seperti anak sebelas tahun yang masih perawan seperti ini?" Enrique kembali tertawa.
Liza tertegun. Perawan? Benar ia masih perawan. Enrique bahkan tidak tahu kalau ia memang masih perawan. Apa yang harus ia katakan?
Dan lagi mereka sudah suami istri, ia harus melayani hasrat Enrique bukan? Bagaimana ia melayani Enrique kalau ia saja tidak tahu apa yang harus ia lakukan?? Bagaimana ini? Seketika Liza panik.
"Hey...apa yang kamu pikirkan princes? Apakah aku membuatmu takut? Kalau begitu aku akan memakai bajuku. Tadi aku hanya ingin tidur" Enrique menjelaskan sembari memasang baju kaosnya. Ia mulai khawatir melihat raut wajah Liza yang terlihat sedih.
Liza masih saja terdiam. Selang beberapa menit airmata mulai menetes dari sudut matanya.
Enrique panik.
"Hey....kenapa kamu menangis? Princess please talking to me, wahta happen? Ia bingung harus seperti apa, namun menarik Liza kepelukkannya.
Liza terus saja menangis. Ya ampun.
Enrique terus memeluk Liza dan mengelus punggung Liza dengan sayang.
"Shhh...stop crying princess" Enrique terus berusaha menenangkan Liza.
Ada apa dengan istrinya? Pikir Enrique heran.
Setelah tenang Liza menarik diri dari pelukan Enrique.
Liza menatap wajah Enrique lama sebelum mengatakan hal yang mengganggu dirinya.
"Enrique...a..ku...sebenarnya" Liza meneguk air salivanya susah payah. Tenggorokannya sakit paska menangis.
"Ada apa princess? Just tell me? Enrique bertanya mulai khawatir apa sebenarnya yang disembunyikan Liza darinya?
"Aku...a..ku, sebenarnya masih Virgin" Liza menunduk setelah mengatakannya.
Enrique terkejut bukan main. Ia melongo. Entah wanitanya ini terlalu polos atau apa. Perempuan mana yang takut mengakui keperawanan mereka. Hey...
"Princess...Enrique berujar pelan.
"Yaa...aku tahu. Aku memalukan. Aku bahkan tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun selain kamu. Aku tidak pernah pacaran. Maksudku bagaimana aku bisa jadi istri yang baik untukmu!" Liza tersengal ingin menangis kembali.
"Heyy...hey...Just listen to me princess,
Stop talking about Virgin" Enrique memegang kedua bahu Liza memaksa menatap matanya.
"Kamu adalah wanita terindah, yang diberikan Tuhan padaku. Kamu adalah bentuk Kebahagiaan Tuhan yang tercipta melalui wajahmu. Dan kamu masih perawan?
"Dengar, aku tidak berharap akan mendapatkan wanita perawan untuk menjadi pasangan hidupku" Enrique menjeda perkataannya.
Mata Liza melebar. Benar bukan? Airmata Liza mengancam keluar lagi.
"Shh...tapi itu bukan berarti aku tidak suka dengan wanita perawan. Aku justru sangat bersyukur Princes. Sangat bersyukur. Sangat.
"Dan mengapa kamu meributkan masalah melayaniku? Aku akan mengajarkanmu dengan senang hati. Aku akan mengajarimu segala hal. Segala hal yang ingin kamu ketahui. Apapun itu. Itulah tugas seorang suami princes"
"Lalu bagaimana jika kamu tidak menyukai caraku? Maksudku aku tidak tahu apa-apa Enrique. Bagaimana kita akan "melakukannya". Liza mengangkat dua jari kanan dan kirinya membentuk tanda petik.
Enrique tersenyum.
"Aku akan menyukai apapun yang kamu sukai"
"Maksudmu?" Liza bertanya bingung.
"Sini" Enrique menarik Liza hingga mereka duduk berdempettan saling menghadap.
Enrique memberikan french kiss pada bibir Liza Kemudian melepasnya.
Liza terengah. Ia merasakan hal yang tidak biasa.
"Apa kamu menyukainya?" Enrique tersenyum lebar melihat wajah Liza yang sudah terbakar gairah.
"Ya...jawab Liza tersipu.
"Nahh...mudah bukan? Kamu hanya perlu melalukan apa yang aku lakukan padamu. Semudah itu". Enrique lagi-lagi tersenyum.
Ia tidak pernah menyangka akan mengalami moment paling menggelikan seperti ini dalam hidupnya.
"Kamu ingin praktek sekarang Princess?" Enrique tersenyum lebar.
Liza seketika berdiri.
"Tidak...aku mau mandi" Liza bergegas mengambil peralatan mandinya dan berlari ke kamar mandi.
Enrique hanya bisa tertawa nyaring melihat kelakuan istrinya.
Heyy...adakah orang yang lebih lucu dari istriku? Pikirnya.
Thanks God. Enrique tersenyum.
***