Duren, I Love You

Duren, I Love You
Bab. 15



Nyonya Ratih Yuaningsih Prayoga mendengarnya dibuat tersenyum padahal dalam hatinya sedikit gelisah karena harus mulai pintar berpura-pura di depan orang lain karena ada seseorang yang menyebarkan isu yang tidak benar adanya dan Nyonya Ratih ingin meluruskan hal tersebut tapi, sudah terlanjur heboh.


"Kalau seperti ini jadinya, aku harus pintar memerankan akting aku jika tidak bisa ketahuan di telinga mereka," Bu Ratih membatin.


"Juanda ini adalah dua tiket pesawat untuk kamu berangkat besok berbulan madu ke Paris Perancis, ingat jangan buat Mama kecewa dengan pernikahan kamu kali ini," perintah Bu Ratih yang mewanti-wanti anaknya itu sembari menyodorkan sebuah amplop putih kehadapannya Juanda.


Juanda hanya mengambil amplop tersebut tanpa berbicara sepatah kata pun karena ada seseorang yang menunggunya sedari tadi.


"Aku berharap ia bisa memerankan perannya dengan baik dan aku menaruh harapan besar di tangannya," cicit Bu Ratih.


Juanda berjalan ke arah tempat perhelatan pesta pernikahannya dengan Maulida sedangkan Maulida sedari tadi hanya berdiri menyambut semua tamu undangan satu persatu di atas altar pernikahan.


Tidak ada satupun tamu dan anggota keluarga besar Prayoga yang tidak bahagia menyambut akad nikah dan pesta resepsi pernikahan antara Maulida dengan Juanda. Terutama Bu Ratih yang sangat bahagia karena apa yang direncanakannya sudah terlaksana.


"Demi Mama aku akan memperlihatkan di depannya jika aku sangat bahagia dengan pernikahan ini, mereka tidak boleh tahu jika aku menikahi wanita itu hanya karena ingin membuat Mama bahagia dan membuktikan kepada wanita lucknut itu jika aku bisa mendapatkan perempuan yang melebihi dirinya," batinnya Juan yang tersenyum penuh arti.


Siang harinya hingga sore hari dimanfaatkan untuk menjamu beberapa kolega bisnis dan keluarga mereka yang berdatangan dari jauh terutama dari luar negeri.


"Ya Allah… sudah jam lima sore tapi, acaranya juga belum kelar juga, apa mereka tidak ingin pulang ke rumah masing-masing, pegal tahu kakiku berdiri, bibirku juga sudah kaku karena sedari tadi tersenyum terus menyambut semua orang, tapi si duda ini kok gak ada capek dan lelahnya apa, ia mengumbar senyumannya ke semua orang," umpatnya Maulida.


"Aku yakin ia sudah mulai kelelahan maklum dari jam 11 siang hingga sekarang jam 5 kami masih berdiri dan duduk hanya saat kami makan dan berganti kostum gaun pengantin, tapi aku salut sama dia karena pinter bermain akting di depan orang lain, sepertinya apa yang dilakukannya patut diapresiasi," gumam Juanda yang sesekali diam-diam memperhatikan perubahan raut wajahnya Maulida.


Hingga menjelang waktu shalat magrib barulah Nyonya Ratih mengijinkan mereka untuk kembali ke dalam kamar hotel yang sudah disediakan oleh Bu Ratih sebagai hadiah untuk malam pertama mereka.


Maulida langsung membanting tubuhnya ke atas ranjang yang sudah dipenuhi oleh bunga-bunga mawar merah yang sangat indah.


"Ini pesta atau penyiksaan sih, baru kali ini ada orang yang ngadain pesta selama ini, betapa lelahnya tubuhku ini ya Allah…," gumamnya Maulida yang mengistirahatkan tubuhnya tanpa harus mengganti pakaiannya pengantinnya terlebih dahulu.


