
~Aku diam bukan berarti aku mengacuhkanmu, aku hanya memberi ruang padamu untuk merindukanku~Enrique.
"Besok aku akan kegedung pencakar yang Michael ingin kami renovasi" terang Enrique masih fokus menyetir.
"Dan aku harus ikut? Benar?" Liza menebak jalan pikir Enrique.
Enrique menyerngit menatap istrinya.
"Kamu tidak ingin ikut?" tanya Enrique.
"Disana akan ada Rizky, jadi kamu tak akan bosan" tambah Enrique.
"Enrique bukan masalah bosan atau tidak bosan, hanya saja aku hamil 3 bulan lebih dan perjalanan dengan alat transportasi apapun tidak baik untuk janinku" terang Liza sabar.
Enrique menghentikan mobilnya dipinggir jalan kemudian menatap istrinya lelah.
"Princess...aku khawatir padamu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri dipenthouse, atau aku akan panggil mom saja kepenthouse kita?" tawar Enrique.
Liza menghembuskan nafas berat.
"Enrique, penthouse kita punya pengamanan yang hebat. Orang lain tidak akan bisa masuk jika aku tidak membukakannya bukan? Jadi bagaimana bisa orang lain akan menyakitiku disana?" Liza mencoba memberikan alasan logis pada suaminya.
"Tidak, mom atau ikut? Pilihanmu hanya itu" ucap Enrique tegas.
Liza mulai habis kesabaran.
"Enrique!!! Aku istrimu bukan bawahanmu yang bisa kamu dikte! Mengerti?"
Enrique tertegun melihat perubahan sikap Liza yang tiba-tiba.
"Princess...aku..." Enrique tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Dengar, aku bukan anak kecil Enrique. Kamu tidak bisa memerintahku seenaknya. Aku bisa menjaga diriku sendiri!" Liza tidak bisa membendung kekesalannya lagi.
"Berhenti mengatakan, tidak kamu tidak boleh ini, kamu tidak boleh itu. Aku lelah mengerti!" Liza tersengal menyudahi kemarahannya, ia tidak mengerti mengapa ia bisa semarah ini pada Enrique.
"Baiklah, terserah kamu saja" ucap Enrique datar sembari menghidupkan Mobilnya dan melaju perlahan.
Liza menenangkan hatinya, ia terlalu emosi. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia tidak peduli Enrique marah padanya.
Liza tetap diam saat Enrique membukakan pintu keluar dari mobil. Begitu pula Enrique. Ia lelah menghadapi perubahan sikap Liza yang berubah ubah tak menentu.
...***...
Liza POV
Aku lelah. Kali ini aku tidak ingin lagi mengalah. Kita lihat siapa yang paling tahan tidak menghiraukan satu sama lain. Ia tidak mengerti. Aku sudah lelah menuruti segala aturan anehnya. Aku tahu itu demi kebaikkanku tapi tidak bisakah dia berpikir dari sudut pandang lain? Tidak bisakah?
Aku terus membiarkan air shower membasahi tubuhku. Dia dikantornya disamping kamar sebelah. Hari ini dia tidak kekantor. Sejak insiden tadi pagi ia langsung mendekam dikantornya. Aku tidak akan memanggilnya. Biarkan saja dia disana selama dia kuat.
Selang beberapa lama aku keluar. Aku mengambil asal kaos putih polos besar yang selalu kupakai saat aku malas memakai baju. Kukeringkan rambutku dengan hair dryer dan selesai. Kulirik jam dinding Pukul 20.00 malam. Aku merebahkan tubuhku keranjang. Hari ini sangat melelahkan. Berdebat dengan Enrique menghabiskan seluruh tenagaku.
Aku tidak ingin makan. Aku bahkan belum menjamah makanan apapun selain bubur soup chicken cheese tadi pagi. Nafsu makanku hilang entah kemana.
