From Wa To London

From Wa To London
Part Fourteen (Cravings)



~Semuanya dimulai disini, disaat aku dan kamu tidak lagi saling memahami~ Liza


Enrique POV


Liza pergi begitu saja. Aku menyusulnya dengan mobilku. Aku tidak peduli dengan sibedebah itu. Awalnya aku tidak mengerti mengapa Liza tidak memberitahuku satupun keluhan hamilnya. Tapi setelah hari ini, setelah si brengsek itu memberitahuku ditengah orang banyak dengan kejadian yang memalukan itu. Aku mengerti. Liza menganggap aku tidak mengharapkan anak kami. Ya benar, pasti itu alasannya.


Begitu sampai dipenthouse, aku langsung menuju kamar. Disana istriku yang malang sedang berbaring. Dia menangis. Hatiku perih melihatnya seperti ini.


Entahlah, kami selalu bertengkar. Tidak bisakah aku membuatnya bahagia? Mengapa rumah tangga kami begitu rumit?


Aku berjalan perlahan. Berbaring disampingnya kemudian memeluknya. Ya beginilah caraku. Aku tidak bisa seromantis romeo. Inilah aku, pria kaku yang tidak bisa mengerti wanita. Dulu sekali, aku hanya mempermainkan mereka. Mereka menangis? Tentu saja. Aku peduli? Tentu tidak. Jadi pantas saja aku tidak tahu caranya menenangkan wanita. Yang benar saja.


Ia terus saja menangis sengungukan. Aku terus memeluknya, hingga nafasnya teratur. Istriku tidur setelah menangis. Aku melihat jam tanganku. Pukul 12 siang.


Aku mengirim pesan pada Alex, bahwa aku tidak kekantor lagi. Apa yang kusenangi dari Alex? Ia tidak pernah bertanya kenapa? Dia bukan sekretaris yang akan bertanya berlebihan pada bosnya. Dia berbicara hanya jika diperlukan.


"Maafkan aku Princess, maafkan aku yang masih belum bisa membahagiakanmu" bisikku lirih.


Aku memeluknya lebih erat. Maafkan aku.


Liza POV


Aku bangun, merasa gerah entah sudah pukul berapa ini. Aku berbalik dan melihat wajah Enrique sedang menatapku dalam diam.


Aku melirik jam tanganku pukul 14.30.


"Kamu tidak bekerja?" Aku bertanya pelan.


Enrique masih saja diam. Ia hanya menyunggingkan senyumnya sedikit.


"Aku akan menemanimu seharian" jawab Enrique.


"Kenapa?" Liza kembali bertanya.


Enrique menarik daguku perlahan, kemudian mengecup bibirku sesaat.


Oh...my, aku merasakan gelenyar panas sampai disana.


Kata orang saat hamil wanita menjadi lebih rentan terhadap rangsangan dalam bentuk apapun. Sekarang Enrique baru menciumku, mengapa aku merasa seakan ingin menelannya saja.


"Eumhh...? Kamu tidak senang?" Enrique menaikkan alisnya.


"Bukan begitu...aku..


"Baiklah...aku akan kekantor kalau kamu tidak ingin kutemani" Enrique beranjak dari pembaringannya.


Aku panik. Aku tidak menginginkannya? Yang benar saja. Saat ini aku lebih menginginkan itu lebih dari apapun.


Aku ikut beranjak dari pembaringanku segera, dan mencegat Enrique.


"Stop it" aku berjingkit untuk meraihnya dan mengalungkan tanganku dilehernya. Aku menciumnya dengan penuh tuntutan. Ohh...my aku membutuhkannya disini dan saat ini juga. Aku bisa merasakan Enrique tersenyum. Persetan dengan apapun. Aku menginginkannya.


***


Enrique masih memeluk istrinya Liza dibalik selimut tanpa sehelai benang pun. Ia menghirup rakus harum istrinya.


"Apa mereka baik-baik saja?" Enrique berbisik ditelinga kiri Liza.


Liza menggeliat geli dengan perlakuan Enrique.


"Baby twin?" Liza memastikan.


"Ya...our babies" Enrique tersenyum.


Hati Liza menghangat mendengar Enrique mengakui anak mereka tanpa beban. Mungkinkaah Enrique sudah bisa menerima kenyataan?


"Mereka baik-baik saja, terimakasih" Liza tersenyum.


Enrique tersenyum miris. Ya, istrinya bahkan berterimakasih ia bertanya tentang bayi mereka.


"Maafkan aku karena pernah belum bisa menerima mereka. Aku menyesal telah menyakitimu karenanya". Enrique memeluk Liza lebih erat.


Liza terharu mendengar penuturan suaminya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana jika Enrique masih saja belum bisa menerima mereka.


