
~Aku menemukanmu, dan aku kelihalanganmu saat itu jua~ Michael
Michael POV
Sejak melihat wajah Liza dengan mata kepalaku sendiri. Entahlah apa yang kurasakan. Aku seperti melihat sosok Nayla kembali.
Tiga puluh tahun yang lalu kami sekeluarga pergi ke Indonesia karena daddy harus bertugas disana. Aku, ibu, ayah, adikku Aitken dan Clara. Aku dan adikku Aitken yang saat itu sama-sama sedang menjalani kuliah semester enam harus melanjutkan kuliah dinegeri Indonesia. Aku dan adikku tidak pernah terpisah saat sekolah. Adikku tidak menempuh TK sepertiku karena ingin satu kelas denganku di Elementary School. Tapi ia punya otak yang sangat encer kalau menurutku. Jadi tidak ada masalah sama sekali untuknya menjadi yang termuda dikelas kami. Ia selalu mendapatkan ranking satu. Guru-guru disekolah selalu membanggakannya.
Di Indonesia kami kuliah di UGM dengan Jurusan yang sama Bisnis.
Di kelas akuntansi kami bertemu dengan seorang perempuan yang begitu cantik. Namanya Nayla.
Ya Nayla ibu Rizky. Hanya ia yang mau berteman dengan orang asing seperti kami. Nayla perempuan yang cerdas, riang dan selalu bersemangat. Ia yang menyemangati kami saat ujian bahkan skripsi.
Aku tahu Aitken menaruh hati pada Nayla begitupun aku. Saat orang tuaku melamar Nayla untukku aku sangat bahagia. Nayla tidak menolak. Yang kutahu lelaki dalam hidupnya hanya ada aku dan aitken. Tapi entah mengapa aku merasa Nayla tidak mencintaiku sebesar aku mencintainya. Aitken tidak menghalangiku menikah dengan Nayla. Ia terlihat sangat bahagia juga. Begitulah setidaknya yang kutahu.
Setelah menikah Nayla menjadi wanita yang sangat perhatian padaku. Atas permintaan orang tuaku kami tetap tinggal di Mansion ayahku. Itu artinya kami masih satu rumah dengan Aitken. Entah perasaanku saja atau benar adanya. Aku merasakan Nayla menjalin hubungan dengan Aitken dibelakangku. Entahlah.
Kembali kemasa kini. Sekarang aku berada diperpustakaan Mansion ayahku yang sekarang hanya dihuni olehku dan Rizky. Aitken sudah lama berpisah dengan kami, ia mengikuti jejak Clara. Aku tidak pernah mendengarnya menikah. Terakhir kali khabar yang kudengar ia terlibat penculikkan dengan Nicho anak sulung Clara. Tragis memang. Tapi aku tidak bisa melarangnya memilih jalan hidupnya. Kudengar perusahaan keponakkannya itu berjalan lancar berkat Aitken sebelum kejadian itu.
Ruang perpustakaan ini adalah tempat yang seringkali Nayla kunjungi saat berada dirumah. Ia sangat suka membaca. Dan setelah membaca ia akan tertidur. Akulah yang selalu menggendongnya ketempat tidur kami.
Aku berjalan menyisiri buku-buku yang tertata rapi, hingga sampai pada sebuah novel sastra yang berjudul "Cinta yang salah". Dua lembar kertas lusuh terjatuh saat aku membuka halaman novel itu. Yang ternyata sebuah surat ungkapan hati Nayla.
Aku menyerngit, kemudian mulai membaca...
Dear Tuhanku yang Maha Indah...
Aku merasa berdosa selama ini Tuhan
Aku membuatnya terluka dengan bersama dia.
Aku membuatnya bahagia namun menghianati dia.
Sejak awal aku memang mencintainya bukan dia.
Tapi takdirku mengatakan dia.
Aku bersama dia namun mencintainya.
Hingga tubuh ini berhianat, ia menemukan tempat kembali. Dan aku hamil! Aku mengandung anaknya Tuhan. Sanggupkah aku menatap dia setelah ini? Sanggupkah aku mengatakan padanya? Bahwa kami menciptakan kesalahan manis yang nantinya menjelma dikehidupanku dengan dia?
Tuhan...apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin mereka terluka. Karena cintaku yang salah.
A_N
Aku terhenyak dan tertegun kemudian membaca surat yang satunya lagi.