Aku mendengar langkah kaki mendekat. Tapi tidak kekamar sini. Kamar sebelah. Ah...dia ingin menghindar dariku? Biarkanlah.
Aku memejamkan mataku dan terlelap.
...***...
Enrique POV
Apa aku terlalu mengekangnya? Tidak, aku rasa wajar saja. Aku khawatir padanya. Tidak bisakah ia mengerti sedikit saja kekhawatiranku?
Sejak pernikahan kami sampai sekarang aku sangat jarang melihat istriku tertawa atau bahkan hanya tersenyum. Dan pagi tadi aku melihat dengan jelas betapa mudah istriku tertawa dengan lelaki lain. Mengapa dia tidak bisa sebahagia itu denganku? Apakah ia tidak bahagia denganku? Pemikiran itu begitu menyakitkan untukku.
Pukul 20.10 aku beranjak dari dudukku. Aku butuh mandi dan istirahat. Lapar? Aku tidak nafsu makan sama sekali. Aku berjalan gontai menuju kamar kami. Tapi langkahku terhenti didepan pintu kamar sebelah kamar kami. Apa Liza masih marah denganku? Jika masih ia pasti tidak ingin melihatku. Kuhembuskan nafas berat dan memutuskan untuk tidur dikamar ini saja.
Kubuka pintu kamar sebelah kamar kami. Aku mandi dengan cepat dan mengganti bajuku dengan baju tidur yang sebenarnya dipersiapkan untuk tamu rumah dikamar ini.
Aku merebahkan tubuhku perlahan keranjang dan memejamkan mata. Hari ini hari yang melelahkan.
...***...
Liza bergerak gelisah kemudian terbangun dari tidurnya. Ia melirik tempat tidur yang masih kosong disampingnya. Biasanya ia akan berdempet disebelah kanan dengan Enrique dan membiarkan sisi sebelah kiri kosong. Sedangkan sekarang?
Ia melirik jam dinding pukul 00.20 malam? Enrique memang tidur dikamar sebelah. Pikirnya.
Liza tahu ia begitu kekanakkan mempermasalahkan semua ini. Ia bisa saja mengiyakan semua perkataan Enrique dan selesai tidak akan ada masalah. Tapi ia juga ingin Enrique mengerti kalau segala hal dalam yang namanya keluarga itu harus ada demokrasi. Si A harus bertanya ke B tentang keputusan yang diambil dan si A harus mendengarkan pendapat si B dalam mengambil keputusan. Bukannya si A bebas mendikte si B tanpa toleransi apapun.
Mungkin karena Enrique adalah anak satu-satunya di keluarga Leonardo. Ia tidak membutuh demokrasi dikeluarganya. Berbeda jauh dengan Liza yang tinggal dipanti Asuhan yang penuh dengan aturan dan demokrasi. Pikir Liza.
Liza bangkit dari tidurnya kemudian duduk bersila di atas kasur. Ia memijit kepalanya yang terasa pening. Aku belum makan sejak pagi? Pikir Liza. Ia kemudian beranjak dari duduknya berjalan menuju dapur dengan malas. Jika saja ia tidak memikirkan baby twin, ia pasti lebih memilih menahan laparnya sampai pagi hari.
Sesampainya didapur ia tertegun melihat Enrique sedang duduk mengunyah sereal dengan susu putih.
Liza ingin berbalik tapi Enrique terlanjur sudah melihatnya. Ia mengambil susu cokelat untuk dipanaskan kemudian menuangnya kegelas. Iapun duduk didepan Enrique. Enrique tidak bicara sama sekali. Jadi Liza juga memilih diam.
Enrique POV
Aku bergerak gelisah. Perutku menuntut diisi. Aku beranjak dari ranjang. Kulirik jam dinding pukul 00.05. Ya ampun dasar perut tidak tahu diri. Pikirku sembari berjalan membuka pintu kamar. Langkahku terhenti didepan kamar kami. Apa istriku tidur dengan nyenyak? Aku merindukannya. Pikirku sedih.