Liza bangun tengah malam karena merasa lapar. Ia biasanya bangun sendiri saat Enrique tidur, makan sambil meneteskan airmata. Bagaimana tidak? Dikehamilan pertamanya yang hampir berusia 2 bulanan harusnya sangat diperhatikan oleh suami tercintanya. Sedangkan ia? Ia bahkan harus menyembunyikan mualnya saat Enrique berpamitan kerja dipagi hari.


Percayalah, itu sangat menyakitkan. Kadang Liza merasa tertekan, dan berpikir lebih baik pergi dari kehidupan Enrique. Tapi Tuhan punya caranya sendiri untuk menyadarkan suaminya.


Liza berbalik dan kembali menangis dipelukkan suaminya.


"Maukah kamu memaafkanku princess?"


Pertanyaan Enrique dibalas dengan anggukan kecil oleh Liza ditengah tangisnya.


Enrique tersenyum. Istrinya bukan type wanita yang akan merajuk sepanjang hari karena hal sepele. Ia tahu istrinya suka memendam perasaan sedihnya. Enrique belajar ketabahan yang besar dari seorang Liza istrinya. Ia tidak berharap terlalu muluk mendapatkan seorang wanita sebaik Liza untuk menjadi pasangan hidupnya.


Menilik kehidupannya dimasa lalu yang penuh dengan tinta hitam, ia tidak menyangka Tuhan akan berbaik hati menyisakan satu malaikat kecil untuk hidupnya. Ia merasa terlalu beruntung mendapatkan Liza. Kadang ia takut Tuhan kembali marah padanya dan mengambil Liza dari sisinya.


Ya Tuhan hanya satu pintaku. Jadikanlah kami keluarga yang berbahagia. Panjat Enrique.


Enrique mengusap punggung istrinya berulang-ulang dengan sayang. Istrinya memang susah berhenti kalau sudah menangis. Tapi Enrique senang memeluk istrinya saat menangis.


Setelah tenang dari tangisnya Liza bangun.


Enrique menyerngit dan ikut bangun.


"Mau kemana?" Enrique heran.


"Aku hanya ingin mandi" Liza beranjak dari ranjang ingin kekamar mandi.


Enrique ikut berdiri.


"Aku ikut" Enrique berucap seolah itu kebiasaan.


Liza berpaling menatap aneh suaminya. Kemudian cepat berpaling dan berlari kekamar mandi , mengunci pintu segera. Liza baru sadar kalau mereka sangat polos.


Enrique yang menyadari istrinya malu seketika terbahak-bahak. Bayangkan saja, ia sudah melihat seluruh tubuh istrinya. Lalu kenapa ia masih malu? Yang benar saja.


Setelah selesai mandi Liza kedapur memasakkan makanan ringan untuk mereka berdua.


...


...


"Hei...Liza protes.


"Just let me like this...Enrique mencium perut Liza sayang.


Liza diam, ia mengambil camilan dan memasukkannya kemulut Enrique. Enrique menerima dengan senang hati.


Liza tidak memperhatikan tayangan televisi didepannya. Ia memperhatikan wajah tampan Enrique yang memandanginya intens.


"Kamu tahu? Aku berpikir lebih baik kamu ikut kekantor setiap hari denganku" Enrique tiba-tiba bersuara.


"Hah...kekantormu?" Liza refleks ingin berdiri, tapi Enrique yang hafal kebiasaan istrinya menahan paha istrinya sedemikian rupa.


"Hei...itu bahaya untuk baby twin, berhenti membuat gerakan tiba-tiba" Enrique protes.


Liza terkekeh pelan melihat tingkah Enrique.


"Iya,,,sorry habis kamunya kadang kalau bicara tu nggak diukur, asal ceplos aja" Liza mendelik.


"Tapi aku serius princess, soalnya aku tidak mau kamu kelayapan kaya tadi pagi gara-gara cari buah buat baby twin, apa lagi sama cowok itu" tutur Enrique masam.


"Cowok itu? Rizky maksud kamu?" Liza bertanya balik.


"Oh...jadi sudah kenal nih ceritanya?" Enrique bangun tiba-tiba dan mengahadap Liza dengan mulut dimonyongkan (ada yang lebih manja lagi?* 😅


Liza jadi salah tingkah ditatap seperti itu.


"Nggak aku cuma pernah dua kali bertemu dia" jawab Liza.


Enrique menaikkan alisnya tanda tidak suka.


"Jadi itu bukan yang pertama?" Selidik Enrique.


"Emm...iya" Liza menjawab pelan.


"Kalian sudah bertukar nomor?" Enrique kembali bertanya.


"I..iya" Liza menjawab tidak enak.


