
"Menatapnya tidak usah seperti itu juga kali, aku akui kalau aku itu tampan, ganteng ga ketulungan punya dua ansk kembar yang imut dan menggemaskan," sarkas Juanda yang sebenarnya tersenyum simpul melihat reaksinya Maulida yang melihatnya hingga mulutnya menganga sempurna dan bola matanya membulat seolah akan melompat ke luar dari kelopak matanya.
Juanda segera melajukan kembali mobilnya tanpa menunggu jawaban atau pun tanggapan dari Maulida yang masih tak bergeming ditempatnya semula.
"Kenapa wajahnya serasa aku melihat titisan oppa Jungkook ya Allah… bisa-bisa aku setiap melamun memikirkan wajahnya oppa Jungkook lagi kalau seperti ini," lirihnya Maulida sembari menggelengkan kepalanya.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai ke bandara, awalnya mereka ingin singgah ke rumahnya terlebih dahulu tapi, karena ada beberapa barang yang ingin ia ambil dan kebetulan juga ingin berpamitan kepada Mama dan kedua anaknya tapi, diluar dugaan ternyata Mama dan anaknya sudah berada di bandara menunggu kehadiran mereka berdua.
Maulida hanya duduk terdiam dan sesekali memeriksa hpnya dan membuka om google untuk mencari tahu informasi kampus yang terbaik dekat dari rumah mertuanya Bu Ratih.
"Sepertinya kampus ini cukup bagus dan juga untuk sampai ke sana tidak perlu butuh waktu yang lama untuk sampai di sana," lirihnya Maulida yang masih mampu kedengaran hingga ke telinganya Juanda.
Juanda melirik sekilas ke arah Maulida yang sedang asik mengamati layar hpnya tersebut tanpa ia memperdulikan lagi pria yang ada di dekatnya itu.
"Kalau kamu ingin kuliah di kampus Xx saja jalan X itu rekomendasi kampus terbaik di ibu kota yang penting kamu punya kemampuan untuk lolos seleksi masuk ke sana," jelasnya Juanda tanpa mengalihkan pandangannya dari arah depan jalan raya yang dilalui oleh kendaraannya.
Maulida yang masih mampu mendengar suaranya Juan segera menatap balik ke suami pura-puranya itu.
"Kok ia tahu kalau aku sedang memikirkan dan mempertimbangkan kampus itu untuk aku tempati mendaftar yah? Apa ia punya mata batin?" Batinnya Maulida.
"Kamu tenang saja aku akan menyampaikan kepada temanku yang kebetulan dosen juga di sana, insya Allah ia akan membantu kamu," tuturnya Juanda lalu mematikan mesin mobilnya karena sudah sampai di airport Soekarno Hatta.
Maulida menaikkan ke-dua tangannya untuk segera mencegah apa yang dikatakan oleh Juanda sarannya itu," Mas tidak perlu repot-repot, insya Allah… aku masih sanggup kok untuk mendaftar sendiri, lagian apa Mas tidak takut jika mereka tahu jika aku adalah istrimu pasti Mas akan malu, karena sesuai perjanjianku dengan Bu Ratih, kalau aku keluar rumah tidak sedang bersama dengan Tuan Muda Juan, Bu Ratih ataupun dengan rekan bisnis ataupun keluarga Mas penampilan aku harus baik dan jika ke kampus ataupun beraktifitas di luar tanpa melibatkan keluarga besar Tuan Muda aku akan kembali ke gaya sehari-hariku yang seperti Mas lihat waktu aku pertama menginjakkan kakinya ke rumahnya Mas," ungkapnya panjang lebar.
"Kalau seperti itu okey saja," balasnya Juan.
Maulida kembali menatap ke arah layar hpnya sedangkan Juanda masih memikirkan perihal surat perjanjian antara Mama dan istri palsunya itu. Dia pun refleks tersenyum kegirangan.
"Berarti aku bebas bergaul dan menjalin hubungan dengan siapa pun termasuk dengan kekasihku yang tak terhitung sudah berapa jumlahnya," Juan membatin dengan senyuman smirknya.
Bu Ratih sedari tadi menunggu anak dan menantunya itu bersama kedua anak sambungnya Maulida. Mereka berjalan beriringan dan mulai berakting di hadapan orang lain. Sesuai kesepakatan mereka berdua sebelum turun dari mobilnya.
"Ingat mulai detik ini kita harus berakting jadi pasangan suami istri yang harus selalu tampil mesra, harmonis, setia, serasi di hadapan semua orang lain dan satu hal lagi jangan katakan kepada siapa pun jika kamu adalah istriku jika aku tidak ada di dekatmu," terangnya Juanda.
"Aku akan penuhi semua perkataan dan permintaan serta persyaratan dari Mas," timpalnya Maulida dengan seulas senyuman termanisnya yang dipersembahkan khusus untuk Juanda seorang.
"Good! Anak yang baik dan harus selalu patuh dan menuruti semua keinginanku tanpa ada kata penolakan," imbuhnya Juanda seraya mengelus lembut rambut panjangnya Maulida.
Tanpa pikir panjang, Maulida langsung saja menuruti dan sepakat dengan perjanjian mereka berdua tanpa pikir panjang resiko dari perkataannya barusan.
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Baby Sitter Pilihan
Kau Hanya Milikku
Dewa dan Dewi
Merebut Hati Mantan Istri
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..