Duren, I Love You

Duren, I Love You
Bab. 9



Bu Ratih duduk karena sudah lelah berjalan ke sana kemari, "Aku akan melakukan berbagai dan segala cara agar Arjuna bisa setuju dan siap untuk menikah, aku yakin jika Maulida gadis yang baik banyak gadis yang lebih baik dari dia dari segi gaya, ekonomi tapi kalau harus dilihat dari perilaku, tata krama, sopan santun dan wajahnya juga tidak kalah cantik dengan model dan artis papan atas jika Maulida sudah di make over, kalau perlu aku akan membuat kesepakatan dengannya" gumam Bu Ratih yang duduk di kursi kebesarannya sambil memutar hpnya yang entah siapa yang ingin dia telpon.


"Ya Allah… moga saja Maulida bisa bekerja dengan baik di sini dan tidak membuat aku kecewa kalau bisa ia bertahan dan betah menjadi koki walaupun awalnya ia aku janjikan jadi baby Sitter tapi, Nyonya Ratih memerintahkan untuk menjadi asisten chef, terpaksa aku ikuti, tapi untungnya Maulida cukup bisa diandalkan jika memasak makanan," cicitnya Ani.


"Aku harus segera berbicara empat mata dengan Maulida agar ia segera memenuhi permintaanku ini," Batinnya Bu Ratih.


Sedangkan Maulida sedang sibuk membantu memasak chef di rumah besar itu. Ia dengan telaten dan seksama membantu Pak Jung sebagai kepala chef di rumah itu.


"Ingat perhatikan dengan baik cara memasakku agar kamu lebih cepat pintar, lincah dan mahir dalam mengolah bahan makanan apapun," tuturnya Chef Jung chef yang didatangkan dari luar negeri itu khusus untuk mengatur dan memasak makanan tuan rumah.


"Baik Chef!" Jawabnya Maulida dengan pakaian chefnya yang sangat pas dan cocok ditubuhnya yang slim tapi bokongnya yang cukup padat.


Satu bulan kemudian..


Maulida sedang membuat puding coklat sesuai permintaan dari Nyonya Besar Ratih. Tapi, kegiatannya tiba-tiba terhenti saat Sita salah satu maid di rumah itu.


Sita duduk di kursi yang ada di meja dapur, "Maul! Kamu dipanggil Nyonya Besar tuh," tuturnya Sita seraya menuang air putih kedalam gelas yang dua ambil baru saja.


Maulida menatap balik sekilas ke arahnya Sita sebelum berbicara sepatah kata pun," Saya! Mbak Sita?" Raut wajahnya yang keheranan.


Menurut Maulida sudah satu bulan lebih ia tinggal dan bekerja di rumah itu, tapi baru kali ini ia dipanggil oleh Nyonya pemilik rumah.


"Tumbenan aku dipanggil, apa aku melakukan kesalahan yah Mbak! Seingat aku selama aku masak Alhamdulillah sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun, bahkan sering kali mereka memuji," ujarnya dengan penuh keheranan.


Sita mengangkat kedua bahunya ke atas," Entahlah, aku pun tak tahu kenapa dan apa alasannya kamu dipanggil, semuanya itu rahasia ilahi eeehh maksud aku rahasia Nyonya Ratih," kelakarnya Sita.


Maulida yang awalnya keheranan akhirnya dibuat tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari sahabatnya itu yang terpaut sekitar dua tahun lebih dengan usianya.


"Mbak Sita bisa saja!" Hahaha!" Iya pun turut tertawa terpingkal-pingkal dengan perkataannya sendiri.


"Sana! Entar kamu diomelin lagi kalau sampai terlambat!" Ketusnya Sita seraya mendorong tubuhnya Maulida.


Maulida hanya menanggapi dengan senyuman tipisnya berjalan tanpa membuka pakaian kokinya terlebih dahulu sebelum berangkat.


"Ya Allah… kira-kira gara-gara apa yah aku dipanggil sama Nyonya? Aku berharap semoga sesuatu hal yang baik yang akan aku dengar nantinya," gumamnya Maulida yang masih berjalan tanpa henti hingga ia berada di depan pintu kamarnya Bu Ratih.


Beberapa maid yang berjalan berpapasan di jalan dengannya ia menyapa satu persatu dari mereka dengan sopan dan ramah.


"Bismillahirrahmanirrahim..," cicitnya sambil memutar kenop pintu.


Nyonya Besar Ratih sedang menikmati teh hijau dengan puding buah rasa pisang made in Maulida.


"Silahkan masuk Maul!" Imbuhnya Bu Ratih.


Maulida tersenyum simpul membalas senyuman dari Bu Ratih," makasih banyak Bu!"


"Duduk! Tidak perlu sungkan dengan Ibu!" Tuturnya Bu Ratih yang tersenyum tipis ke arahnya Maulida.


"Siapa yang pertama kali ngomong kalau Nyonya Ratih itu garang, sangar, bengis dan jutek kalau menurut aku sih ia biasa-biasa saja bahkan terkesan baik," batinnya Maulida.


"Apa!! Menikah!! Dengan Tuan Muda Juan yang duda beranak dua itu!" Sarkasnya Maulida yang tanpa merem dan mengfilter ucapannya itu.


Nyonya Ratih cukup terkejut mendengar tanggapan perkataannya dari Maulida. Biasanya jika ada perempuan yang ditawarkan untuk menikah dengan Juanda reaksinya mereka akan bahagia tapi, berbeda halnya dengan yang di alami oleh Maulida. Hal itu membuat Bu Ratih menautkan kedua alisnya saking tidak percayanya dengan kenyataan tersebut.


 


****************


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Baby Sitter Pilihan


Kau Hanya Milikku


Dewa dan Dewi


Merebut Hati Mantan Istri



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Makasih banyak all readers…


I love you all..