Enrique membenarkan duduknya dan segera memperhatikan televisi mengabaikan Liza yang melongo.


"Enrique...kamu marah?" Liza bertanya takut-takut.


Enrique menarik nafas kasar.


"Menurutmu?"


"Maafkan aku" Liza menunduk merasa bersalah.


Enrique memandang istrinya yang menunduk dengan airmata mulai menetes.


Enrique merasa istrinya menjadi lebih sensitif saat hamil. Ia akan menangis untuk hal-hal kecil. Pernah suatu ketika ia menangis hanya karena Enrique menginjak semut yang berjejer didepan pintu dapur. Saat itu ia tidak terlalu mengerti kenapa Liza seperti itu. Tapi setelah ia curhat dengan Alex yang notabene nya sudah berpengalaman dengan dua anak, ia jadi tahu hal klise seperti itu.


Sekarang? Bagaimana ia bisa marah dengan istrinya yang cantik ini? Hamil pula? Ohh...Tuhan pasti akan menghukumnya.


Enrique mendekati istrinya kemudian memeluk dengan sayang.


"Shhh...sudahlah, aku tidak marah padamu. Aku hanya cemburu" Enrique mengusap punggung istrinya berulang-ulang. Perlakuan yang membuat tangis Liza semakin keras. Oh...yang benar saja. Untung penthouse ini kedap suara. Pikir Enrique. Kalau tidak? Ia bisa disangka sedang melakukan KDRT.


"Sudah?" Enrique bertanya saat tidak terdengar lagi tangis Liza.


"Eumhh....Liza menyahut dengan gumaman.


Enrique melepas pelukkannya, kemudian mendongakkan wajah istrinya.


"Kamu tahu aku tidak akan pernah marah padamu" Enrique menatap kedua manik istrinya dengan lembut.


"Aku hanya ingin terus bersamamu, itu alasan aku mengajakmu kekantor. Aku juga tahu dengan pasti kamu tidak akan pernah menghianatiku princess" ucap Enrique kemudian mengecup bibir basah istrinya.


Liza tersenyum. Ia memang seperti anak kecil kalau sedang hamil.


Sepertinya dua anak cukup. Pikir Enrique.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu" akhirnya Liza menjawab dengan antusias.


"Nahh...begitu baru bagus" Enrique tersenyum lebar.


Enrique berharap kehidupan rumah tangga mereka akan membaik jika Liza bisa selalu bersamanya. Ya setidaknya ia tidak bingung kemana-mana mencari istrinya saat pulang seperti tadi pagi.


Flash back on


Enrique POV


Aku merasa ada yang tidak beres dengan raut wajah istriku. Ia terlihat sangat pucat.


Aku sudah sering bertanya pada Alex gejala apa saja yang dialami saat hamil. Alex bertanya. "Istri anda mengidam apa pak?" . Aku bingung menjawab apa. Pasalnya selama ini Liza tidak pernah meminta apapun darinya. Alex menyarankan aku untuk pulang dan melihat keadaan istriku.


Akupun pulang. Aku ingin bertanya banyak hal pada istriku. Perihal kehamilannya.


Tapi aku panik saat tiba dipenthouse, tidak ada siapapun!


Kemana istriku? Ia sedang hamil apa yang ia lakukan? Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Akupun panik tak terkendali.


Tapi aku berusaha menenangkan diri, aku harus tenang dan berpikir positif. Aku memikirkan beberapa kemungkinan kemana istriku pergi.


Lalu aku ingat. CCTV. Ya benar. Aku segera berlari ke ruang control.


Tanpa banyak kesulitan aku bisa berdiri didepan layar itu menyaksikan istriku naik taksi online. Akupun segera menelpon taksi itu. Sopir taksi itu mengatakan ia mengantar istriku ke The Camden Market.


Tanpa banyak berpikir aku langsung kesana. Setibanya disana tepatnya Restoran dekat itu. Aku terhenyak. Istriku sedang asyik bercanda dengan pria lain. Aku tidak marah. Percayalah. Aku hanya sakit melihatnya tertawa begitu bebas dengan pria itu. Kapan terakhir kali ia tertawa seperti itu denganku? Apa yang sudah kulakukan?


Tapi egoku mengambil alih. Saat itulah aku marah. Aku berjalan dengan tangan mengepal. Aku masuk dengan geram. Karyawan yang sadar kehadiranku dengan sigap menyingkir dari hadapanku.


"Apa yang kamu lakukan disini??"


Aku menyentak tangannya tanpa sengaja. Tawa itu hilang berganti dengan tatapan terkejut menyakitkan. Ia takut padaku.


Oh...Tuhan maafkan aku yang telah menyakiti makhluk indah ciptaanmu.


Flash back off


***