
~Aku mencintaimu, cukup~ Enrique.
Liza mual saat berbaring disamping Enrique. Entah mengapa, padahal Enrique tidak bau sama sekali.
"Enrique bisakah malam ini kamu tidur dikamar lain?" Tanya Liza takut.
Enrique menyerngit mendengar pertanyaan polos istrinya.
"Kenapa princess?"
"Entahlah...aku tidak enak mencium bau tubuhmu" Liza tersenyum kecut.
Enrique menarik nafas pelan, ini pasti bawaan babynya. Kenapa babynya semakin bawel sekarang. Pikir Enrique.
"Baiklah...panggil saja aku dikamar sebelah jika kamu membutuhkan sesuatu" pesan Enrique sembari beranjak dari pembaringannya.
"Maafkan aku" ucap Liza lirih ia merasa bersalah telah mengusir suaminya yang sudah berbaring lelah.
"Its ok princess...tidurlah yang nyenyak" Enrique mencium kening istrinya sebelum berlalu kekamar sebelah. Ia terpaksa tidur sendirian malam ini. Pikir Enrique muram.
Enrique membuka kamar kosong tepat disebelah kamarnya dengan Liza. Untung Marry selalu membersihkan kamar ini. Pikir Enrique. Enrique berbaring perlahan. Ia sangat lelah, lelah fisik juga pikiran. Selang beberapa menit ia tertidur.
Sedangkan Liza belum juga bisa tidur. Ia menangis tersedu sedu. Entah apa yang membuatnya merasakan sakit dihatinya. Ia tidak mengerti. Apa babynya sedih telah mengusir ayahnya? Pikir Liza heran. Ia terus saja menangis tidak bisa berhenti hingga larut malam.
Enrique POV
Pukul 00.20 aku terbangun, mendengar isak tangis istriku. Apa yang Liza lakukan malam malam begini. Menangis? Pikirku heran. Aku bangun perlahan, jujur jika aku tidak memikirkan kalau dia itu adalah istri tercintaku sudah pasti aku mengabaikannya. Badanku terasa remuk.
Aku berjalan tertatih membuka pintu dan berjalan kekamar kami. Kubuka pintu kamar perlahan dan aku terkejut melihat pemandangan didepanku sekarang. Istriku dan setumpuk tissue. Apa dia sudah menangis begitu lama?? Pikirku heran. Aku berjalan mendekatinya. Matanya melebar melihat kedatanganku. Terkejut, mungkin.
"Enrique?" Serunya heran melihat kedatanganku.
"Apa kamu terganggu dengan tangisku?" Ia bertanya khawatir. Hei...harusnya aku yang khawatir melihat keadaannya sekarang.
"Whats going on?" Tanyaku sembari bersimpuh disampingnya. Bukannya menjawab pertanyaanku ia malah memelukku tiba tiba dan tangisnyapun pecah. Ya ampunn apa lagi ini?
"Maafkan aku" ia lagi lagi minta maaf.
"Untuk apa princess?" Tanyaku lembut.
"Aku telah mengusirmu" Jawabnya ditengah isak tangisnya.
"Kamu menangis hanya gara gara itu?" Tanyaku heran.
"Ya...aku juga tidak tahu mengapa, hatiku sakit"
Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat kemudian memeluknya. Kuusap kepalanya seperti yang biasa kulakukan. Ia masih menangis. Setelah bebarapa saat tangisnya berhenti. Ia masih dipelukkanku. Nafasnya teratur. Ia tertidur. Kulihat jam didinng. Pukul 01.35. Kuangkat tubuh mungilnya yang mulai terasa berat keatas ranjang. Ia pun tertidur tenang. Ya Tuhan, beginikah rasanya jadi seorang suami. Pikirku.
***
Liza mematut dirinya didepan kaca. Matanya masih saja terlihat bengkak. Padahal ia sudah memberikan consiler agak banyak dibagian bawah matanya. Liza menyerah. Padahal pagi ini ia harus ikut Enrique meeting kerumah Michael ayah Rizky. Mengingat nama Rizky ia kembali bersemangat. Entah mengapa ia menemukan sosok yang menyenangkan didiri Rizky.
"Kamu sudah siap?" Enrique bertanya sembari menengok kedalam kamar.
Liza berbalik dan mengangguk senang.
"Ayo kita pergi" Liza menggandeng tangan Enrique dengan senang.
Enrique menyerngit melihat tingkah istrinya. Tadi malam ia menangis tersedu sedu. Sekarang ia begitu senang.
"Apa kamu begitu senang bertemu Rizky?" Tanya Enrique menyelidik sembari membukakan pintu untuk istrinya itu.
Liza masuk dengan anggun.
"Ya"...sahutnya tanpa sadar.
Enrique masuk kekursi kemudi dengan wajah cemberut. Hei...dia laki-laki kan? Lelaki mana yang senang wanitanya mengatakan begitu senang bertemu dengan lelaki lain.
"Emmm maksudku...biasa saja" Liza mengelak. Enrique tetap diam tidak berkomentar lagi. Liza mengamati wajah Enrique yang masih saja datar.
Apa dia benar-benar marah? Tanya Liza pada diri sendiri. Liza memilih lebih baik diam.
Sesampainya dikediaman Adam Enrique masih saja diam walau ia membukakan pintu untuk Liza.
Didepan pintu sudah berdiri Rizky dan ayahnya Michael.