Aku melangkah gontai menuju dapur. Kubuka kulkas mengambil susu putih. Aku tidak suka susu cokelat dan Liza tidak suka susu putih. Aku tersenyum memikirkan perbedaan kami yang saling melengkapi. Ku ambil sereal dan menuangkannya ke mangkuk sebelum susu.
Aku duduk dikursi meja makan, mengerjapkan mata agar sadar sepenuhnya. Kusuapkan sendok demi sendok dengan malas dan mengunyahnya pelan. Sayup sayup kudengar langkah kaki seseorang. Jangan bilang setan penunggu penthouse ini ingin menemaniku? Ya Tuhan. Aku bergidik ngeri. Namun pikiran anehku segera terhenti saat sosok istriku muncul.
Kurasa ia ingin berbalik begitu melihatku tapi kemudian mengurungkan niatnya. Ia masih marah padaku. Jadi aku lebih memilih diam.
Ia mengambil susu cokelat untuk dipanaskan. Satu lagi yang kuhafal dari istriku. Ia tidak pernah meminum susu cokelat dalam keadaan dingin. Ia senang meminum dalam keadaan hangat.
Setelah dipanaskan ia menuangkan susunya ke gelas kemudian duduk didepanku. Ya Tuhan ia bahkan tidak mengeluarkan satu katapun. Aku menunggunya menyapaku. Tapi hingga tegukkan terakhir ia tidak melihatku sama sekali. Apa dia begitu marah padaku? Pikirku sedih.
Aku sudah selesai dan meletakkan mangkuk dan gelasku ditempat cuci piring. Ia melirikku sesaat tapi kemudian memilih menatap meja. Aku berlalu dari hadapannya menuju kamar. Biarlah ia dengan dunianya dulu. Mungkin ia butuh sendiri. Pikirku.
Liza POV
Ia meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah katapun. Biarlah. Aku tidak ingin menyapanya duluan sampai ia sadar kesalahannya. Pikirku kemudian mencuci gelasku dan gelas serta mangkuk Enrique. Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaan sepele ini untuk Marry.
Aku berjalan kembali kekamar dengan malas. Kepalaku sudah lumayan tidak sakit lagi. Aku merebahkan tubuhku dan perlahan memejamkan mata. Tapi aku tak kuasa menahan airmata yang keluar begitu saja. Disaat seperti ini aku merindukan sosok orang tuaku. Aku ingin berbagi banyak cerita dan keluh kesah dengan mereka.
Sejak kecil aku sudah terbiasa menjadi bahan bualan teman-temanku disekolah karena tidak punya orang tua. Mereka semua diantar kesekolah setiap hari. Mereka bersalaman kemudian orang tua mereka melambaikan tangan menunggu anaknya berlari kekelas masing-masing.
Setiap pengambilan raport aku hanya sendiri. Untung saja aku selalu mendapat ranking satu jadi raportku tidak perlu diambilkan oleh wali murid. Hanya saja kadang aku iri melihat betapa bahagianya orang tua mereka mengambilkan raport anaknya walau tidak dengan nilai mengagumkan.
Kadang aku menangis tersedu. Memikirkan betapa teganya seorang ibu meninggalkan anaknya yang bahkan belum berumur satu tahun didepan panti asuhan dengan hanya satu lembar baju dan sehelai selimut. Bagaimana kalau pengasuh panti tidak mengambilku saat itu? Bagaimana kalau pemulung yang mengambilku dan kemudian menjualku pada orang lain? Atau yang terburuk bagaimana kalau seekor anjing menggigitku? Tidak pernahkah ia merindukanku sejak itu? Apa yang kulakukan hingga pantas mendapatkan semua itu? Pikirku sedih.
Aku terisak pelan hingga ngantuk mendera mataku kembali dan tertidur. Aku hanya berharap semoga besok kegundahan hatiku ini bisa sirna.
...***...