Sedangkan Juanda sedang berbicara dengan seseorang yang entah siapa karena tubuhnya terhalang oleh tembok besar yang cukup tinggi dan tebal itu.


"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu, apa kamu sudah menemukan alamat wanita lucknut itu?" Tanyanya Juanda sambil menyesap minumannya yang beralkohol itu.


"Aku sudah menemukannya Tuan Muda, ia tinggal awalnya ia tinggal di Kanada tapi, setelah ia menikah ia memilih untuk berpindah ke Paris Perancis karena sudah membuka sebuah butik dan beberapa cabangnya," jelasnya Rajab sang detektif swasta yang selalu ia andalkan untuk mencari informasi yang sangat penting.


"Sungguh hidupnya penuh keberuntungan, tunggu kedatanganku aku akan memperlihatkan kepadanya bahwa aku bisa mendapatkan perempuan yang melebihi dari dirinya," geramnya Juanda yang tertawa terbahak-bahak.


"Maaf! Tuan Muda untuk informasi tentang Tuan Besar Naufal sangat tertutup rapat sehingga sedikit pun informasi gagal aku dapatkan Tuan," ujarnya dengan memohon maaf.


"Tidak apa-apa pergilah dari sini sebelum ada yang melihat kamu," ucapnya yang sudah mengusir anak buah kepercayaannya itu.


"Makasih banyak Tuan," sahutnya Rajab sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Juanda kembali menikmati minuman itu hingga tandas tanpa tersisa. Setelah beberapa gelas minuman yang berhasil ia habiskan barulah ia kembali ke dalam kamar pengantinnya.


Apa yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini satupun dari keluarganya tidak ada yang tahu. Bahkan kebiasaan yang bermain serong dengan beberapa wanita penghibur kelas kakap dan dengan kualitas wahid pun tidak disadari dan diketahui oleh Nyonya Ratih karena Juan selalu melakukannya secara tersembunyi dan diam-diam.


"Aku akan menelpon Natasya untuk menemaniku malam ini," cicitnya lalu meraih hpnya.


Sedangkan Maulida sudah mendengkur halus saking capeknya ia tidak kuasa menahan kantuknya yang menyerangnya saat itu. Dengan posisi yang tengkurap dan dengan pakaian yang masih lengkap.


"Sayang! Ingat jangan lupa bawa alat yang biasa aku pakai saat kita berdua, kamu jugy harus minum obat sebelum kita bertemu okey!" Ujarnya Juan disaat ia bertelepon dengan kekasih gelapnya pemuas kebutuhannya di atas ranjang.


Prang!!! Brukk!!!


Gelas itu terlempar dengan kuat hingga membentur dinding yang sama sekali tidak berdosa.


"Andien!! Wanita brengsek, wanita tidak tahu diuntung, sekarang kamu nikmati hartaku yang kamu curi itu, tunggulah aku akan segera membalas perbuatan kamu itu! Haaaa!!!" Teriaknya Juan di dalam kamar hotel itu.


Tanpa ia sadari jika ia setelah melampiaskan hasrat dendam dan amarahnya itu, Juan melangkahkan kakinya kearah luar kamar dan berjalan menuju kamar pengantinnya. Sesampainya di depan kamar hotel ia memutar kenop pintu itu.


"Kok ga dikunci rapat sih pintunya? Dasar gadis teledor bagaimana jika ada orang yang berniat jahat bisa kena masalah lagi," makinya dengan kesal lalu segera mengunci rapat pintu itu.


Juanda kembali dibuat tercengang dengan kelakuan dari perempuan yang baru sekitar beberapa jam yang lalu ia nikahi itu. Juanda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gaya tidurnya Maulida yang tengkurap. Tanpa disadarinya ia naik ke atas ranjang lalu berbaringlah dan tidak lama kemudian Ia pun tertidur.


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Baby Sitter Pilihan


Kau Hanya Milikku


Dewa dan Dewi


Merebut Hati Mantan Istri



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Makasih banyak all readers…


I love you all..