"Apa khabar?" Michael menyalami Enrique berbasa basi. Sedang Rizky langsung menyambut Liza dengan senang memeluknya tanpa menghiraukan mata Enrique yang membulat menatapnya.
Liza refleks menyentuh matanya.
"Ahh...hanya efek kebanyakan tidur" Liza beralasan.
Michael menuntun Enrique masuk kedalam rumah. Sedang Liza sudah lebih dulu digandeng Rizky. Hei...aku suaminya! Teriak Enrique dalam hatinya geram.
Michael membicarakan proyek mereka dengan serius. Enrique melupakan Rizky yang sudah asyik mengobrol dilain ruangan dengan istrinya. Setidaknya ia bisa tenang istrinya berada didekatnya. Pikir Enrique walau masih tidak rela melihat keakraban Rizky dengan istrinya.
"Ya, aku ingin proyek ini selesai dalam tiga bulan kedepan" Michael menyesap kopi panasnya yang sudah mulai dingin.
"Kami akan berusaha menyelasaikannya dengan cepat dan tepat" Jawab Enrique Mantap.
Ia senang berbisnis dengan Michael, Michael orang yang tegas dan lugas dalam segala hal. Ia tidak pandai bertele-tele seperti rekan bisnisnya yang lain. Pikir Enrique.
Liza menatap potret keluarga diruang tengah. Disana ada Rizky, Michael seorang wanita dan anak perempuan yang digendong wanita itu.
"Wanita itu adalah ibumu?" Liza bertanya dengan antusias.
Rizky mengikuti pandangan Liza kemudian mengangguk.
"Iya, ibuku cantik bukan?" Rizky tersenyum lebar.
Liza menatap wajah Rizky yang bersinar cerah saat membanggakan ibunya.
"Iya...sangat cantik" Puji Liza.
Rizky memandang Liza yang seketika termenung.
"Kamu pernah melihat ibumu?" Rizky bertanya pelan.
Liza mendongak menatap Rizky.
"Mungkin, tapi aku tidak mengingatnya. Ia meninggalkanku didepan pintu panti asuhan saat umurku belum genap satu tahun dan hanya meninggalkanku selembar pakaian, selimut serta kalung ini" kenang Liza refleks memegang Kalungnya yang bertuliskan Liza Tuffahati.
Rizky menatap Liza prihatin andai saja ibunya tidak lari ke Indonesia ia sekarang pasti sedang tertawa bersama dengan Liza ibunya dan ayahnya. Ia tidak mengerti mengapa dulu ibunya memilih meninggalkan mereka. Tapi setelah hari dimana ayahnya menemukan surat yang kemudian ia baca. Ia mengerti penderitaan ibunya. Membuat hatimu mencintai orang yang tidak kamu cintai itu sangat sulit. Apalagi orang yang kamu cintai begitu dekat denganmu. Pikir Rizky.
"Hei...jangan sedih, dia pasti secantik kamu Liza" kata Rizky sembari memegang kedua bahu Liza.
"Dengar...Tuhan sudah menggariskan takdir untukmu seperti itu, yang harus kamu lakukan sekarang adalah bersyukur. Kamu punya suami sebaik Enrique tidakkah itu anugerah yang indah?" Rizky tersenyum penuh pengertian. Ia sangat ingin mengatakan pada Liza bahwa dia adalah kakaknya. Tapi diurungkannya. Semua ada saatnya. Pikir Rizky.
Liza tersenyum kecil mendengar penuturan Rizky. Ya, dia memiliki seorang suami seindah Enrique, sepengertian dia dan semenyebalkannya dia. Tidakkah ia anugerah terindah? Tentu saja. Liza memperhatikan Enrique yang ternyata sedang menatapnya dengan pandangan mengawasi, kemudian berbalik kembali menatap Rizky.
"Dimana ibumu sekarang?" Tanya Liza.
Rizky tertegun. Ya, dimana ibumu sekarang? Pertanyaan itu selalu ada dibenaknya dan iapun tidak pernah tahu apa jawabannya.
"Entahlah, beliau meninggalkan aku dan ayah sejak aku kecil" Rizky memaksakan senyumnya.
Liza merasa bersalah karena bertanya hal yang membuat Rizky sedih.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih" kata Liza dengan raut wajah menyesal.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, semuanya hanya masa lalu" Rizky menimpali.
Liza hanya bisa berdiam diri setelahnya. Ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang salah lagi. Selang beberapa lama Enrique dan Michael bubar. Enrique mendekati Liza.
"Come on, lets go home" Enrique menggandeng tangan Liza. Mereka berpamitan untuk pulang.
"Senang berbincang dengan anda" ucap Enrique sembari menjabat tangan Michael.
"Saya juga, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi" Michael menimpali.
"See you later ky" ucap Liza sembari berbalik mengekor Enrique yang menggandengnya.
Rizky melambaikan tangan mengantar kepergian Liza dan Enrique.
"Dia suami yang baik bukan?" kata Michael tiba-tiba. Rizky menatap ayahnya dengan heran. Kenapa ayahnya tiba tiba memuji Enrique?
"Ya, kupikir juga begitu. Walau awalnya aku geram dengannya" ucap Rizky mengenang kejadian tempo hari saat Liza membeli buah kepasar sendiri.
"Aku harap Liza bahagia bersamanya" ucap Michael rendah. Walau bagaimanapun Liza adalah anak dari istrinya. Wanita yang begitu dicintainya.
"Semoga saja" beo Rizky.
...***...