Dear Aitkenku sayang
Maafkan aku. Kita tidak bisa bersama. Aku mencintaimu, sungguh. Namun orang tuaku menginginkan Michael. Aku orang kolot sayang. Aku akan selalu menuruti apa yang kedua orang tuaku pikir baik bagiku. Maafkan aku juga masih memanfaatkan cintamu. Aku tidak bisa menahan hasratku padamu. Kamu terlalu indah. Hingga kesalahan ini terjadi. Aku hamil. Anak kita. Dan sepertinya ia seorang perempuan. Our angel. Kamu ingat? Kita pernah bermimpi memiliki anak yang cantik bukan? Sepertinya mimpi kita akan tercapai. Tapi aku tidak mengatakan ini padamu. Karena kalau kukatakan ini. Suamiku akan murka, dan hidup angel kita akan terancam. Aku tidak ingin itu. Maafkan aku sayang.
A_N
Sudah. Cukup. Sekarang aku mengerti. Dan semua ini terlalu menyakitkan. Aku memejamkan mata. Jika memang ini hanya mimpi maka bangunkanlah aku sekarang. Tak terasa airmataku menetes dengan sendirinya. Tuhan...salahkah aku mencintainya? Harusnya aku sadar diri dari awal. Aitken memang jenis lelaki yang ramah dan pintar bergaul tentu saja perempuan lebih menyukainya. Berbeda denganku yang seringkali tertutup. Hanya dengan Nayla lah aku bisa terbuka. Kupikir ia memiliki perasaan yang sama padaku hingga ia mau menerima lamaran orang tuaku. Tapi...entahlah. Aku tidak lagi bisa mempercayai siapapun.
***
Michael tidak punya tenaga untuk menyahut panggilan anaknya. Rizky berjalan mendekati pintu perpustakaan. Ia terpana melihat ayahnya sedang duduk merosot dilantai.
Rizky segera mendekat, ia khawatir.
"Dad..are you okay?" Rizky kembali bertanya. Michael menggeleng kecil.
Ia tidak akan memberitahukan hal itu pada anak lelaki yang merindukan adiknya. Adik tiri yang ia pikir adik kandungnya.
"I am okay boy...just let me alone!" Pinta michael.
Rizky mengangguk penuh pengertian. Ayahnya pasti akan bercerita nanti.
Rizky berpaling patuh dan kembali kekamarnya.
"I love you dad" seru Rizky sebelum berlalu.
" Love you too my boy...
***
"Kamu harus ikut princess..." Enrique menutup koper yang berisi pakaian mereka berdua.
"Enrique...ini kan liburan tim kantor, bagaimana aku bisa ikut? Apa kata karyawan kamu nanti?" Rengek Liza.
Enrique berdiri sambil berkacak pinggang, menatap istri bandelnya.
"Kamu ikut atau aku juga tidak ikut?"
Liza mengkerut. Yang benar saja? Kalau Enrique tidak ikut nanti karyawannya akan berpikir kalau Enrique tidak memperhatikan mereka. Tim yang tendernya berhasil menembus angka market fantastis memang selalu mendapatkan bonus liburan keluar setiap tiga bulan sekali, dan kata Enrique ia selalu ikut bersama mereka. Lalu kalau sekarang Enrique tidak ikut? Apa kata mereka?
Destinasi liburan kali ini adalah paris. Oh yang benar saja siapa yang bisa menolak pesona Eifel?
"Enrique...Liza kembali merengek.
"Princes...Enrique menyahut.
Liza menghembuskan nafasnya panjang. Siapa yang bisa menolak Enrique? Seberapa keraspun ia menolak tak akan ada pengaruhnya. Tetap saja ia yang harus mengalah. Mungkin Enrique masih dibayangi kejadian kebakaran tempo hari, sejak saat itu Enrique selalu membawaku kemanapun ia pergi. Bahkan rapatpun aku berada disampingnya. Oh...my tidak cukupkah ia mendapat tatapan aneh karyawan Enrique dikantor sampai harus ikut liburan ini juga? Pikir Liza.
"Ok...aku ikut" Liza menyerah.
Enrique tersenyum puas. Bukannya ia terlalu memaksakan kehendak pada istrinya. Tapi mengingat kebakaran tempo hari ia bisa gila meninggalkan istrinya walau hanya untuk satu hari.
"Nahh...thats my beloved wife" Enrique memeluk istrinya sayang.
Liza hanya bisa memutar matanya. Kadang ia merasa Enrique terlalu mencekiknya. Tapi ia tahu dengan pasti bahwa apapun yang Enrique lakukan semata-mata karena Enrique menyayanginya. Pada akhirnya ia harus menuruti suaminya. Bukankah sudah kewajiban seorang istri untuk menuruti sang suami?
Enrique menggandeng Liza dengan semangat keluar penthouse menuju parkiran. Mereka harus berkumpul dibandara pukul 09.40 sebab keberangkatan pukul 10.00. Enrique dan Liza diantar sopir kebandara.
Liza hanya berdiam diri selama perjalanan menuju bandara. Ia lelah jika harus berdebat lagi. Apa yang harus ia hadapi kali ini, berkumpul 20 karyawan? Entah apa yang mereka katakan tentangnya nanti.
***